Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 39 Halaman Belakang


__ADS_3

Melewati halaman Winnie teringat keinginannya untuk menanam beberapa bunga, saking fokusnya mencaritahu masa lalu ia sampai kelupaan.


Oleh sebab itu saat makan malam ia meminta ijin kepada Brian, ia ingin memiliki halaman belakang untuknya menanam.


"Kenapa kau minta ijin segala? kau bisa melakukan apa yang kau mau," ujar Brian tak masalah.


Tentu saja yang merasa salah adalah Camila, sudah bertahun-tahun ia mengurus rumah itu dan kini perlahan ia akan tergeser karena Winnie.


Di mulai dari halaman belakang Camila takut pada akhirnya seluruh rumah akan tergantung pada Winnie, tak bisa tinggal diam esoknya saat Winnie sedang merenovasi halaman belakang dengan memindahkan beberapa tanaman ia mengajak bicara.


"Sangat bagus memiliki perhatian pada tanaman, Brian sudah memberikan halaman ini untuk mu dan ku harap kau puas. Kau tahu sisa halaman sudah ku buat sesuai dengan image Wilson, karena itu bisakah kau tidak mengusik yang lain?" tanyanya lebih pada peringatan.


"Ibu tenang saja, aku akan sibuk dengan kuliah dan mengurus halaman hanya ku lakukan di waktu senggang. Aku tidak punya waktu untuk yang lainnya," sahut Winnie.


"Bagus," ujar Camila puas.


Menatap kepergian Camila Winnie hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, jika benar gosip yang ia dengar dari Deborah maka jelas Camila memiliki sifat takut kalah saing.


Winnie hanya meminta halaman belakang dan dia takut seolah Winnie akan merampas seluruh rumah, betapa ini membuat Winnie menikmati permainan yang akan berlangsung.


Karena tak ada kelas Winnie bisa menghabiskan waktu seharian berada di halaman belakang, bila lelah ia akan istirahat sambil berfikir tanaman apa yang sebaiknya ia tanam.


Saat berfikir sebuah pesan masuk, rupanya itu dari Leo yang bertanya apakah Winnie sibuk.


Tentu saja Winnie menjawab bahwa sangat sibuk, ia katakan sedang sibuk berkebun di halaman belakang.


Tak dikira Leo menawarkan bantuan, menerima maksud baik Winnie menyambutnya dengan tangan terbuka. Mereka sudah saling kenal dan dapat berteman baik, karena Winnie pikir tak masalah meminta sedikit bantuan.


Ia meminta di belikan pupuk, beberapa pot kecil dan benih bunga mawar. Leo menyanggupi dan menjawab akan tiba beberapa menit lagi.


Baru Winnie hendak menaruh ponselnya tiba-tiba dering telpon berbunyi, rupanya itu dari Aslan.


"Hei! kau bilang hanya bisa mengabari saat malam," ujar Winnie begitu ia mengangkatnya.


"Aku takut kau sangat rindu sampai sakit," sahut Aslan di sebrang sana.


Winnie hanya tersenyum, jelas di sini siapa yang paling merindu.


"Baiklah terimakasih telah menelpon," ujar Winnie.


"Sama-sama... hhhaaccchhhiiiwww!"


"Aslan! kau sakit?" tanya Winnie cepat begitu mendengar suara bersin.


"Tidak, mungkin karena sekarang musim gugur jadi aku merasa kedinginan," sahutnya.


"Malam nanti setelah beraktivitas rendam kakimu dengan air hangat," ujar Winnie.


"Akan ku lakukan nanti, oh aku tutup dulu telponnya. Tolong jangan memikirkan ku terus itu membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak," ucap Aslan cepat.

__ADS_1


"Hahaha... akan ku usahakan," balas Winnie.


"Baiklah sampai jumpa," ujar Aslan sebelum akhirnya telpon itu mati.


Menaruh ponsel di atas meja Winnie menatap cincin yang tersemat di jari manisnya, satu tahun sudah ia berpacaran dengan Aslan dan hubungan itu semakin serius di akhir pertemuan mereka sebelum LDR.


Sampai sekarang Winnie masih belum yakin apakah ia ingin melanjutkan hubungan mereka pada jenjang yang lebih serius seperti perintah Aslan, tapi hatinya berkata tak bisa melepaskan Aslan untuk siapa pun.


"Nona, ada tuan Leo mencari," ujar seorang pelayan membuyarkan lamunannya


"Oh suruh di masuk," perintahnya.


Pelayan itu segera pergi dan datang kembali bersama Leo.


"Hai, pesanan mu ada di mobilku. Ku beli sesuai perintah," ujar Leo.


"Terimakasih," sahut Winnie.


Beberapa pelayan pun ia mintai tolong untuk membawa semua barang itu ke halaman belakang, mulai membuka satu pupuk Winnie berencana mengerjakannya sedikit demi sedikit.


"Kau mau menanam benih mawar ini sekarang?" tanya Leo.


"Ya, lebih cepat lebih baik," sahut Winnie.


"Boleh aku membantu?" tanya Leo lagi.


"Jika kau bisa melakukannya," jawab Winnie.


Ia segera membuka hoodie dan ikut terjun, mencangkul tanah seperti yang diarahkan Winnie dan menaburkan pupuk untuk kemudian di tanami benih mawar.


"Kau ada perlu apa denganku?" tanya Winnie di sela pekerjaan mereka.


"Apa?" balas Leo bertanya.


"Kau pasti punya urusan jika bertanya tentang kesibukan ku," sahutnya.


"Oh itu, Marito mengajak ku nongkrong di kafenya. Ku pikir kau mau ikut," jawabnya.


"Dia punya kafe?" tanya Winnie penasaran.


"Milik ayahnya, biasanya kami menghabiskan waktu disana jika tak ada kegiatan. Kau bisa bergabung jika kau mau," jelasnya.


"Oh, mungkin lain kali," sahut Winnie yang tak begitu tertarik.


Kembali fokus pada pekerjaan masing-masing akhirnya mereka selesai saat hari menjelang senja, setelah membersihkan diri mereka beristirahat sambil menikmati hasil pekerjaan yang cukup memuaskan.


"Leo? kau disini?" tanya Nicki yang tak sengaja lewat dan melihat.


"Hai Nicki," sapa Leo.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanya Nicki menghampiri.


"Membantu Winnie menanam, kau baru pulang?" balasnya.


"Oh... ya," sahut Nicki sedikit kecewa mendapati kedekatan yang tak terduga itu.


"Mumpung kau di sini bagaimana jika kau ikut makan malam bersama kami?" tawar Nicki.


"Um... jika tak merepotkan," sahut Leo senang akan tawaran itu.


"Tentu saja tidak," balas Nicki yang justru senang akan keberadaan Leo.


Diantara semua pria yang ia kenal Leo adalah yang paling populer dalam geng mereka, tak hanya karena ketampanan tapi juga wibawa dan kecerdasannya.


"Aku mandi dulu, kalian mengobrol saja," ujar Winnie mulai tak betah pada badannya yang lengket.


Saat Winnie berdiri dan pergi Nicki yang tak pernah melepas pandangannya dari Leo jelas melihat arah pandangan Leo tak pernah lepas dari Winnie, bahkan ia melihat kekecewaan dimata Leo saat Winnie meninggalkannya.


Tentu saja itu membuatnya tak senang, Winnie sudah mendapatkan perhatian seluruh anak geng di pesta Jack dan rasanya tak adil jika Leo memberi perhatian khusus.


Pada saat makan malam Nicki mencoba menarik perhatian dengan menyajikan makanan untuk Leo, ia juga bercerita tentang dosennya yang selalu memberi banyak tugas berharap Leo akan bersimpati.


Tapi setiap topik yang ia bawakan Leo justru menjadikannya sebuah pertanyaan untuk Winnie, sementara Winnie yang tak tertarik hanya menjawab alakadarnya.


Setelah makan malam selesai Nicki masih menahan Leo dengan mengajaknya melakukan permainan, Leo masih mau melayani dan ikut mengajak Winnie.


Tapi dengan tegas Winnie menolak dan meminta ijin untuk tidur duluan, ia terlalu lelah setelah merenovasi halaman belakang.


Dengan kecewa Leo harus menerimanya, dan dengan senang hati Nicki menarik tangan Leo untuk segera menghabiskan waktu bersama.


Masuk ke dalam kamar Winnie mengunci pintu dan mengambil ponsel, menekan tombol dalam panggilan terakhir ia sudah memperkirakan harusnya saat ini Aslan sudah pulang ke apartemennya.


"Halo," ujar Aslan di seberang sana.


"Aslan? ada apa dengan suaramu?" tanya Winnie cemas mendengar suara serak Aslan.


"Tidak apa-apa, aku hanya terserang flu," sahut Aslan mencoba terdengar biasa tapi jelas ia tak bisa menutupi penyakitnya.


"Dasar! apa kau juga demam?" tanyanya.


"Um... tidak parah," jawabnya mengira-ngira sebab memang ia tak memeriksakan diri ke dokter.


"Untuk sementara minum parasetamol dulu, lalu tidurlah. Cepat lakukan!" perintah Winnie tegas.


Tanpa memberi kesempatan pada Aslan untuk bicara Winnie segera menutup telpon.


Melirik jam ia masih memiliki waktu karena itu Winnie bergegas mengambil kunci mobilnya, saat melewati ruang tamu ia bahkan berlari begitu saja tanpa memperhatikan ada Leo yang melihatnya.


Memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi Winnie pergi ke apotik dan membeli beberapa obat, setelahnya ia pergi ke pos yang untung masih buka.

__ADS_1


Segera ia kirimkan semua obat itu dalam paket cepat sampai ke apartemen Aslan, mungkin paket itu akan tiba besok malam dan saat itu ia berharap sakit Aslan sudah membaik.


__ADS_2