
Ditengah pesta yang masih berlangsung kamar itu sangatlah hening seakan berada di dunia yang berbeda, ini adalah kali pertama Winnie melihat wajah Aslan ketika tidur dan nampaknya ia begitu nyenyak.
Masih diam di tempat tiba-tiba Carl berdiri tepat di hadapan Winnie, menghalangi kemana matanya menatap.
"Maaf, aku tidak tahu kalau mereka di sini," ujar Carl dengan nada penuh penyesalan.
"Kau salah Carl," sahut Winnie pelan.
"Apa?" tanya Carl bingung.
"Seharusnya kau minta maaf karena pesta mu gagal total, lihatlah mereka. Saking membosankannya pesta mu mereka sampai membuat pesta sendiri," jelas Winnie dengan tatapan penuh penghinaan.
Berjalan melewati Carl ia menghampiri Aslan, mengambil kemejanya dari lantai segera ia memakaikannya pada Aslan yang tidak bergeming meski dibangunkan.
"Jadi kau tidak marah melihat pacarmu tidur dengan wanita lain?" tanya Carl dengan tatapan penuh ketertarikan.
Mendengar pertanyaan itu Winnie tersenyum, setelah memakaikan kemeja ia beranjak mendekati Carl.
"Biar ku perjelas satu hal, sebanyak apa pun wanita yang tidur dengan seorang raja yang menjadi ratu hanya tetap satu. Sisanya hanya selir yang tidak begitu diharapkan dan budak," ujar Winnie tegas dengan senyum penuh kepercayaan diri.
"Tolong bantu aku membawanya ke mobil, aku tidak bisa membiarkannya menginap," lanjutnya.
Mengambil sepatu dan jas Aslan kemudian Winnie berjalan lebih dulu, sementara di belakang Carl yang kalah bicara menggotong Aslan sampai masuk kee dalam mobil.
Beruntung Winnie sudah lancar mengemudi sehingga ia bisa membawa Aslan pulang dengan membawa mobilnya, tapi setelah beberapa menit berkendara tiba-tiba Winnie menghentikan mobil di tepi jalan.
Menatap Aslan yang masih terlelap ia mendekat dan sekali lagi mencium tubuh Aslan untuk memastikan.
"Bau alkoholnya cukup tajam, tapi jika dia hanya mabuk seharusnya dia mengigau kan?" gumamnya berfikir.
Sejak Aslan hilang memang ia sudah merasakan ada yang tidak beres, karena itu saat melihat Aslan berada di ranjang yang sama dengan Carmen tahulah ia apa firasat buruk itu.
Jelas sudah ini merupakan permainan Carl, mungkin ia ingin melihat hati Winnie yang sebenarnya sebab tak ada wanita yang bisa tahan melihat pria miliknya berada dalam pelukan wanita lain.
Memikirkannya membuat Winnie naik pitam, ia mengeratkan pegangannya pada kemudi sampai telapak tangannya memutih.
__ADS_1
"Sial!" gerutunya.
PLAK
Satu tamparan yang keras ia berikan pada Aslan, namun Aslan tetap tak bergeming padahal pipinya sampai memerah saking kerasnya tamparan Winnie.
"Brengsek! kenapa kau mudah tertipu oleh gadis sialan itu? kau menyuruh ku berhati-hati tapi kau sendiri yang masuk dalam jebakan," gerutunya pada Aslan yang tentu tak mendengar.
"Aaaaahh... ini membuatku stres, dia pasti mencampur minumannya dengan obat tidur. Jika tidak bagaimana mungkin Aslan tidur seperti bangkai," terkanya.
Tak ada gunanya terus menggerutu, Winnie kembali menjalankan mobil menuju rumah Aslan. Setelah tiba ia meminta pelayan pria untuk membawa Aslan langsung ke kamarnya.
"Aslan! apa yang terjadi padanya?" seru seorang wanita menghampiri.
Tentu itu membuat Winnie kaget saat ia ikut masuk ke dalam untuk membawakan jaket dan sepatu Aslan.
"Dia pasti habis berpesta! kau tidak mencium bau alkoholnya!" seru lagi seorang pria yang ikut menghampiri.
"Dasar anak tidak tahu diri! lihat akibat didikan mu yang selalu memanjakannya!" hardik pria itu.
"Eh kau siapa?" tanya wanita itu yang baru sadar akan kehadiran Winnie di pintu.
"Selamat malam, saya teman Aslan. Ini sepatu dan jasnya," ujar Winnie memperkenalkan diri.
"Oh kau yang membawa Aslan pulang," ujar wanita itu segera menghampiri.
Winnie mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, maaf kau harus mendengar hal yang tidak menyenangkan. Ayah Aslan sedang banyak masalah di pekerjaannya jadi dia lebih sensitif," ucap wanita itu yang merasa tak enak.
"Saya mengerti tante, ini jas dan sepatu Aslan. Kalau begitu saya permisi," ujar Winnie menyerahkan kedua benda itu.
"Eh tunggu! ini sudah terlalu malam, kenapa kau tidak menginap saja?" tawar ibu Aslan.
"Tidak perlu tante! saya khawatir orangtua saya akan cemas jika saya tidak pulang," tolak Winnie merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Biar nanti tante yang bicara dengan orangtuamu, mereka pasti mengerti," ujarnya bersikukuh.
Tersenyum dan mengangguk diam-diam Winnie mengutuk dirinya yang pernah memaksa Leo untuk menginap, kini ia pun berada di posisi yang sama dimana tidak bisa menolak permintaan orangtua.
Mendapat pinjaman piyama dari ibu Aslan Winnie segera di beri kamar yang berada tepat di samping kamar Aslan, karena ibu Aslan yang bicara maka Fabio pun tak masalah dan justru meminta maaf sebab Winnie jadi merepotkan.
Di dalam kamar Winnie sudah mematikan lampu dan biasanya dia akan langsung terlelap apalagi setelah menghadiri pesta, tapi malam itu benaknya terbagi dua diantara maslah dengan Carl dan kondisi keluarga Aslan yang sesungguhnya.
Dari pertemuan singkat itu Winnie langsung yakin ayah Aslan memang sangat tegas dan egois, berbeda dengan ibunya yang lemah lembut dan baik.
Mengambil ponsel Winnie segera mencaritahu tentang keluarga Aslan berharap menemukan sesuatu, tapi yang ia temukan hanya sebuah informasi sederhana.
Di semua berita yang memuat tentang Asher ia hanya dapat menemukan nama ayah Aslan adalah Emrit dan ibunya bernama Zela, seperti yang pernah dikatakan Deborah memang benar Emrit menjabat sebagai CEO di perusahaan Asher.
Sisanya berita hanya mengulas produk yang perusahaan itu keluarkan, namun dari sini Winnie cukup tahu keluarga Aslan tak begitu suka di liput media sehingga informasi tentang mereka hanya sedikit.
Meski tidur larut tapi Winnie tetap bangun pagi, setelah mencuci muka ia keluar dan menyapa orangtua Aslan di meja makan.
"Selamat pagi, Pah.. perkenalkan ini teman Aslan yang membawanya pulang. Eh maaf tante lupa menanyakan nama mu," ujar Zela yang merasa bodoh.
"Winnie," sahutnya.
"Winnie, duduklah.. kita sarapan bersama," ucap Zela.
Winnie menurut sementara Emrit sama sekali tak peduli, matanya hanya tertuju pada tab ditangannya.
"Sepertinya Aslan belum bangun," ujar Winnie tak melihat tanda-tanda keberadaan Aslan.
"Anak bodoh itu selalu kesiangan, setelah aku memulai kerja baru dia bangun. Entah kapan dia akan berubah," jawab Emrit ketus.
"Aneh sekali, tapi setiap hari Aslan selalu menjemput ku tepat waktu," ujar Winnie.
"Apa? Aslan menjemput mu setiap hari?" tanya Zela kaget begitu juga dengan Emrit yang kini baru memandangnya.
"Oh maaf, aku tidak memperkenalkan diri dengan benar," ujar Winnie tersenyum sebab ia telah berhasil menarik perhatian Emrit.
__ADS_1
Bangkit dari kursinya Winnie membungkuk dan sekali lagi memperkenalkan diri, "namaku Winnie, sebenarnya aku pacar Aslan."