
Byuuurrrrr...
"Ah! hhhhhhh hhhhhhh hhhhhh" pekikan Winnie itu mengundang tawa semua orang.
Dengan mata yang terasa perih Winnie mengangkat wajah dan melihat Carmen tepat di depannya dengan memegang ember kosong, di sekelilingnya berdiri para preman yang rata-rata bertubuh kekar dan berwajah seram.
"Akhirnya putri tidur kita bangun juga," ujar Carmen tersenyum.
"Kau menyalahi aturan, seharusnya kau tunggu pangeran ku datang untuk mengalahkan penyihir dan membangunkanku lewat ciuman," balas Winnie santai.
"Hahahahaha.... Aslan mu tidak akan pernah datang kemari, dia tidak tahu tempat ini jadi jangan banyak berharap," olok Carmen puas.
Winnie hanya tersenyum, melihat sekeliling yang bisa ia lihat. Tempat itu jelas merupakan gudang yang masih aktif, ada bau bensin yang cukup menyengat dan Winnie yakin itu berasal dari tong biru di sampingnya.
"Sungguh? lalu kenapa kau menyiapkan banyak pengawal?" tanya Winnie.
Carmen terkesiap, lagi lagi dia terjebak pada kata-kata Winnie yang menjatuhkan.
"Untuk menghancurkan mu," bisik Carmen tegas.
"Kalian bisa bersenang-senang dengannya!" seru Carmen kemudian.
Winnie menatap seringai para preman itu, jelas mereka sangat menantikan menikmati tubuhnya beramai-ramai. Sementara Carmen pergi ke samping dan mengeluarkan ponselnya, saat salah satu preman itu mendekat lalu Carmen mulai merekamnya.
Menarik dagu Winnie ia memberi kecupan yang menggebu dan kasar, mengeratkan tangan yang di ikat di belakang Winnie mencoba menahannya.
"Hehe... kau sangat lembut ya!?" ujar preman itu melepaskan.
"Jika kau ingin aku nakal aku bisa melakukannya, aku bisa merangkak di bawah mu dan memanaskannya sebelum benar-benar terbakar. Tapi bagaimana caranya jika tangan ku terikat?" balas Winnie dengan suara yang sangat menggoda.
Ekspresi Winnie pun yang nampak tak sabar dengan menggigit bibir bawahnya membuat preman itu segera menegang, tanpa pikir panjang ia melepaskan ikatan tali.
"Hei apa yang kau lakukan?" hardik Carmen.
"Diam! jangan ganggu aku!" balas preman itu kesal.
"Tenanglah nona, gadis itu tidak akan bisa kabur," sela salah satu preman yang menonton dengan wajah tak sabar menunggu giliran.
Merenggangkan tangan Winnie memastikan tangannya baik-baik saja, dengan otak yang terus berfikir sambil menatap sekeliling ia menghitung total preman itu berjumlah lima belas orang.
Saat ia melingkarkan tangan di leher satu preman yang dipastikan ketuanya dan mulai mengecup bagian tengkuk matanya tajam menatap semua preman di belakang yang menonton, setiap Winnie membuat gerakan yang menggoda semua preman itu nampak melotot menahan diri.
__ADS_1
Mundur beberapa langkah Winnie mulai melepaskan dasi dari seragamnya dan satu kancing hingga tulang lehernya terlihat, menatap pada Carmen ia mengedipkan satu mata yang tentu saja membuat Carmen membatu.
"Sepertinya akan memakan waktu lama jika aku melayani kalian satu persatu, bagaimana jika kita bermain bersama?" tanya Winnie manja.
"Hoho... kau bisa melayani kami sekaligus?" tanya sang pemimpin.
"Kenapa tidak? tentu saja kau yang akan tetap di istimewakan," sahutnya.
Sang pemimpin pun memberi isyarat agar semua anak buahnya maju dan berkumpul di sekitarnya, dengan senyuman yang lebih menggoda lagi Winnie mulai melancarkan aksinya.
Dasi yang ia lepas digunakan untuk menarik leher salah satu preman agar menunduk dan mulai menggoda, tentu sentuhan itu terlalu merangsang hingga dia membalas dengan meremas belakang Winnie.
"Sssshhhhh... biarkan aku yang bekerja," bisik Winnie dengan sedikit *******.
Preman itu tersenyum dan menurut, kembali menyentuh setiap preman yang ada Winnie melakukannya sambil menari kecil meski tak ada musik.
Setelah beberapa menit ia kembali ke depan masih sambil menari, mendekati tong ia berpegangan dan memperlihatkan bagaimana indahnya setiap bagian tubuhnya.
Para preman itu semakin memanas, karena sudah berjanji maka Winnie pun akan melakukannya.
Jleb
Byuuurrrrr...
Sementara para preman itu sibuk dengan hujan bensin Winnie segera berlari ke arah Carmen dan.
Buk
"Ah!" pekik Carmen mendapati sebuah pukulan keras mendarat di hidungnya.
Winnie segera mengambil ponsel itu dan menghapus vidio tentangnya, tak cukup sampai di sana Winnie juga menghancurkan ponselnya.
"Sial! dimana keparat itu?" seru pemimpin preman saat bensin sudah habis.
Berbalik Winnie menantikan para preman itu berlari untuk menangkapnya, tapi sebelum mereka sampai Winnie sudah lebih dulu menyalakan korek api yang juga ia dapat dari saku salah satu preman dan meleparnya.
Zzzzssshhhhh
Aaaaaaaa....
Dalam sekejap mata para preman itu terbakar, merasakan panas yang luar biasa mereka berlari ke sana kemari dan mengeliat-liat bak ular.
__ADS_1
"Mm, bagaimana? sudah cukup panas? kenapa kalian sangat ketakutan? padahal aku saja bisa diam dengan tenang," tanya Winnie sambil tersenyum pahit.
Menatap bagaimana tubuh-tubuh itu meronta mengingatkan Winnie pada kenangan terburuk itu, sebuah kenangan yang menjadi trauma tersendiri namun sekaligus menjadi sumber kekuatan.
"Brengsek! aku akan membalas mu!" jerit Carmen sambil memegang hidungnya yang berdarah.
Tapi saat Winnie menatapnya seketika nyalinya menciut, tatapan Winnie begitu tajam dan dingin tanpa ekspresi. Bahkan aura di sekitarnya tiba-tiba menjadi dingin hingga membuatnya menggigil padahal di depan sana kobaran api kian membesar.
Sret
"Aaaa...... lepaskan!" jerit Carmen saat Winnie menarik rambutnya dan menyeretnya keluar dari gedung.
Sekuat tenaga Carmen meronta mencoba melepaskan diri tapi Winnie jauh lebih kuat darinya, saat mereka cukup jauh dari gudang Winnie pun melepaskan rambut Carmen tapi kemudian ia menahan dada Carmen dengan satu kaki dan membungkuk untuk melihat wajah Carmen dengan lebih jelas.
"Kau mengingatkan ku pada Mo Lin, tidak. Lebih tepatnya pada selir, aku sangat membecimu sampai bahkan tak ada cara kematian yang cocok untuk mu," ujar Winnie pelan dengan sebuah senyuman aneh.
Ddduuuuaaaaarrrr....
Gudang itu meledak dengan hebat, sebuah api besar menyinari punggung Winnie di siang bolong. Menatap Winnie yang tak mengedipkan mata Carmen mulai tersedu, air mata kemudian mengalir bagai sungai yang deras.
"Ampuni aku..... aku mohon... maafkan aku... " pinta Carmen lirih di sela isak tangisnya.
"Winnie!" panggil seseorang tiba-tiba.
Winnie memalingkan wajah dan melihat Aslan serta Carl berdiri menatapnya, melepaskan Carmen Winnie berjalan dengan santai mendekati Aslan.
"Kau ingin menjadi pahlawan?" tanya Winnie setelah tepat berdiri di hadapan Aslan.
Tentu itu adalah niat awalnya, tapi apa yang kini ia lihat tak hanya menghancurkan niatnya tapi juga membekukan tubuhnya.
"Sayang sekali, dalam ceritaku pahlawan tidak di butuhkan sebab aku adalah sang tokoh utama," ujarnya.
Winnie tersenyum saat angin berhembus mengibarkan rambutnya dan menjatuhkan tubuhnya pada Aslan.
"Winnie," panggil Aslan pelan namun Winnie tak sadarkan diri.
Segera ia pun menggendong Winnie dan memasukkannya ke dalam mobil, sementara Carl yang menatap mereka berdua akhirnya bergerak mendekati Carmen yang masih terbaring di tanah dan menangis.
"Carmen," panggil Carl memegang bahunya.
"Carl... selamatkan aku.... selamatkan aku darinya... aku mohon.. " pinta Carmen sambil berpegangan pada tangan Carl.
__ADS_1