Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 115 Menengok


__ADS_3

Bisnis yang semakin berkembang pesat itu membuat Sally benar-benar sibuk, hari ini ia harus terbang ke luar negri untuk urusan itu. Ditemani Juan bersama pria bernama Carlos yang merupakan kolega mereka sampai tepat saat hari sudah malam, tanpa menunggu lagi mereka menemui partner bisnis untuk rapat.


Mereka di ajak masuk ke toko daging, melewati bagian penyimpanan yang dingin. Ternyata ada sebuah pintu rahasia disana, disebaliknya merupakan tempat produksi.


Itu hanya sebuah istilah saja, yang sebenernya mereka hanya memeriksa barang dari Sally kemudian membaginya menjadi skala yang lebih kecil.


Disana juga pengedar menyetor hasil kerja dan menerima upah mereka, Sally cukup kagum karena target pasar mereka bukan hanya kelas atas tapi semuanya.


"Kau punya kantor yang bagus," puji Sally.


"Terimakasih Nona, nah bagaimana kalau sekarang kita ke hotel. Aku yakin kalian pasti lelah, besok aku akan menjemput pukul sembilan."


Mereka pun pergi dari tempat itu, Sally diberi kamar VVIP yang tentu membuatnya tersenyum puas. Rupanya partnernya tahu cara menyenangkannya.


Esoknya sesuai janji mereka di jemput untuk kembali melihat proses penjualan, Sally yang melihat banyak potensi akhirnya menyetujui kerjasama mereka dan membuat surat perjanjian.


Tentu saja Carlos paling senang sebab dia yang paling banyak kecipratan untung, malamnya mereka merayakan kerjasama itu di sebuah klab.


Semalaman Sally minum hingga mabuk, untungnya Juan tak pernah minum sehingga ia dapat menjaga Sally dengan baik.


Harusnya mereka kembali lusa, tapi Sally masih betah dan ingin jalan-jalan di sana. Juan pun melaporkan hal itu kepada Philip.


"Ya sudah biarkan dia liburan, kau kembali saja kesini. Aku membutuhkan mu untuk urusan lain," ujar Philip di telepon.


"Apa tidak masalah meninggalkan Nona Sally sendirian di tempat asing?" tanya Juan sedikit khawatir.


"Mm, akhir-akhir ini suasana hatinya sedang buruk. Mungkin dengan begini ia akan lebih baik," jawab Philip.


Karena itu perintah Philip Juan pun kembali bersama Carlos sementara Sally tetap tinggal, sebenarnya ia tidak benar-benar sendirian sebab ada beberapa anak buah Juan yang ikut tinggal untuk menjaga Sally.


"Nah sekarang temani aku belanja, hanya kalian berdua saja dan jangan pakai stelan jas. Itu akan membuatku jadi pusat perhatian," ujar Sally kepada anak buahnya.


Dua orang yang ditunjuk mengangguk dan segera mengganti pakaian mereka dengan kaus, menemani Sally belanja ternyata tetap saja mereka jadi pusat perhatian.


Itu karena mereka memasang wajah serius sepanjang hari dan tak banyak bicara, mereka juga membawakan semua belanjaan Sally sehingga orang-orang langsung berfikir ia lebih dari orang kaya biasa.


"Hhhhhhh... cape sekali, aku mau istirahat. Kalian bisa pergi, oh ya! nanti sore aku mau jalan-jalan," ujar Sally setelah tiba di hotel.


Tiga hari lamanya kerjaan mereka hanya mengikuti Sally ke tempat-tempat wisata atau sekedar menghabiskan uang dengan belanja, tapi hari itu ia pergi ke klab dan menyewa ruangan VIP dengan membawa semua bodyguardnya.


"Tolong bawakan aku semua gadis yang paling cantik," pinta Sally kepada pemilik klab.


Mendapat firasat baik dalam waktu lima menit ia membawa sepuluh gadis cantik ke ruangan itu, semunya menarik yang membuat para bodyguardnya tak bisa berhenti menatap mereka.

__ADS_1


Pok


Sally melepar setumpuk uang ke atas meja dan berkata "Hari bersenang-senanglah, kita sedang liburan jadi gunakan ini."


"Layani mereka dengan baik," perintahnya kemudian kepada para gadis itu.


"Terimakasih Nona.." ujar mereka serentak.


Para gadis mulai menghampiri, dengan senang hati mereka melayani dan mau melakukan apa pun yang di perintahkan setelah melihat jumlah uang yang tak terhitung itu.


"Nona bolehkah aku melayani mu juga?" tanya seorang gadis sambil mengusap paha Sally.


"Aku masih normal, tapi kau bisa menuangkan minuman untuk ku," jawab Sally.


"B-baik," sahut gadis itu malu karena salah paham.


Tanpa malu beberapa bodyguardnya mulai bermain sementara yang lain ingin memuaskan diri dengan mabuk terlebih dahulu, setelah beberapa menit melihat mereka lengan Sally segera pergi dari sana.


Memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ia menuju rumah Nagisa, rasa rindu dan penasaran yang mematikan itu membuat jantungnya tak mau berhenti berdebar kencang.


Mengawasi dari jarak aman ia kemudian melihat mobil Brian berhenti di rumah Nagisa, kemudian Nagisa dan ibunya keluar dan mereka pergi bersama.


Ia tersenyum senang melihat Brian dalam kondisi sehat dan baik meski ini sudah setahun lebih setelah kematian Winnie, menghapus air mata ia pun mengikuti mereka.


Duduk tepat disebalik dinding yang memisahkan mereka ia bisa mendengar semua pembicaraan mereka.


"Aku tak menyangka kalian akan memutuskan menikah secepat ini," ujar Brian.


"Itu karena Deborah takut aku direnggut gadis lain," gurau Carl.


"Apa-apaan, sejak pertama kau yang menyatakan cinta lalu tiba-tiba melamar dan mengajak ku untuk menikah. Bukankah kau yang terlalu mencitai ku?" sahut Deborah tak terima.


"Iya sayangku... " balas Carl sembari mencubit pipi Deborah.


Mendengar percakapan itu Sally sampai menutup mulut agar tak ada suara yang keluar dari sana, ia benar-benar tak menyangka dua sahabatnya itu akan menjalin hubungan bahkan ke jenjang yang lebih serius.


Setelah mendapatkan informasi tentang kapan dan dimana acara pernikahan itu akan diselenggarakan ia pun pergi, semalaman ia berfikir mencari sesuatu yang pantas untuk dijadikan kado.


Akhirnya karena bingung ia pun pergi ke toko perhiasan yang paling terkenal, ia melihat sebuah set perhiasan lengkap dengan kalung, anting-anting, gelang dan cincin.


Itu adalah perhiasan yang paling mewah dan akan cantik bila digunakan oleh Deborah, pilihannya pun akhirnya jatuh pada perhiasan itu.


Saat tiba pada hari pernikahan ia menyelinap pergi tanpa sepengetahuan bodyguardnya, lagi pula semalam ia sudah memberi mereka obat tidur sehingga ia bebas hari itu.

__ADS_1


Tiba di sana alangkah pilu hatinya melihat Aslan yang sudah minum banyak meski ini baru pagi, padahal ia sudah senang karena Brian baik-baik saja.


Tapi melihat perhatian Nagisa ia senang karena Aslan mau menurut, meski ada sedikit rasa cemburu disana.


Matanya yang tak bisa lepas dari Aslan dengan perasaan hancur akhirnya bertatap juga dengan mata Aslan, ia dapat melihat dengan jelas ekspresi terkejut Aslan.


Sayangnya ia harus bersembunyi, meski hatinya tak tega melihat Aslan yang kalang kabut mencarinya.


Hari itu ia hanya menatap mereka dari jauh sambil tersenyum pahit, apalagi saat Deborah dan Carl melempar bucket bunga pengantin. Harusnya dia dan Aslan yang melempar lalu Deborah yang menangkapnya, tapi tak di duga bunga itu justru melayang ke arah Ibu Nagisa dan berakhir padanya.


Semua bertepuk tangan begitu juga dengan Sally yang merasa geli seban usia ibu Nagisa sudah hendak mencapai setengah abad, namun begitu di perhatikan ada sesuatu yang janggal.


Bukan hanya Ibu Nagisa yang tertunduk karena malu tapi juga Brian, ia bahkan menjadi salah tingkah karenanya.


Melihatnya membuat firasat muncul bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, Sally tertawa sendiri membayangkan jika mereka berdua benar-benar menikah.


Tak ada yang salah dengan itu, cinta tak pernah memandang fisik atau pun usia. Jika memang mereka berjodoh Sally akan kembali datang dan memberi hadiah spesial untuk ibu tiri barunya yang kali ini ia sukai.


Sebenarnya ia masih ingin tinggal dan melihat mereka lebih lama lagi, bahkan jika bisa ia ingin datang kepada Aslan dan memeluknya dengan erat.


Sayang kedatangannya kali ini hanyalah untuk menengok mereka, jika ia tinggal lebih lama lagi itu akan membuat Philip curiga.


Esoknya ia pun mengajak semua bodyguardnya untuk pulang.


......................


"Aku pulang.... " seru Sally sambil berjalan masuk.


"Hai sayang! bagaimana liburan mu?" sambut Philip.


"Menyenangkan, hanya saja ternyata aku lebih betah di rumah ku sendiri."


"Hahaha.. baguslah kalau begitu," sahut Philip.


"Aku membawakan mu oleh-oleh," ujar Sally.


Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Philip, saat di buka rupanya itu adalah dasi berwana merah yang cerah.


"Aku punya banyak lipstik dengan warna ini, jika kau memakainya ini akan membuat kita terlihat seperti pasangan yang kompak," ujarnya.


"Terimakasih sayang," ucap Philip senang karena Sally sangat memikirkan mereka.


"Kau pasti lelah, ayo pergi ke kamar dan istirahat."

__ADS_1


__ADS_2