
Hari pertama di hotel Winnie mengajak Mily untuk berbincang, ia bertanya langsung mengenai pergantian tugas kakaknya. Dengan jujur Mily mengatakan tidak ada niatan untuk bekerja, dia hanya menggantikan kakaknya yang sedang sakit agar terus mendapatkan uang.
"Aku sudah melihat kontrak kerja kakak mu, jelas disana tertulis dia dibayar perhari. Karena sakit dan tidak bisa bekerja artinya dia tidak bisa mendapatkan uang sebab tidak datang kemari," ujar Winnie.
"Tapi aku kan datang untuk menggantikannya, jadi kakak ku tetap mendapatkan uangnya kan?" tanya Miya.
"Tidak bisa, justru aku akan melaporkan mu sebagai kasus penipuan. Jelas tertulis dalam kontrak kerja kakak mu yang menjadi pihak kedua, kau datang menggantikannya dan membodohi perusahaan itu adalah kejahatan besar," jelas Winnie.
"Aku sudah lama melakukan hal ini, kenapa kau begitu mempersulitkannya?" protes Mily.
"Kalau begitu pak kepala juga akan kena hukuman karena sudah melanggar kode etik," sahut Winnie.
"Apa? kau... kau... keterlaluan!" hardik Mily tak dapat menemukan umpatan yang cocok.
Dengan marah dia meninggalkan Winnie dan pergi mengadu pada pak kepala, tentu saja yang lain pun mendengar keluhan itu dan berbincang bersama.
"Sejak awal melihatnya aku sudah tahu dia memiliki watak yang keras, pertama kali datang saja dia langsung melihat-lihat tempat ini padahal setelah melakukan perjalanan panjang. Orang dari kantor pusat memang tidak mengerti kita," ujar Karin.
"Padahal dia sangat cantik, sayang sekali sifatnya jelek," timpal Milo.
"Jadi kita harus bagaimana pak kepala?" tanya Mily.
"Aku akan bicara padanya," ujar Pak kepala dengan raut wajah sedih.
Ia pun meninggalkan karyawan yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri, di kantor tempat dimana Winnie sedang sibuk melihat semua berkas mengenai hotel Pak kepala masuk dan mengajaknya bicara.
"Nona Winnie, Rhea dan Mily tidak memiliki pekerjaan yang cukup bagus. Meski begitu mereka adalah pegawai yang ulet, mereka tinggal di rumah sewa dan harus menghidupi kakek nenek mereka yang sudah renta. Aku harap kau bisa memberi sedikit keringanan untuk mereka," ujarnya lembut.
"Pak Kepala, anda harus berhenti mencampuradukan masalah pribadi dan pekerja. Aku baru satu hari di sini dan sudah tahu alasan terbesar kebangkrutan hotel ini adalah kau," sahut Winnie tegas.
Ia kemudian memperlihatkan diagram perkembangan hotel.
"Lihatlah! setiap bulan hotel mengalami penurunan yang tajam, kau terus meminta keringanan bahkan berhutang demi fasilitas hotel yang tak pernah digunakan dengan baik. Meski aku menutupi semua kesalahan mu akan ada pegawai pusat lainnya yang merobohkan tempat ini," jelasnya.
"Aku mengerti, tapi kau harus lihat bagaimana keadaan daerah ini. Jangan hanya terpaku pada hotel saja," ujar Pak kepala.
__ADS_1
"Jadi kau ingin menyalahkan daerah ini yang tidak memiliki destinasi wisata yang bagus? kalau begitu kita tidak punya pilihan selain merobohkan hotel," sahut Winnie.
"Bukan begitu maksud ku, jarang ada wisatawan yang datang sehingga hotel pun menjadi sepi. Dulu memang tempat ini sangat ramai tapi seiring berjalannya waktu wisatawan terus berkurang," ucap Pak kepala panik.
Hhhhh...
Winnie menghembuskan nafas panjang, ia pun sudah paham betul dimana letak masalahnya. Ia merasa sekuat apa pun berusaha memperbaiki hotel akan percuma jika tak ada pengunjung yang datang, tapi ia juga tak mungkin menyerah.
"Pak Kepala, kau punya dua pilihan. Pertama aku akan memberimu waktu sebulan dan bagaimana pun caranya kau harus membuat hotel ini ramai lagi, atau kedua aku yang akan memimpin hotel dan kau tidak boleh protes apa pun yang ku lakukan."
"Mana pun yang ku pilih... itu demi menyelamatkan hotel dari penggusuran kan?" tanya pak kepala memastikan.
Winnie mengangguk, membuat pak kepala berfikir keras mana pilihan yang paling tepat. Ia sudah kehabisan akal dan hutang semakin menumpuk, tapi jika ia serahkan tampuk kepemimpinan pada Winnie ia takut Winnie akan membuat berbagai macam peraturan yang menyusahkan pegawainya.
"Baiklah, aku serahkan hotel ini padamu," ujar pak kepala akhirnya.
Winnie mengangguk, hari ini ia masih akan membiarkan semua berjalan seperti sebelumnya sebab ia masih harus memeriksa dokumen.
Dia juga belum melihat seluruh daerah itu sehingga ia akan memulai operasi kebangkitan hotel nanti, tepat saat Rhea sudah bisa bekerja lagi.
Demi mendapatkan bukti Carl datang ke perumahan milik Camila dan membeli satu rumah dengan cicilan murah namun waktu yang lama, setelah berhasil mendapatkannya ia kembali ke apartemen untuk melaporkan pekerjaannya.
"Oh ya, aku hampir lupa. Winnie menyuruh kita untuk melihat perawat Iren, bisa kita pergi sekarang?" tanya Aslan.
"Sepertinya begitu, nanti sore aku harus mengajar Nagisa jadi sebaiknya kita pergi sekarang."
"Kau memberinya les?" tanya Aslan.
"Ya, untuk menghemat waktu dan juga uang. Kami sudah menduskusikannya kemarin," sahut Carl.
Aslan mengangguk dan bertanya lagi, Nagisa berasal dari keluarga tak mampu sehingga keputusan yang diambil Carl adalah yang paling tepat.
Sampai di tempat tujuan tentu saja kedatangan mereka membuat Jimmy terkejut, ia sampi bertanya-tanya bagaimana mungkin bisa dua monster berjalan bersama.
"Kami ingin melihat perawat itu, bagaimana keadaannya?" tanya Carl.
__ADS_1
"Oh ya, sesuai perintah Winnie kami terus memberinya makan agar ia hidup. Kalian bisa masuk," sahut Jimmy,
"Kerja bagus Jim," ujar Aslan sembari menepuk pundak Jimmy.
Tak berani berkata apa pun lagi Jimmy mengangguk dan menyuruh temannya untuk membukakan pintu, Aslan dan Carl pun masuk.
Berhari-hari tak mandi membuat perawat Iren mengeluarkan bau tak sedap yang membuat Carl hampir muntah, keadaannya cukup kacau setelah di kurung tanpa mengenal cahaya matahari.
"Sepertinya kondisi mentalnya tidak cukup baik," bisik Carl memperhatikan sorot mata perawat Iren yang kosong.
"Kau ingat siapa namamu?" tanya Aslan menghampiri.
"Iren.. " sahutnya.
Aslan dan Carl saling berpandangan kemudian menganggukkan kepala sebagai isyarat mereka bisa melanjutkan interogasi.
"Siapa yang menyuruh pacarmu melakukan pembunuhan itu?" tanya Aslan langsung pada intinya.
Pupil matanya bergerak, diikuti oleh kepala yang seakan ia menyadari sesuatu.
"BT 0011 NM, dia mengintaiku terus.. " ujar perawat Iren.
"Plat nomor mobil," ucap Carl.
Tanpa kata Aslan dan Carl segera pergi dari tempat itu dan menelpon Deborah untuk segera memeriksa nomor plat mobil yang baru mereka dapatkan.
"Sepertinya firasat Winnie selalu benar," ujar Aslan dalam perjalanan pulang.
"Kenapa?" tanya Carl.
"Saat dia merasakan ada sesuatu yang tak beres hal itu selalu terjadi, dia menyuruhku mengajak mu memeriksa perawat itu sebab dia merasa telah melewatkan sesuatu. Terkadang ini membuat ku merinding," jawabnya.
"Dia sangat sensitif, wajar jika kebanyakan semua firasatnya benar."
Yang Aslan takutkan adalah saat Winnie berfirasat buruk tentang keselamatannya, ia takut hal buruk akan benar-benar terjadi pada gadis itu.
__ADS_1