
Seharian Winnie menjadi pendiam yang membuat Philip merasa tak senang, ia ingin melihat Winnie yang selalu memberikan kejutan.
Demi itu Philip kemudian mengajak Winnie menyelam, menikmati pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Memang pada awalnya Winnie sangat antusias, tapi setelah mereka naik ke darat wajah Winnie kembali muram.
"Katakan padaku apa yang bisa membuatmu terus tersenyum," ujar Philip.
"Kau tidak akan menyukainya," sahut Winnie.
"Setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan," balas Philip.
Winnie menatap lekat Philip, mencoba menerka apa yang akan dilakukan pria itu.
"Aku ingin kau merelakan tiga miliarmu," ujar Winnie akhirnya.
Wajah Philip mengeras yang menandakan ucapan Winnie benar.
"Aku masih punya ayah dan nenek, mereka pasti khawatir karena aku tak kunjung pulang."
"Dimana kau tinggal?" tanya Philip setelah ada jeda sedikit yang membuat Winnie tegang.
......................
Tidak ada dirumah, tidak ada di kantor, tidak ada diapartemen. Winnie tak ada dimana pun. Mencoba menyelidiki hilangnya Winnie Deborah sampai meretas CCTV dan berhasil menemukan jejak terakhir Winnie sebelum menghilang.
Dari CCTV jalan raya mobil Winnie terlihat mengalami kecelakaan dan seorang pria membiusnya, dalam keadaan tam sadarkan diri kemudian Winnie di bawa pergi.
Deborah terus berusaha mengikuti kemana penculik itu membawa Winnie, tapi mereka pergi ke tempat yang tak ada CCTV sehingga Deborah tak tahu kemana tepatnya Winnie dibawa.
"Serahkan padaku, yang penting kita dapat nomor plat mobilnya," ujar Aslan.
Bersama dengan Carl mereka berpencar mencari Winnie mulai dari tempat terakhir mereka terlihat, setiap desa ia kunjungi, setiap orang dia tanyai, tapi tak ada satu pun yang pernah melihat Winnie atau mobil itu.
Aslan benar-benar tak suka ini, seolah mereka menghilang bagai asap. Sudah lima hari mereka mencari namun tak ada kemajuan, mereka juga sudah menyelidiki siapa penculik Winnie tapi mengalami jalan buntu.
"Bagaimana mungkin? bahkan kasus dua puluh tahun yang lalu tanpa saksi pun bisa kita pecahkan, mengapa kemana Winnie pergi saja kita tidak tahu," ujar Nagisa bingung.
"Itu semua karena Winnie, dia yang langsung masuk dalam kubangan sehingga kita mudah mendapatkan informasi. Dia tidak curiga tanpa ada alasan yang jelas," sahut Deborah.
__ADS_1
Mereka terdiam, bahkan ahli menggali informasi seperti Deborah saja tidak mendapatkan jejak. Bisa dipastikan lawan mereka bukan orang sembarangan.
Terlalu lama menghilang tentu saja Oma Nana juga khawatir, ia bahkan sampai melapor pada polisi untuk kasus orang hilang.
Frustasi, Aslan melamun menatap langit. Kini genap seminggu sudah Winnie hilang, apartemen menjadi sepi meski mereka berkumpul disana.
"Um..guys... sepertinya kalian harus melihat ini!" seru Deborah tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Semua termasuk Aslan segera mendekat, rupanya Deborah ingin menunjukkan sebuah berita yang sedang ia baca. Itu merupakan berita penemuan mayat seorang gadis di sungai, tanpa menunggu lagi mereka segera pergi untuk melihatnya.
Sampai disana polisi mengatakan mayat itu sudah tak bisa dikenali karena membusuk, perkiraan penyebab kematiannya adalah pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang.
Lalu mayat dibuang ke sungai dan terus hanyut selama beberapa hari, banyak anggota badan yang rusak akibat terlalu lama di air karena itu wajahnya sudah tak bisa dikenali.
"Motifnya mungkin dendam, sebab dompet korban tidak diambil begitu juga dengan perhiasannya. Ini barang-barang milik korban," ujar polisi itu sambil menberikan sebuah dompet dan cincin yang berada di dalam plastik.
Aslan mengeluarkan cincin itu dan melihatnya dengan teliti, sayangnya harapannya kandas. Cincin itu adalah benar cincin berlian yang dia berikan kepada Winnie saat mereka di vila, meski tak ingin menerima kenyataan itu tapi keberadaan cincin telah membuatnya hancur.
"Bisakah dilakukan tes DNA, meski ada identitas korban tapi mungkin saja dompet itu di selipkan sebelum korban di buang," ujar Deborah masih berharap.
Deborah mengangguk, setelah polisi itu pergi kemudian ia berkata "Belum tentu, Winnie tidak selemah itu. Mungkin saja dia yang sengaja melakukan ini agar orang yang mengincarnya terkecoh."
"Benar! pasti kak Winnie sedang bersembunyi di suatu tempat," timpal Nagisa.
Esok harinya dengan rasa penasaran yang tak karuan mereka kembali datang bersama Brian, saat hasil DNA sudah keluar nyatanya itu memang milik Winnie.
Tak kuasa menahan tangis Brian bahkan sampai pingsan, putri semata wayangnya kini telah tiada.
Kabar duka ini cepat menyebar sebab jasad Winnie sudah tak bisa disimpan lagi, dalam proses pemakaman semua orang turut hadir begitu juga dengan Aslan dan orang tuanya.
Mereka benar-benar menyesal hal ini telah terjadi, apalagi Emrit sudah berniat akan melamar Winnie untuk putranya Aslan.
Aslan sendiri merasa ini hanya sebuah mimpi buruk, ia ingin percaya bahwa Winnie masih hidup disuatu tempat. Tapi jika memang begitu seharusnya cincin itu ada bersamanya, bukan tersemat di jari mayat yang telah di kubur.
Selesai acara pemakaman orang-orang mulai pergi, tinggal Brian yang masih menangis diatas batu nisan.
"Andai dia tidak pernah tinggal bersama mu pasti saat ini dia masih hidup, kau memang pembawa sial bagi keturunan ku!" bentak Oma Nana.
__ADS_1
Saat ini dia yang paling hancur dan benci pada Brian, setelah putrinya Maya kini cucunya Winnie telah pergi. Tak ada lagi gunanya tinggal di rumah Wilson, Oma Nana memutuskan langsung pulang ke gubuk reyotnya untuk menghabiskan sisa umur dengan kesepian.
"Mas...aku turut berduka untuk mu," ujar Camila yang juga datang.
"Ayah, ayah masih ada aku. Bolehkah aku tetap memanggilmu ayah?" tanya Nicki menghampiri.
"Oh Nicki!" seru Brian sambil memeluk Nicki.
Air mata semakin deras mengalir, Nicki mengusap punggung Brian dengan lembut begitu juga dengan Camila. Namun diam-diam wajah mereka menyunggingkan senyum, Camila sama sekali tak menyangka Diana akan mampu menyingkirkan Winnie dengan mudah.
Hanya dia yang tahu bahwa penculikan Winnie adalah perbuatan Diana demi membalas kematian keluarganya, ia ingat waktu itu Diana berkata akan menjual Winnie pada orang asing. Tapi ternyata Winnie malah dihabisi, memang berbeda dari rencana awal tapi ini jauh lebih baik.
Dengan begini Camila bisa mendekati Brian lagi, mungkin mereka bisa menikah lagi dan Nicki bisa menjadi pewaris perusahaan Wilso.
......................
Rasa penasarannya terbayar saat Philip mengajaknya ke sebuah ruangan, begitu masuk bau busuk menyengat hidung mereka sampai Winnie tak tahan.
Diatas meja Philip kemudian memperlihatkan sosok mayat yang sudah membusuk.
"Tulis nama dan alamat mu untuk membuat kartu Identitas, dia akan menggantikan kematianmu," ujar Philip.
Rupanya Philip tidak ingin kehilangan Winnie, karena itu ia memutuskan keluarga Winnie-lah yang akan kehilangan.
Melihat jasad wanita itu Winnie berfikir cukup keras, memang ia akan di untungkan dengan adanya jasad itu sebab musuhnya mengira ia telah tewas. Dengan begitu ia bisa leluasa mencaritahu siapa yang menculik dan menjualnya, dengan begini keluarganya juga akan berhenti khawatir.
Masalahnya adalah Aslan, dia tidak akan mudah percaya sekalipun wajah jasad itu mirip dengannya.
Aslan pasti akan terus mencarinya sampai ke ujung dunia, Winnie khawatir Aslan bahkan sampai melakukan hal yang berbahaya sementara ia tak tahu kapan bisa lepas dari Philip.
"Ada satu yang kurang," ujar Winnie.
"Apa?" tanya Philip.
"Cincin berlian, aku yakin orang-orang itu menyimpan cincin milik ku. Jika mayat ini tidak mengenakan cincin berlian itu maka sampai kapan pun tak akan ada yang percaya bahwa Winnie telah mati sekalipun tes DNA membuktikannya," jelasnya.
Philip mengerti, ia segera menyuruh anak buahnya untuk mencari cincin itu. Dengan begini Winnie harap Aslan akan diam, mungkin dia hancur tapi tidak melakukan hal bodoh.
__ADS_1