
Semilir angin menyapu rambutnya hingga berantakan, diatas padang rumput yang lembut itu ia merasakan kakinya geli setiap mengambil langkah.
"Aslan... " sayup panggilan lembut itu membuat telinganya bergerak.
Kepalanya menoleh kesegala arah untuk mencari sumber suara.
"Aslan... " lagi, suara yang sangat familiar itu kini terdengar cukup dekat.
Namun kemana pun ia menoleh, hingga berlari tak ada siapa pun disana. Ia seorang diri. Perasaan cemas kini mulai merajam hatinya, menindih dadanya hingga terasa sesak.
Ketakutan ia mengulurkan tangan, menggapai apa pun untuk berpegangan. Sampai tangannya akhirnya berhasil menggenggam sesuatu, ia menariknya dengan kuat dan mendekapnya erat.
"Aslan... " kini seruan itu begitu pelan bagai bisikan.
Perlahan dengan ragu ia buka matanya, menangkap sebuah wajah yang terpampang jelas di depannya.
"Winnie.. " panggilnya lirih.
Suaranya yang bergetar mengalirkan cairan bening di pipi, tangannya yang basah karena keringat menarik tubuh gadis itu lebih dekat lagi untuk memeluk dan mengecup bibirnya.
......................
Terkejut Aslan reflek bangun dan mengerjapkan matanya, dilihatnya sekeliling kamar itu dan memastikan bahwa ia benar-benar telah bangun.
Matahari sudah mulai meninggi tanda hari baru sudah dimulai, mengerutkan kening mengingat mimpi semalam suasana hatinya mendadak kacau.
Turun dari ranjang ia segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, saat ia mulai menggosok gigi tiba-tiba ia merasa bahwa mimpi itu terlalu nyata. Apalagi saat ia mengecup Winnie.
Segera menyelesaikan gosok giginya kemudian Aslan meraih kausnya dan pergi ke luar, langkahnya yang cepat segera berhenti saat melihat Sally berada di gazebo.
"Pagi, um... sebenarnya sudah siang juga sih!" sapa Sally sambil tersenyum.
Memperhatikan wanita itu Aslan kemudian duduk tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Kau mau sarapan? aku bisa minta pelayan buatkan kau sesuatu," tawarnya.
"Boleh," sahutnya pelan.
Sally tersenyum kemudian memberi isyarat kepada pengawal untuk memanggilkan pelayan, setelah pelayan datang ia menyuruhnya membuat sandwich dan segelaa susu.
"Um... apa tadi malam kau ke kamarku?" tanya Aslan ragu.
"Tidak, kenapa?" sahut Sally.
"Ah bukan apa-apa," ujar Aslan lega.
Menghembuskan nafas lega karena itu memang mimpi Aslan kemudian menyuap sarapan yang dibawakan pelayan, sementara Sally diam-diam mengeratkan tangannya di bawah meja kuat-kuat.
Itu bukan mimpi, Sally benar-benar datang ke kamar Aslan tapi pagi hari bukan malam untuk membangunkannya.
Saat ia masuk yang dilihatnya adalah wajah Aslan dengan kerutan di dahi, bibirnya menggumamkan sesuatu yang tak jelas dan ada buliran keringat di seluruh keningnya.
Sally mencoba membangunkannya dengan memanggil bahkan sedikit menggoyangkan bahunya, tapi Aslan tak juga bangun.
"Winnie.. " panggilan lirih itu membuat Sally membatu.
Saat kemudian Aslan mengecupnya rasa kaget perlahan hilang, ia ikut menutup mata dan membalas kecupan itu bersama dengan pelukan.
Hanya beberapa menit sampai Aslan kembali tidur dengan pulas, melihat wajah damai Aslan yang terlelap hatinya seketika hancur karena telah memberikan penderitaan yang besar.
Dengan cepat ia pun bangkit dan meninggalkan kamar itu, untuk menghilangkan perasaan tak karuan itu segera ia berganti pakaian dengan belahan dada yang cukup terbuka serta tak lupa mengenakan lipstik merah.
......................
Masuk ke kamar Deborah mendapati Carl tengah duduk menghadapi laptop dengan wajah serius, penasaran ia ikut melihat apa yang terpampang di layar itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya heran sebab rupanya Carl sedang melihat sebuah foto tiga pria yang nampak sedang berada di sebuah klub.
__ADS_1
"Bisakah kau memperjelas foto ini? aku ingin memastikan sesuatu," ujarnya.
"Memperjelas? apa maksud mu?" tanya Deborah tidak mengerti sebab menurutnya foto itu sudah sangat jelas.
Carl kemudian menarik anak panah dan memperbesar bagian kepala salah satu pria, setelah melihatnya barulah Deborah mengerti apa maksud Carl.
"Teman ku mengirimkan foto ini saat ia sedang liburan di luar negri, awalnya tidak ada yang aneh. Hanya foto tiga pria yang sedang minum, tapi saat aku melihatnya lebih teliti lagi seorang wanita yang terpotret membuatku penasaran. Aku pikir ini Winnie," terangnya.
"Kapan teman mu mengirimkan foto ini?" tanya Deborah.
"Kemarin lusa," sahutnya.
Tanpa mengajukan pertanyaan lainnya Deborah segera menyamber laptop itu, mengutak-atik gambar tersebut demi memperjelas wajah seorang wanita yang terpotret disana.
Satu jam berlalu dengan rasa penasaran, akhirnya Deborah berhasil membuat foto itu lebih jelas lagi. Saat mereka memperhatikan wajah itu memang jelas wajahnya sangat mirip dengan Winnie, hanya saja dengan style yang berbeda.
"Tidak mungkin, apakah Winnie masih... " gumam Deborah tak dapat meneruskan kalimatnya sebab ia terlalu bingung.
"Hanya ada dua kemungkinan, pertama mayat yang dikubur bukanlah Winnie yang asli dan kedua wanita ini hanya seseorang yang mirip dengannya."
"Carl, kau tahu apa yang ku pikirkan?" tanya Deborah.
Tentu saja Carl tahu, dia sudah sangat mengenal Deborah. Lagi pula apa yang Deborah pikirkan sama dengan pikirannya juga, maka dia pun mengangguk.
"Dimana teman mu liburan?" tanya Deborah.
"Jerman," sahut Carl.
"Bukankah Aslan juga pergi kesana untuk pekerjaannya?" tanya Deborah yang teringat.
"Kau benar, harusnya pekerjaannya sudah selesai dan dia sudah pulang. Tapi katanya dia ingin liburan dulu disana," sahutnya.
"Mungkinkah Aslan juga bertemu dengan wanita ini?" tanya Deborah.
__ADS_1
"Fifty-fifty."
Semua kemungkinan bisa terjadi, bahkan keajaiban pun bukanlah hal yang mustahil. Telah mengambil keputusan Carl segera mengurus visa mereka untuk terbang ke sana tanpa memberitahu Aslan terlebih dahulu, mereka harus memastikannya sendiri sebelum menceritakannya pada orang lain.