
Winnie meminta ijin kepada Brian untuk mengambil tawaran Will, saat nama itu di sebut ekspresi Camila seketika berubah pucat. Ini semakin membuat Winnie yakin mereka berhubungan pada kasus kematian Miya.
Brian tak mempermasalahkan keputusan Winnie untuk menjadi artis, tapi Nicki tentu keberatan. Dia juga ingin terjun ke dunia akting seperti Winnie sehingga ia merajuk pada ibunya setelah makan malam, diam-diam Winnie menguping pembicaraan ibu dan anak itu.
"Tidak! kau tidak boleh menjadi artis atau model, apalagi dibawah naungan perusahaan Will," ujar Camila tegas.
"Tapi kenapa bu?" protes Nicki.
"Dengar, menjadi artis itu tidak seenak yang kau bayangkan. Ada banyak tekanan dan ibu tak ingin kau mengalaminya," ujar Camila membujuk.
Ini membuat Winnie heran, ia bertanya-tanya apakah memang Camila ingin menjaga putrinya atau tengah menyembunyikan sesuatu juga dari Nicki.
......................
Kembali di temani Nagisa Winnie memenuhi undangan meeting bersama penulis dan aktor yang akan ikut main dalam film itu, kehadirannya yang tiba-tiba menjadi pemeran utama tentu saja membuat semua orang kaget.
Apalagi setelah tahu Will yang memasukkannya, segera mereka merendahkan kemampuan akting Winnie.
Salah satunya Bram, aktor yang di tunjuk sebagai pemeran pria yang akan menjadi lawan main Winnie.
"Tunggu Pak sutradara, alangkah baiknya kita lihat dulu kemampuan akting Winnie sebelum ke tahap selanjutnya. Ini adalah film dengan biaya produksi yang mahal jadi tidak ada salahnya kita latihan," ujar Bram.
Winnie yang selalu update tentu tahu siapa Bram, dia salah satu aktor yang sedang naik daun dan memiliki banyak penggemar. Selain menjadi aktor ia juga seorang penyanyi, hanya dalam satu minggu albumnya pertamanya terjual habis.
"Aku sudah melihat akting Winnie dan yakin akan ini, tapi tentu mari kita lihat untuk semakin yakin akan peran wanitanya. Winnie tolong baca dialogmu," ujar sutradara.
Winnie yang sudah di beritahu tokoh mana yang akan ia mainkan segera mengucapkan dialognya, saat itulah semua orang yakin dia cocok menjadi pemeran utama.
Padahal ia hanya duduk namun getar suara dan mimik wajahnya benar-benar mengikuti peran, kemampuan aktingnya adalah bakat alami yang sempurna.
Bram yang awalnya meremehkan karena enggan di sandingkan dengan artis nepotisme akhirnya mengakui bahkan seketika menyimpan rasa kepada Winnie, di sela-sela istirahat ia mengajak Winnie mengobrol untuk lebih saling mengenal.
Winnie tak keberatan akan hal itu, justru itu memudahkannya berbaur sehingga lebih mudah menggali informasi.
__ADS_1
"Baiklah hari ini cukup sampai di sini, terimakasih semuanya," ujar Sutradara membubarkan syuting.
"Winnie apa kau mau ikut makan malam dengan ku? ada satu restoran yang menjadi langganan ku," tawar Bram.
"Boleh juga," sahut Winnie yang memang sudah kelaparan.
Restoran langganan Bram rupanya memiliki tuang VIP dimana Bram bisa makan tanpa gangguan, menjadi seorang bintang memang merepotkan sampai segala rutinitas selalu di ikuti paparazi.
Dalam makan malam itu Nagisa dan manager Bram juga ikut, kali pertama merasakan makanan di restoran mewah membuat Nagisa takjub akan pelayanan dan rasa yang memang enak.
"Winnie jika kau tidak keberatan besok aku ingin berangkat bersama ke lokasi syuting, saat mendapat peran aku selalu mencoba sedekat mungkin dengan lawan main agar mempermudah akting ku. Aku harap kau mengerti," ujar Bram.
"Aku mengerti, tapi maaf aku tidak bisa melakukannya. Aku punya kebiasaan di mobil yang tak ingin di ganggu orang sehingga hanya boleh ada asistenku saja," tolak Winnie halus.
"Begitu ya," ucap Bram kecewa.
"Maafkan aku, kita bisa melakukan hal yang lain untuk membantu akting mu."
Makan malam kembali berlangsung, obrolan pun beralih topik pada hal yang lebih santai. Setelah selesai mereka berpisah di tempat parkir.
"Alasan mu sungguh kuno, kau tidak butuh sedekat itu dengan lawan main hanya agar mudah berakting," ketus manager Bram setelah kepergian Winnie.
"Habisnya saat melihat wajah cantiknya seketika otak ku ngeblang, aku jadi bingung harus beralasan apa agar lebih dekat dengannya," sahut Bram.
"Hentikan niatmu! kau baru saja naik daun. Jika penggemar sampai tahu kalau kau dekat dengan artis pendatang baru karir mu bisa langsung hancur," omel manager.
......................
Malam semakin larut, setelah pukul sepuluh lewat penjagaan akan semakin longgar sehingga ia bisa memiliki kesempatan untuk menyelinap masuk.
Mengganti kostum dengan seragam OB ia mendorong peralatan pembersih dan mulai mengepel sambil mengamati keadaan, matanya yang cukup tajam memperhatikan setiap gerak petugas yang masih bekerja.
Saat kesempatan itu datang dengan cepat ia menyelinap masuk ke ruang kepala, tak ada waktu banyak ia harus cepat menemukan berkas kematian Miya sebelum kepala Polisi itu kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Setiap laci dan rak ia periksa dengan baik, namun sayangnya berkas itu tak ditemukan. Ia pun beralih pada komputer dan mulai memeriksanya, tentu saja di bagian berkas penting ia harus memasukkan kode.
Inilah waktunya menunjukkan kemampuan terpendamnya, kemampuan yang tak pernah di ketahui oleh siapa pun bahkan Winnie.
Kemampuan itu adalah hacker, sejak kecil Deborah sudah terbiasa dengan gadget sampai ia memiliki teman dunia maya yang mengajarinya beberapa trik sederhana menggunakan aplikasi tersembunyi.
Karena tidak pernah punya teman akhirnya Deborah asyik dengan dunianya sendirian bersama teman-teman yang tak pernah ia jumpai, pada akhirnya ia malah menjadi hacker yang cukup handal.
Ini menjawab pertanyaan dari mana ia mendapat informasi cepat dan akurat, setelah beberapa menit akhirnya ia berhasil membobol masuk dan dapat dengan segera menemukan kasus itu.
Karena tak ada waktu untuk memeriksa ia segera mengcopy ke dalam disk.
Ceklek
Pintu terbuka, kepala polisi itu masuk dan menatap tajam kepadanya. Dengan degup jantung yang kencang serta keringat dingin yang mengalir di keningnya Deborah hanya menunduk sambil terus menggosok lantai.
"Permisi," ujar Deborah sambil membawa kain pelnya pergi.
Beruntung ia menyelesaikan tugasnya tepat waktu hingga tak ketahuan, namun tetap saja ia merasa tegang karenanya.
"Tunggu!" sergah polisi itu.
Deborah segera membatu, perlahan ia kemudian berbalik sambil terus berdoa dalam hati demi keselamatannya.
"Lihat bagian sana, itu masih kotor!" hardiknya sambil menunjuk bagian bawah meja.
"Oh maafkan aku," sahut Deborah merasa lega.
Ia cepat mengepel bagian bawah meja sementara polisi itu berjalan ke kursinya, setelah selesai Deborah cepat pergi.
Sampai di ruang OB ia menaruh semua peralatan pembersih, lalu mengambil plastik sampah dan berjalan ke luar.
Sambil membuang sampah ia mengganti kostumnya dan meninggalkan kepolisian dengan cepat, ia harus segera memeriksa berkas itu sambil menenangkan jantungnya yang masih tegang.
__ADS_1