
Tak pernah terpikir oleh Philip Winnie akan melepaskan pegangannya, tentu saja bukan itu yang ia harapkan sehingga dengan cepat ia meraih Winnie dan menariknya.
Mereka jatuh diatas rumput dengan aman, sementara Philip masih terengah karena syok Winnie bangkit namun tetap dengan posisi berada di atas Philip.
"Kau lebih tidak ingin rugi," ujar Winnie mengumbar kenyataan.
Tangan Philip terulur, merangkul Winnie dan mendekapnya dengan erat. Kini Winnie bisa mendengar detak jantung Philip yang sangat keras.
"Maafkan aku, aku hanya tidak suka kau dekat-dekat dengan pria lain. Lain kali aku tidak akan berbuat begini lagi," sesalnya.
Ada nada sungguh-sungguh dalam setiap kata yang diucapkan Philip, sayangnya Winnie tak percaya meski ia menangis darah. Lain kali saat dia dekat pria lain Philip pasti akan melakukan tindakan nekat lainnya, lalu menyesal kemudian dan meminta maaf.
Seperti itulah putaran roda toxic relationship, menjebak dalam rasa takut yang tidak sehat.
......................
Susah payah ia bangun pagi dan menyiapkan sarapan, makanan kesukaan Brian. Ia sudah bilang pada Nicki akan mengunjungi mantan suaminya itu dengan membawa makanan, saat ini Brian pasti kembali terupuk dan hilang nafsu makan seperti dulu.
Meski merepotkan tapi Camila tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini, ia harus kembali mendapatkan hati Brian demi kelancaran usahanya.
Tiba di kediaman Wilson benar saja Brian masih tidur karena habis mabuk semalaman, bau alkohol menyengat dari mulutnya yang terbuka untuk mengambil nafas.
Hampir tak tahan Camila segera membuka jendela agar udara bisa masuk dan sedikitnya memudarkan bau alkohol.
"Brian... bangunlah, ini sudah siang. Aku membawakan mu makanan kesukaan mu," panggil Camila lembut.
Perlahan Brian mengerutkan dahi, kepalanya terasa berdenyut hebat dan terasa sakit. Sementara ia mencoba menyadarkan diri Camila membawakan sup yang masih panas.
"Ini akan membuatmu segar," ujarnya sambil menyodorkan mangkuk.
"Tidak, terimakasih" sahut Brian.
__ADS_1
Ia benar-benar kehilangan nafsu makan lebih dari saat kematian Maya, kembali membaringkan tubuh diatas ranjang ia mulai kembali memejamkan mata.
"Kau tidak boleh terus sperti ini, kau tahu itu kan?" ujar Camila sambil menyimpan mangkuk.
"Apa gunanya? dulu aku masih punya harapan dengan terus mencari Winnie, sekarang dia benar-benar sudah pergi."
"Masih ada aku dan Nicki, bukankah kau juga menyayangi Nicki? setidaknya lakukanlah ini demi Nicki, dia sudah tidak punya ayah lagi selain kau," bujuk Camila.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Brian.
"Cobalah sibukan dirimu, pergilah bekerja. Dengan bertemu banyak orang kau pasti perlahan akan merasa baikan dan tidak kesepian lagi, atau bagaimana jika kita liburan?" sarannya.
"Untuk apa? perusahaan itu sudah aku jual, tidak ada gunanya lagi."
"Apa? kau menjualnya? sejak kapan?" tanya Camila tak percaya.
"Sudah cukup lama, bahkan saat itu Winnie juga masih ada."
Hari-hari Brian sebagai alkoholik kembali berlangsung, ia akan mabuk di barat sampai tak sadarkan diri. Kadang ia sampai di usir karena membuat kekacauan, seperti yang terjadi malam itu.
Ia tak sengaja menyeggol seorang pemuda dan menumpahkan minuman ke jaketnya, pemuda itu marah dan memukul Brian habis-habisan.
Kondisi Brian yang sedang mabuk tentu saja tak bisa membalas, ia terkapar di lantai dengan kondisi bersimbah darah. Pelayan bar segera melemparnya ke jalan karena mengganggu pengunjung lain, di malam yang semakin dingin kesadarannya pun perlahan hilang.
......................
Meski hidupnya kini jauh lebih baik tapi ia harus tetap bekerja untuk dapat makan, setidaknya jika ada uang lebih dapat ia gunakan untuk biaya kuliah Nagisa.
Bekerja di sebuah restoran sebagai tukang cuci piring terkadang membuatnya dapat membawa sisa makanan yang tak terjual, hari itu bahkan pemilik restoran memberinya daging mentah untuk ia masak.
Tak sabar ingin pulang dan membuat hidangan lezat ia berjalan tergesa-gesa di sepanjang trotar, namun melihat seorang pria terkapar di jalanan langkahnya menjadi perlahan.
__ADS_1
Mengerutkan kening menatap pria itu alangkah kagetnya ia saat mengingat bahwa itu adalah Brian ayah Winnie, segera ia mengguncang tubuh Brian dan memastikannya masih hidup.
Kemudian bersusah payah ia pun membawa Brian pulang, begitu membuka pintu Nagisa yang sudah menunggu kaget bukan main ibunya membolong Brian masuk.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Nagisa.
Ibunya menggelengkan kepala, mereka pun segera membawanya masuk dan membaringkannya di kamar. Dengan sigap ibunya mengganti pakaian Brian yang kotor karena nkda darah dan bau alkohol, ja juga mengobati luka di wajah Brian.
Dengan isyarat ia menjelaskan kepada Nagisa bahwa ia menemukan Brian terkapar di jalan, karena itu ia membawanya pulang.
"Kak Winnie pernah berkata paman Brian adalah seorang alkoholik setelah kematian istrinya, saat itu ia berhasil sembuh karena dirawat Camila. Sekarang mereka sudah berpisah, kepergian kak Winnie pasti membuatnya kembali menjadi alkoholik tanpa ada yang merawatnya," jelas Nagisa.
Mereka tentu prihatin dengan keadaan Brian, terlebih ibu Nagisa. Ia tahu mental Brian sangat lemah sehingga ia mudah menjadi pecandu, ia pun berkata akan merawat Brian sebagai balas budi kepada Winnie.
Nagisa mengangguk setuju, dulu dia banyak ditolong Winnie sampai akhirnya bisa kuliah. Kini saatnya ia membalas kebaikan itu.
Dua hari lamanya Brian tak sadarkan diri, ia juga sempat deman yang membuat mereka khawatir. Untung saja masa itu cepat berlalu dan ia bisa bangun meski dalam keadaan lemas, ibu Nagisa pun memberinya sup untuk menambah energi tapi Brian menolak.
"Seharusnya kalian tidak menolongku, biarkan aku mati menyusul keluarga ku. Orang seperti ku sudah tidak berguna lagi," ujar Brian lemah.
Brak
Tiba-tiba Nagisa memukul meja, tentu saja itu membuat mereka kaget.
"Jika ingin mati setidaknya tunggulah sampai paman sehat dulu!" hardik Nagisa.
"Kak Winnie sudah banyak membantu ku, asal paman tahu aku juga sempat ingin bunuh diri tapi dia menyelamatkan ku. Tak hanya itu ia juga memberiku pekerjaan agar aku bisa membayar uang sekolah dan les, aku memiliki banyak hutang budi pada kak Winnie tapi belum sempat membalasnya. Kini aku punya kesempatan untuk membalas kebaikan kak Winnie lewat merawat paman, setidaknya biarkan kami membalas kebaikan kak Winnie dulu agar aku tidak malu saat bertemu kak Winnie di surga nanti."
Brian terdiam, betapa seriusnya Nagisa dengan ucapannya. Ibu Nagisa pun menambahkan bahwa ia ikhlas merawat Brian, ia akan sangat berterimakasih jika Brian mau mereka rawat sampai sembuh. Setelah itu Brian bebas melakukan apa pun yang dia mau.
Air bening seketika meleleh di pipi Brian, bahkan setelah mati pun Winnie masih menjadi putri kebanggaannya.
__ADS_1