
Tangis Nicki tak mau berhenti meski mereka telah pulang ke rumah, itu wajar. Gadis mana pun akan menangis jika tak mampu menahan malu, sementara Camila semakin geram dan niatnya untuk mempermalukan Winnie berubah menjadi niat untuk membunuh.
Sementara Winnie sendiri masih berada di pestanya bersama Brian, meski ia tak bisa meniup lilin ulang tahun karena kuenya hancur tapi bukan berarti pesta berakhir begitu saja.
Ia menerima banyak hadiah mewah yang membuatnya senang serta kenalan orang penting, satu-satunya yang menjengkelkan adalah Ashar yang terus saja menempel padanya.
Setelah berbagai alasan akhirnya ia bisa melepaskan diri, merasa lelah menghadapi pemuda agresif seperti Ashar Winnie menghirup udara bebas di balkon.
"Boleh aku bergabung?" tanya Leo mendapat kesempatan.
"Ah ya," sahut Winnie pelan.
"Kau keliatan lelah, kalau begitu bersantailah. Aku akan menemuimu nanti," ujar Leo merasa tak enak.
"Eh tidak apa-apa," ucap Winnie cepat.
"Sungguh?" tanya Leo memastikan.
Winnie mengangguk yakin, Leo cukup baik dan pengertian. Bahkan dia pemuda yang sopan sehingga Winnie dapat merasa nyaman bicara dengannya, karena itu ia tak keberatan akan keberadaan Leo.
Tersenyum lega Leo mendekat dan ikut menikmati angin malam di samping Winnie, malam itu langit sedang penuh oleh bintang dan bulan bersinar dengan sempurna.
Beberapa menit tak ada suara kecuali desiran angin, rasanya sangat nyaman bagi Winnie dapat terlepas sejenak dari hiruk pikuk dunia.
"Ah ada bintang jatuh!" seru Leo tiba-tiba sambil menunjuk langit.
Winnie ikut menatap langit dan terdiam sampai bintang jatuh itu lenyap.
"Kau tidak membuat permohonan?" tanya Leo.
"Kau percaya pada tahayul seperti itu?" balas Winnie.
"Kau tidak percaya?" tanya Leo heran.
Winnie tersenyum dan menjawab "Aku percaya keajaiban itu ada, tapi tidak percayalah harapan dapat terwujud dengan sendirinya. Jika benar harusnya saat itu hidup ku sempurna."
Leo bisa melihat sorot mata Winnie yang berbeda, seakan Winnie telah mengalami tujuh kematian sehingga ia tahu persis bagaimana cara kerja harapan.
"Bagaimana dengan mu? kau percaya?" tanya Winnie.
__ADS_1
"Jika aku tak percaya aku akan kehilangan arah," sahut Leo sembari tersenyum.
Winnie tak mengerti apa maksud Leo, ia hanya menatap pemuda itu cukup lama untuk menemukan apa sebenarnya isi kepalanya.
"Ah pesta sebentar lagi akan berakhir, sebaiknya kita kembali bergabung dengan yang lain," ujar Winnie melepaskan pandangan.
Leo mengangguk setuju, Winnie pun berjalan lebih dulu.
Ah!
Pekik Winnie saat kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke lantai, tapi Leo dengan sigap berhasil menangkapnya sehingga ia kini berada dalam pelukan Leo.
Saat mata mereka beradu Winnie menemukan sebuah tatapan pangeran mahkota kepada Yumna, sebuah tatapan kaget saat melihat wajah cacat Yumna namun kemudian berubah menjadi pilu.
Entah mengapa Winnie pun merasa pegangan Leo yang kuat sama persis seperti pangeran yang enggan melepasnya, dalam hati Winnie bertanya-tanya mengapa wajah, sikap, bahkan detak jantung Leo begitu mirip dengan pangeran mahkotanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leo.
"Ya, ya... aku baik-baik saja," sahut Winnie cepat bangkit.
Memikirkan pangeran mahkota meski sekejap membuatnya hampir kehilangan kendali, mengatur nafas Winnie lekas kembali ke kerumunan dan menjadi putri Wilson dengan misi di hidupnya.
Namun setelah kembali ke rumah ia malah kepikiran Leo lagi, di kehidupan ini padahal ia telah merasa Aslan adalah pangeran mahkotanya. Tapi karena keberadaan Leo yang bagai pinang di belah dua dengan pangeran kini hatinya menjadi bimbang, ia pun merasa nyaman dengan Leo.
Beruntung Jimmy mengabarinya bahwa ia telah berhasil menculik perawat Iren, ia mengirimkan lokasi dimana Iren di sekap agar Winnie bisa menemuinya.
Tanpa menunda waktu lagi esok paginya Winnie segera menuju ke alamat yang di kirimkan Jimmy, itu merupakan pabrik yang sudah lama tidak di gunakan.
Saat sampai dua preman menyambutnya dan menuntunnya masuk ke dalam untuk bertemu Jimmy terlebih dahulu.
"Akhirnya kau sampai juga, dia di dalam," ujar Jimmy sambil menunjuk sebuah pintu tepat di belakangnya.
"Bagus, tolong awasi selama aku di dalam," ucapnya.
Jimmy mengangguk dan membiarkan Winnie masuk, sementara teman yang dia mintai tolong berbisik lepadanya "Dia yang memberi tugas ini?".
"Benar, kenapa?" tanyanya.
"Astaga... wajahnya sangat cantik dan bersih pula, melihatnya datang kemari dia seperti malaikat yang terperangkap di tempat sampah."
__ADS_1
"Hahahaha... itu karena kau tidak kenal baik siapa dia," ujar Jimmy tertawa geli.
"Kenapa?" tanya temannya bingung.
"Dia lebih menyeramkan dari yang kau bayangkan, dia seperti medusa dengan lidah beracun."
"Sungguh? wah... gadis cantik memang menyimpan banyak senjata," gumamnya tak percaya.
Ruangan yang di masuki Winnie hanya di terangi satu lampu, itulah mengapa ruangannya remang-remang tapi Winnie dapat melihat dengan baik. Menutup sebagian wajah dengan sapu tangan Winnie tak membiarkan Iren melihat wajah aslinya.
"Bagaimana rasanya di siksa? pasti mudah menjalaninya karena kau sudah terbiasa," ujar Winnie sambil duduk tepat di hadapan Iren.
Wanita yang kini sudah tak muda lagi menatap Winnie, memperhatikan dengan seksama.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Iren lemah sebab ia sudah kehilangan banyak tenaga akibat siksaan dari teman-teman Jimmy.
"Katakan siapa dalang di balik penculikan dan kematian Maya Wilson," perintah Winnie langsung pada intinya.
Mendengar nama Wilson ingatan Iren segera kembali pada peristiwa yang kini genap dua puluh tahun yang lalu, semuanya masih jelas dalam ingatannya itu.
"Aku akan langsung pada intinya, bantu aku penjarakan orang itu atau kau yang mendekap di penjara," ujar Winnie.
Khehehehehe
Bukannya menjawab Iren malah tertawa meledek, Winnie tahu gertakan semacam itu tak akan berhasil pada orang yang sudah kebal siksaan.
Dari berkas yang di berikan Deborah ia tahu Iren sudah biasa di perlakukan kasar oleh kekasihnya, mau menerima pekerjaan berat itu juga pasti Iren sudah memikirkan resikonya.
"Daniel Wu, sangat di sayangkan di menikah muda. Tapi nasibnya cukup mujur, dia menikahi kekasihnya dan berhasil membangun bisnis halal sendiri. Meski hidup serba berkecukupan tapi dia sangat bahagia," ujar Winnie.
"Bedebah! dari mana kau tahu tentang putraku?" jerit Iren bangkit dari tempat duduknya.
Beruntung Jimmy mengikat Iren sehingga ia tak bisa mendekat atau melukai Winnie, yang bisa ia lakukan hanya memaki dengan semua umpatan.
"Pacarmu adalah penjahat yang menculik bayi-bayi tak berdosa dan menjualnya, saat mengetahui kau hamil tidak mungkin bayimu akan selamat darinya. Pria seperti itu tidak mengenal cinta, jadi kau memutuskan untuk pergi meninggalkannya sampai bayimu lahir. Menitipkannya di panti asuhan sampai ada orang yang mau mengadopsinya," jelas Winnie.
Iren hanya terdiam, Winnie telah mengetahui segala sesuatu tentangnya termasuk kelemahannya.
"Coba kau bayangkan, bagaimana reaksinya jika tahu ternyata ibunya seorang penjahat bukan perawat yang berdedikasi."
__ADS_1
Mendengar perkataan Winnie kini Iren menelan ludah, ia tahu cara mainnya agar putranya tidak ikut terseret dalam kasus ini.
"Katakan siapa orang yang menyuruh kalian," perintah Winnie kini lebih tegas.