Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 24 Pesta Yang Tidak Menyenangkan


__ADS_3

"Tidak!" tegas Aslan tanpa ingin perundingan.


Winnie tahu permintaannya itu akan di tolak mentah-mentah, tapi ia tetap bersikeras mengajak sebab tak mungkin ia pergi sendiri menghadiri pesta itu.


"Kita hanya datang untuk menunjukkan bahwa tak ada yang perlu kita takutkan," ujar Winnie mencoba menggait kelemahan Aslan.


"Aku tidak peduli di anggap pengecut sekalipun, aku tahu bagaimana liciknya Carl dan aku tidak mau kau terkena masalah," sahut Aslan.


"Maka dari itu kau harus menemani ku sebab aku peduli pada martabatmu!" jelas Winnie dengan lebih keras.


Rupanya pernyataan itu berhasil menarik perhatian Aslan hingga ia mendekat dan merangkul pinggan Winnie.


"Jadi kau peduli padaku? begitukah?" tanya Aslan sambil tersenyum senang.


"Maksud ku Carl harus tahu siapa penguasaan yang sesungguhnya," ralat Winnie sambil mencoba mendorong tubuh Aslan yang terlalu dekat.


"Baiklah kita akan pergi," ujar Aslan mengalah.


Karena tujuan menghadiri pesta ini adalah untuk menunjukkan kekuatan mereka maka Aslan segera mengajak Winnie membeli beberapa pakaian yang pantas, sebagai gadis meski rasanya tidak perlu tapi Winnie senang melakukannya.


Tampil dengan begitu menawan Aslan di buat menjadi ragu untuk menghadiri pesta, ia tak ingin pria lain melihat betapa cantiknya Winnie.


"Pakaian ini sudah cocok, bagaimana dengan mu? kau sudah memilih jas yang sesuai?" tanya Winnie.


"Ya, aku hanya tinggal mengganti pakaian saja," sahut Aslan kehilangan semangatnya.


"Kalau begitu cepatlah!" seru Winnie sebab mereka akan terlambat jika masih berdiri di sana.


"Apakah kita benar-benar harus pergi?" tanya Aslan memelas.


"Tentu saja! cepat ganti pakaian mu," sahut Winnie sambil mendorong Aslan ke ruang ganti.


Tak butuh waktu lama bagi pria untuk mengganti pakaian, dalam waktu sekejap Aslan sudah keluar dengan memakai stelan jas.


Menatap dari ujung kepala hingga ke ujung kaki Winnie sadar pakaian apa pun yang di kenakan Aslan akan terlihat bagus, mungkin itu karena Aslan memiliki badan yang bagus dengan wajah yang tampan.


"Rapihkan ini," ujar Winnie sambil membetulkan dasi Aslan.

__ADS_1


Entah mengapa perhatian kecil itu membuat kepercayaan diri Aslan meningkat, memberikan lengan untuk Winnie berpegangan ia pun mengajaknya segera berangkat.


Tak butuh waktu lama untuk sampai, seperti yang sudah Aslan perkiraan Winnie segera menjadi pusat perhatian. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan pujian dari kekaguman para pria kepada Winnie, mata mereka bahkan nampak melotot tanpa berkedip yang membuat Aslan tak nyaman.


"Selamat datang," sambut Carl.


"Terimakasih Carl, pesta yang indah. Sangat mencerminkan bagaimana kepribadian mu," sahut Winnie sambil menatap sekeliling.


Pesta ulang tahun itu begitu klasik, membuat Winnie merasa di tengah pesta kerajaan Inggris.


"Aku anggap itu sebagai pujian," balas Carl.


"Hai Winnie," sapa Carmen menghampiri.


"Hai.... senang bisa melihatmu lagi," sahut Winnie tak percaya Carmen masih mampu tersenyum dan menyapanya setelah kejadian waktu itu.


"Hai Aslan, kau terlihat tampan malam ini. Kalian nampan serasi," ujarnya memperhatikan pakaian yang mereka kenakan.


"Terimakasih, kau juga terlihat cantik," balas Aslan hanya untuk basa basi.


Carmen mulai mengajak mereka bicara lagi tapi Winnie hanya menyahut sesekali, perhatiannya terfokus sepenuhnya pada pesta yang sedang berlangsung itu.


Dari semua tamu yang hadir ia tak mengenali satu pun kecuali Carmen, tentu ini cukup masuk akal sebab Carl murid baru sehingga belum mengenal banyak orang. Tapi meski begitu ini tetap mencurigakan, insting perlindungan Winnie yang telah aktif sejak ia menginjakkan kaki di hotel membuat matanya terus waspada.


"Aslan, apa kau mau menemaniku berdansa?" tanya Carmen.


"Entahlah, aku tidak pandai menari," sahut Aslan yang enggan meninggalkan Winnie seorang diri.


"Tak apa, gerakannya cukup sederhana. Kau hanya perlu mengikuti ku saja," ujar Carmen memaksa.


Aslan segera menatap Winnie, karena Winnie mengangguk maka ia pun akhirnya menerima tawaran itu. Mereka segera maju ke lantai dansa dan mulai menari, sementara Winnie mengawasi dari pinggir.


"Lho kau sendiri?" tanya Carl menghampiri.


"Mm, mereka sedang berdansa," sahut Winnie sambil menunjuk lantai dansa dimana Aslan dan Carmen berada.


"Kalau begitu bagaimana jika kita bergabung?" tanya Carl mengulurkan tangan.

__ADS_1


Tak ada alasan untuk menolak, Winnie mengangguk dan menyambut tangan itu.


Berada pada satu lantai yang sama dengan Aslan dan Carmen Winnie bisa melihat tatapan Aslan yang tajam kepadanya tatkala Carl melingkarkan tangannya pada pinggang Winnie, itu membuatnya merasa bersalah sebab seakan telah berkhianat.


"Kau pandai menari juga rupanya," bisik Carl sambil memperhatikan wajah Winnie yang cantik.


"Kenapa? apakah orang tak mampu seperti ku tak boleh pandai menari?" balas Winnie.


"Sepertinya aku telah menyinggungmu, maaf," ujar Carl.


Winnie tak menyahut, dia melempar muka enggan menatap Carl. Carl mulai bicara lagi, membicarakan tentang pestanya yang lama kelamaan membuat Winnie bosan.


Saat lagi berakhir maka Winnie pun memilih untuk mengakhiri dansanya, ia pergi hendak menghampiri Aslan namun anehnya ia tak menemukannya.


"Winnie kau mau minum?" tawar Carl sambil menyodorkan gelas.


"Tidak terimakasih," sahut Winnie yang tiba-tiba merasa cemas sebab tak bisa menemukan Aslan dimana pun ia berada.


Carl yang di tolak memberi isyarat kepada pelayan pembawa nampan gelas untuk mendekat, saat berjalan menghampiri sialnya kaki pelayan itu tersandung dan.


"Ah!" pekik Winnie sebab minuman dalam gelas itu tumpah mengenai bajunya.


"Maaf.. nona.. aku tidak sengaja," ujar pelayan itu cepat bangkit dan membereskan gelas yang tumpah.


"Tidak apa-apa," sahut Winnie sambil mencoba membersihkan noda itu dengan tangannya.


"Sepertinya nodanya akan sulit hilang, bagaimana kalau kau ganti pakaian saja. Kau bisa meminjam pakaian Carmen," tawar Carl.


"Tidak perlu, sebaiknya aku pulang saja. Toh hari sudah malam," tolak Winnie yang semakin merasa tak nyaman.


"Tolong jangan seperti itu Winnie, kau adalah tamu ku. Ayo kita segera pergi saja kamar Carmen," ajak Carl langsung menarik tangan Winnie agar mengikutinya.


Turun ke lantai bawah mereka berjalan ke salah satu kamar di hotel itu.


"Sebenarnya ini kamar ku, tapi Carmen juga memakainya dan menyimpan beberapa pakaiannya di sini. Kau bisa gunakan pakaian mana pun yang kau mau," ujar Carl sambil membuka kunci kamar itu.


Saat mereka masuk keadaan kamar cukup gelap, Carl segera menyalakan lampu agar mereka bisa melihat. Tapi hal yang tak sepatutnya juga ikut terlihat, tepat di hadapan mereka diatas ranjang Aslan nampak pulas tertidur dengan seorang gadis yang sangat mereka kenal. Itu adalah Carmen.

__ADS_1


__ADS_2