
"Ini dia Winnie putri kami," ujar Fabio.
Winnie mengangguk memberi hormat, tentu ia tersenyum tapi matanya jelas memperlihatkan rasa penasaran yang besar.
"Namaku Leo, senang bertemu dengan mu," ujar pemuda itu mengulurkan tangan.
Winnie menyambut tangan itu, ia tersenyum. Ternyata bukan hanya wajahnya saja tapi genggaman tangannya pun sama kuat dan lembutnya dengan pangeran mahkota.
"Rasanya kita pernah bertemu di suatu tempat," ujar Leo sembari meneliti wajah Winnie.
"Kalau tidak salah di toko, aku sempat berfikir kau kenalan ku karena itu aku terus menatap mu," sahut Winnie mengingat hari dimana ia begitu syok melihat pangeran mahkota di hadapannya.
"Oh benar!" seru Leo baru teringat.
"Lalu.... kenapa anda bisa di sini?" tanya Winnie penasaran.
"Tadi ibu kena jambret, untung saja ada nak Leo yang membantu. Dompet ibu pun kembali," jelas Jeny.
"Apa? lalu bagaimana dengan ibu? apa ada yang luka? ada yang sakit?" tanya Winnie segera memeriksa keadaan ibunya.
"Aish... ibu tidak kenapa-kenapa," sahut Jeny.
Jeny dan Fabio adalah orang yang terlalu baik, mendapat pertolongan dari Leo lantas membuat mereka tak membiarkan Leo pergi begitu saja sebelum makan malam.
Alhasil karena terus di paksa Leo pun menyetujuinya, seperti saat Carl bertamu kali ini pun Jeny yang memasak di bantu Fabio sementara Winnie menemaninya.
Sebenarnya alasannya cukup sederhana, mereka tahu anak muda seperti Leo akan merasa canggung jika mengobrol dengan orangtua karena itu mereka menyuruh Winnie yang menemani.
"Aku tidak pernah melihat mu di sekitar desa ini, apa kau kebetulan sedang lewat sini?" tanya Winnie.
"Mm, ya. Kebetulan mobil ku mogok di jalan dan ternyata baru bisa di pakai besok, rencananya aku mau menginap di hotel dan saat sedang mencari penginapan tanpa sengaja aku melihat ibumu di copet," jelas Leo.
"Oh begitu, hotel cukup jauh di sini. Bagaimana jika kau menginap saja? kau bisa menggunakan kamarku," tawar Winnie.
"Eh tidak usah, aku malah jadi merepotkan," tolak Leo merasa tak enak.
"Kau sudah menolong ibuku, anggap ini sebagai balasan dari kami," ujar Winnie bersikeras.
Karena Leo tetap menolak maka Winnie memberitahu orangtuanya tentang masalah Leo, seperti yang telah ia prediksi orangtuanya segera memaksa Leo untuk menginap.
__ADS_1
Jika sudah orangtua yang memaksa maka Leo tak bisa berkutik, akhirnya ia pun menurut.
Winnie tersenyum senang, sebenarnya alasan ia menahan Leo adalah karena dia ingin mengetahui tentang Leo lebih jauh lagi. Ia ingin memastikan apakah Leo reinkarnasi pangeran mahkota atau hanya seseorang yang mirip dengan pangeran.
Selesai makan malam mereka mempersilahkan Leo untuk beristirahat, Favio dan Jeny juga pergi ke kamar mereka sebab seharian bekerja membuat mereka lelah dan cepat mengantuk.
"Aku mau mengerjakan tugas dulu," ujar Winnie memberitahu.
"Baiklah, selesaikan dengan cepat. Biar ibu yang bereskan tempat tidur untuk mu," sahut Jeny.
Karena rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur jadi Winnie terpaksa tidur bertiga dengan orangtuanya sebab kamarnya di pakai untuk Leo, sebenarnya Winnie lebih memilih tidur di ruang tengah saja tapi Fabio tidak mengijinkan karena Winnie bisa masuk angin nantinya.
Beberapa menit berlalu dan rumah sudah hening, yang terdengar hanya dengkuran halus Fabio.
"Oh, kau belum tidur?" tanya Leo kaget melihat Winnie yang masih duduk di ruang tengah.
"Aku sedang mengerjakan tugas sekolah, kau sendiri tidak tidur?" balas Winnie.
Leo tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya meski tidak gatal, ia berjalan mendekat dan duduk di depan Winnie.
"Aku... tidak bisa tidur," sahutnya.
"Eh tidak, aku memang mengidap insomnia," ucap Leo cepat agar Winnie berhenti menyalahkan rumahnya.
"Sungguh? mau coba minum susu hangat?" tawar Winnie.
"Mm, boleh," sahut Leo sedikit malu.
Winnie tersenyum dan segera bangkit, sekalian dia juga membuat untuk dirinya. Hanya butuh waktu sebentar saja dan dua gelas susu hangat sudah tersedia di meja.
"Kau sekolah di Yamana?" tanya Leo melihat buku-buku Winnie.
"Aku mendapatkan beasiswa di sana," sahut Winnie mengerti ekspresi kaget Leo.
"Wah... kau pasti sangat pintar sampai bisa mendapatkan beasiswa di sana," puji Leo yang membuat Winnie sampai tersipu.
"Tidak, aku hanya beruntung," ujarnya merendah.
Di sisa malam yang masih panjang itu mereka habiskan dengan mengobrol sampai Winnie lupa pada tugasnya, kebanyakan isi obrolan adalah rasa penasaran Winnie tentang identitas Leo yang sebenarnya.
__ADS_1
Dengan keahliannya dalam bermain kata Winnie tidak menemukan tanda-tanda Leo adalah pangeran mahkota, itu sedikit membuatnya kecewa tapi lega juga karena akhirnya ia menemukan jawaban yang pasti.
"Astaga... ini sudah malam," seru Leo menatap jam dinding.
"Benar juga, kita keasyikan mengobrol sampai lupa waktu," sahut Winnie.
"Sebaiknya kita cepat tidur kalau tidak bisa-bisa besok kesiangan," ujar Leo.
"Hhhh... andai saja waktu bisa berhenti di sini," gumam Winnie menatap jarum jam yang terus bergerak.
Saat ini ia sangat nyaman dapat bicara leluasa dan menjadi dirinya sendiri, menjadi Yumna yang kadang akan bersikap malu di hadapan pangeran mahkota.
"Eh aku hanya bicara omong kosong, kalau begitu selamat malam," ujar Winnie canggung saat sadar Leo tengah memperhatikannya karena gumaman itu.
Ia segera membereskan buku-bukunya dan cepat pergi ke kamar orangtuanya, entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang seolah takut identitasnya akan ketahuan.
Tapi jika di pikir lagi kalaupun ia mengatakan bahwa dia berengkarnasi menjadi Winnie pasti tidak akan ada yang percaya, mengibaskan pikiran yang tak perlu ia berbaring di tempat tidurnya dan mulai terlelap.
Paginya setelah sarapan Leo berpamitan pergi begitu juga dengan Winnie yang akan berangkat sekolah, di persimpangan jalan mereka berdua saling mengucapkan terimakasih dan berpisah.
Dari kejauhan Winnie bisa melihat mobil Aslan sudah menunggu di tempat biasa, segera Winnie berlari mendekatinya.
"Selamat pagi," sapa Winnie dengan sebuah senyuman yang manis.
Aslan terkesiap, entah mengapa pagi itu ia merasa Winnie nampak lebih feminin dari biasanya.
"Pagi... " sahutnya.
"Bisa kita pergi sekarang? aku lupa belum mengerjakan tugas jadi harus ku selesaikan sekarang juga," ujarnya.
"Oh baiklah," balas Aslan.
Mereka segera naik ke dalam mobil, saat Aslan bersiap untuk memacu mobilnya sejenak ia menatap Winnie lekat-lekat sampai tiba-tiba mendekatkan tubuhnya.
Tentu saja itu membuat Winnie kaget, wajah Aslan yang begitu dekat dengannya membuat pikirannya tiba-tiba melayang pada hal yang memacu adrenalin.
Trek
"Jangan lupa sabuk pengaman mu," ujar Aslan kemudian mundur.
__ADS_1
"Eh!" gumam Winnie menyadari dia telah salah berfikir.