
Sebelum makan malam tiba Brian sudah pulang, namun dia terlihat tergesa-gesa hingga tak memperhatikan Winnie yang menatapnya dari ruang tamu.
Selang tak berapa lama kemudian Brian ke luar di antar Camila dan seorang pelayan yang membawa koper.
"Ayah mau pergi?" tanya Winnie menghampiri.
"Oh Winnie, ya. Ayah ada urusan pekerjaan di luar kota jadi harus pergi selama beberapa hari," jawab Brian.
"Ini mantel mu," ujar Camila sambil memakaikannya.
"Terimakasih, maaf Winnie kita harus menunda rencana kita," ucap Brian menyesal.
"Tak apa, masih ada banyak waktu."
Berterimakasih atas pengertian yang diberikan Winnie Brian pun pamit, kepergiannya di antar oleh Camila, Winnie dan Nicki sampai depan pintu.
Setelah Brian pergi Winnie bisa melihat senyum jahat di wajah Camila, tentu dengan kepergian Brian ibu dan anak itu memiliki kekuasaan untuk bertindak sesuka hati.
Tapi makan malam berlangsung dengan tenang tak seperti yang Winnie sanhka, ia pikir mereka akan berbuat sesuatu yang membuatnya jengkel. Atau mungkin belum.
Sebenarnya Nicki sudah gatal ingin membuat perhitungan, tapi Camila menahannya. Menurutnya akan baik membuat Winnie hancur dengan sesuatu yang besar sehingga ia bisa angkat kaki dari rumah.
Mengurung diri di kamar Nicki menghabiskan waktu dengan bermain ponsel, ia saling membalas pesan dengan gengnya di grup. Topik yang dibicarakan para gadis itu tak jauh dari pesta, pria dan fashion.
Sampai salah satu temannya mulai membongkar aib seseorang, dari sana Nicki mendapat ide untuk mempermalukan Winnie. Ia mulai bersandiwara sebagai saudara yang tertindas, ia menceritakan bagaimana hari itu wajahnya bengkak dan Winnie sama sekali tidak perhatian.
Dia justru sibuk bermain dengan Tony dan Ashar, teman satu gengnya mulai merasa iba dan menjelekkan Winnie. Rupanya diantara mereka ada juga yang cemburu kepada Winnie sebab merasa kalah saing, ia ikut menjelekkan Winnie dengan mengatakan gadis gatal karena mendapat banyak perhatian pria.
Obrolan semakin memanas, hingga Nicki akhirnya menceritakan bahwa selama ini Winnie hidup miskin dan serba kekurangan. Itulah alasan mengapa Winnie banyak meminta terhadap Brian, mulai dari mobil dan kuda.
Emosi mereka semakin terpancing tentunya, hingga mencapai satu titik mereka sepakat membuat Winnie malu agar berhenti bersikap so cantik.
Esoknya pagi hari sebelum Winnie berangkat kuliah Nicki menahannya dan mengajak bicara.
"Temanku mengadakan pesta, dia meminta ku untuk mengundangmu. Sebaiknya kita datang karena akan tidak sopan jika menolaknya," ujarnya.
__ADS_1
"Begitu ya, kapan?" tanya Winnie.
"Besok lusa, pestanya di pantai jadi jangan lupa bawa baju santai ya," sahut Nicki.
"Baiklah," jawab Winnie.
Senyum Nicki sangat mencurigakan saat Winnie setuju, ini membuat insting Winnie memberi sinyal hati-hati. Tapi hal itu bisa ia pikirkan nanti, untuk sekarang dia harus pergi kuliah terlebih dahulu.
Bertemu dengan Deborah di kampus ia di sambut dengan sebuah senyum yang membuat Winnie penasaran.
"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?" tanyanya.
"Coba tebak!" ujar Deborah bersemangat.
"Kau mendapat alat catok baru?" sahut Winnie.
"Aaargghh... Winnie berusahalah lebih keras!" erang Deborah.
"Aku tidak pandai dalam tebakan jika dengan mu," ujar Winnie dan itu memang kenyataan.
"Jika tak salah dia teman Leo dan lainnya," sahutnya mencoba mengingat.
"Yap! aku bertemu dengannya saat mengisi bensin, kau tahu apa yang terjadi? ternyata saat ke kafe Marito dia ada dan sedikit memperhatikan ku, sebenarnya dia ingin mengajak ku bicara hari itu tapi Ashar tak mau pergi. Dan aku menjelaskan kalau Ashar bersama ku hanya untuk mencari tahu tentangmu dan kemudian... ah kau tidak akan percaya apa yang terjadi!" jelas Deborah antusias.
"Dia mengajak mu berkencan?" tanya Winnie.
"Ya! ya... dia mengajak ku akhir pekan ini," seru Deborah.
Winnie bisa melihat ekspresi kebahagiaan yang belum pernah ia lihat di wajah Deborah, untuk itu ia bersyukur dan ikut senang.
"Selamat, akhirnya janjiku terpenuhi dengan sempurna," ujar Winnie.
"Terimakasih, oh aku benar-benar gugup. Kau harus membantuku mencari pakaian yang bagus untuk ku kenakakan nanti," sahut Deborah.
"Tentu saja," ucap Winnie.
__ADS_1
Menggandeng tangan Deborah Winnie pun mengajaknya masuk sebab kelas mereka sebentar lagi akan di mulai, pulas kuliah baru mereka pergi ke mall untuk belanja.
Sebenarnya Winnie penasaran informasi apa saja yang sudah Deborah dapatkan tentang pengawal bernama Dasim, tapi ia tak ingin merusak kebahagiaan Deborah dengan misinya.
Maka hari itu ia membiarkan Deborah menjadi temannya yang seperti biasa, cerewet, manja dan kadang merepotkan.
Puas berbelanja mereka berpisah di parkiran, Winnie memilih untuk pergi ke kantor keluarga Wilson dan menemui Dady.
Mengajaknya bicara di kafe terdekat dalam ruangan VIP agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Nona ingin tahu tentang kasus penculikan mu?" terka Dady sambil menatap Winnie.
"Anda cepat mengerti, tak heran ayah sangat mempercayaimu," sahut Winnie.
Mereka saling bertatapan yang membuat Dady terkejut, itu karena ia menemukan sebuah tekad kuat di mata Winnie yang sama dengan sembilan belas tahun dulu seperti di mata Brian.
"Buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya, betapa kau memiliki kecantikan nyonya Maya dan tekad kuat tuan Brian. Aku mengerti, tanyakan lah apa pun yang ingin kau ketahui," ujar Dady.
"Ceritakan peristiwa penculikan ku," pinta Winnie.
"Kau berhak mengetahuinya," balas Dady.
Ia pun menceritakan peristiwa itu, cerita yang sama seperti yang Winnie dengar dari Brian namun dari sudut pandang seorang pengawal.
"Pintu kamar pasien hanya ada satu dan di jaga, tidak mungkin penculik itu masuk lewat jendela sementara itu berada di lantai atas. Aku rasa kau juga menyadari bahwa tidak ada penculik bodoh yang mau menculik bayi yang di jaga," ujar Winnie.
"Dia masuk dengan cara bersembunyi di bawah meja dorong yang di bawa perawat ke kamar, saat itu hanya Dasim yang berjaga. Saat perawat keluar aku baru datang dan melihat ada yang janggal dengan meja dorong itu, begitu ku periksa kamar nyonya sudah... kau tahu dan aku terlambat untuk mengejarmu," jelas Dady.
"Kau tidak menceritakan hal ini kepada ayah, kenapa?" tanya Winnie.
"Siapa yang menceritakan kegagalannya dalam bertugas, saat nona hilang aku sempat patah semangat dan hendak berhenti bekerja. Tapi melihat kamar tempat nyonya tiada membuat ku malu akan kebodohan dan betapa lemahnya aku, jika tidak bisa menyelamatkan nyonya setidaknya aku harus bisa menyelematkan mu."
Ada penyesalan di mata Dady yang Winnie temukan dengan mudah, ia mengerti keputuasaan itu setelah semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
"Kau berhasil menyelamatkan ku, entah bagaimana orangtua angkat ku menemukan ku di balik tong sampah. Aku sudah hendak masuk panti asuhan tapi akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi ku, mereka memberiku kasih sayang yang terlalu banyak dan cinta sampai aku merasa tidak masalah hidup dalam kemiskinan. Mungkin saja kan mendiang ibu kandung ku merasuki ibu angkat ku sehingga aku hidup dengan bahagia," ujar Winnie.
__ADS_1
Ada senyuman tulus dan hangat di wajah Winnie, itu memberikan rasa nyaman untuk Dady seolah mengatakan semuanya berjalan dengan baik.