Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 11 Pelajaran Yang Gagal


__ADS_3

Akan beruntung jika sepanjang hari Aslan hanya melakukan hal yang biasa saja, seperti nongkrong di belakang tempat pembuangan sampah seperti yang ia pergoki waktu itu.


Mungkin ia akan mati karena bosan tapi setidaknya hidupnya tenang, namun memacari orang terkuat di sekolah memang tak mudah.


Dalam perjalanan menuju sekolah tiba-tiba sekelompok pengendara motor memaksa Aslan untuk mengemudi ke arah yang mereka tentukan, sebuah tempat sepi yang jarang ada orang lewat.


Setelah mobil terparkir para pengendara itu menyuruh Aslan untuk turun.


"Tunggu di sini," perintah Aslan.


Winnie tahu sebuah pertarungan akan segera terjadi melihat bagaimana kondisinya, mengingat kemampuan Aslan ia berharap orang-orang itu akan mudah di kalahkan agar mereka bisa segera pergi.


Tebakan Winnie benar terjadi, pertarungan segera terjadi begitu Aslan keluar. Satu lawan lima orang dengan tubuh yang lebih kekar dari Aslan membuat Winnie sedikit cemas pada kemenangan Aslan.


Namun kecemasannya ternyata tidak perlu sama sekali, Aslan mampu menumbangkan mereka satu persatu.


"Aslan...... " seru Winnie tiba-tiba saat salah satu dari mereka yang telah tumbang bangkit dan mencoba menyakiti Aslan menggunakan pisau lipat.


"Ah!" pekik Winnie kaget melihat reflek Aslan yang menangkap pisau itu dengan tangannya.


Dari dalam mobil ia bisa melihat darah mulai mengalir mengalir dari telapak tangan Aslan yang terluka, terjadi sebuah saling dorong yang cukup kuat sampai akhirnya Aslan menendang pinggang orang itu hingga terjatuh.


Menjadi orang terakhir yang Aslan hajar orang itu benar-benar di buat tak berdaya dengan pukulan Aslan, melihat situasi yang sudah aman dengan segera Winnie memburu keluar.


"Perlihatkan tangan mu!" perintah Winnie menarik tangan Aslan.


Jelas itu luka yang cukup dalam, mengambil tindakan cepat Winnie segera memberi pertolongan pertama.


Beruntung ia selalu membawa kotak obat kecil kemana pun ia pergi, meski hanya dengan peralatan seadanya rapi itu cukup untuk menahan darah agar tidak terus mengalir keluar.


"Angkat tanganmu seperti ini, tetap begitu sampai kita sampai rumah sakit. Jika tidak cepat di tangani dengan tepat kau bisa kena infeksi," ujar Winnie selesai membalut perban.


"Kau khawatir padaku?" tanya Aslan tiba-tiba.


Winnie menatap wajah Aslan dan baru sadar sejak tadi Aslan memandangnya sambil tersenyum.


"Siapa pun akan cemas melihat kau terluka seperti ini," sahut Winnie pelan.

__ADS_1


"Begitu rupanya," ucap Aslan kehilangan senyumnya.


"K-kau... pacarku, apa salah jika khawatir padamu?" tanya Winnie tiba-tiba merasa tak enak karena ekspresi Aslan yang mendadak datar.


"Tidak, itu bagus," sahut Aslan kembali tersnyum.


"Kalau begitu masuk, aku yang akan menyetir," perintah Winnie.


"Kau bisa menyetir?" tanya Aslan cukup ragu.


"Apa bedanya mobil sport dan truk?" tanya Winnie yang membuat Aslan kebingungan.


"Kau bisa membawa truk?" tanya Aslan memperjelas pendengarannya setelah mereka masuk.


"Yeah, teman ayahku punya truk dan aku belajar darinya," jawab Winnie.


Tiiit


Memencet sebuah tombol Winnie malah membuka atap mobil, tentu itu membuat Aslan menatapnya dengan mengangkat alis.


"A.. ku rasa sedikit udara lebih bagus hehe," ujar Winnie tiba-tiba merasa gugup.


"Baiklah," sahut Winnie yang juga jadi khawatir nyawanya terancam karena kecerobohannya.


Kembali bertukar posisi Aslan segera tancap gas untuk pergi dari tempat itu, sesuai permintaan Winnie mereka pergi ke rumah sakit agar Aslan mendapat perawatan.


Meski lukanya cukup dalam tapi berkat pertolongan Winnie mereka tak perlu khawatir soal luka itu, setelah mendapat beberapa jahitan Aslan di perbolehkan pulang.


"Sudah terlambat untuk ke sekolah, apa kau mau membolos lagi?" tanya Aslan.


"Aku ikut kau," sahut Winnie yang tak tahu juga apa keinginannya.


Karena keputusan ada di tangannya sebagai pemimpin maka Aslan telah memutuskan kemana mereka akan pergi, memacu mobilnya menjauhi kota mereka berkendara didaerah pegunungan.


Hamparan bunga yang luas begitu memanjakan mata, angin kencang menyapa wajah Winnie dengan cukup kencang sampai ia merasa matanya akan perih jika terus terbuka.


Menutup mata kemudian Winnie membiarkan angin itu membelai tangannya dengan lembut, menggelitik setiap jemarinya hingga membuatnya tersenyum.

__ADS_1


Rasanya begitu nyaman dan tenang, membuat Winnie merindukan taman bunga di kediaman Mo. Setiap hari ia lebih banyak menghabiskan waktu disana untuk merawat bunga-bunganya, hingga mereka tumbuh dengan baik dan mekar dengan sempurna.


Saat angin berhembus bau harum begitu semerbak di sekelilingnya, beberapa kelopak bunga yang ia petik melayang di udara dan menari di sekelilingnya dengan indah.


Winnie membuka mata, melihat pemandangan yang benar-benar berbeda dari ingatannya. Tanpa ia sadari sebuah lubang membuat kekosongan di hatinya, ternyata itu sebuah kerinduan yang tak bisa diobati.


......................


Senyum penuh kemenagan baru saja mengembang di wajahnya, tapi saat jam istirahat tiba sebuah telepon memudarkannya.


"Sial!" gerutunya sambil memegang erat ponselnya.


Setelah penghinaan yang ia terima hari itu Carmen sudah berencana untuk memberi pelajaran, karena itu menyewa beberapa preman untuk menghajar Aslan.


Ia pikir pekerjaan yang ia berikan berjalan lancar karena Aslan dan Winnie tidak masuk, tapi setelah jam istirahat ia justru menerima laporan kalau preman yang ia bayar kalah. Tentu saja itu membuatnya semakin kesal meski ia juga di beritahu Aslan terluka karena pertarungan itu.


Kekesalannya sulit padam hingga ia memutuskan untuk bolos, pergi ke Alley untuk menenangkan diri Carmen telah bermain selama lima belas menit sampai seorang pemuda mendekatinya.


"Sepertinya suasana hatimu sedang buruk," ujar pemuda itu.


"Diam Carl!" hardik Carmen.


"Wah wah... tebakanku ternyata benar, duduklah dan ceritakan masalahmu," pinta Carl.


"Memang kau bisa membantuku?" tanya Carmen.


"Tergantung apa masalah mu," sahutnya.


Carmen menyelesaikan permainannya dengan melempar satu bola bowling, setelah melihat ia hanya menjatuhkan tiga pin ia pun berbalik untuk melihat satu temannya itu.


"Aku mendapat penghinaan di sekolah dan ingin memberi mereka pelajaran, tapi preman yang ku sewa justru mempermalukanku," ujarnya.


"Hahahaha... kenapa kau tidak datang langsung padaku? itu hanya masalah kecil," ujar Carl.


"Sungguh? kalau begitu lakukanlah," perintah Carmen tanpa berharap lebih.


"Kita sudah berteman sejak lama, kita sudah saling mengenal dengan baik dan kau tahu aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Katakan siapa orang ini?" ujar Carl.

__ADS_1


"Winnie dan Aslan," sahut Carmen.


Carl mengangguk sambil tersenyum, tapi kemudian tatapannya berubah menjadi dingin bak predator yang kelaparan.


__ADS_2