
Pukul lima dini hari mereka sudah berjalan di hutan dengan peralatan mendaki yang lengkap, udara bersih khas pegunungan begitu dingin menusuk hidung kadang menyebabkan gatal.
Winnie sangat menikmati setiap langkahnya yang semakin berat saat mereka hampir mencapai puncak, tak ada keluhan justru senandung kecil terdengar dari mulut gadis itu.
Mengikuti peta yang di bawa Aslan akhirnya mereka sampai beberapa menit kemudian, di hadapan mereka yang terlihat masih ujung pepohonan yang cukup gelap dan berkabut.
Duduk sembarang di atas rumput yang basah karena embun mereka mengatur nafas sambil sesekali minum, membiarkan paru-paru mereka kembali bekerja dengan normal.
"Kau bawa kamera?" tanya Winnie.
"Tentu saja, pemandangan seindah ini akan lebih bagus jika di potret dengan kamera ketimbang ponsel," sahut Aslan sambil mengeluarkan kameranya.
Ia mulai menyetel dan menguji, mengambil beberapa potret alam termasuk Winnie yang sedang istirahat.
"Oh sudah mulai!" seru Winnie menunjuk.
Kabut yang tebal perlahan lenyap seiring kedatangan cahaya mentari, dalam detik-detik yang menakjubkan itu mereka di buat terpana akan keindahan surya yang hangat.
Bagai mukjizat di tengah bencana sang surya memperlihatkan alam yang rupawan, sejenak menghanyutkan mereka hingga tanpa terasa setetes air haru jatuh dari mata.
Puas menikmati keindahan itu sampai matahari menyinari segalanya mereka mulai mengambil beberapa potret, bergaya di balik pemandangan yang menakjubkan itu sampai terasa lelah.
"Untuk makan siang nanti kau mau apa?" tanya Winnie sebab tadi mereka hanya makan sandwich untuk sarapan.
"Apa saja boleh, sudah ku bilang kan jika ditanya begitu aku lebih suka melahap mu."
"Hentikan Aslan!" omel Winnie yang kembali mengingat keintiman waktu itu.
"Hehehe... habisnya kau terlihat lucu," ujar Aslan.
Sejenak ada keheningan diantara mereka yang di isi oleh kicauan burung, menyebabkan benak Aslan kehabisan topik untuk mengesampingkan tujuannya membawa Winnie berkemah.
"Kau mendaftar ke Universitas mana?" tanyanya.
"Targetku UNAM," sahut Winnie.
"Bagaimana dengan mu?" tanyanya kemudian sambil melirik.
"Aku akan ke luar negri tepat setelah kelulusan," sahut Aslan akhirnya.
Winnie terdiam, mencoba mengira apakah sikap Aslan yang agak aneh itu karena ia akan pergi.
__ADS_1
"Kenapa harus ke luar negri?" tanya Winnie seakan tak rela pada perpisahan yang akan terjadi.
"Seperti katamu, aku ingin menunjukkan pada ayah bahwa aku mampu berdiri dengan ke dua kaki ku sendiri. Untuk yang pertama kalinya aku ingin fokus mengejar impian ku dan membalas ayah dengan menjadi pembisnis yang lebih hebat darinya," jelasnya.
Winnie tak menyangka Aslan akan begitu serius pada akhirnya, itu membuatnya bangga namun kesedihan tak dapat ia tutupi juga.
"Tapi jika kau tak ijinkan aku tak akan pergi," ujar Aslan sambil mengambil kedua tangan Winnie dan memegangnya.
"Bodoh! kau tidak boleh kalah dari ayahmu, meski dari jauh aku akan tetap mendukungmu," ujar Winnie tegas.
"Winnie.... bagiku sangat berat meninggalkan mu," akui Aslan.
Ia mengecup punggung tangan Winnie, menatapnya dengan penuh cinta yang tak terbendung.
"Untuk menggapai sesuatu selalu ada harga yang harus di bayar, ini sudah menjadi hukum alam. Pergi dan kembalilah sebagai pemenangnya," ujar Winnie dengan sebuah senyuman kepercayaan.
Kini hati Aslan jauh lebih kuat dan lega, ada keyakinan mereka dapat melalui ini bersama yang membuatnya tegar.
"Saat aku pulang nanti aku ingin menjadikan mu satu-satunya milik ku," ujar Aslan sambil mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari dalam sakunya.
Ia memperlihatkan isinya kepada Winnie yang merupakan sebuah cincin berlian, dari bentuknya saja Winnie sudah tahu harganya pasti jutaan.
"Winnie... kau harus menjadi pengantinku!" tegas Aslan sambil memakaikan cincin itu di jari manis Winnie.
Winnie tak dapat menahan geli mendengar ucapan Aslan, ia memang tukang paksa sehingga lamaran yang ia lakukan pun sangat khas dengan gayanya.
"Tergantung seberapa sukses kau nanti," sahut Winnie membalas dengan gayanya juga.
Aslan hanya tersenyum, ia tahu gadisnya akan menjawab demikian karena itu ia tak pernah bertanya tapi memberi perintah.
Selama dua hari kemudian mereka benar-benar menikmati kebersamaan di vila, memuaskan diri sebelum berpisah untuk waktu yang cukup lama.
Membuat banyak kenangan indah sampai akhirnya ujian pun tiba, meski memang tak mudah tapi mereka berhasil lulus dengan nilai sempurna.
Tiba di hari perpisahan yang enggan terjadi Winnie ikut mengantar Aslan ke bandara bersama Zela, saat itu sayangnya Emrit tak bisa ikut karena pekerjaan yang tak bisa di tinggal.
Zela merasa kecewa pada suaminya itu, tapi Aslan nampaknya tak peduli. Dia lebih berharap kedatangan Winnie dan tentu saja karena Winnie hadir baginya sudah cukup.
"Aku harus pergi," ujar Aslan ketika mendengar pengumuman pesawatnya siap berangkat.
"Hati-hati sayang, jangan lupa beri kabar jika kau sudah sampai," ucap Zela sambil merangkul putra tersayangnya itu.
__ADS_1
"Baik ibu," sahut Aslan menenangkan ibunya yang mulai menangis.
Habis mengusap air mata ibunya Aslan beralih pada Winnie, memeluk gadisnya kali ini justru Aslan yang ingin menangis.
"Aku akan sering menelpon mu," ujar Aslan melepas rangkulannya.
"Jika tak ku angkat artinya aku sedang sibuk," sahut Winnie.
"Kau sibuk apa sampai tak bisa mengangkat telpon dari ku?" tanya Aslan tersinggung.
"Aku mulai bekerja paruh waktu selain kuliah," jawab Winnie.
"Itu akan sangat melelahkan, nanti aku akan kirim uang padamu."
"Kau mau pakai uang ayahmu?" tanya Winnie dingin.
"Berhenti memikirkan caraku hidup! cepatlah pergi dan cepat kembali!" tegas Winnie.
Mereka sama-sama tahu kepergian Aslan adalah untuk menjadi mandiri, karena itu tak mungkin Aslan memberi Winnie uang dari hasil keringatnya sendiri sebab ia belum memulai apa pun.
Tak mampu membantah Aslan mengusap kepala Winnie dan berjanji akan cepat kembali sebagai pria yang telah mapan, sebab waktu yang semakin mepet ia pun segera berpamitan dan pergi dengan melambaikan tangannya yang panjang.
Dua hari kemudian sesuai janji Aslan memberi kabar bahwa ia menyewa apartemen untuk tinggal, tempatnya tidak besar tapi cukup nyaman.
Ia juga bercerita semuanya berjalan lancar seperti yang ia harapkan, Aslan langsung mengambil dua jurusan dalam satu universitas. Tentu ini di lakukan untuk mempercepat langkahnya meraih impian, dari jarak yang begitu jauh Winnie hanya bisa mendukung lewat suara tapi itu lebih dari cukup bagi Aslan.
"Winnie.... " panggil Jeny dari luar kamar.
"Ya bu! Aslan aku tutup dulu teleponnya," ujar Winnie cepat.
"Baiklah, sampai nanti," sahut Aslan yang juga mendengar suara Jeny.
Setelah telpon terputus Winnie segera bangkit dan pergi ke luar menemui ibunya, rupanya ada Brian.
"Hai nak, kau sudah bereskan semuanya?" tanya Brian dengan mata berbinar.
"Mm, aku hanya mengambil beberapa barang penting saja. Satu tas sudah cukup," sahut Winnie mengangguk.
"Baiklah, biar Roy yang membawanya."
"Tidak perlu! aku bisa bawa sendiri," sahut Winnie cepat.
__ADS_1
Ia bergegas kembali ke kamar dan mengambil tas berisi barang-barangnya, menatap sekeliling kamar ini adalah perpisahan kedua yang terjadi padanya.
Sesuai perjanjian, kini setelah lulus Winnie akan pergi meninggalkan orangtuanya dan hidup bersama Brian di kediaman Wilson.