Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 96 Perceraian


__ADS_3

Rasa penasaran Camila terbayar saat ia mendengar apa yang ingin Winnie sampaikan padanya, ucapan Winnie yang begitu jelas tak perlu di ulang lagi dan tak membuatnya sulit memutuskan.


Mengajak bertemu di luar rumah Winnie memberi pilihan kepada Camila, dia harus meminta cerai kepada Brian dan mengatakan bahwa Nicki bukan putrinya atau Winnie akan mengungkap semua kejahatan Camila termasuk kematian Will.


Tentu saja Camila memilih untuk bercerai dengan Brian daripada membusuk di penjara, segera dia mengurus surat perceraian tanpa memberitahu Brian terlebih dahulu.


Ia juga meningalkan rumah dengan Nicki tanpa berpamitan, saat bingung sebab Camila tak dapat dihubungi ia menerima surat perceraian yang harus Brian tanda tangani.


Kebingungan ia menyuruh Dady untuk mencari keberadaan Camila saat telah di temukan ia segera meminta penjelasan.


"Maafkan aku, tapi aku sudah tak bisa hidup dengan mu lagi."


"Tapi kenapa?" tanya Brian.


"Karena aku terlalu malu untuk bertatap muka dengan mu," sahutnya dengan derai air mata.


"Apa maksud mu Camila? tolong jelaskan dengan benar," pinta Brian.


"Sebenarnya Nicki bukan anak kandung mu," ujar Camila akhirnya.


Brian tertegun, ia sama sekali masih bingung dengan perkataan Camila.


"Maafkan aku Brian, maaf karena selama ini aku telah menyembunyikan kenyataan yang begitu besar ini."


"Jadi... siapa ayah Nicki?" tanya Brian tak langsung percaya.


"Will," sahutnya.


"Apa?" tanya Brian tercengang.


"Sebenarnya meski hanya berteman tapi Will punya sifat yang jelek, dia tidak ingin aku dekat dengan pria mana pun sementara dia terus bermain wanita. Sampai suatu hari dia memaksaku dalam keadaan mabuk, itu membuatku sakit hati dan merasa ternodai. Secara kebetulan kemudian kita bertemu dan semua terjadi begitu saja, saat mengetahui bahwa ternyata aku mengandung ku pikir itu anak mu. Aku sudah sangat senang karena aku sangat mencintaimu, tapi setelah lahir ternyata Nicki adalah benih yang Will tanam. Aku takut jika kau mengetahuinya kau akan membenciku, sungguh Brian! hanya kau satu-satunya pria yang kucintai dan kaulah penyelamat ku dari Will," jelas Camila dalam cerita panjang yang ia karang.


Brian tertegun, ia tak menyangka obat rindunya kepada Winnie ternyata bukan darah dagingnya. Ada rasa sakit yang tak tertahankan dihatinya, namun melihat kebelakang ia tak merugi apa pun karena kenyataan ini.


"Meski begitu kenapa kau tetap ingin berpisah? apa karena kau berfikir aku tak akan memaafkan mu?" tanya Brian.


"Brian? bisakah kau memaafkan kesalahan sebesar ini?" tanya Camila kaget.


"Mengapa tidak? kau pun adalah penyelamat ku, andai Nicki tidak ada hidup ku tidak akan sempurna. Meski aku bukan ayah kandungnya tapi dia tetap putriku juga," ujarnya.


Tangis Camila semakin menjadi, ia sangat bersyukur hati Brian tak berubah meski mendengar kenyataan ini. Tapi sayangnya ia harus tetap minta cerai, jika tidak Winnie akan membuat hidupnya lebih dari seperti dalam neraka.


"Brian, saat Will mengetahui hal ini dia marah besar. Dia memaksa Nicki untuk ikut dengannya dan berkata banyak keburukan tentang mu, bahkan yang sebenarnya terjadi adalah Will sengaja mengakhiri hidupnya agar Nicki merasa bersalah sebab lebih memilihmu sebagai ayahnya. Sekarang Nicki mengalami trauma yang cukup berat, dia merasa bersalah pada Will dan tak ingin hidup bersama mu. Aku harap kau mengerti bahwa saat ini keadaan Nicki tak memungkinkan untuk hidup seperti biasa," jelasnya.


Kini Brian memahami perubahan sikap Nicki, rupanya memang ia mengalami trauma yang cukup berat. Pada akhirnya demi Nicki Brian pun menyetujui perpisahan ini, tapi ia tetap akan memberi kabar dan mencukupi kebutuhan mereka berdua.

__ADS_1


Bagi Camila ia merasa meski terjatuh tapi ia mendarat di atas kasur yang empuk, perpisahan dengan Brian rupanya tidaklah begitu buruk.


Ia tetap memiliki hati Brian bahkan dengan begini satu rahasianya sudah kadarluarsa, entah ia harus berterimakasih pada Winnie yang memberi pilihan bagus atau mencacinya dengan ejekan bodoh.


Setelah resmi berpisah Brian kemudian meminta Winnie kembali, tak peduli meski hotel masih membutuhkannya. Ia ingin setelah perpisahan itu ia tak sendirian, setidaknya ia masih memiliki Winnie.


Dengan perlahan dan hati-hati Brian menjelaskan kepada Winnie alasan perpisahan mereka, tapi Brian tidak memberitahu Winnie kalau Nicki bukan saudranya.


Brian khawatir itu akan membuat Winnie merasa iri sebab Brian masih peduli pada Nicki, sementara Winnie yang jelas sudah tahu sama sekali tak peduli.


Masalah dengan Camila sudah selesai, kini ia hanya perlu fokus pada kuliahnya. Membuka semua buku dan mulai membaca tiba-tiba Winnie mendapatkan pesan dari Deborah, Nagisa sudah menyelesaikan ujian na dan mereka berniat akan mengadakan pesta.


Tentu saja Winnie harus ikut pesta tersebut, namun saat akan membalas pesan ia tiba-tiba teringat pada Brian yang masih galau. Segera ia pun mendatangi ayahnya tersebut.


"Ayah!" panggilnya.


Brian menoleh.


"Temanku mengadakan pesta, apa aku kita bisa ikut?" tanya Winnie.


"Oh ya sayang, kau boleh pergi," sahut Brian lemah.


"Aku bilang kita!" tegas Winnie.


"Temanku baru menyelesaikan ujian, rencananya mereka akan mengadakan pesta. Aku pikir jika ayah ikut kita bisa membuat pesta di restoran," jelasnya.


"Ahahaha... baiklah, katakan pada temanmu untuk datang ke restoran langganan kita," sahut Brian senang.


"Baiklah," sahut Winnie.


Ia pun membalas pesan Deborah sementara Brian bersiap, ini cukup baik untuk menghilangkan perasaan sepi yang sudah seminggu lebih merajai hatinya.


Karena Brian ikut maka Winnie juga menyuruh Carl untuk menjemput orang tua angkatnya, tentu saja ibu Nagisa juga harus ikut sebab jika orang tua yang datang hanya Brian saja maka pesta akan menjadi canggung.


Tiga puluh menit kemudian Brian dan Winnie sudah sampai di restoran langganan mereka, meski tidak melakukan pemesanan terlebih dahulu tapi mereka bisa mendapatkan ruang VIP.


Masuk ke ruangan itu lima menit kemudian Nagisa datang bersama ibunya dan Deborah, mereka saling menyapa terlebih ibu Nagisa yang terlihat senang melihat Nagisa.


"Maaf aku terlambat," ujar Carl yang datang sepuluh menit kemudian.


"Lho! kau datang sendiri? mana orangtua ku?" tanya Winnie.


"Kami disini!" seru Fabio sambil masuk ke dalam ruangan.


Winnie tersenyum menatap kedatangan Fabio yang diikuti Jeny, tapi kemudian Aslan juga turut hadir.

__ADS_1


"Kau? bukankah kau sudah pergi?" tanya Winnie.


"Bagaimana bisa aku pergi meninggalkan adik ku yang sedang menghadapi ujian, aku bukan kakak yang setega itu!" sahut Aslan sambil tersenyum kepada Nagisa.


"Selain menyemangati ku kak Aslan juga membantuku menyiapkan ujian," ujar Nagisa.


"Ah.. begitu rupanya," gumam Winnie.


"Tentu saja, kami tidak seperti seseorang yang tiba-tiba hilang setelah pekerjaan selesai," sindir Carl.


"Apa gunanya tinggal jika sudah tidak di butuhkan?" balas Winnie dengan tatapan tajam.


"Ah sudahlah! kenapa kalian tidak bisa akur?" hardik Deborah sementara Nagisa hanya tersenyum melihat kelakuan keempat kakaknya.


Karena ini adalah kali pertama para orangtua Winnie bertemu dengan mereka ia pun memperkenalkannya, ini juga kali pertama ibu Nagisa bertemu dengan orang tua ini dan menjadi sebuah kehormatan baginya.


Dengan bahasa isyarat yang kemudian di terjemahkan oleh Nagisa ia mengatakan betapa senangnya ia sebab Winnie telah banyak membantu, tentu saja ia juga berterimakasih kepada Deborah, Carl dan juga Aslan.


Rasa terimakasih yang sangat besar itu menghantarkan haru yang membuat derai air mata mereka tak bisa di tahan, bahkan Fabio terus mengusap air matanya karena perasaan bangga terhadap Winnie.


Begitu juga dengan Brian yang tak pernah dikecewakan oleh Winnie, sifat Winnie yang baik begitu mirip dengan mendiang istrinya Maya.


"Nah! bagaimana kalau kita mulai memesan makanan?" tawar Brian begitu mereka puas menangis.


"Aku ingin lobster!" seru Winnie sambil mengangkat tangan.


"Baiklah, yang lain ingin apa? ibu Nagisa? anda adalah ratunya malam ini, silahkan pesan makanan apa pun yang anda mau. Karena Nagisa sudah seperti adik Winnie maka dia menjadi putriku juga, saya akan membayar semua pesanan kalian. Jadi tolong jangan sungkan," ujar Brian.


"Kalau begitu aku ingin spageti, nasi goreng ham, seafood, um.... aku juga ingin mencoba steak wagyu.. " ucap Nagisa sambil melihat buku menu.


"Astaga.... apa semua makanan itu sanggup kau habiskan?" tanya Aslan.


"Kenapa? kesempatan seperti jarang terjadi, aku harus bisa memanfaatkannya dengan baik."


"Jangan begitu serakah! siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Carl.


"Kak Winnie!" tunjuk Nagisa.


Semua mata tertuju pada Winnie yang membuatnya cukup malu.


"Dia harus bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik, tidak ada yang salah dengan itu," ujar Winnie sebagai pembelaan.


"Ahahahahaha... sepertinya aku salah menilai, tidak semua hal baik ada pada putriku," ucap Brian tak bisa menahan geli.


Semua orang kemudian ikut tertawa, bagi yang lain seperti orangtua angkat Winnie dan teman-temannya ini bukanlah hal baru. Mereka cukup tahu bahwa Winnie memang tidak pernah ingin rugi sehingga selalu memanfaatkan segalanya dengan baik, kadang berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2