
Pipinya terus berdenyut meski ia telah membasuhnya dengan air dingin, noda darah di sudut bibirnya sudah terhapus namun lebam di pipinya tak mudah hilang.
Menatap pantulan wajah pada cermin di toilet yang Winnie tatap bukanlah dirinya, melainkan Carl. Pemuda yang baru saja ia temui itu menyimpan misteri yang lebih dalam dari Aslan.
Hanya dalam waktu beberapa hari dengan menjadi pacar Aslan ia susah tahu bahwa Aslan memiliki masalah seperti anak kaya lainnya, tapi rasanya ia tak akan menemukan itu pada Carl.
Senyumnya terlalu aneh bagi anak yang kurang perhatian orangtua, bagai berhadapan dengan air danau Winnie merasa harus berhati-hati pada ketenangan yang di miliki Carl.
Menggelengkan kepala Winnie menepis sejenak tentang Carl, setelah mencuci tangan ia pun keluar dari toilet namun rupanya seseorang susah menunggu sejak di luar sejak tadi.
"Aslan... kau di sini?" tanyanya kaget.
"Siapa yang melakukan itu padamu?" tanya Aslan lebih kaget melihat lebam pipi Winnie.
"Carmen," sahut Winnie pelan.
Mengepalkan tangan penuh emosi Aslan sipa pergi untuk memberi hukuman pada orang yang telah menyakiti pacarnya, tapi Winnie segera menarik tangan Aslan untuk menghentikannya.
"Dia tidak sendiri, ada seseorang bersamanya. Namanya Carl," ujarnya.
"Aku tidak peduli," sahut Aslan tanpa gentar.
"Tidak Aslan, pria ini berbeda. Kau tidak boleh menghadapinya dengan keadaan terbakar, aku punya firasat buruk tentang hal ini. Aku takut.... " akui Winnie untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam keberanian.
Aslan menatap mata Winnie yang jelas memang menunjukkan kecemasan, tentu itu membuatnya kaget sekaligus waspada.
"Kita ke ruang kesehatan, pipimu harus di kompres," ujar Aslan mengalah.
Meski yang sakit hanya pipi tapi Aslan tidak membiarkan Winnie masuk ke kelas untuk belajar, ia terus berada di ruang kesehatan dan hanya melamun sepanjang hari memikirkan tentang Carl.
Itu membuat Winnie kehilangan fokus sampai tak menyadari Aslan yang terus memandang dirinya.
"Apa dia begitu menakutkan?" tanya Aslan penasaran akan perubahan yang terjadi pada Winnie secara mendadak.
"Apa? maaf..." sahut Winnie kembali pada kenyataan.
"Apa yang dia lakukan padamu? pria itu," ulang Aslan.
__ADS_1
"Tidak ada, dia hanya memanggilku untuk Carmen. Saat Carmen memberiku pelajaran dia hanya mengawasi sampai merasa Carmen keterlaluan dan menghentikannya," jawabnya.
"Dia menghentikan Carmen?" tanya Aslan tak mengerti.
"Ya, tapi aku tidak menemukan rasa kasihan pada dirinya. Aku benar-benar tak nyaman, ini kali pertama aku bertemu orang yang sulit di baca. Dia terlalu tenang," jawabnya.
Winnie menarik selimut dan mengepalkannya dengan cukup kuat sementara pandangannya entah kemana, saat ini Winnie sudah seperti burung kecil yang kehilangan tenaga hingga tak bisa terbang lagi.
Gep
Insting protektif Aslan muncul seketika, di dekatnya Winnie dengan kuat namun tak menghilangkan rasa nyamannya.
"Karena itu aku bilang jangan pernah pergi dari sisiku meski sejengkal," ujar Aslan dalam dekapannya.
Entah mengapa Winnie merasa kecemasannya perlahan memudar, keberaniannya yang sempat ciut kembali mencuat keluar bagai tanduk yang siap menyeruduk.
Perasaan nyaman dan terlindungi membuat Winnie merasa seperti kekasih yang sebenarnya, bukan pelayan hasil undian acak.
......................
"Terimakasih," ujar Winnie seperti biasa saat Aslan mengantarnya pulang.
Pulang ke rumah dari luar Winnie bisa mendengar suara orangtuanya tengah tertawa, di lihat dari sepatu yang berada di depan pintu rupanya mereka kedatangan tamu.
"Aku pulang... " ujarnya sambil masuk.
"Oh sayang kau sudah pulang, kenapa lama sekali?" tanya Fabio menyambut kedatangan putrinya.
Bukannya menyahut tapi Winnie malah menatap tajam pada tamu yang sedang duduk bersama orangtuanya.
"Selamat datang," sambut Carl terlihat polos.
"Tumben kalian pulang cepat," ujar Winnie tak menggubris sambutan Carl.
"Ah iya, pekerjaan kami sedang lancar sehingga bisa pulang lebih cepat dari biasanya," sahut Fabio.
"Kenapa kau berdiri saja? duduklah bersama kami," ujar Jeny.
__ADS_1
Winnie menurut, ia duduk tepat di hadapan Carl. Kini kecemasannya kembali lagi namun Winnie dapat menguasai diri, tentu di hadapan orangtuanya ia harus bisa tampil kuat.
"Sebentar lagi makan malam tiba, aku akan menyiapkannya," ucap Jeny bangkit.
"Biar aku bantu," tawar Winnie.
"Tidak usah, biar ayah yang membantu. Kalian mengobrol-lah," cegah Fabio.
Ditinggal berdua saja Winnie meningkatkan kewaspadaan dan menatap penuh intimidasi.
"Orangtuamu sangat baik, meski sederhana tapi kini aku sedikit mengerti dari mana kekuatan mu berasal," ujar Carl santai.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Winnie tanpa bertele-tele.
"Jadi kau lebih suka to the poin ya, baiklah akan ku katakan. Tinggalkan Aslan dan jadilah milik ku," jawab Carl serius.
"Jika kau bisa buktikan bahwa kau lebih baik dari dia," balas Winnie.
"Apa yang tidak ku miliki dari dia?" tanya Carl.
"Entahlah, kenapa kau tidak cari tahu sendiri?" sahut Winnie.
Dalam beberapa detik terjadi sebuah pertarungan adu pandang yang sengit, tanpa kata namun jelas saling mengintimidasi.
"Sshhhh... aku ingin sekali mencongkel matamu, dia terlalu indah untuk berada di tubuh yang sederhana. Andai kau ijinkan," ujar Carl pelan.
"Dan aku pun ingin membelah kepalamu agar bisa menemukan sesuatu yang ku cari," balas Winnie.
Carl tersenyum, pertarungan telah selesai. Mereka pun masuk ke dalam obrolan ringan, hanya obrolan seputar pertemanannya dengan Carmen.
Setelah makan malam bersama Carl pun pamit pulang.
"Aahh.... kau tidak pernah cerita memiliki teman setampan dan sebaik dia," ujar Jeny menatap kepergian Carl.
"Ya, dia bahkan memberi beberapa hadiah untuk kami. Katanya itu bentuk terimakasihnya sebab putri ayah ini selalu membantu pelajarannya di sekolah," tambah Fabio.
"Semua teman di sekolah ku orang baik, bagiku ini hanya tindakan biasa jadi rasanya tidak perlu cerita pada kalian," sahut Winnie.
__ADS_1
"Ah betapa beruntungnya kita," ujar Jeny penuh syukur.