
Carl tak mengira Carmen akan mendapat trauma yang cukup berat, butuh waktu dan penangan dari dokter ahli untuk membuat Carmen akhirnya tidur dengan tenang.
Tapi jika di pikir lagi jangankan Carmen, dirinya pun ikut syok melihat Winnie saat itu. Gadis yang berdiri dengan satu kaki menginjak Carmen bukanlah Winnie yang biasa, memang Winnie selalu bersikap tenang dan cerdas tapi ia tak menyangka gadis itu memendam kekuatan yang hebat.
Terlalu penasaran Carl mengajak Adnan untuk bertemu, sambil menunggu kedatangan Adnan Carl tak bisa berhenti memikirkan Winnie.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Adnan begitu ia tiba.
"Duduklah, aku hanya butuh teman untuk minum teh bersama," sahut Carl sembari tersenyum.
"Aku tidak suka teh, bagaimana kalau kopi saja?" tawar Adnan.
Carl mengangguk dan segera memesan kopi untuk Adnan.
"Kalau tidak salah dulu kau sempat dekat dengan Winnie ya? apa hubungan kalian spesial?" tanya Carl memulai interogasi.
"Ah itu dulu sekali, Winnie sangat pandai menyenangkan hati pria. Aku adalah salah satu korbannya, andai Carmen tidak menyadarkan ku mungkin hubungan kami akan serius," sahut Adnan santai.
Carl tersenyum, tentu ia mengerti posisi Adnan yang di apit oleh dua gadis berbakat.
"Winnie pandai bergaul, katanya bahkan dia bergaul juga dengan mantan anak buahmu padahal mereka terkenal pembuat onar," ujarnya.
"Dia gadis yang tak pandang bulu, tak peduli pembuat onar atau bahkan pembunuh sekalipun aku rasa jika dia dapat diuntungkan dalam pertemanan itu maka dia tak akan keberatan. Toh dia tidak benar-benar berteman, hanya hubungan saling menguntungkan."
Carl percaya pada ucapan Adnan yang satu ini, ia sudah mendengar dari beberapa orang tentang sifat Winnie yang hanya mencari keuntungan sendiri.
Tapi dari percakapan singkat itu Carl juga menemukan satu fakta lainnya yang lebih hebat, selama tiga tahun ini penguasa sekolah yang sebenarnya bukanlah Adnan atau Aslan yang baru merentangkan sayap. Tapi Winnie, gadis yang bergerak dalam kegelapan dan memegang kendali atas para jagoan.
......................
Mata Aslan tak juga lelah atau pun bosan padahal ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk menatap Winnie, kekasihnya itu ternyata hanya pingsan karena kelelahan.
Di dalam kamarnya dan di atas ranjangnya Winnie terlelap dengan wajah polos bak malaikat, sangat berbeda dengan gadis yang hendak ia tolong tadi.
__ADS_1
Saat di sekolah setelah Deborah mengatakan Carl juga ikut mencari Winnie Aslan segera mencari Carl karena yakin pasti orang itu tahu dimana keberadaan Winnie, dugaannya benar.
Carl pergi memacu mobilnya meninggalkan sekolah dan ia mengikuti tepat di belakang, begitu sampai sebuah ledakan menyambut mereka dengan meriah.
Aslan yang sudah ketakukan segera berlari mendekat bersama Carl, tapi begitu mereka sampai di ruang terbuka itu justru yang mereka lihat adalah pemandangan yang tak biasa.
Sosok Winnie yang berdiri di sana bagai pemimpin yang sesungguhnya, seorang Alfa yang hanya bergerak dalam keadaan tersulit.
Kini Aslan bertanya-tanya apa yang telah terjadi, apa penyebab ledakan itu dan kondisi Winnie yang basah dengan sedikit berantakan.
"Mmm, sepertinya kau masih menyimpan misteri lain," gumamnya sambil mendekat.
Ia berbaring tepat di samping Winnie dan mulai mengelus lembut pipi gadis itu, karena sentuhannya Winnie terusik dan bergerak menghadap kepadanya.
Perlahan Winnie mulai membuka mata, beberapa kali mengerjap ia baru sadar kalau di hadapannya adalah Aslan.
"Aaaaaa..... a-apa yang kau lakukan?" tanya Winnie segera bangkit sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya.
Winnie mengerutkan kening, setelah menatap Aslan beberapa saat ia mulai melihat ke sekeliling. Tersadar setelah apa yang ia lalui ia baru sadar kalau pakaiannya sudah di ganti.
"K-kemana pakaianku?" tanyanya.
"Di cuci, pakaian mu basah," sahut Aslan.
"Lalu? yang menggantinya?" tanya Winnie pelan tentu dengan rasa takut.
"Tenanglah... pelayanku yang mengganti pakaian mu," sahut Aslan mulai bangkit dan duduk tepat mengikuti Winnie.
Winnie menghembuskan nafas panjang, sejenak ada keheningan diantara mereka sehingga hembusan angin dari jendela terdengar syahdu.
"Apa yang terjadi?" tanya Aslan tak bisa menahan rasa penasarannya.
Winnie menatap Aslan, sedikit mengerutkan kening sampai ia sadar apa yang di maksud Aslan.
__ADS_1
"Carmen menyuruhku datang ke toilet, lalu seseorang membius ku saat kami bicara. Saat sadar tahu-tahu aku sudah di gudang itu pun Carmen yang membangunkan ku dengan seember air," jawabnya.
"Lalu bagaimana caramu keluar?" tanya Aslan lagi.
"Carmen itu sebenarnya sangat lemah, dia mudah di gertak dan diprovokasi. Aku membodohinya dan membalas perlakuannya," sahut Winnie menyingkat cerita.
"Lalu kenapa gudang itu terbakar?" tanyanya lagi.
"Mmm... entahlah, aku masih dalam pengaruh obat saat itu. Tapi kalau tidak salah Carmen hendak mencelakai ku dengan pisau tapi yang tertusuk malah tong bensin, entah apa yang terjadi tapi kemudian tong itu terbakar dan kami segera menyelematkan diri."
Bukan hal mudah membuat cerita yang masuk akal, tapi Winnie harap Aslan akan percaya saja.
"Baiklah, kau pasti lapar. Aku akan membawakanmu makanan," ujar Aslan memilih menyudahi pertanyaannya.
Ia telah memutuskan apa pun yang terjadi yang terpenting Winnie selamat, dengan begini ia juga harap Carmen tidak berani macam-macam lagi.
Sore hari setelah seragam Winnie dapat di pakai lagi Aslan pun mengantarnya pulang, kini Winnie kembali seperti biasa lagi. Ia mengucapkan terimakasih karena Aslan sudah mengantarnya dan berdiri di pinggir jalan sampai mobil Aslan pergi.
"Ah aku lupa mengabari Deborah, dia pasti masih khawatir," gumamnya yang baru teringat.
Seperti yang ia terka Deborah segera menelpon begitu mendapat pesannya, ia marah-marah sambil menangis di telpon. Winnie hanya tersenyum dan meminta maaf, setelah banyak mengeluarkan kata pamungkas baru ia dapat menenangkan Deborah dan menutup telpon sebab ia sudah sampai di rumah.
Di luar ia mendapati satu sepatu pria bermerk, menghembuskan nafas lelah Winnie berpikir setelah menghadapi Aslan kini ia harus menghadapi lagi satu pria yang cukup menyulitkan.
Tapi tak heran memang jika Carl ingin bertemu dengannya setelah ia membuat Carmen sampai terluka.
"Aku pulang... " serunya sambil masuk ke dalam.
"Oh selamat datang," sambut Jeny.
Buk
Tas yang awalnya tersemat di bahu Winnie seketika terjatuh sebab apa yang ia lihat membuat badannya lemas seketika.
__ADS_1