
Memikirkan bagaimana merahnya wajah Winnie ada rasa senang dalam hatinya, tentu karena itu berarti Winnie memiliki hati untuknya sebab tanda wanita menyukai adalah kecemburuan yang tak mampu di tutupi.
Sungguh kehidupannya kini terasa sempurna berkat Winnie, ia lebih sering tersenyum lagi bahkan hobinya sempat terbengkalai karena terlalu sibuk memikirkan Winnie.
Tok Tok Tok
"Ya masuk!" seru Aslan sambil mengambil potongan kayu kecil yang menjadi bagian proyek bangunan miniaturnya.
"Kau ada waktu?" tanya Emrit dari pintu yang ia buka.
Tentu Aslan melongo kaget melihat kedatangan ayahnya ke dalam ruangan pribadinya, setelah sekian lama mereka saling diam dan saling menghindar ini adalah kali pertama ayahnya menegur.
"Ya," sahutnya pelan dan bangkit.
"Um... besok malam bisakah kau ajak pacarmu makan malam bersama kita? ayah ingin bertemu dengannya," tanyanya.
"Ah.. ok, akan ku sampaikan padanya," sahutnya.
"Bagus," ujar Emrit menganggukkan kepala.
Tentu ada sebuah kecanggungan diantara mereka yang membuat keduanya bingung harus bicara apalagi atau bersikap bagaimana, akhirnya Emrit menutup pintu tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Ayah ingin bertemu dengan Winnie, kenapa?" gumamnya heran sekaligus penasaran.
Tak ada gunanya menebak, Aslan segera memberitahu Winnie lewat telpon. Tentu saja Winnie akan memenuhi undangan itu, besok malamnya ia datang bersama Aslan yang menjemputnya.
"Selamat datang Winnie," sambut Zela yang sejak tadi siang sudah tak sabar menunggu.
"Terimakasih tante," sahut Winnie segera masuk.
"Kau kelihatan cantik malam ini," puji Zela sambil membelai pundak Winnie.
"Itu wajar karena aku masih muda, tapi lihatlah tante sendiri! kau membuatku malu karena jika kita berdiri bersama orang akan mengira kita saudara," balas Winnie.
"Ahahahaha... kau membuatku malu, sudahlah ayo masuk!" ajak Zela tersipu akan pujian yang tak biasa itu.
Winnie mengangguk dan mereka pun segera masuk, tepat sebelum masuk ke ruang makan Emrit yang baru keluar menyambut kedatangannya.
Duduk bersama di ruang makan mereka menikmati minuman sambil mengobrol ringan, tentu obrolan itu dikuasai oleh Emrit dan Winnie sebab kebanyakan isi percakapan tentang bisnis yang di benci Aslan dan tak begitu di mengerti Zela.
__ADS_1
"Sejak pertemuan pertama kita aku sudah yakin kalau kau tertarik pada bisnis sama denganku, mendapati kawan yang sama memang sangat menyenangkan," ujar Emrit.
"Jika boleh jujur sebenarnya anda adalah idola ku, aku berasal dari keluarga kurang mampu dan berhasil masuk ke sekolah itu karena jalur beasiswa. Melihat bagaimana anda bersaing dengan para legenda membuatku ingin lebih dekat dengan anda untuk mencuri ilmu," sahut Winnie.
"Ahahaha... jadi kau mendekati putraku untuk mencuri ilmuku?" tanya Emrit merasa geli akan kepercayaan diri Winnie.
"Um.... sebenarnya Aslan bagian dari keberuntungan ku, anggap saja aku adalah kecambah yang di tanam dalam beton. Sekerasa apa pun aku berusaha untuk tumbuh tetap tidak mampu menembus beton, tiba-tiba Aslan datang membongkar beton dan memberiku harapan untuk tumbuh subur. Bukanlah aku harus memanfaatkannya?" balas Winnie.
Emrit menatap Winnie lekat-lekat, dalam benaknya ia berfikir Winnie adalah gadis yang sangat menarik. Ia suka kepercayaan diri Winnie dan kelugasannya dalam bicara.
"Tidak peduli kau terlahir dimana, intinya kau harus bisa menjadi pemenangnya. Sebenarnya aku mengajak mu makan malam karena ada hal yang ingin ku rundingkan," ujar Emrit mulai pada pokok masalah.
"Aku mendengarkan," sahut Winnie.
"Perusahaan ku sedang mencoba mengeluarkan produk untuk remaja, kami mendapat kesulitan sebab di setiap kota selera remaja berbeda. Aku ingin sesuatu yang di sukai semua remaja," jelasnya.
Aslan bisa melihat Winnie segera berubah serius, setiap ada sesuatu yang menarik memang kebiasaan Winnie untuk memikirkannya hingga tanpa sadar ekspresinya berubah kencang.
"Tas," ujar Aslan tiba-tiba asal nyeletuk agar ia tak hanya menjadi kambing conge.
"Bodoh, tas tak banyak digunakan remaja," ketus Emrit tajam.
"Apa? tapi bukankah remaja tidak suka membawa tas saat mereka hangout?" tanya Emrit.
"Dompet dan handphone adalah dua benda yang tidak akan pernah di tinggalkan saat pergi keluar, selain dua benda itu remaja putri butuh membawa tisu basah, kaca, liptint, dan beberapa benda kecil lainnya. Anda bisa membuat tas kecil yang tak hanya di butuhkan fungsinya tapi juga menunjang penampilan seperti tas pinggang atau tas slempang," jelas Winnie.
Seperti dugaan Aslan ayahnya mulai berfikir jika yang bicara adalah Winnie, entah mengapa tapi itu membuatnya kesal.
"Mmm, ide yang bagus. Sepertinya aku akan mencobanya," ujar Emrit akhirnya.
"Sudah ku bilang bukan? Aslan dapat menjalan hobi dan bisnis secara bersamaan, anda hanya perlu mendengarkannya," ujar Winnie seraya tersenyum.
"Kau hebat sayang," ucap Zela kepada Aslan untuk mendukung ucapan Winnie.
Aslan hanya tersenyum kecil sementara Emrit sepertinya masih harus di dobrak agar matanya benar-benar terbuka agar dapat melihat potensi Aslan.
"Permisi Tuan makan malamnya sudah siap," ujar salah satu pelayan.
"Oh, ya. Cepat bawa kemari," sahut Emrit.
__ADS_1
Akhirnya percakapan berat itu berakhir dengan penyelesaian yang mudah, di jamu dengan makanan mewah tentu saja Winnie makan dengan lahap tanpa mengurangi sopan santunnya.
Di sela makan percakapan masih berlangsung, kini kebanyakan cerita tentang Winnie dan keluarganya. Tak disangka meski berasal dari keluarga tak mampu tapi ia di terima dengan baik, rupanya Emrit tak peduli dari mana asal Winnie yang penting adalah kualitas dirinya. Sementara Zela sudah sangat bersyukur Winnie ada untuk Aslan dan membuat putranya bahagia.
"Terimakasih atas makan malamnya," ujar Winnie sebelum ia berpamitan pulang.
"Justru aku yang berterimakasih, kau memecahkan masalah di kantor ku," balas Emrit.
"Anda terlalu berlebihan," sahut Winnie.
"Ayo!" ajak Aslan sebab malam akan semakin larut jika mereka tak segera pergi.
"Sampai jumpa," ujar Winnie berpamitan.
Emrit dan Zela mengangguk serta tersenyum, menatap kepergian Winnie ketika ia masuk ke dalam mobil dan pergi.
"Ada apa?" tanya Winnie setelah mereka keluar dari lingkungan rumah Aslan.
Jelas dari ekspresi Aslan ada sesuatu yang membuat pemuda itu kesal.
"Jika kau tidak mau bilang bagaimana aku tahu dimana salahku," ujar Winnie.
"Aku hanya masih belum sepenuhnya akur dengan ayah," sahut Aslan.
"Hentikan mobilnya," perintah Winnie.
"Apa?" tanya Aslan seolah dia salah dengar.
"Kubilang hentikan mobilnya," ulang Winnie.
Melihat wajah Winnie yang datar Aslan menurut, ia segera menepi. Begitu mobil sudah berhenti Winnie mengambil tangan Aslan dan menuliskan sesuatu disana menggunakan telunjuk.
"Baca!" perintah Winnie.
"Kau bisa?" tanya Aslan.
"Ada yang luput dari ayahmu saat aku memberi jalan tengah untuk kalian, selama apa pun tulang di rebus dia tidak akan pernah lunak. Karena itu jadikan tajam seperti pisau dan tunjukan pada ayahmu kalau kau mampu menjadi apa pun kau mampu tanpa perintah darinya, kau adalah singaku. Bersikap jantanlah layaknya pemimpin," ujar Winnie penuh ketegasan.
Ada kepercayaan pada mata Winnie yang menyalakan api semangat dalam hati Aslan, tersenyum tiba-tiba ia mendekat pada Winnie.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu? kau yang menyalakan api dan memadamkannya dengan mudah," ujar Aslan.