Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 12 Perubahan


__ADS_3

"Terimakasih," ujar Winnie seperti biasa sebelum ia keluar dari mobil.


"Besok aku menjemput mu seperti biasa," sahut Aslan.


"Eh tapi besok hari minggu," ujar Winnie mengingatkan bahwa sekolah libur.


"Aku bilang besok aku akan menjemputmu seperti biasa," ulang Aslan kini sambil menatap dingin.


"Oh baik, maaf," balas Winnie menyesal.


Ia kira Aslan lupa akan hari karena itu ia menjawab, ternyata Aslan punya rencana dan ingin di temani. Menghembuskan nafas kesal Winnie merasa seperti tahanan yang bebas bersyarat, meski ia bisa pulang tapi ia tak bisa menikmati kebebasan dengan sungguh-sungguh.


"Aku pulang... " serunya sambil membuka pintu.


Rumah itu kosong, pemandangan yang biasa sebab memang orangtuanya selalu terlambat pulang. Winnie yang lebih dulu sampai ke rumah segera menyiapkan makan malam untuk tiga orang, setelahnya orangtuanya pulang mereka bisa langsung makan bersama.


"Um... besok aku harus pergi pagi sekali," ujarnya di tengah santap malam.


"Apa kau ada urusan?" tanya Fabio.


"Ayah aku sudah kelas tiga, hanya tinggal satu semester lagi dan aku akan memasuki dunia perkuliahan. Ini terjadi pada kami semua anak kelas tiga, meski masih memiliki waktu tapi orangtua kaya sangat ketat hingga tidak membiarkan mereka membuang waktu percuma. Aku akan belajar bersama teman ku dan tidak tahu akan pulang jam berapa jadi tidak perlu tunggu aku," jelasnya.


Tentu itu sebuah kebohongan yang di siapkan dengan matang, Winnie sudah biasa melakukan kebohongan ini sehingga ia sama sekali tidak merasa bersalah.


"Ah benar juga, sebentar lagi kau akan lulus. Betapa waktu cepat berlalu," ucap Jeny mengenang.


"Baiklah, belajar dengan benar. Tapi jangan terlalu memaksakan diri," sahut Fabio yang takut putri tersayangnya itu sakit.


"Ayah tenang saja, meski aku ingin mendapatkan beasiswa lagi dan harus bekerja keras untuk itu aku tetap akan menjaga kesehatan ku."


"Kalau begitu makan yang banyak dan segeralah tidur," ucap Fabio sambil menaruh telur di atas nasi Winnie.


Winnie tersenyum dan segera menghabiskan makanannya, setelah selesai ia cepat mandi dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Tapi saat menutup mata setelah kegelapan itu ia melihat wajah Aslan, tatapan yang selalu dingin kemudian tiba-tiba menjadi berbinar.


Dingin tangannya yang berlumuran darah dan kekuatannya saat menarik tubuhnya hingga mengecup bibirnya dengan lembut.


Uuuuaaaaaa.....


Teriak Winnie segera menarik selimut sampai mulutnya.


"Winnie.... Winnie... ada apa? apa yang terjadi?" tanya Fabio panik yang segera menyerbu ke kamarnya.


Disusul Jeny yang mendekati Winnie untuk memastikan putrinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa kau berteriak?" tanya Fabio lagi.


"Hah? oh... di sana! kecoa! aku melihat kecoa di sana!" seru Winnie langsung menunjuk kolong lemari.


Fabio langsung memeriksa sementara Winnie merasa menyesal karena telah menjerit tiba-tiba.


"Tidak ada, mungkin dia sudah keluar," ujar Fabio setelah mencari kesana ke sini.


"Ah Winnie tenanglah, kecoa memang menggelikan tapi tidak berbahaya. Besok ibu akan belikan semprotan kecoa," sambung Jeny yang tak pernah menganggap remeh apa pun yang mengancam putrinya.


"Jika kau masih tak nyaman bagaimana kalau malam ini kau tidur dengan ibu, biar ayah yang menggantikan mu tidur di sini," usul Fabio.


"Tidak perlu, kecoanya sudah tidak ada. Aku baik-baik saja," sahut Winnie merasa malu.


"Sungguh?" tanya Jeny memastikan.


Winnie mengangguk tegas, tentu Fabio dan Jeny tidak memaksa karena mereka tahu Winnie tak suka di paksa.


"Apa yang ku lakukan?" gumamnya setelah kepergian orangtuanya.


Merebahkan diri ia membiarkan selimut menutup seluruh tubuhnya termasuk muka, dari balik kain putih itu perlahan ia meraba bibirnya.


Kembali mengingat bagaimana sentuhan itu meski hanya sebentar, ini adalah kali pertama ia melakukan dan merasakannya tentu saja akan selalu terbayang.


Wajah Aslan pun kini semakin sering terbayang bahkan menjadi bunga tidurnya, terbangun di pagi hari yang cerah Winnie bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Apa aku terlambat?" tanya Winnie begitu sampai dihadapan Aslan yang sudah menunggu.


"Tidak," sahut Aslan sambil memperhatikan Winnie dari atas sampai bawah.


"Ayo masuk!" ajaknya.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah toko pakaian, begitu masuk Aslan langsung mengambil beberapa pakaian dan menyuruh Winnie untuk mencobanya satu persatu.


Setiap mencoba satu model Winnie akan memperlihatkannya kepada Aslan, jika dia tak suka maka Winnie akan menggantinya. Terus seperti itu sampai Aslan terpukau melihat Winnie dalam setelan dress yang memperlihatkan jenjang kaki Winnie, barulah ia setuju dan membeli beberapa pakaian dengan style yang mirip.


Selesai berbelanja pakaian mereka pergi ke salon, Aslan memerintahkan untuk merubah gaya rambut Winnie yang cocok untuknya dan tentu saja memberi perawatan pada kuku dan wajahnya.


Winnie tak tahu berapa jam ia telah menghabiskan waktu di salon itu, yang jelas pasti lama karena matahari sudah benar-benar tinggi di atas langit namun ia masih belum selesai.


Setelah beberapa menit yang membosankan dan tentunya melelahkan akhirnya ia selesai, menatap pantulan diri di cermin Winnie tak menyangka kini ia benar-benar terlihat cantik.


Apalagi rambutnya yang telah di ubah dengan style layer membuat wajahnya nampak segar, bangkit dan memperlihatkan diri pada Aslan ia bertanya "Bagaimana?".

__ADS_1


Tatapan panjang Aslan padanya perlahan memudarkan senyumnya, ia merasa bodoh telah merasa cantik karena pasti Aslan susah sering melihat gadis cantik dan dia semua perawatan itu tidak mengubah kemiskinannya.


" K-kau... cantik," ujar Aslan sambil membuang muka.


"Sungguh?" tanya Winnie tak percaya.


Aslan mengangguk tapi tetap tak mau memandang wajahnya, merasa terhina Winnie berjalan dan memaksa Aslan untuk menatapnya.


"Katakan yang benar!" perintahnya kesal.


"Ah Aslan... kau mimisan!" jerit Winnie kaget saat ia menarik tangan Aslan yang ternyata sedang menutupi darah.


"A-aku tidak apa-apa," sahut Aslan gugup.


"Selama ini di bawah AC pasti kau kedinginan dan masuk angin, ayo kita bersihkan hidung mu," ujar Winnie cemas dengan pikiran positifnya.


Sementara Aslan semakin malu sebab tatapan pelayan salon yang jelas lebih mengetahui alasan di balik hidungnya yang berdarah, selesai dari salon mereka pun kembali ke mobil.


"Sekarang kita pergi kemana?" tanya Winnie penasaran.


"Rumah," sahut Aslan.


Winnie sedikit heran, tentu karena setelah semua perubahan pada dirinya ia kira mereka akan melakukan kencan di restoran mewah.


Degh


Tiba-tiba jantung Winnie berdegup kencang, mengucapkan kata kencan dalam benaknya entah mengapa kini ia merasa gugup. Padahal saat Aslan mengajaknya pacaran ia tak benar-benar berfikir mereka akan menjadi sepasang kekasih, justru Winnie berfikir ia akan menjadi pelayan setia.


Mungkin ini karena perlakuan baik Aslan selama ini padanya, tentu itu masuk akal karena perlakuan baik itu perlahan membuatnya luluh.


Menggelengkan kepala Winnie mencoba menepis berbagai harapan manis, meski statusnya pacar tapi ia harus tetap disiplin dan waspada.


Set


Namun tiba-tiba Aslan mendekatinya, semakin dekat hingga ia bisa merasakan nafas pemuda itu di mulutnya. Wajah penguasa sekolah yang jika semakin dilihat maka ketampanannya akan semakin jelas, bayangan akan kecupan ringan itu pun kembali dalam benaknya yang membuat jantungnya tak aman.


Merasa takut sekaligus gugup Winnie memilih untuk menutup mata dan membiarkan apa pun yang akan terjadi padanya.


Ceklek


Eh...


Ternyata Aslan hanya mengambil sabuk pengaman dan memasangkannya.

__ADS_1


__ADS_2