Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 90 Perseteruan Will dan Camila


__ADS_3

Darah yang mendidih membuatnya masuk ke kantor Will tanpa memperdulikan satpam yang berjaga, tentu saja keributan pun terjadi hingga sampai di telinga Will.


"Ku pikir siapa, ternyata kau!" ujar Will.


"Kita perlu bicara!" tegas Camila.


"Ikuti aku," perintah Will sembari berjalan lebih dulu.


Mereka memasuki lift hingga ke lantai paling atas, tepat di atap mereka bisa bicara bebas tanpa mengkhawatirkan akan di dengar siapa pun.


"Katakan," ujar Will.


"Aku tahu kau yang melaporkan ku, Will kau sungguh sudah cari mati!" ucap Camila meluapkan emosinya.


"Itu hanya peringatan untuk mu, aku masih belum mengatakan pada Nicki bahwa aku ayah kandungnya karena memikirkan perasaannya juga. Aku sudah mengambil keputusan, Camila bagaimana jika kau bercerai saja dengan Brian? dengan begitu aku bisa menikahimu dan kita bisa hidup layaknya keluarga biasa," jelas Will.


"Apa? jangan bodoh! jika mau sudah ku lakukan sejak dulu, ingatlah Will bahwa tak pernah ada cinta diantara kita."


"Tapi kau melahirkan Nicki! itu adalah bukti bahwa kau tidak ingin membuang hasil hubungan kita, bukti bahwa kau menyimpan rasa untuk ku!" sergah Will.


Fufu.. hahahahaha...


Tawa Camila yang keras membuat Will terdiam kebingungan, ia tak tahu kata mana yang lucu dari ucapannya.


"Bagaimana bisa kau begitu percaya diri?" tanya Camila dengan wajah mengejek.


"Sejujurnya begitu tahu aku hamil aku sudah berencana untuk menggugurkannya, aku sama sekali tidak ingin memiliki anak. Itu hanya akan membuatku cepat tua," lanjutnya.


"Apa? lalu kenapa kau tetap melahirkannya?" tanya Will.


"Karena berkat kehamilan itu aku bisa mendapatkan Brian, selama hamil dia terus memanjakan ku. Bahkan aku juga mendapatkan saham yang cukup bagus berkat mengandung Nicki," jawabnya.


Will menggertakan gigi, ia terlalu marah hingga memandang Camila dengan tajam.


"Kau... bahkan aku saja sangat mencintai Nicki saat tahu dia darah dagingku, mengapa kau bisa bicara seperti itu seakan Nicki adalah benda?" hardiknya.


"Sudahlah... aku tidak ingin dengar omong kosong mu, yang jelas aku datang untuk memperingatkan mu. Jika kau berani memberitahu Brian aku tidak akan segan-segan menghabisimu," ujar Camila memperingatkan.


Ia berjalan ke arah pintu hendak pergi, tapi tiba-tiba Will menarik tangannya dan menghempaskannya ke lantai.


"Will? apa kau lakukan?" tanya Camila kaget.


"Kau bukanlah ibu yang baik, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" hardiknya.

__ADS_1


"Tidak! aku mohon hentikan!" seru Nicki sambil berlari mendekat.


Will dan Camila mematung melihat kedatangan Nicki yang tak pernah mereka duga, rupanya Nicki sudah cukup lama bersembunyi di balik pintu dan telah mendengar semua percakapan mereka,


"Nicki.. kau... mendengarnya?" tanya Will tergagap.


"Ya, meski sampai saat ini aku masih tak percaya bahwa paman adalah ayah kandungku," sahutnya sambil menyeka air mata.


"Oh Nicki.. selama ini aku menahannya demi mu," ujar Will.


Buk


"Ah!" pekik Nicki pelan.


Bruk


Mata Will yang hanya tertuju pada Nicki sama sekali melupakan bahaya di belakangnya, mungkin juga ia tak mengira Camila akan berbuat senekat ini.


Sementara Nicki menutup mulut dengan mata terbelalak menatap Camila yang masih memegang vas bunga besar berlumuran darah, nafasnya tersenggal-senggal masih dalam keadaan marah.


Tak peduli meski Nicki menatap apa yang ia lakukan, sekali lagi Camila mengulang perbuatannya.


Buk


"Ibu... apa yang ibu lakukan?" tanya Nicki ngeri sekaligus kaget.


"Menepuk lalat yang mengganggu," sahutnya.


Menaruh vas bunga itu kemudian Camila mengambil ponsel dan menelepon Jack untuk melaporkan apa yang dia lakukan.


"Halo Jack, aku menghabisi Will dia atap gedung kantornya. Bisakah kau bereskan mayatnya?" tanyanya.


Jack mengatakan sesuatu agar Camila segera membersihkan sidik jarinya, sementara ia akan mengirim seseorang untuk membereskan hal itu.


"Aku mengerti," sahut Camila dan telepon pun di putus.


"Nicki cepat pergi ke toilet dan sembunyi di sana, jangan keluar sampai ibu datang menjemputmu," perintahnya.


"Tapi bu... " ujar Nicki.


"Sudah! lakukan yang ibu perintahkan!" serunya.


Menelan ludah akhirnya Nicki menurut, ia pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di toilet. Entah apa yang akan dilakukan Camila ia hanya mencoba untuk menganggap semua itu mimpi buruk belaka.

__ADS_1


Sementara Camila mencoba membersihkan darah yang menyiprat ke bajunya, ia juga menghapus sidik jari yang tertinggal di vas bunga itu sampai seseorang datang.


Seorang pria yang dikirim Jack untuk membereskan kekacauan itu, ia menyuruh Camila untuk segera pergi sementara ia akan menjatuhkan Will dari sana.


Ia akan membereskannya dengan membuat seolah Will bertengkar dengannya kemudian jatuh sehingga meski polisi akan memeriksanya itu hanya sebagai saksi karena melihat orang mencurigakan.


Camila mengangguk setuju, ia pun cepat menyusul Nicki ke toilet.


"Nicki!" serunya.


Ceklek


Salah satu pintu terbuka, Nicki keluar masih dengan wajah pucat karena takut.


"Semuanya akan beres, kita bisa pulang sekarang."


Nicki mengangguk meski sedikit ragu, Camila yang dapat memahami ketakutan putrinya segera merangkul. Memberi pelukan sejenak agar Nicki merasa jauh lebih baik, mereka pun pergi meninggalkan toilet.


Saat mereka menuju tempat parkir tiba-tiba mayat Will jatuh tak jauh dari tempat mereka berdiri, orang-orang di sekitar mereka yang ikut melihat kejadian itu berteriak histeris.


"Hei lihat! ada seseorang diatas!" seru salah satu saksi.


Semua orang segera melihat ke atas, begitu juga dengan Nicki dan Camila.


"Seseorang cepat panggil ambulans!" seru yang lain sambil menatap mayat Will yang tentu saja sudah tidak bergeming.


"Ayo kita pergi," bisik Camila saat perhatian semua orang tertuju pada mayat Will.


......................


Saat sampai di kantor Carl pura-pura mendapat panggilan, ia pun menyuruh Nicki untuk pergi sendiri ke atap dimana Will berada.


Setelah Nicki pergi menggunakan lift Carl pun menyusul dengan naik anak tangga, ia sudah memperkirakan Nicki tidak akan langsung masuk begitu mendengar suara ribut Will dan Camila.


Oleh itu Carl bersembunyi dibawah tangga sambil mengawasi Nicki yang menguping di balik pintu, begitu Nicki masuk ia bergegas naik dan sembunyi di balik pintu untuk melihat drama keluarga itu.


Namun apa yang ia lihat selanjutnya membuatnya terkejut, saat Camila memukul Will dengan vas ia segera mengeluarkan ponsel dan merekam.


Ia tak pernah mengira Camila akan mengulang perbuatannya sehingga Carl mendapatkan bukti yang bagus, setelah Nicki di suruh pergi ia pun cepat-cepat sembunyi.


Masih diam dalam persembunyian ia kembali merekam apa yang di lakukan Camila saat membersihkan tempat itu, lalu karena kedatangan orang suruhan Jack terpaksa Carl kembali bersembunyi.


Barulah setelah Camila pergi ia kembali merekam pembersihan yang di lakukan orang suruhan Jack, mendapi bukti yang begitu jelas Carl meninggalkan tempat itu dan kembali pada Deborah dan Nagisa yang menunggu sejak tadi di kafe terdekat.

__ADS_1


__ADS_2