Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 58 Bertemu Jalan Buntu Lagi


__ADS_3

Dua puluh tahun yang lalu seperti biasa Iren berpamitan untuk bekerja, dan kekasihnya Clay seperti biasa juga tak menyahut. Sudah tiga bulan lamanya Clay menganggur, ini karena ia menjadi buron setelah penculikan bayi yang terakhir kali di rumah sakit tempat Iren bekerja.


Polisi hampir saja menemukannya namun beruntung Iren bertindak cepat sehingga ia lolos, kini mereka hanya bisa bergantung pada upah Iren sebagai perawat.


Gaji Iren sebenarnya cukup untuk membiayai dua orang saja, tapi karena Clay suka berjudi dan selalu kalah tentu saja yang itu menjadi tak cukup.


Apalagi Iren diam-diam menyimpan uang untuk putra mereka di panti, alhasil karena kekurangan uang Iren selalu menjadi bulan-bulanan Clay.


Tapi suatu hari Clay pulang dengan wajah sumringah, ditangannya ada sebuah amplop berisi uang dengan jumlah banyak.


"Sebentar lagi kita akan kaya mendadak," ujar Clay sambil mengeluarkan uang itu dan menguitungnya.


"Kau mendapat pekerjaan?" tanya Iren.


"Ya, aku di minta menculik seorang bayi yang akan lahir. Katanya aku boleh menjualnya atau membunuhnya," sahutnya.


"Banyak sekali uang yang kau terima, pasti dia bukan bayi sembarangan."


"Masa bodo dengan hal itu, dia juga bilang akan membantuku agar mudah menculiknya."


Saat itu Iren tak bisa berkata apa-apa lagi, sebenarnya ia lelah dengan kehidupan suramnya itu. Entah sudah sebesar apa dosa yang ia tanggung karena perbuatannya, tapi ini pun dia lakukan untuk hidup dan menghidupi putranya.


Meski pria jahat tapi Clay akan bersikap romantis dan penuh perhatian jika ia sedang banyak uang, saat itu pun ia memberi sebagian uang mukanya kepada Iren sehingga ia bisa mengirimkannya kepada putranya.


Beberapa hari kemudian Clay memberitahu bahwa bayi yang akan ia culik berada di rumah sakit tempat Iren bekerja, jika pekerjaan itu sudah selesai mereka berniat akan pindah ke luar kota demi keselamatan.


Yang perlu Iren lakukan hanya membawa meja dorong berisi Clay ke dalam ruangan itu dan membiarkan Clay melakukan segalanya, setelah pekerjaan itu selesai mereka segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Sialnya mereka ketahuan terlalu cepat, sehingga Clay menyuruh Iren untuk membawa bayi itu bersembunyi sementara ia mengalihkan penjaga.


"Semalaman aku berlari sampai kakiku tak sanggup lagi untuk di gerakkan, aku beristirahat di tempat sampah sambil mengawasi sekitar. Melihat bayi tanpa dosa dalam dekapan ku tiba-tiba aku teringat Daniel, hati kecil ku yang seorang ibu merasa iba dan bersalah. Akhirnya aku tinggalkan bayi itu di sana dengan harapan akan ada seseorang yang merawatnya dengan baik," ujar Iren sampai pada ujung ceritanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Clay?" tanya Winnie menahan air mata yang siap terjatuh.


"Beberapa hari kemudian dia menemuiku dengan membawa uang hasil pekerjaannya, dia sempat marah saat ku katakan bayi itu ku buang karena jika terus ku bawa akan membahayakan ku juga. Setelah amarahnya mereda kami pun bergegas pindah kota lagi," sahutnya.


Ada senyum tersungging di bibir Iren saat ia teringat hari-hari damainya bersama Clay di kota baru, uang yang mereka terima begitu banyak sehingga kehidupan mereka makmur.


Tapi beberapa bulan kemudian Clay pamit pergi dengan tergesa-gesa seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan, namun anehnya hingga saat ini Clay belum juga kembali.


"Aku ingat sebelum pergi ia menyuruhku untuk pindah rumah atau pergi ke luar kota, jika di sudah bicara seperti itu artinya kami tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama. Biasanya karena polisi hampir menemukannya sehingga kami harus cepat kabur, jika sudah aman dia bisa menemukan ku dimana pun aku berada. Tapi dia tak pernah kembali," ujar Iren.


"Dia sudah mati," ucap Winnie.


"Apa?" tanya Iren kaget.


Winnie sudah mengetahuinya, setelah Dady berhasil menangkap Clay ia memaksanya untuk mengatakan dimana Winnie. Clay menjawab bahwa ia telah menghabisi Winnie sehingga Dadu sempat naik pitam dan perkelahian pun terjadi, dalam perkelahian itu mereka sempat berebut pistol namun tanpa sengaja pelatuknya di tarik dan menembak Clay tepat di dadanya.


Dady benar-benar menyesal karena satu-satunya sumber informasi tentang keberadaan Winnie lenyap, tapi itu tak mematahkan semangatnya.


"Bagaimana bisa aku mengetahuinya? meski aku terlibat tapi Clay yang berurusan dengannya," sahutnya.


Itu benar, Iren hanya tahu bekerja dan di bayar sementara Clay yang bernegosiasi. Kembali menghadapi jalan buntu Winnie merasa kesal hingga membanting pintu saat ia keluar dari ruangan itu.


"Tetap awasi dia, aku masih membutuhkannya," perintah Winnie kepada Jimmy sebelum ia pergi.


Memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi Winnie benar-benar tak memikirkan keselamatannya saat sedang emosi, pikirannya kacau hingga sulit untuk fokus dalam situasi sekarang.


Aa...


Ccckkkiiiiiiiiiiiiiiittttttttt


Hhhhhh Hhhhhh Hhhhh

__ADS_1


Nafasnya berantakan, matanya melotot menatap depan dengan degup jantung yang kencang. Sekilas tadi ia melihat seseorang hendak menyebrang, karena itu Winnie cepat menginjak rem.


Takut pada pikiran negatif yang mulai merayap ia cepat-cepat turun dari mobil dan mendapati seorang gadis berseragam SMU jatuh terduduk hanya beberapa senti dari mobilnya.


"Kau tidak apa-apa? ada yang sakit?" tanyanya cepat memeriksa.


Wajah gadis itu mengalami memar di jidat dan ujung bibirnya, cukup aneh jika itu di akibatkan dari tabrakan mobil.


"Ayo bangun! aku akan membawamu ke rumah sakit," ujarnya.


Tanpa kata karena masih syok gadis itu menurut, sampai di rumah sakit Winnie segera meminta pemeriksaan menyeluruh. Ternyata butuh waktu cukup lama, setelah selesai dokter yang menangani gadis itu memberitahu Winnie bahwa gadis itu mengalami kekerasan.


Ada bukti lebam di wajah dan beberapa area tubuh lainnya, ada juga bekas luka bakar seperti tersudut ujung roko. Letaknya yang berada di punggung membuat Dokter yakin itu adalah bekas penganiayaan, Winnie segera meminta Dokter untuk mengurus surat hasil pemeriksaan.


Ia memiliki firasat itu akan berguna di masa depan, entah untuk dirinya atau untuk gadis itu.


"Hai, bagaimana perasaan mu? apa masih ada yang sakit?" tanya Winnie menghampiri gadis itu.


Gadis itu menggeleng, ia terus menundukkan kepala seolah takut kepadanya.


"Nama ku Winnie, maaf karena hampir menabrakmu. Untung kata dokter kau tidak mengalami luka serius," ujarnya mencoba seramah mungkin.


"Seharusnya kau tidak menginjak rem," ucap gadis itu tiba-tiba.


Winnie terdiam, jelas sekali gadis itu mengalami trauma yang cukup mendalam sampai kematian menjadi hal yang ia idamkan.


"Percayalah kematian itu tidak menyenangkan, apalagi kau memilih tabrak lagi sebagai caranya. Jika kau beruntung kau bisa langsung mati tapi jika tidak tubuhmu akan hancur dan berakhir menjadi mayat hidup yang cacat," sahut Winnie.


Gadis itu seketika mengangkat kepalanya dan memandang Winnie, tatapan Winnie yang kosong terlihat menyeramkan bagai hantu tak tenang. Winnie kemudian mengarahkan pandangannya pada papan nama yang tersemat di seragam gadis itu.


"Nagisa... jika ada yang harus mati itu adalah orang yang memberiku neraka," ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2