
Entah apa yang terjadi pada Deborah Winnie tak tahu, sudah tiga hari mereka tak bertemu dan di telpon pun Deborah menjawab sedang sibuk. Memang pekerjaan yang ia berikan terlalu berat sampai menyita waktu, Winnie hanya berharap sahabatnya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.
"Winnie, besok ayah mau bermain golf. apa kau mau ikut?" tanya Brian di sela makan malam mereka.
"Tentu, aku sudah lama menantikannya," sahutnya.
Brian tersenyum, besok dia punya rencana bermain golf dengan Jack. Rupanya saat mereka sampai di tempat ada satu teman Jack yang ikut bergabung, namanya Williams.
Sering di sapa Will, seorang produser yang selama beberapa tahun terakhir tak membuat film hebat namun stabil. Yang membuat Winnie kaget adalah ia ingat perusahaan Will yang menjadi investor di acara ajang kecantikan Miya, entah mengapa Winnie merasa harus menyelidikinya meski dalam kasus perusahaan itu tak terlibat sama sekali.
"Hari yang indah ini akhirnya menjadi lengkap dengan kedatangan bidadari, aku merasa beruntung sudah ikut bermain," ujar Will yang terpukau akan kecantikan Winnie.
"Ini adalah kali pertama saya bermain, mohon bimbingannya," ucap Winnie memberi hormat.
Mereka segera terjun ke lapangan, awalnya Winnie hanya memperhatikan bagaimana cara mereka bermain dan tentu berkomunikasi.
Saat itu ia bisa melihat mata Will sesekali mencuri pandang kepadanya, jelas arah matanya tertuju pada rok pendek yang Winnie kenakan.
Tanpa merasa tersinggung Winnie justru dengan sengaja ia mengeluarkan sisi femininenya untuk lebih menarik perhatian, ini adalah strateginya agar cepat akrab sehingga mudah menyelidiki.
Setelah permainan berakhir mereka beristirahat sambil menikmati kopi dan mengobrol santai, sementara Winnie meminta seorang profesional untuk mengajarinya.
"Jujur saja tuan Brian, putrimu punya aura bintang yang kuat. Aku yakin jika dia mau menjadi artis masa depannya akan cerah," ujar Will sambil memperhatikan Winnie dari balik kaca.
"Hahaha... terimakasih tuan Will, tapi semua keputusan ada di tangan putriku. Dia lebih berhak menentukan apa yang dia mau," sahut Brian tak ingin mengekang Winnie khawatir itu akan menjauhkannya.
Will tersenyum, rasanya ia baru saja mendapatkan kupon undian.
"Aaahhh... aku baru tahu ternyata bermain golf akan menyenangkan seperti ini. Jika aku tak merasa haus aku tidak akan meninggalkan lapangan," ujar Winnie ikut bergabung.
"Sudah ayah bilang kau pasti menyukainya," sahut Brian.
Winnie tersenyum, setelah beberapa menit bergabung ia ijin pergi ke toilet sebentar. Tak ia kira setelah utusannya selesai ia bertemu dengan Will, rupanya umpannya di makan dengan cepat.
"Sepertinya kau sangat menikmati bermain golf," ujar Will.
__ADS_1
"Ah ya, sepertinya aku memang menyukainya," sahutnya.
"Lusa kami juga mau bermain lagi, jika kau mau kau bisa bergabung dengan kami."
"Bolehkah?" tanya Winnie menampilkan ekspresi tak percaya.
"Tentu saja, sejujurnya aku yang paling jago bermain golf. Jika kau belajar dari ku aku yakin kau akan menjadi pemain handal," ucapnya senang akan respon Winnie.
"Kalau begitu aku pasti akan datang," sahutnya.
Kembali menemui yang lain Brian pun mengajaknya pulang sebab makan malam sebentar lagi akan tiba, berpamitan Winnie memainkan sedikit matanya saat menatap Will.
Sampai di rumah wajah cemberut Nicki menyambut kepulangan mereka, tentu itu membuat Brian dan Winnie heran.
"Ada apa dengannya?" tanya Brian kepada Camila.
"Kenapa kau tanya aku? sebagai ayah harusnya kau lebih memahami putrimu," ujar Camila ketus.
"Jangan membuat ku bertanya-tanya, kau tahu aku tidak pandai menebak."
Mendengar itu Brian menjadi merasa bersalah terhadap kedua putrinya, tidak seharusnya Winnie mendengar keluhan itu dan memang ia bersalah pada Nicki.
"Pergilah ayah, minta maaflah pada Nicki. Besok aku ada urusan jadi akan sibuk ayah bisa gunakan waktu besok untuk Nicki," ujar Winnie.
"Jangan begitu sayang, kau putri ayah. Ayah akan bersikap adil pada kalian," ucap Brian merasa tak nyaman.
"Inilah keadilan untuk kami, seharian ini ayah terus bersama ku maka besok giliran Nicki."
"Kau bicara seolah semua salahmu," keluh Brian.
"Bagaimana bisa aku merasa tidak bersalah, tiba-tiba aku hadir dalam keluarga ini dan merebut semua milik Nicki. Mungkin seharusnya aku tetap tinggal dengan orang tua angkatku," ujar Winnie dengan wajah sedih.
"Apa yang kau bicarakan? kau adalah putri kandung ayah! harusnya sejak lahir semua ini milik mu," bantah Brian.
Winnie kembali menyahut dengan kata-kata yang lebih merendahkannya, semakin Winnie membuat raut wajah bersalah Brian semakin merasa ingin melindungi.
__ADS_1
Sementara Camila semakin kesal sebab Brian justru lebih peduli lagi pada Winnie, bukannya cepat mengejar Nicki dan membujuknya Brian malah beradu argumen sampai Winnie memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
"Ah seharusnya kau tidak mengatakan hal ini di depan Winnie," keluh Brian.
"Apa? sekarang semua jadi salahku?" tanya Camila tak percaya.
"Kita bisa bicarakan ini berdua saja, lihat! sekarang Winnie pun ikut merajuk. Dia pasti berfikir aku ayah yang buruk," ujarnya dengan kesal.
Camila hendak membela dirinya sendiri namun Brian keburu pergi, membuatnya semakin kesal.
......................
Kedatangan Winnie yang memenuhi janji benar-benar membuat Will senang, meski kali ini Winnie berpenampilan biasa tapi kecantikannya tak berkurang sedikit pun.
"Lho mana pak Jack?" tanya Winnie.
"Oh dia bilang ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut main, tidak masalah kan kita main berdua?" sahutnya.
"Tentu tidak, mari!" ajak Winnie segera menuju lapangan.
Awalnya mereka bermain seperti biasa sambil mengobrol, tapi lama-lama Will banyak memuji sambil membicarakan film yang hendak ia buat dengan melibatkan sutradara dan aktor kenamaan.
"Dunia artis itu menyenangkan, jika kau mau terjun aku yakin kau tidak akan menyesal. Dengan kecantikan mu pasti kau bisa membuat film bagus," ujar Will berusaha keras mengambil hati Winnie.
"Entah aku berbakat atau tidak, apa mungkin itu terjadi?" tanya Winnie dengan nada polosnya.
Padahal dalam hati ia cukup memuji kepintaran Will dalam bersilat lidah, ia yakin sudah banyak gadis yang jatuh dalam tangan pria hidung belang itu.
"Tentu saja! aku tidak pernah salah menilai orang," sahutnya.
"Anda membuat ku merasa penasaran dengan bakat ku sendiri, aku tidak pernah bermain drama jadi tidak tahu sehebat apa aku dalam berakting. Bolehkah nanti aku mengujinya di kantor anda?" tanya Winnie.
"Tentu saja, datanglah ke kantor ku kapan pun kau mau," sahut Will.
Winnie tersenyum dan segera menyelesaikan permainannya agar pertemuan mereka pun cepat berakhir, berdahlih ada urusan mendadak Winnie akhirnya bisa pergi.
__ADS_1