
Karena Aslan telah menyelamatkannya maka Sally pun mengajaknya pulang, ditambah lagi ia akan butuh pengawal setelah diserang.
"Philip... " panggil Sally.
Aslan ikut masuk dan menatap mansion itu di penuhi pelayan serta penjaga, membuatnya penasaran siapa sebenarnya Sally ini.
"Sayang kau sudah pulang? aku baru saja hendak akan menjemput mu, aku sudah dengar Juan ada yang menyerang," sahut Philip segera berlari untuk memeriksa keadaan Sally.
Menatap pria yang begitu memperhatikan Sally ada rasa tak suka bagi Aslan, mungkin karena Sally sayang mirip Winnie sehingga muncul rasa cemburu.
"Ya, tolong kau cari tahu siapa orangnya. Berani sekali dia padaku," tukas Sally kesal.
"Tenang saja, aku pasti akan menemukannya dan memberi pelajaran padanya."
Bersyukur karena Sally keliatan baik-baik saja matanya kemudian menangkap Aslan.
"Siapa dia?" tanyanya.
"Oh, benar juga. Aku belum tahu namamu," ujar Sally berpaling.
"Nama ku Aslan," sahutnya.
"Dia yang menyelamatkan ku tadi, karena Juan masih mengurus sisa penyerang jadi aku mengajaknya pulang untuk menjagaku selama perjalanan," jelasnya.
"Begitu rupanya, Aslan terimakasih telah menyelamatkan tunangan ku. Aku akan memberimu cek sebagai tanda terimakasih ku," ujar Philip sembari tersenyum.
"Tidak perlu, aku tidak melakukannya karena uang."
"Bagaimana kalau dengan perjamuan?" tanya Sally.
Philip menengok menatap Sally.
"Biarkan kami berterimakasih dengan benar, kau sudah tahu rumah kami jadi datanglah besok. Kami akan menjamu mu sebagai bentuk terimakasih kami," lanjutnya.
Aslan terlihat berfikir, kemudian ia pun mengiyakan setelah Philip juga menyetujui saran Sally.
Setelah berpamitan Aslan pun pergi dari sana, sampai di hotel meski sudah lewat tengah malam tapi dia malah jadi tak bisa tidur karena memiliki Sally.
Wajahnya terlalu mirip dengan Winnie bagai pinang dibelah dua, hanya saja aksen dan karakternya berbeda.
Sally seperti anak kecil bandel yang terjebak dalam tubuh gadis cantik, dia juga punya aura jahat yang lebih mendominasi. Selain itu Sally juga terlihat seperti gadis nakal yang sering menghabiskan waktu di klab dengan berpesta, berbanding terbalik dengan Winnie yang bahkan tidak peka saat seseorang menyukainya karena terlalu suka belajar.
Katanya di dunia ini ada tujuh orang yang memiliki kemiripan mencapai 100% meski mereka adalah dua orang yang benar-benar berbeda, mungkin Sally dan Winnie adalah salah satunya.
Ingin meyakini pemikiran itu tapi Aslan tak bisa percaya sepenuhnya, pada akhirnya ia memutuskan untuk menyelidiki siapa Sally sebenarnya sampai yakin bahwa dia bukan Winnie.
__ADS_1
......................
"Sepertinya kau tertarik pada pria itu," ujar Philip saat mereka masuk kedalam kamar.
Menoleh pada Philip ia menemukan raut wajah kesal yang terlihat lucu, jelas sekali saat ini Philip sedang cemburu.
Hahahaha
Tawa Sally yang kencang itu membuat Philip mengerutkan kening.
"Apa kau tidak bisa membaca pikiran ku karena matamu tertutup cinta sebesar bola bisbol?" tanya Sally setelah puas tertawa.
"Memang apa yang kau pikirkan?" balas Philip.
Wajah Sally mendadak serius, ia teringat kembali bagaimana Aslan tiba-tiba datang menerjang entah darimana.
"Aku curiga dia mata-mata yang di kirim seseorang, saat itu aku terpisah dengan Juan dan dia tiba-tiba saja datang menolong ku. Bayangkan saja! bahkan katanya dia tidak pernah mendengar namaku," ujarnya.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Philip.
"Jika kita satu langkah lebih dekat dengan kawan maka kita harus dua langkah lebih dekat dengan musuh," sahut Sally.
Philip mendekat, merangkul wanitanya itu dan memberi kecupan di kepala.
Esoknya Aslan datang memenuhi undangan, Sally yang menyambutnya terlihat cantik dan anggun dengan dress merah. Sejenak Aslan terdiam karena takjub akan kecantikan itu, tapi kemudian wajahnya datar dengan senyum ramah yang dipaksakan.
"Silahkan masuk," ujar Sally.
"Terimakasih," sahut Aslan.
Mereka terus berjalan melewati ruangan dan masuk ke ruang makan outdoor yang sudah disiapkan, nampak seorang pelayan pria telah berdiri disana menunggu mereka.
"Silahkan duduk," ucap Sally.
Pelayan itu menarik satu kursi agar Aslan dapat duduk, kemudian ia berpindah pada kursi yang lain untuk Sally.
"Philip sedang pergi karena ada urusan, tapi sebentar lagi dia juga pulang. Sambil menunggunya bagaimana kalau kita minum dulu?" tawar Sally.
"Boleh," jawabnya singkat.
Di luar wajah yang nampak adalah senyum eksotis nan menggoda, tapi dalam lubuk hati Sally ia menjerit kencang karena kesal dan sedih yang menjadi satu sebagai Winnie.
Ini adalah kali pertama Aslan begitu dingin padanya, dingin dalam istilah yang sebenarnya. Itu bisa dimaklum setelah penemuan jasad Winnie, apalagi Sally sekarang benar-benar berbeda dengan Winnie tentunya Aslan tak serta merta mengenalinya.
"Katakan Aslan darimana asal mu? kau bilang tidak mengenal ku pasti kau bukan asli penduduk sini," tanyanya memulai obrolan.
__ADS_1
"Dari luar negri, aku datang untuk pekerjaan ku."
"Begitu rupanya, apa pekerjaan mu?" tanyanya lagi.
"Arsitek," sahut Aslan singkat.
"Wow, arsitek rupanya."
"Bagaimana dengan mu? siapa yang mengincarmu dan kenapa?" balas Aslan.
"Kau akan mudah menemukan jawabannya, tanya saja pada semua orang di daerah ini," jawabnya sembari tersenyum.
Saat Aslan hendak memberikan pertanyaan lagi Philip kemudian datang, ia pun mengurungkan niatnya dan mereka mulai makan malam dengan santai.
Selesai makan malam Aslan pamit seperti biasa, sementara Sally segera menyuruh Juan untuk membuntutinya.
......................
Saking penasarannya Aslan datang ke sebuah bar, ia kemudian menanyakan apakah pemilik bar itu mengenal wanita bernama Sally atau yang sering di juluki mawar beracun.
Awalnya pemilik bar memasang wajah takut begitu nama itu disebut, tapi setelah Aslan menjelaskan bahwa ia telah menolong Sally barulah ia menceritakan apa yang dia mau.
"Dia adalah bos mafia yang terkenal di daerah ini, semua bisnis gelap dia yang jalankan bahkan bisnisnya sudah sampai ke luar negri. Dia terkenal bukan hanya karena cantik dan juga pintar, tapi yang membuatnya lebih terkenal adalah kekejamannya. Dia bisa membunuh mu hanya karena suasana hatinya sedang buruk, karena itu tidak ada yang berani menyenggolnya. Apalagi dia adalah tunangan Philip."
"Oh ya, aku juga sudah bertemu dengan pria bernama Philip itu. Apa dia lebih hebat lagi?" tanya Aslan belum puas.
"Dia adalah orang gila dengan tempramen buruk, tapi kepintarannya dalam mengelola bisnis sangat hebat. Dia adalah orang nomor satu di daerah ini," jelasnya.
Kini Aslan tahu bahwa dua orang yang ia temui bukanlah orang sembarangan, jika dibandingkan dengan musuh-musuh Winnie sebelumnya tentu saja mereka hanya teri.
Pantas saja mansion itu dijaga sangat ketat dan Sally di incar waktu itu, dunia yang mereka tempati rupanya dunia gelap.
......................
"Nona saya sudah mencari informasi tentang pria bernama Aslan itu," ujar Juan melapor.
"Katakan," perintah Sally sambil tetap memasukkan sarapannya ke dalam mulut.
"Dia memang seorang arsitek, beberapa hari yang lalu dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dalam pembangunan pasar raya. Dia menginap di hotel dan hanya sedang liburan setelah pekerjaannya selesai," jelas Juan.
Sally meneguk air putih hingga habis setengahnya, barulah ia memberi isyarat bahwa Juan sudah boleh pergi.
"Rupanya itu hanya kecurigaanmu saja," komentar Philip.
"Aah... aku sedikit kecewa, tapi ini bukan kali pertama aku salah. Jadi yah... biarlah," sahutnya.
__ADS_1