Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 49 Dosa Yang Menghantui


__ADS_3

Memegang alamat di tangan Deborah menepi untuk melihat sebuah rumah tepat di hadapannya, ia sudah bertanya ke penduduk sekitar dan itu adalah rumah yang benar.


Setelah cukup yakin ia pun keluar dan masuk ke pekarangan rumah itu untuk kemudian mengetuk pintunya, butuh beberapa kali ketukan sampai akhirnya si tuan rumah membuka pintu.


"Ya?" tanya seorang pria dari dalam.


"Maaf, apa ini benar kediaman Dasim?" tanyanya.


"Kau siapa?" tanya pria itu penuh curiga.


"Perkenalkan nama ku Deborah, paman Brian mengutus ku untuk mencari Dasim."


Mendengar sebuah nama yang tak asing pria itu melotot kaget, nampak ia pun menjadi gugup.


"Boleh aku masuk? ada beberapa hal yang harus aku sampaikan," tanya Deborah.


Dasim melihat sekitar belakang Deborah, seolah memastikan tak ada orang lain selain dirinya.


"Masuklah," sahutnya pelan.


Deborah kemudian masuk, ia cukup kaget sebab Dasim langsung menutup pintu. Ia mempersilahkan Deborah duduk dan menunggu sebentar sementara ia akan membuat teh.


"Silahkan tehnya," ucap Dasim beberapa menit kemudian datang dengan segelas teh.


"Terimakasih," sahut Deborah.


"Ada tuan mencariku?" tanyanya langsung pada inti permasalahan.


"Ah begini, paman Brian meminta ku untuk menyelidiki lagi kasus hilangnya putrinya. Saat itu kau yang sedang berjaga jadi aku rasa sangat tepat datang padamu untuk meminta keterangan," jelas Deborah.


"K-kenapa tuan ingin menyelidikinya lagi?" tanyanya gugup.


Jelas Deborah melihat ketakutan besar dalam diri Dasim, dari gelagatnya jelas ada sesuatu yang ia ketahui namun sengaja ia tutupi.


"Ada orang yang mengancam mu," terka Deborah.


Tatapan Dasim segera tertuju pada Deborah, keringat dingin mengalir dari keningnya bahkan tangannya tak bisa berhenti gemetar.


"Apa seseorang itu menggunakan ibumu untuk mengancam?" tanya Deborah lagi.


Kini tatapan Dasim semakin tegas, ia segera bingung dan hendak bicara tapi tak ada kata yang ke luar. Rupanya semua tebakan Deborah benar.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu?" tanya Dasim pelan.


"Ada banyak foto kau dan ibu mu yang terpajang, sudah jelas kau sangat menyayangi ibu mu. Saat aku masuk sampai sekarang tidak ada orang lain selain kita, aku berasumsi ibumu sakit dan berada di kamar sebab penyakitnya semakin parah. Mudah untuk menebak hanya dengan mengetahui hal ini," jelas Deborah.


Dasim menundukkan kepala, masih tak tahun harus bicara apa.


"Katakan yang sebenarnya, aku akan menjamin keselamatan kalian berdua," ujar Deborah tegas.


Menatap Deborah yang penuh keyakinan akhirnya dosa yang selama ini menghantuinya terkuak, ia mengatakan bahwa sembilan belas tahun yang lalu seorang pria mendatanginya dan mengatakan telah menculik ibunya.


Jika ia ingin ibunya selamat ia harus melakukan sesuatu, pekerjaan yang mudah namun beresiko tinggi.


Saat menjaga kamar Maya ia harus membiarkan siapa pun masuk ke dalam kamar itu tanpa pemeriksaan, karena tekanan akhirnya ia menurut.


"Lalu siapa saja yang masuk ke dalam?" tanya Deborah.


"Hanya seorang perawat, dia masuk sambil membawa meja dorong dan berada di dalam sekitar sepuluh menit," jawabnya.


"Kau yakin?" tanya Deborah.


"Ya, setelah kepergian perawat itu beberapa menit kemudian tuan Brian datang menjenguk tapi nyonya sudah.... " Dasim tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Tak masalah karena Deborah juga tahu apa yang kemudian terjadi.


"Tidak, dia memakai masker sehingga wajahnya tisak keliatan," sahutnya sambil menggeleng.


"Bagaimana dengan pria yang mengancam mu?" tanyanya lagi.


"Kami tidak bertemu, dia hanya menelpon ku dan lewat telepon itu juga dia meyakinkan ku bahwa ibu sudah di culik. Setelah kepergian nyonya Maya aku di suruh datang ke sebuah gudang dan di sana hanya ada ibuku yang sedang diikat di kursi," jelasnya.


Satu kata yang bisa Deborah ucapkan untuk si pelaku adalah 'pintar' dia sama sekali tidak menunjukkan wajahnya agar Dasim tak mengenalinya dan kasus ini akan sulit untuk terkuak.


"Terimakasih atas kejujuran mu, aku mungkin akan datang lagi. Tolong hubungi aku jika kau ingat hal yang lain atau butuh pertolongan," ujar Deborah sambil menyerahkan nomornya.


"Dengar nona, aku sangat menyesal... " ucap Dasim dengan raut wajah yang tulus.


Deborah tersenyum, ia sangat menghargai keputusan Dasim untuk jujur dan mengerti bahwa memang situasinya pun sulit.


"Aku mengerti, dengar! nyonya Maya sudah pergi dan tidak akan pernah kembali, tapi putrinya masih hidup bahkan tumbuh menjadi gadis yang sangat kuat. Siapa pun yang sudah bertindak tidak adil kepadanya dan kepadamu aku yakin dia akan membalasnya," sahut Deborah.


Dasim hanya bisa melongo, tak percaya anak yang hilang selama belasan tahun masih hidup bahkan sehat.

__ADS_1


"Tuhan bersama orang-orang yang tersakiti, aku akan menebus kesalahan ku dan mencoba mengingat apa pun yang bisa membantu penyelidikan mu," ujar Dasim.


Deborah tersenyum dan mengangguk.


......................


Melihat putrinya telah pulang Camila tak sabar mendengar derita apa saja yang di terima Winnie selama berkemah, tapi saat menyambut mereka di pintu justru Nicki yang terlihat berantakan.


"Sayang? kau baik-baik saja?" tanyanya.


"Ahh... ibu.. kita bicara nanti saja, aku tidak bisa tidur semalaman karena takut. Biarkan aku tidur dulu," sahutnya.


Menatap Nicki dengan heran ia hanya mengangguk, sementara Winnie yang terlihat bugar membuatnya menebak rencana Nicki tak berjalan sesuai rencana.


Merasa kesal Camila langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan Winnie yang menyapa, tak peduli Winnie juga ikut masuk sementara barang-barangnya di bawakan oleh pelayan.


Tak ada kegiatan Winnie berniat menghabiskan waktu di halaman belakang, namun pesan dari Deborah yang mengajaknya bertemu seketika membakar semangat.


Dengan cepat Winnie mandi dan berpakaiannya sebelum datang ke tempat pertemuan, di sebuah kafe yang kini menjadi langganan mereka Deborah sudah menunggu.


"Biar ku tebak, kali ini kau mendapatkan berita bagus," ujar Winnie.


Deborah tersenyum kemudian menyampaikan apa yang ia dapatkan dari Dasim, sebagian kabar itu sudah ia ketahui dari Dady jadi Winnie tak terkejut.


"Sekarang kau memiliki kuasa, aku harap kau bisa melindunginya dan ibunya. Mau bagaimana pun juga dia berharga sebagai saksi," ujar Deborah di akhir ceritanya.


"Aku mengerti," sahut Winnie pelan.


Keheningan tiba-tiba hadir diantara mereka, sama-sama larut dalam pikiran masing-masing sebuah panggilan menyadarkan mereka.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ujar Leo tak bisa menutupi kegembiraannya.


"Ya, ku pikir kau hanya datang ke kafe Marito saja," sahut Winnie.


"Tentu saja tidak," sahutnya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.


"Tidak!" sahut Deborah tegas.


Matanya yang mengancam membuat Leo tidak nyaman sementara Winnie menatap heran.

__ADS_1


"Aku sedang ada masalah dan ingin bicara berdua saja dengan Winnie, ku harap kau mengerti," lanjutnya.


"Apa itu tentang Agger? apa dia melakukannya lagi?" terka Leo yang justru membuat Deborah kaget.


__ADS_2