Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 43 Pertarungan Pemuda Hidung Belang


__ADS_3

"Beruntung sekali bengkaknya tidak parah," ujar Camila kembali ke kamar dimana Nicki mendapat perawatan setelah konsultasi dengan dokter.


"Ibu ini salah Winnie!" seru Nicki tak bisa meredam amarahnya.


"Apa maksud mu?" tanya Camila kaget sekaligus bingung.


"Mungkin saat dia menyodorkan bunga itu padaku serbuknya terbang ke wajahku, karena itu sekarang muka ku jadi bengkak."


"Bunga apa yang kau bicarakan? katakan dengan jelas," perintah Camila.


Ia pun menceritakan kedatangan Ashar yang menitipkan bunga untuk Winnie, tentu menabur bubuk gatal di bunga pun ia ceritakan tapi itu tidak akan membuat Camila marah padanya.


Justru Camila ikut geram pada Winnie, keinginannya untuk menyingkirkan Winnie semakin besar hingga otaknya berjalan mencari ide.


Tentu itu bukan hal mudah sebab Brian sangat menyayangi Winnie dan tak mau kehilangannya lagi, oleh karena itu secara perlahan tapi pasti ia harus membuat Brian membenci Winnie.


"Pertama untuk mendisiplinkan Winnie kita harus membuatnya sadar akan posisinya, kau masih menyimpan nomor sepupu mu Tony?" tanya Camila.


"Ya, kadang kami bertukar kabar. Kenapa?" sahut Nicki.


"Ibu punya rencana," ujar Camila sembari tersenyum.


Ia pun menjelaskan rencananya itu pada Nicki, tentu karena Nicki akan ikut andil dalam rencana itu.


***


Saat makan malam Nicki tak bisa turun dari ranjangnya untuk menjadi bahan tertawaan para pelayan, ia memilih untuk makan di kamar dan akan keluar setelah bengkaknya sembuh.


"Brian kau ingat Tony?" tanya Camila.


"Um... dia sepupu Nicki kan?" tebak Brian.


"Ya, saat kami di rumah sakit dia menelpon. Mengetahui kondisi Nicki katanya besok dia akan datang menjenguk," ucapnya.


"Itu bagus, Nicki dan Tony cukup dekat. Aku harap dengan kedatangan Tony Nicki jadi cepat sembuh," ujarnya.


"Apa dia boleh menginap? kau tahu dia sengaja datang jauh-jauh hanya untuk Nicki, kasian jika dia harus pulang lagi. Lagi pula Nicki pasti senang jika beberapa hari ia bisa menghabiskan waktu dengan Tony," pintanya.


"Tentu saja," sahut Brian tak masalah.


Melihat senyum Camila Winnie merasa ada yang aneh, seakan sesuatu yang buruk telah di siapkan untuknya.


Mencoba menerka hal yang dapat Winnie pikirkan hanya pemuda bernama Tony ini akan membuat ulah dengannya, tentu saja jika dia berani macam-macam Winnie tidak akan tinggal diam.


Esoknya karena masih tak ada kelas Winnie kembali menghabiskan waktu di halaman belakang, taman yang sedang dia buat tinggal 20% lagi rampung.


"Winnie!" panggil Camila.


Ia menoleh dan mendapati Camila berdiri dengan seorang pemuda yang pasti adalah Tony, berjalan mendekat ia menyahut.


"Perkenalkan ini Tony sepupu Nicki yang kita bicarakan semalam," ujarnya memperkenalkan.


"Aku sudah mendengar tentang mu dari tante, senang bisa berkenalan dengan mu."


Tony mengulurkan tangannya sembari tersenyum, senyum khas hidung belang dimana matanya hanya tertuju pada dua benda yang menonjol.


"Selamat datang," sambut Winnie menjabat tangannya.


"Iuhh!" erang Tony saat telapak tangannya terasa basah.


"Oh maaf! aku lupa jika sedang memakai sarung tangan," seru Winnie segera menarik tangannya.


Dengan jijik Tony memperhatikan telapak tangannya yang kotor, dengan penasaran ia mencium baunya.


Hooooeeeeeekkkk


"Itu pupuk kandang, aku sedang mencampurnya untuk tanaman ku," jelas Winnie.

__ADS_1


"Apa? iuh... " jerit Tony segera berlari ke dalam untuk mencuci tangannya.


Camila yang kebingungan segera mengejar Tony dari belakang, sementara Winnie tertawa puas telah mengerjai pemuda yang tak punya sopan santun.


Menggelengkan kepala Winnie kembali bekerja sampai badannya terasa letih, ia memutuskan untuk mengakhirinya sebab hanya tinggal menanam beberapa jenis tanaman yang belum ada.


"Hai Winnie!" sapa Tony mendekat.


"Oh Tony, maaf untuk yang tadi," ujar Winnie berfikir betapa cepat pemuda itu bangkit dan mendekatinya.


"Sebenarnya itu agak keterlaluan, jika benar-benar menyesal harusnya minta maaf saja tidak cukup," ujar Tony sembari mendekat.


"Apa maksud mu?" tanya Winnie dingin.


"Kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan minum teh atau yang lainnya," ujarnya.


Jelas ada yang diinginkan Tony darinya dan itu bukan minum teh bersama, tersenyum manis Winnie meminta ijin untuk mandi dulu.


Tentu Tony mengijinkan sebab ia ingin melihat Winnie dalam penampilan lebih baik dan wangi, meski sebenarnya dengan memakai celemek saja dan kotor Winnie sudah keliatan menggoda.


Masuk ke dalam kamar Winnie memutar otak agar ia tak harus melayani hidung belang itu, jika dia pergi dengan sebuah alasan Tony bisa beralasan menawarkan tumpangan dan dengan dukungan Camila ia tak mungkin menolak.


Berjalan mondar-mandir akhirnya Winnie memutuskan untuk mengambil satu pengawal gratis yang mampu menjaganya, mengambil ponsel ia menekan nomor dan menelpon seseorang.


"Halo, apa ini Ashar?" tanyanya setelah telpon itu tersambung.


"Ya, ini Winnie kan?" tanya Ashar tak percaya mendapat telpon dari gadis incarannya.


"Benar, Ashar aku belum berterimakasih atas bunga yang kau kirimkan. Bisakah kau datang ke rumah ku sekarang agar aku bisa berterimakasih dengan benar?" tanyanya.


"Tentu saja, aku akan sampai sepuluh menit lagi," sahut Ashar bersemangat.


"Sempurna, akan ku tunggu," balas Winnie dan telpon pun berakhir.


Tersenyum geli Winnie membayangkan pertempuran dua pria hidung belang, itu pasti akan menarik untuk di nantikan.


Begitu keluar dari kamar dan berjalan turun Tony yang sudah menunggu sejak tadi di buat terpukau sampai tak bisa menutup mulutnya, tentu ekspresi bodoh itu menggelitik hati Winnie hingga ia tertawa kecil.


"Wow Winnie! kau keliatan luar biasa," puji Tony.


"Terimakasih, oh ya! aku tidak melihat ibu, dimana dia?" tanya Winnie.


"Oh tante di sedang menemani Nicki di kamarnya," sahutnya.


Begitu rupanya, Camila dengan sengaja tidak menampakkan diri agar tidak mengganggu mereka.


"Akan ku pinta pelayan menyiapkan teh," ujar Winnie.


"Baiklah, aku akan menunggu di dalam," sahut Tony merujuk pada sebuah ruangan dimana jika pintunya di tutup tak akan ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam.


Mengangguk Winnie segera pergi, saat ia memanggil pelayan dan minta di siapkan teh secara kebetulan Ashar yang ia undang telah tiba.


Dengan penuh semangat ia menghentikan Pelayan yang hendak membuka pintu, ia ingin dia sendiri yang menyambut kedatangan Ashar.


"Winnie..." panggil Ashar pelan tak percaya bukan pelayan yang membukakan pintu.


Terlebih Winnie tampil sangat cantik saat itu.


"Aku sudah menunggumu dari tadi, ayo masuk!" ajak Winnie sambil menarik tangannya.


Perlakuan Winnie membuat otak Ashar segera traveling, ia mulai membayangkan ikat pinggangnya yang akan menjadi tali atau cambuk mengingat perkataan Deborah yang menyebut Winnie suka pria dominan.


"Ah tolong siapkan teh untuk satu orang lagi," ujar Winnie saat tak sengaja bertemu pelayan.


"Baik nona," sahut pelayan itu dan segera meminta temannya untuk mengerjakannya sementara ia membawa teh yang pertama bersama dengan Winnie.


Trek

__ADS_1


Membuka kenop pintu Winnie masuk kedalam ruangan, Tony yang sudah tak sabar menunggu segera bangkit dan tersenyum lebar.


Tapi begitu melihat Ashar yang datang bersamanya senyum itu seketika lenyap, begitu pun dengan khayalan Ashar saat matanya menemukan pria lain di ruangan itu.


"Ashar perkenalkan ini Tony, dia sepupu Nicki yang datang untuk menjenguk Nicki," jelas Winnie.


"Hai," sapa Tony dingin.


Ashar mengangguk dan menyambut tangan itu dengan acuh juga, tentu keduanya merasa kecewa pada masing-masing.


"Ayo duduk!" ajak Winnie.


Ashar dan Tony duduk saling berhadapan di sofa panjang sementara Winnie memilih sofa tunggal yang berada di ujung, melihat tatapan kedua pemuda itu Winnie tahu benak mereka sedang mencari ide untuk mengusir.


"Kau datang untuk menjenguk Nicki?" tanya Tony.


"Tidak, Winnie yang mengundang ku datang karena ingin berterimakasih atas bunga yang ku kirim," sahutnya.


"Begitu rupanya, Nicki sedang sakit. Kenapa kau tidak sekalian menjenguknya?" tanya Tony.


"Aku rasa Nicki sedang tidur jadi sebaiknya jangan di ganggu, lagi pula Ashar datang karena undangan ku jadi lebih baik dia di sini saja," ujar Winnie takut Ashar akan kalah bicara dan pergi.


Mendapat dukungan dari Winnie membuat Ashar membusungkan dadanya di hadapan Tony.


"Winnie bagaimana bunga yang ku kirim? kau belum mengatakan apa pun tentang itu," tanya Ashar memancing lebih banyak pujian untuknya.


"Itu bunga yang sangat indah, bagaimana kau tahu aku menyukainya?" tanya Winnie dengan nada riang.


"Ahahaha... aku hanya menebaknya, syukurlah kau menyukainya," sahut Ashar kini malah menjadi malu.


"Sebuah keberuntungan, aku sangat menyukai bunga sampai menanamnya sendiri di halaman belakang. Lain kali datanglah saat mereka sudah mekar," ucap Winnie.


"Tentu saja, aku akan datang lain waktu," sahut Ashar.


Semakin Ashar tertawa puas dan Winnie terus bicara pada Ashar membuat Tony naik pitam, ia paling tidak suka di acuhkan oleh seorang gadis hanya karena ada pria lain.


"Aku baru tahu kau suka bunga, lain kali aku akan membawakan mu bunga abadi. Itu bunga yang tidak akan pernah layu sampai kapan pun," ujar Tony.


"Oh kau tahu jenis bunga rupanya, kenapa baru bilang? kita bisa bicara sejak tadi," ujar Winnie mulai beralih pada Tony.


"Ahahaha begitulah, kau tahu bunga terbesar di bumi? itu adalah bunga raflesia arnoldi yang hanya ada di Indonesia," ujar Tony mulai menyombong.


"Wah hebat! kau sangat pintar," puji Winnie sembari tersenyum.


Padahal dalam hati ia mengatai Tony bodoh habis-habisan, semua orang juga tahu tentang bunga-bunga itu sebab itu sudah menjadi pengetahuan umum.


"Huh kalau hanya itu aku juga tahu," ketus Ashar tak terima Winnie mulai berpaling.


"Apa kau bilang? memangnya seberapa pintar kau?" tanya Tony sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Saling menatap dengan benci mereka mulai berdebat tentang bunga yang tentu semuanya salah, apa pun yang mereka katakan hanya omong kosong yang di buat untuk menarik perhatian Winnie.


Tak disangka ternyata perkelahian antara pria hidung belang berlangsung dengan banyak bicara seperti gadis, itu membuat Winnie tak bisa menahan tawa.


"Permiy nona, ada tuan Leo mencari anda," ujar seorang pelayan tiba-tiba di pintu.


Menoleh ke belakang mereka bertiga menatap kedatangan Leo yang tak termasuk rencana, sementara Leo merasa menyesal telah datang di waktu yang tidak tepat.


Jelas itu terlihat dari dua pria yang duduk di kiri kanan Winnie dengan raut muka kesal, bingung harus bersikap bagaimana Leo hanya mengangkat satu tangannya dan menyapa dengan ragu.


"Leo... masuklah!" ajak Winnie.


"Baik," sahut Leo sembari berjalan masuk.


Ketika ia mendekat jelas tatapan intimidasi dari Tony dan Ashar membuatnya tak nyaman, memilih duduk di sofa tunggal tepat di hadapan Winnie ia hanya bisa menundukkan kepala dengan bingung.


Sementara Winnie berfikir hari ini akan semakin menarik.

__ADS_1


__ADS_2