Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 69 Kartu As Kakek Peter


__ADS_3

Semenjak Brian salah paham pada Winnie karena kedekatannya dengan teman-teman prianya Winnie jadi jarang di rumah, bahkan ia sering terlambat pulang hingga melewatkan makan malam bersama.


"Apa hari ini Winnie pulang terlambat lagi?" tanya Brian.


"Kenapa tanya aku? kau ayahnya kan! telpon saja dia," sahut Camila ketus.


"Aku selalu sibuk bekerja bagaimana bisa tahu keadaan rumah, bukankah itu tugasmu sebagai ibu?" balas Brian.


"Bagaimana aku bisa tahu? dia pergi tanpa memberitahu ku!" sahut Camila dengan nada tinggi.


Kehilangan nafsu makan Camila pergi ke kamarnya, menghembuskan nafas lelah Brian mengejar dengan langkah pelan.


Saat ia masuk ke dalam kamar Camila segera memalingkan muka, mencoba membujuk Brian duduk di sampingnya.


"Aku merasa menyesal telah berprasangka buruk terhadap Winnie, mulai sekarang apa pun yang dia lakukan aku akan mempercayainya sepenuh hatiku. Tapi tak bisa ku tutupi kekecewaan ku saat melihat dia sibuk sendiri sampai tak ada waktu makan bersama, maaf karena aku telah melampiaskan kekesalan ku terhadapmu," ujarnya.


"Aku sudah berusaha keras menjadi ibu tiri yang baik baginya, aku melaporkan semua yang dia lakukan padamu agar kau selalu tahu bagaimana dia di rumah. Tapi separuh kenyataan telah menjadikan ku ibu tiri yang buruk," keluh Camila.


Ia mulai menangis yang membuat Brian semakin merasa bersalah.


"Aku tahu, aku mengerti. Sebagai permintaan maaf bagaimana jika besok kita pergi makan di luar?" tanyanya.


"Sungguh?" tanya Camila segera menghapus air matanya.


"Kau yang tentukan dimana kita akan makan," sahut Brian sembari mengangguk.


"Ada restoran yang sedang populer, aku dengar steak nya enak. Bagaimana jika pergi ke sana?" tanyanya.


"Tentu," sahut Brian.


......................


Masih menyelidiki kasus kematian Miya Winnie memilih pulang ke apartemen, ia sudah berniat akan bermalam disana dan jika Brian bertanya ia bisa memberi alasan menginap di rumah Fabio.


Seorang diri dalam kegelapan Winnie berulang kali memutar audio rekaman perbincangannya dengan kakek Peter, sungguh tak di duga ternyata yang merencanakan pembunuhan Miya ternyata bukan Camila melainkan Will.


Rupanya Camila dan Will adalah teman satu universitas, meski belum menjabat tapi perusahaan keluarga Will yang menjadi investor dalam ajang itu memiliki kekuatan penuh untuk mengendalikan acara.


Saat itu Camila ingin menyingkirkan Miya sampai meminta bantuan Will, kakek Peter berkata sampai sekarang mereka masih berhubungan dan mereka bisa menggunakan kartu As ini untuk menguras Camila.


Drrrrrrrttt Dr drrrrrrrttt

__ADS_1


Winnie kira ponselnya berdering karena Brian yang menelpon, tapi ternyata itu dari Aslan.


"Halo," ujar Winnie segera mengangkatnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Aslan.


"Hanya berbaring, bagaimana dengan mu?" balas Winnie.


"Tidak bisa fokus," sahutnya kesal.


"Kenapa?" tanya Winnie.


"Entah, mungkin karena ada seorang gadis yang sedang memikirkan ku."


"Hahahaha...kalau begitu temui dia dan segera usap kepalanya agar dia berhenti menyiksamu," sahut Winnie.


Terdengar suara dengusan dari Aslan, Winnie tahu pacarnya itu pun kesal karena jarak yang terus menumpukan rindu.


"Aku sudah memutuskan hanya akan datang saat dia membutuhkan ku," ujar Aslan pelan.


Winnie terdiam, memang seperti itulah Aslan.


......................


Masuk ke dalam ruang makan seperti biasa Brian sarapan dengan tenang sampai ia sadar bahwa Winnie belum juga keluar untuk sarapan.


"Panggil Winnie, ini sudah terlalu siang untuk dia sarapan," perintah Brian kepada pelayan.


"Tapi tuan nona Winnie tidak pulang semalam," sahut pelayan itu.


"Apa? dia tidak pulang? lalu dimana dia semalaman?" tanya Camila dengan nada terkejut yang di lebih-lebihkan.


Tanpa kata dengan raut wajah keras Brian mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Winnie tentang keberadaannya, tak di duga Winnie langsung membalas dan dia mengatakan sudah ke kampus.


Brian kembali bertanya mengapa ia tak pulang semalam, Winnie menyahut ia menginap di rumah orangtua angkatnya yang membuat hati Brian sakit.


Ia merasa seperti ayah yang buruk sampai putri kandungnya tak betah tinggal di rumah, menahan rasa sedih itu Brian memberitahu niatnya untuk makan malam di luar dan mengajak Winnie untuk bergabung.


Winnie hanya menyahut lihat nanti saja, ia tak bisa berjanji akan ikut sebab masih memiliki banyak tugas.


Selesai kuliah Winnie harus cepat ke lokasi syuting untuk bekerja, meski kurang tidur semalam karena terlalu memikirkan banyak hal tapi ia tetap tampil sempurna.

__ADS_1


Hari itu tak di duga Will datang khusus ke lokasi yang membuat Winnie harus menahan amarah saat melihat senyumnya, senyum tanpa dosa padahal tangannya berbau amis darah Miya.


Wiill mengajak para artis dan sutradara untuk makan siang bersama, tentu semua ikut sebab ini merupakan suatu kehormatan bagi mereka tapi tidak dengan Winnie.


Sepanjang makan siang mereka mengobrol santai dan Winnie ikut di dalamnya, Will mengatakan ia berharap banyak pada film ini sehingga ingin semua orang bekerja dengan maksimal.


Selesai makan mereka kembali ke lokasi syuting, saat Winnie sedang melakukan adegan Nagisa kembali ke ruang make up yang di khususkan untuk Winnie.


Di saat waktu senggang Nagisa memang selalu memanfaatkannya untuk belajar, karena itulah dimana pun lokasi syuting mereka Winnie selalu minta kamar agar Nagisa bisa fokus dalam belajar.


Ceklek


Pintu yang tak di kunci itu terbuka, saat Nagisa berbalik ia cukup kaget melihat Will masuk ke dalam.


"P-pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nagisa gugup.


"Ah aku hanya ingin bicara sedikit dengan mu, apa aku menganggu?" tanya Will melihat sekilas buku yang terbuka dia meja.


"Tidak," sahut Nagisa pelan sambil merapikan bukunya.


Will mendekat dan duduk tepat di dekat Nagisa, melihat ketakutan di mata Nagisa ujung bibirnya berkedut kegirangan.


"Jadi kau masih sekolah ya, aku cukup kaget Winnie merekrut asisten muda yang bahkan masih sekolah," komentar Will.


"Kak Winnie memberi ku pekerjaan agar aku bisa membayar les ku," sahut Nagisa berbohong.


"Mm, dia memang murah hati seperti bidadari. Tapi apa gaji mu cukup untuk membayar les?" tanya Will.


"Itu sudah sangat cukup," sahut Nagisa cepat.


Will tersenyum sambil bangkit, saat dia mendekat secara reflek Nagisa mundur. Senyum Will semakin lebar mendapati respon itu, ia pun menaruh tangannya di bahu Nagisa.


"Mungkin memang cukup, tapi bekerja sebagai asisten pasti berat. Sebaik apa pun Winnie saat kau melakukan kesalahan fatal dia akan langsung berubah menjadi iblis, ituah sifat artis yang tak seorang pun tahu. Aku bisa membantumu, bekerjalah padaku. Uang yang aku berikan akan tiga kali lipat lebih besar dari gaji mu sekarang," ujar Will.


Nagisa tak dapat mengatakan apa pun, ia tak tahu harus menolak atau menerima sebab posisinya yang sebenarnya bukanlah asisten tapi mata-mata Winnie.


Jika ia bekerja langsung dengan Will mungkin saja dia dapat menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kasus itu, tapi ia tak bisa langsung memutuskan tanpa melapor pada Winnie.


"A-aku... akan memikirkannya," sahut Nagisa akhirnya.


"Bagus! aku akan menantikan jawabanmu kapan pun itu," sahut Will senang.

__ADS_1


__ADS_2