Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 73 Kesialan Yang Dialami Nagisa Juga


__ADS_3

Dua jam telah berlalu semenjak Nicki pulang dengan wajah cemberut, Camila yang datang menengok tak menyangka putrinya itu masih menangis di tumpukan tisu.


"Ouh Nicki... apa yang terjadi?" tanya Camila menghampiri.


"Hua.... ibu... " rengek Nicki semakin menjadi.


Camila membiarkan Nicki menangis dalam pelukannya untuk beberapa saat sebelum ka kembali bertanya.


"Leo.. ternyata dia sudah punya tunangan," sahut Nicki di sela tangis yang mulai mereda.


"Sungguh? kenapa aku tidak pernah mendengarnya dari Jack?" tanya Camila heran.


"Tante Diana yang memberitahuku kalau gadis itu bernama Teressa, dia anak anggota Dewan yang selama ini sekolah di luar negri. Dia baru datang dan berkunjung ke rumah Leo," jelas Nicki.


Camila termenung, rupanya Jack bahkan sudah mengatur masa depan putranya demi memperkuat posisi dan bisnisnya.


"Sudahlah Nicki, Leo bukan satu-satunya pemuda di dunia ini. Jangan bersikap seperti wanita tua yang tidak pernah beruntung soal cinta," ujar Camila.


"Tapi aku mencintai Leo!" seru Nicki bersikukuh.


"Dengar Nicki! cinta tidak akan memberimu apa-apa kecuali kebahagiaan sesaat, kau sudah cukup dewasa. Pria yang mapan harus lebih diutamakan dari segalanya," ujar Camila menasehati.


"Tapi Leo mapan, dia berasal dari keluarga kaya seperti kita."


"Belum tentu dia memiliki masa depan bagus jika bersama mu, anak itu punya sifat pembangkang. Bagaimana jika menolak semua warisan? apa kau sanggup hidup di gubuk?" sahut Camila.


"Bagaimana bisa ibu bicara seperti itu tentang Leo?" tanya Nicki tak senang mendengarnya.


"Kalian tumbuh bersama, bagaimana mungkin ibu tidak tahu sifatnya?" balasnya.


"Sudahlah, sekarang sebaiknya kau bereskan dirimu dan ganti pakaian. Ibu mau mengajak mu belanja," lanjutnya.


......................


Syuting selesai dengan cepat hari itu, Winnie berencana akan pergi ke polisi untuk membuat laporan tentang praktik ilegal yang di lakukan di klinik Sara.


Tapi Nagisa mengatakan ia mendapat telepon dari Will, ia diminta datang ke sebuah hotel untuk meeting tentang peran yang dijanjikan Will.


Winnie pun menyuruh Nagisa untuk pergi sendirian, tak lupa ia juga memberi nasihat agar Nagisa selalu waspada.


Setelah mengangguk Nagisa pun pergi, baru saja tiba di lobi hotel seorang pria sudah menghampiri dan bertanya tentang namanya. Rupanya pria itu adalah bawahan Will yang di suruh untuk menyambut Nagisa, pria itu kemudian mengantar Nagisa pergi ke sebuah kamar.


Masuk ke dalam ia cukup heran sebab kamar itu nampak sepi, melihat sekeliling kemudian ia mendengar suara pintu terbuka. Rupanya Will baru selesai mandi, masih menggunakan handuk ia berjalan keluar yang membuat Nagisa cepat berbalik badan.


"Maaf Pak, s-saya pikir... eh tadi saya di minta langsung masuk oleh pegawai bapak," jelas Nagisa kikuk.


"Oh tidak apa-apa," sahut Will santai.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Nagisa cepat.


"Eh tunggu!" sergan Will sambil menarik tangan Nagisa.


"Kau mau kemana? sebaiknya kau temani aku jika kau ingin peran yang bagus," bisiknya tepat di telinga Nagisa.


"Apa? tidak! saya mohon lepaskan saya," rintih Nagisa.

__ADS_1


Tapi genggaman Will sangat kuat sehingga Nagisa bahkan tak bisa memutar badannya, sementara Will semakin menempelkan diri.


"Aku mohon... lepaskan aku... " pinta Nagisa.


"Hehe... percuma, sekalipun kau melapor pada polisi justru kau yang akan di penjara karena pencemaran nama baik. Jadi sebaiknya kau diam dan biarkan aku melepaskannya," ujar Will.


Semakin Nagisa meronta Will justru melayangkan satu pukulan keras di pipi Nagisa agar dia diam, saat Nagisa mulai menangis ia mulai merobek baju Nagisa.


Brak


Cekrek


"Hei siapa kau?" tanya Will kaget mendapati satu pria masuk ke dalam kamarnya.


Buk


"Uh!" erang Will mendapat satu pukulan keras di kepala yang membuatnya terhuyung jatuh.


Pria itu kemudian mengambil selimut dan menutup tubuh Nagisa sebelum membawanya pergi, sementara Will yang baru bangkit mencoba untuk mengejar mereka.


Bukan untuk membalas pukulan itu tapi ia harus mengambil kamera yang di gunakan pria itu untuk memotret dirinya, tapi tak disangka ia kehilangan jejak saat tiba di lobi hotel.


Sementara Nagisa yang kebingungan akhirnya menangis sejadi-jadinya saat ia masuk mobil yang di dalamnya ada Winnie, dalam dekapan Winnie ia mengeluarkan semua ketakutannya.


Tanpa menunggu lagi pria itu segera tancap gas dan pergi meninggalkan hotel.


"Sekarang sudah aman, tidak akan ada yang menyakitimu lagi," ujar Winnie menenangkan.


Butuh setidaknya beberapa menit sampai Nagisa tenang, bahkan saking syoknya habis puas menangis ia langsung tertidur begitu saja.


Pria itu mengangguk dan menyerahkan kameranya, Winnie segera memeriksa dan tersenyum puas melihat gambar yang bagus meski ia menyesal karena Nagisa terlibat jauh bahkan memberi pengalaman buruk yang tak mungkin bisa di lupakan.


"Akan ku transfer bayaran mu sekarang juga," ujar Winnie pelan sambil mengeluarkan handphonenya.


Beberapa saat yang lalu saat Nagisa mengatakan Will mengajak bertemu ia sudah curiga pria hidung belang itu akan melakukan sesuatu yang jahat, oleh karena itu diam-diam Winnie menempel alat penyadap di baju Nagisa sehingga ia bisa mendengarkan percakapan mereka.


Ia juga meminta Jimmy untuk menyuruh salah satu temannya yang jago berkelahi untuk menemaninya, setelah mengetahui tempat pertemuan Nagisa Winnie menyuruh teman Jimmy untuk mengikuti Nagisa diam-diam masuk ke hotel.


Saat mendengar suara jeritan dan permohonan Nagisa ia pun segera meminta teman Jimmy untuk menyelamatkan Nagisa, tapi terlebih dahulu ia harus memotret tindakan keji Will untuk menyerangnya di kemudian hari.


Terbangun dari tidur lelapnya Nagisa mendapati di mobil ia sudah berdua saja dengan Winnie.


"Kakak, kemana pria yang menolongku?" tanyanya.


"Kau tidak perlu mengucapkan terimakasih, sebaliknya kita harus menyusun rencana untuk menyerang si bedebah Will," sahut Winnie.


Nagisa tak mengatakan apa pun, ia menurut saja saat mereka pergi ke apartemen. Sebelum memulai rencana Winnie menyuruh Nagisa agar mandi dan berganti pakaian sementara ia akan memasak, bukan hidangan istimewa tapi sesuatu makanan pedas yang cocok dimakan disaat sepert ini.


"Dengar, aku sudah mengatakan bahayanya bergabung dengan ku. Kini semuanya sudah terjadi dan tidak ada gunanya menyesal, jika kau menyalahkan seseorang maka Will adalah jawabannya. Setelah ini kau harus lebih kuat lagi untuk membalas dendam," tegas Winnie.


"Kakak tenang sana, itu bukan pelecehan pertama yang ku dapatkan. Mungkin memang yang terburuk tapi aku baik-baik saja," sahut Nagisa sembari tersenyum.


Winnie tercengang, dalam benaknya ia berfikir kesulitan apa saja yang sudah Nagisa alami di dunia ini. Ia tak menyangka selain lahir di keluarga miskin dan di bully rupanya gadis yang masih remaja itu juga sudah merasakan bejatnya pria.


Hampir Winnie menangis dan seketika mengutuk dirinya yang menyeret gadis polos itu ke dalam jurang yang semakin dalam.

__ADS_1


"Mulailah makan, nanti keburu dingin," ujar Winnie pelan sambil menahan air mata.


"Oh kalian juga di sini rupanya," ujar Deborah yang langsung masuk ke dalam.


Mereka hanya mengangguk, melihat makanan yang sudah tersedia dengan cepat Deborah ikut menyantap. Tentu ia mendapat protes dari Winnie sebab ia memasak untuk Nagisa.


"Kenapa kau jadi pelit padaku sih?" ujar Deborah sembari cemberut.


"Sudahlah, kakak juga boleh memakannya," ucap Nagisa menyodorkan mangkuk.


"Terimakasih... kau memang adik yang baik," sorak Deborah.


Nagisa tersenyum melihat keceriaan Deborah, itu juga membuat Winnie lega sebab mereka bisa melupakan duka sesaat. Tapi setelah makan Winnie mulai membahas rencana balas dendam mereka kepada Will.


Winnie mengatakan bahwa ia memiliki bukti berupa foto serta percakapan Nagisa dan Will yang sengaja ia rekam, bukti itu sudah cukup untuk membuat Will di periksa.


"Tunggu! kau mendapat perlakuan itu dari Will?" tanya Deborah kaget.


Tak ingin menjelaskan lebih rinci Nagisa hanya mengangguk, lagi pula foto yang di pegang Winnie sudah menjelaskan semuanya.


"Uhu...Nagisa.. kenapa hari ini nasib kita sangat sial? kita sama-sama bertemu pria bejat yang hanya tahu nafsu," ujar Deborah segera meneteskan air mata.


"Apa maksud mu kita? apa kau juga... " tanya Winnie yang terfokus pada kalimat Deborah.


Tangisan Deborah segera terhenti, ia benar-benar tidak sadar telah mengatakan sesuatu yang mudah di mengerti Winnie.


"Deborah apa Eggar melakukan sesuatu padamu?" tanya Winnie pelan namun tegas dan tajam.


"Um.... itu... Winnie kau sudah tidak perlu khawatir," sahut Deborah yang bingung harus bicara apa agar Winnie tak naik pitam namun tak bisa berbohong.


"Akan ku beri pelajaran si brengsek itu," janji Winnie.


"Dimana dia sekarang?" tanyanya sambil berdiri.


"Sudahlah Winnie... aku baik-baik saja," ujar Deborah panik.


Tak bisa mengandalkan Deborah Winnie memutuskan untuk menghubungi Leo, ia pasti tahu dimana keberadaan Eggar.


"Halo Leo, kau bisa beritahu aku dimana Eggar?" tanya Winnie tanpa basa basi.


"Oh ya, kau juga sudah mendengarnya ya. Bagaimana jika kita pergi bersama?" tawar Leo dengan nada girang.


Sontak Winnie terkejut dan menatap Deborah dengan kening berkerut, ia bingung mengapa Leo juga bisa mengetahui tentang hal ini.


"Tidak, kau beritahu saja dimana," tolak Winnie.


"Kenapa? teman-teman yang lain juga mau menjenguk, pada akhirnya kita juga pasti bertemu di rumah sakit."


"Apa maksud mu?" tanya Winnie semakin heran dengan perkataan Leo.


"Kenapa kau malah bertanya? kau juga mendengar kabar kalau Eggar habis di pukuli oleh seseorang sampai masuk rumah sakit kan? berita itu sudah tersebar cukup luas karena Marito," sahut Leo.


Terpaku, Winnie menutup telpon dan berbalik menatap Deborah dengan seribu tanda tanya.


"Jelaskan!" perintah Winnie.

__ADS_1


Sementara Deborah bingung harus mulai dari mana atau lebih baik bungkam.


__ADS_2