
Sejak pagi wajah Winnie begitu keras dengan tatapan tajam, sekali lihat saja semua orang tahu suasana hatinya sedang tidak baik.
Datang ke kantor untuk memeriksa bisnisnya ia bertanya pada Juan tentang semua masalah yang muncul, mulai dari masalah sepele hingga yang terberat.
"Aku sudah memberikan hukuman pada orang kita yang berkhianat, sisanya kita tinggal mengurus barang yang kurang," ujar Juan di akhir laporannya.
"Bawa pengkhianat itu ke lapangan," perintah Winnie.
"Baik," sahut Juan segera melaksanakannya.
Enam menit kemudian Winnie turun untuk melihat pengkhianat yang sedang Juan ikat di tiang, wajahnya sudah babak belur bahkan giginya juga rontok.
"Aku yakin kalian pasti bosan bekerja terus setiap hari, aku akan memberikan hiburan yang akan membuat kalian tidak menyia-nyiakan hidup," ujar Winnie.
Semua yang menonton melihat Winnie mengambil sebilah pisau, kemudian dengan pisau itu ia mengiris kulit si pengkhianat. Tentu saja rasa sakit akibat sayatan itu membuatnya menjerit kencang, tak peduli meski ia telah meminta ampun Winnie melanjutkan aksinya.
Ia menguliti pengkhianat itu hidup-hidup mulai dari bagian tangan, secara perlahan Winnie terus memisahkan kulit dari dagingnya sampai ke bahu.
Orang-orang menatap ngeri, bukan karena itu salah satu hukuman paling mengerikan yang pernah mereka lihat tapi karena Winnie melakukannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tak peduli seberapa kencang raungan yang begitu pilu itu memekakkan telinga, Winnie terus menguliti sampai kulit bagian tubuh atas terpisah dengan sempurna.
Puas menguliti Winnie memerintahkan Juan untuk jangan memindahkan pengkhianat itu dari tempat dia diikat selama dua hari, dia ingin setiap pergi ke kantor itu akan menjadi pemandangan baginya.
Melemparkan pisau yang di penuhi darah kesamping Winnie kemudian pergi untuk mencuci tangan, sementara para anak buahnya yakin bahwa alasan Philip mengangkat Winnie adalah karena Winnie merupakan Philip versi wanita.
"Juan apa ada masalah genting lainnya?" tanya Winnie sekembalinya dari toilet.
"Tidak ada Nona," sahutnya.
"Kalau begitu aku ingin olahraga," ujarnya.
Juan mengangguk, ia segera mengikuti langkah Winnie pergi dari kantor. Setelah berganti pakaian Winnie masuk ke ruang latihan, disana setelah melakukan pemanasan ia diajari tekhnik bela diri oleh Juan.
Tentu saja itu atas permintaan Winnie sendiri, dari siang sampai hari sudah malam Winnie terus menggerakkan tubuhnya tanpa istirahat. Juan yang sudah cukup pegal berharap Philip segera pulang agar bisa menghentikan Winnie. Doanya terkabul.
__ADS_1
Juan yang heran sebab Winnie belum datang untuk makan malam datang ke ruang latihan, mendapati Winnie masih berolahraga ia segera menarik tangan Winnie untuk menghentikannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Philip dengan suara bergetar karena marah.
"Berlatih... untuk jadi lebih kuat," sahut Winnie pelan karena kehabisan tenaga.
"Itu ada batasnya, kau tidak... " belum sempat ucapan Philip selesai Winnie sudah terhuyung jatuh dan tak sadarkan diri.
"Sally! Sally!" panggil Philip panik.
Tapi Winnie tak kunjung membuka mata, ia pun segera menggendong Winnie ke kamarnya. Disana Juan baru melaporkan apa saja yang sudah Winnie lakukan hari ini, sejak pagi ia memang sudah terlihat kesal dan melampiaskannya pada anak buah serta berolahraga tanpa henti.
"Kau boleh pergi," ujar Philip dengan mata yang hanya tertuju pada Winnie.
Juan menganggukkan kepala dan tak lupa menutup pintu sambil ia pergi meninggalkan kamar.
"Sally ada apa? apa yang membuatmu kesal?" bisik Philip tepat di telinga Winnie.
Tapi Winnie tak menyahut, dari dengkuran halus yang keluar dari tenggorokannya Philip tahu Winnie tidur dengan pulas. Tentu saja setalah berolahraga selama berjam-jam badannya akan kehilangan banyak cairan lewat keringat dan kelelahan.
Padahal semalam mereka begitu menikmati satu sama lain, ia masih ingat dengan jelas bahkan saat ini begitu ia teringat kondisi basah Winnie yang semalam juniornya segera menegang.
Sudah sering ia membeli seorang gadis, beberapa diantaranya berhasil bertahan dan tidur dengannya. Tapi tak ada yang sebaik Winnie, cara Winnie menyenangkannya dengan mengambil inisiatif sendiri bukanlah kenakalan biasa.
Ia merasa seperti sedang di goda kekasihnya, sejak bersama di pulau pribadi memang Philip sudah merasa Winnie berbeda dari yang lain. Untuk itulah ia menjadikannya tunangnya.
......................
Seluruh badannya pegal bukan main, tenggorokannya pun terasa sakit dan kering. Bangun dengan perasaan tidak nyaman Winnie mengambil air dan meneguknya sampai habis, barulah ia merasa hidup kembali.
Menengok kesamping ia baru sadar bahwa ada Philip yang tidur disampingnya, menatap wajah polos pria yang sedang tidur itu hati Winnie mendadak dongkol lagi.
Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Philip, ia benar telah membeli Winnie secara sah sehingga ia berhak memilikinya. Ia juga berhak melakukan apa pun padanya, hanya saja ia menyesal mengapa Philip sulit untuk dipengaruhi sehingga ia keluar dari batasnya.
Mengumpulkan semua rasa kesal di tangan Winnie kemudian memberikan satu tamparan keras di pipi Philip.
__ADS_1
"Hah? Sally?" panggil Philip terlonjak seketika.
Perlahan ia merasa sedikit sakit di pipinya, menatap Winnie yang bermuka cemberut ia pun bertanya "Kau menamparku?".
" Ya, aku menamparmu," sahut Winnie.
"Kenapa?" tanya Philip bingung.
"Karena aku kesal padamu!" seru Winnie dengan lantang.
"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Philip semakin tak mengerti.
Winnie kemudian menunjukkan bekas gigitan Philip yang masih terasa perih.
"Sudah ku bilang sakit tapi kau tak mau berhenti, aku juga tidak suka kau mengikat ku. Sekarang aku membencimu dan tidak mau melihat mu!" omel Winnie.
Ia membalikkan badan sementara Philip yang baru mencerna tersenyum kecil, ia tak menyangka gadisnya akan marah besar hanya karena hal itu.
Cup
Tiba-tiba Philip mencium bekas gigitan itu yang membuat Winnie bergidik karena sentuhan yang lembut namun seperti kejutan listrik.
Perlahan tangan Philip pun merangkul pinggangnya dari belakang, menempel pada punggung Winnie ia meminta maaf dengan tulus tepat telinganya.
Hembusan nafas Philip yang terasa di lehernya cukup mematikan kewarasan Winnie, membuatnya semakin tersiksa karena terlahir kembali sebagai gadis yang tidak memiliki kehormatan.
Air bening kemudian meleleh di pipinya, ia tak tahu mana kehidupan yang kehidupan yang lebih baik. Hidup sebagai Yumna dengan kehormatan tinggi tapi dicurangi, Winnie yang bebas tapi tak berhenti menjadi pelayan, atau Sally yang berkuasa tapi tanpa kehormatan. Ketiga kehidupan dengan identitas yang berbeda dan latar yang berbeda, semuanya tidak memiliki keberuntungan yang cukup.
"Sshhh... Sally, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku bersumpah atas nama ku sendiri," ujar Philip cemas saat melihat kelingan air mata yang jatuh.
Sumpah seorang pria adalah tanggung jawabnya dan sumpah mafia adalah kutukan, Philip sudah berani bersumpah atas dua martabat karena itu Winnie tahu kali ini dia tak akan berdusta.
"Aku lapar, bawakan aku makanan. Hari ini aku tidak pergi bekerja," ujarnya pelan.
Tak ada gunanya terus menyesal atau membandingkan hidup, menatap kepergian Philip untuk mengambil sarapan ia hanya bisa menjalani waktu yang ia miliki sekarang.
__ADS_1