Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 9 Bolos


__ADS_3

Drrrrrsssssss.....


"Sial," gumam Winnie untuk yang kesekian kalinya.


Hhhhhhhhhh


Menghembuskan nafas panjang Winnie mulai berfikir untuk sesekali membolos, ini sudah jam delapan dan dia masih terjebak di stasiun karena hujan.


Andai ia punya uang pasti dia akan langsung membeli payung, jika memaksakan berlari percuma juga seragam dan tasnya akan basah kuyup dan bisa-bisa semua bukunya hancur.


"Sepertinya aku pulang saja," ujarnya memutuskan.


Ttttttttiiiiiiiiitttt...


Suara klakson mobil membuatnya mengerutkan kening, terlebih mobil sport itu berhenti tepat di depannya.


"Masuklah," ujar Aslan dari dalam mobil setelah ia membuka kaca.


"Oh baik," sahutnya merasa senang sebab dapat tumpangan.


Tanpa kata Aslan kemudian tancap gas setelah Winnie duduk dengan benar, suasana begitu hening sementara Winnie memperhatikan dalam mobil yang begitu mewah.


"Eh, kau salah belok. Sekolah ke arah sana," ujar Winnie memberitahu.


"Aku sedang malas sekolah," sahut Aslan santai.


Winnie terpaku, mengutuk dirinya yang sempat berfikir untuk bolos tadi. Kini tak ada pilihan, ia harus ikut kemana Aslan akan membawanya.


Aslan membawanya ke mall, setelah memarkir mobil Winnie berjalan tepat di belakang Aslan persis seperti kacung yang selama ia lihat.


Cukup mengejutkan saat melihat Aslan tertarik pada demo miniatur rumah, ia terlihat serius memperhatikan sampai mengobrol dengan panitia.


"Kau suka pada desainnya?" tanya Winnie.


"Lumayan," sahutnya pelan.


Cukup lama Aslan di sana sampai Winnie merasa bosan, tapi ia tak berani pergi ataupun memalingkan perhatian pada yang lain.


Berkali-kali melirik jam Winnie benar-benar di buat menunggu sampai tanpa terasa sudah memakan waktu berjam-jam.


"Semua memiliki kelebihan dan kekurangan, sangat labil," ujar Aslan akhirnya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Krrrrrrrruuukkkk


Sebuah suara yang berasal dari perut Winnie membuat Aslan menatap wajahnya, dengan malu Winnie membuang muka.


"Apa selama itu?" tanya Aslan.


Winnie mengangguk dan memperlihatkan jam tangannya.


"Oh astaga, baiklah kita cari makan," ujar Aslan yang membuat Winnie bersemangat.


Melihat bagaimana kayanya Aslan ia pikir mereka akan makan di restoran mewah tapi ternyata tidak, Aslan memilih makanan cepat saji.


"Aku pesan satu porsi ayam, kentang goreng dan soda. Kau mau apa?" tanya Aslan.


"Burger keju dan soda juga," sahut Winnie.


Setelah mendapat makanan masing-masing mereka pun mengambil tempat duduk di dekat kaca, mulai makan dengan lahap Aslan terlihat seperti orang kebanyakan.


"Ada apa?" tanya Aslan sadar tengah di perhatikan.


"Tidak, aku hanya kaget ternyata kau cukup sederhana."


"Hahaha... sederhana? apa yang kau pikirkan tentang aku?" tanya Aslan merasa geli.


"Mm, memang. Tapi aku lebih suka yang instan jika soal makanan, tentu kalau di rumah aku makan seperti yang kau katakan."


"Ah.. aku mengerti," sahut Winnie.


Selesai makan mereka kembali berjalan-jalan di mall, ternyata Aslan cukup pendiam. Ia tak banyak bicara, hanya mengatakan beberapa hal saja seperti meminta saran saat membeli sesuatu.


Melihat belanjaan Aslan Winnie menerka ia akan membuat kerajinan tangan, mungkin juga miniatur rumah seperti yang dia lihat tadi.


"Dimana rumah mu?" tanya Aslan setelah mereka kembali ke dalam mobil.


"Cukup jauh dari sini," jawab Winnie.


"Lebih spesifik," perintahnya dengan nada dingin.


Winnie mengangguk dan menunjukkan jalannya, sepanjang perjalanan mereka kembali membisu. Membuat Winnie menerka sebenarnya bagaimana sifat asli Aslan, jelas dia seorang berandalan tapi sepertinya bukan tipe diktator.


"Turunkan aku di depan," ujar Winnie setelah mereka sampai.

__ADS_1


"Ternyata rumah mu memang cukup jauh," ucap Aslan.


"Terimakasih sudah mengantarku," sahut Winnie sebelum membuka pintu.


"Kau biasa berangkat naik apa?" tanya Aslan membuat Winnie tak jadi membuka pintu.


"Kereta pagi atau bus," sahutnya.


"Baiklah, sampai jumpa," ujar Aslan.


Winnie mengangguk dan berterimakasih sekali lagi sebelum ia menutup pintu mobil, tetap berdiri di pinggir jalan ia memperhatikan bagaimana mobil Aslan melaju pergi.


"Ah... hari ini aku benar-benar rugi besar, tidak mendapat pelajaran juga tidak dapat uang. Bahkan pagiku di mulai dengan air mata langit," keluh Winnie sambil menatap langit yang kini malah cerah.


Kembali berjalan menuju rumah Winnie berharap besok harinya akan lebih baik, harapannya cukup tinggi saat ia mendapati langit cerah esok harinya.


Tapi seketika hatinya mendung saat melihat mobil Aslan terparkir tepat di tempat kemarin ia menurunkannya, tak ada jalan lain menuju stasiun atau halte mau tak mau Winnie harus berjalan melewati mobil itu.


"Ayo masuk!" ajak Aslan membuka kaca mobilnya tepat saat Winnie melewatinya.


"Baik," sahut Winnie mencoba menutupi kekesalannya.


Ia sudah berpikir akan mati kutu lagi sepanjang hari tapi ternyata tidak, Aslan membawanya ke sekolah dan itu cukup mengejutkannya.


Sebenarnya Winnie ingin bertanya mengapa Aslan repot-repot menjemputnya, tapi ia takut Aslan malah minta imbalan aneh untuk hal itu. Maka ia pun memilih untuk diam.


Saat keluar dari mobil seakan diatas kepalanya ada bintang Winnie tiba-tiba menjadi pusat perhatian, semua orang berbisik dan menatapnya.


Mencoba menjelaskan lewat tindakan Winnie berjalan tepat di belakang Aslan seperti yang dilakukan para kacungnya, ia juga memasang wajah datar yang membuat orang sulit menerka apa yang telah terjadi di antara mereka.


"Hai Aslan... kenapa kemarin kau tidak masuk sekolah?" sapa Carmen.


"Aku hanya sedang malas," sahurnya cuek.


"Oh begitu," gumamnya.


Menatap Winnie yang berdiri tepat di belakang Aslan ada perasaan takut sekaligus iri, dulu Winnie pernah menjadi pelayan pribadi Adnan yang kedekatannya mengalahkan dirinya. Jika tidak cepat meraih hati Adnan mungkin ia akan kalah pamor dari Winnie, karena itu kali ini pun Carmen takut hal serupa terjadi pada Aslan.


"Winnie tolong bawakan tasku," ujarnya manja sambil menyerahkan tasnya.


Tanpa kata Winnie menerima tas itu, tapi tiba-tiba Aslan mengambilnya dengan kasar.

__ADS_1


"Bawa sendiri! dia bukan pelayanmu," perintah Aslan sambil melempar tas itu kepada Carmen.


__ADS_2