
Esoknya Brian dan Nicki kembali ke kantor untuk mendengar kabar penahanan Camila selanjutnya, tapi saat sampai mereka masih belum diijinkan bertemu Camila.
"Ayah aku akan membeli minum dulu, apa ayah ingin sesuatu?" tanya Nicki.
"Tidak sayang," sahut Brian.
Nicki mengangguk dan ia pun pergi ke supermarket terdekat, karena musibah yang menimpa Camila bahkan mereka melewatkan makan malam dan tak sempat sarapan sebab masih khawatir.
Kini Nicki merasa perutnya perih sehingga ia membeli susu kotak untuk membuat perutnya lebih baik.
"Hai! kita bertemu lagi," sapa Carl.
Nicki segera menegakkan duduknya begitu melihat wajah Carl.
"Oh Hai juga," balasnya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Carl.
"Tentu saja," sahutnya sembari tersenyum dan sedikit merapikan rambut.
"Kita berkenalan, nama ku Carl."
"Nicki," sahutnya sambil menyambut tangan Carl.
"Apa kau memiliki urusan di sekitar sini?" tanya Carl.
"Apa? itu... ya begitulah," jawab Nicki enggan memberitahu bahwa ibunya sedang di tahan.
"Pantas kau ada di sini setiap hari, aku juga begitu. Ayah ku seorang insfektur jadi aku ke sini untuk menemuinya," ujar Carl.
"Begitu rupanya," balas Nicki.
"Ya, aku baru kembali dari luar negri. Ibuku selalu menyuruhku untuk pergi keluar tapi aku tidak tahu harus kemana, akhirnya aku hanya mengunjungi ayahku."
Nikcki terseny mendengar cerita Carl, setidaknya itu menjadi obat untuk mengembalikan semangat hidupnya.
Drrrrrtt Drrrrrtt
"Oh maaf," ujar Nicki saat mengetahui ada telepon masuk.
Ia pun pergi untuk mengangkatnya sebab itu dari Brian, rupanya Brian memberitahu bahwa Camila sudah bebas sehingga ia menelpon untuk memberitahu bahwa mereka akan langsung pulang.
"Carl, aku harus kembali ke kantor," ujar Nicki memberitahu.
"Kalau begitu kita jalan bersama, aku juga mau kembali ke sana," sahut Carl.
Nicki tersenyum dan mereka pun berjalan beriringan, sampai di kantor hati Nicki segera lega melihat ibunya sudah bebas. Meninggalkan Carl ia berlari untuk memeluk ibunya dan menangis dalam pelukannya, sementara Carl juga pergi untuk melaporkan apa yang ia lihat.
"Syukurlah ibu sudah bebas," ujarnya sambil menyeka air mata.
"Iya sayang," sahut Camila.
"Ayo kita pulang," ajak Brian.
__ADS_1
......................
Di dalam kamarnya dengan vidiocall Winnie mengikuti rapat yang diadakan untuk membahas kebebasan Camila, sebelumnya mereka tahu Camila pasti akan cepat bebas entah bagaimana caranya.
Dan seperti yang mereka perkirakan kini Sara yang mendekap di penjara karena praktek ilegalnya terbongkar.
"Apa Camila yang melaporkan Sara?" tanya Nagisa.
"Aku sedikit ragu, mereka berteman cukup baik," ujar Deborah.
"Sebuah hubungan yang di dasari dengan memegang rahasia masing-masing bukanlah pertemanan, saling memegang rahasia itu artinya suatu saat mereka akan membongkar kebusukan masing-masing," jelas Winnie.
"Nagisa! pergilah temui Sara, aku punya firasat dia akan membongkar salah satu rahasia yang ia miliki," perintahnya.
Nagisa mengangguk.
"Ada kabar lainnya?" tanya Winnie.
"Aku ingin mendekati Nicki, boleh kan?" tanya Carl.
"Kenapa kau ingin mendekatinya?" tanya Deborah.
"Hanya ingin, lagi pula siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi darinya."
"Gadis bodoh seperti dia tidak akan pernah memiliki rahasia, tapi terserah kau saja. Yang penting jangan sampai mengganggu misi kita," sahut Winnie.
"Aku mengerti," balas Carl sambil memberi hormat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aslan tiba-tiba.
"Kau belum aman, kita belum tahu siapa yang ingin membunuhmu. Selama aku pergi tidak ada yang mencurigakan kan?" ujarnya.
"Sudah ku bilang hanya orang bodoh yang akan mengirim pembunuh dengan cepat setelah gagal," sahutnya.
"Baiklah, jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi kita akhiri sampai di sini," lanjutnya.
"Winnie vidio yang kau kirimkan sudah ku edit, akan ku kiriman padamu. Jika ada yang masih kurang bisa kau katakan," ucap Deborah.
"Oh iya, terimakasih," balasnya.
Winnie pun mengakhiri panggilan itu, kemudian memeriksa video pantai yang ia kirimkan.
Pekerjaan Deborah sangat bagus, ia mengedit video itu hingga menjadi menarik. Dengan akun yang baru ia buat atas nama hotel segera ia pun mengunggahnya di sosial media, saat ini mungkin belum ada yang melihat tapi ia harap kedepannya akan menjadi populer.
Satu pekerjaan telah selesai, ia pun pergi ke luar untuk membantu yang lain me-cat sisa kamar di lantai dua.
Seharian itu semuanya berjalan dengan sempurna, tersisa tinggal satu kamar lagi Winnie menyuruh semua pegawai hotel untuk pulang dan beristirahat karena hari telah malam.
Sementara ia sendiri yang akan menyelesaikan pekerjaan itu, me-cat satu kamar memang membutuhkan waktu lama jika di kerjakan sendirian.
Tapi Winnie sama sekali tak mengeluh atau pun keberatan, itu karena dia sudah terbiasa bekerja keras demi membantu orangtua angkatnya.
Tanpa ia ketahui pak kepala memperhatiknya sejak tadi, dan apa yang ia lihat telah merubah penilaiannya terhadap Winnie.
__ADS_1
......................
Sesuai perintah Winnie Nagisa pergi mengunjungi Sara setelah pengadilan memutuskan ia bersalah, melihat kedatangan Nagisa Sara hanya mendengus kesal.
"Ah, aku tidak menyangka antisipasi mu memiliki tanggal kadarluarsa," ujar Nagisa.
"Itu karena aku di khianati," balas Sara.
"Apa pun itu pada akhirnya kau tetap mendekap di penjara," sahut Nagisa.
"Hei, bagaimana jika kita saling membantu?" tawar Sara.
"Tergantung dengan apa yang bisa ku bantu," sahut Nagisa.
"Aku yakin kau akan sangat tertarik," janji Sara.
Ia pun mengatakan sebuah rahasia yang ia ketahui tentang Jack, yaitu bahwa Jacklah yang dalang di balik kematian Maya.
Saat itu Jack menyukai Maya dan berusaha menodainya di sebuah pesta yang juga Sara hadiri, yang tak pernah mereka ketahui adalah Sara diam-diam merekam perbuatan keji Jack di kamar itu.
Setelah kejadian itu tersebar kabar bahwa Maya hamil dan Jack salah sangka bahwa itu adalah anaknya, awalnya ia berencana menculik anak Maya saja.
Namun sayangnya orang yang ia suruh malah membunuh Maya dan setelah di lakukan tes ternyata Winnie adalah anak Brian, itu membuatnya marah dan menyerahkan Winnie untuk segera di jual atau di bunuh.
Oleh karena itu setelah kematian si penculik Winnie Jack terus memata-matai perawat Iren begitu tahu tempat tinggalnya hanya untuk memastikan dia tidak mengasuh Winnie.
"Video yang menjadi bukti ada di apartemen ku, akan kuberi tahu kodenya padamu. Selain itu aku juga punya bukti lain bahwa Jack adalah dalangnya," ujar Sara.
"Apa itu?" tanya Nagisa.
"Roman, dia preman, bandar narkoba dan pengadah organ. Dia yang Jack suruh untuk mencari seseorang yang bisa menculik Winnie," sahutnya.
Nagisa mengedipkan mata, kini ia menyandarkan bahunya dengan santai.
"Lalu keuntungan ku?" tanya Nagisa.
"Ada sejumlah uang tunai yang ku simpan bersama video itu," sahutnya.
"Baiklah, kita sepakat."
"Semoga kau berhasil membalaskan dendam ku," ujar Sara menyambut tangan Nagisa.
Waktu mereka bertemu telah berakhir, Nagisa bangkit dan segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan mengantongi kode apartemen yang Sara berikan.
"Kau dapat sesuatu?" tanya Carl yang menunggu di parkiran.
Bruk
"Nagisa!" seru Carl panik melihat gadis itu jatuh terduduk.
Segera ia pun menghampiri dan melihat wajah pucat Nagisa basah karena air mata yang tak mau berhenti, bahkan tangannya gemetar hebat seakan sesuatu yang mengerikan baru saja ia alami.
"Nagisa katakan padaku? apa yang terjadi?" tanya Carl semakin panik.
__ADS_1
"Jangan beritahu kak Winnie yang sebenarnya," pinta Nagisa dengan lirih.
Kebingungan Carl hanya bisa mengangguk, sementara Nagisa melepaskan sisa guncangan yang meruntuhkan kekebalan hatinya.