Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 118 Bodyguard Untuk Sally


__ADS_3

Entah mengapa ada sesuatu dalam diri Aslan yang membuat Philip tertarik padanya, sekilas yang dapat dia lihat hanya pria dengan kharisma dan wajah tampan.


Sesuatu itu membuat Philip ingin bertemu dengan Aslan sekali lagi, maka ia menyuruh Juan untuk mencaritahu dimana Aslan saat itu berada.


Begitu mendengar Aslan sedang menghabiskan waktu di bar ia pun mengajak Sally pergi ke sana, tentu Sally sedikit bingung karena tidak biasanya Philip mengajak minum di luar apalagi bar.


Begitu matanya menatap Aslan tanda tanya besar muncul di kepalanya sebab tujuan Philip jelas terlihat.


"Tolong dua minuman," pinta Philip kepada barista.


Aslan menengok, begitu melihat Philip matanya sempat membulat namun kemudian menampilkan sikap tak acuh.


"Aku dengar kau seorang arsitek," ujar Philip.


Aslan tak menyahut.


"Bisakah kau membuatkan ku sebuah istana? lokasinya akan ku tunjukan jika kau bersedia," tanyanya.


"Istana seperti apa yang kau inginkan? bergaya Barat? Melayu?" tanya Aslan.


"Entahlah, aku tidak tahu pasti. Yang jelas istana itu ingin ku bangun sebagai bukti cintaku seperti Taj Mahal," jawabnya.


Mendengarnya sorot mata Aslan segera tertuju pada wanita yang duduk tepat di belakang Philip, begitu juga dengan Sally yang segera memandang punggung Philip tapi yang ia temukan justru mata Aslan.


"Taj Mahal bukan hanya sekedar tanda cinta, tapi makam yang di bangun sebagai dedikasi seorang ibu dan istri," ralat Aslan.


"Karena itulah aku ingin membangunnya tapi bukan sebagai makam," sahut Philip.


"Kita bisa mulai besok, hari ini aku terlalu lelah."


"Terserah kau," ucap Philip.


Aslan kembali meneguk minumannya, begitu juga dengan Philip dan Sally yang membiarkan suara musik memenuhi hingga isi kepala mereka.


Aaaaaa.... aaaa....


Tiba-tiba jeritan pengunjung terdengar bersamaan dengan langkah lari mereka yang bergemuruh mengalahkan musik, sang DJ segera menghentikan musik agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Ayo!" ajak Philip menyadari ada yang tak beres.


Sally mengangguk dan segera pergi dari tempat itu bersama Philip dengan penjagaan Juan, sementara Aslan juga memilih untuk pergi.

__ADS_1


Namun begitu keluar segerombolan orang sudah menghajar anak buah mereka hingga tak bernyawa, karena keadaan semakin genting Juan memerintahkan kepada Philip dan Sally agar keluar lewat pintu belakang sementara ia akan menghabisi mereka.


Beruntung kali ini Sally memakai sepatu booth sehingga ia tak sulit berlari, tapi rupanya mereka sudah di kepung.


Di pintu belakang beberapa musuh sudah menunggu, lengkap dengan senjata seperti rantai, belati hingga cerulit dan tongkat bisbol.


Mereka mulai menyerang bersamaan yang membuat Philip cukup kewalahan, apalagi Sally tak bisa melindungi diri dengan musuh sebanyak itu.


"Philip!" seru Sally saat melihat satu musuh hendak memukul dari belakang.


Buk


Sejenak mereka membatu, melihat Aslan disana dengan kepalan tangan yang membuat musuh itu ambruk. Philip tersenyum dan mereka kembali bertarung bersama.


Sally yang merasa sedikit lega akhirnya mundur ke tempat yang lebih aman, namun ia terlalu lengah sampai tak menyadari ada musuh di belakangnya yang kemudian menghantam tengkuk dengan keras. Pukulan itu seketika membuatnya tak sadarkan diri.


......................


"Uh... " erangnya merasakan tengkuk yang masih nyeri.


"Sayang... kau tidak apa-apa?" tanya Philip sambil membantunya bangkit untuk duduk.


"Tuan, aku sudah tahu siapa dalang dari semua penyerangan yang selama ini terjadi," lapor Juan yang masuk ke dalam ruangan.


"Siapa dia?" tanya Philip dengan suara bergetar karena kesal.


"Thom, adik Marck."


Sudah lama sekali mereka melupakan nama Marck, tentu saja karena kejadian itu sudah setahun lamanya.


"Apa dia ingin balas dendam? kenapa begitu terlambat?" tanya Sally bingung.


"Tidak, dia mengincar sesuatu yang lebih penting dari itu," sahut Philip.


"Apa?" tanya Sally.


"Kau," jawabnya.


Mungkin Sally terkenal karena kecantikan dan kepintarannya sehingga banyak yang mengabaikannya, tapi Philip tahu betul Thom mengincar Sally bukan karena semua itu tapi karena Sally adalah kunci dirinya.


Philip memiliki banyak harta dan sesuatu yang lebih hebat lagi, sesuatu itu adalah harta karun yang baru-baru ini ia dapatkan. Semua orang menginginkannya bahkan rela mengorbankan banyak nyawa. Karena tahu semua mengincarnya Philip menggunakan Sally sebagai kunci untuk membuka harta itu.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sally.


"Aku akan memindahkan hartan karunnya dulu, sementara itu kau tetap di sini."


"Bagaimana kalau dia datang?" tanya Sally lagi.


"Tenang, aku sudah menyiapkan bodyguard khusus untuk mu."


Sally penasaran bodyguard seperti apa yang Philip siapkan untuknya, namun begitu Philip mengenalkan bahwa bodyguard itu adalah Aslan wajahnya seketika memucat.


Karena tak boleh menunda waktu lagi Philip pergi bersama dengan Juan, Sally yang mengantar sampai ia masuk ke mobil memberi kecupan di pipi Philip dan mengatakan ia akan menunggu mereka pulang.


Setelah mobil Philip keluar dari gerbang mansion mereka Sally berbalik dan menatap Aslan, ia kemudian mengajaknya masuk dan memintanya untuk menemani minum.


"Apakah pekerjaan menjadi arsitek tidak menjanjikan?" tanya Sally.


"Tergantung seberapa kehebatan mu," sahut Aslan.


"Lalu kenapa kau mau menjadi bodyguard ku? kurasa kau cukup hebat, " tanyanya bingung.


"Aku terlanjur terseret dalam masalah kalian, tidak ada salahnya jika sekalian menceburkan diri. Toh aku juga ada pekerjaan dari kekasihmu," jawabnya.


......................


Mendapat kamar yang berada tepat di samping Sally membuat Aslan tak bisa tidur, kini ia sudah lebih dekat dengan Sally dan perlahan mulai sadar bahwa wanita bukanlah Winnie.


Tersenyum pahit ia menertawakan harapan kosong yang diam-diam tersemat dalam sanubarinya.


Menggelengkan kepala Aslan membuka jendela untuk membiarkan angin malam menghempaskan pikiran negatif, tapi saat melihat ke samping ia menemukan Sally tengah duduk di ayunan di balkon.


Kakinya yang menendang ke belakang membuat kursi berayun, menciptakan angin yang mengibarkan rambut dan baju tidurnya.


Semakin lama ayunan semakin kencang, Sally tersenyum dan mulai merenggangkan tubuhnya ke belakang sampai ujung rambutnya menyentuh lantai.


Menikmati ayunan yang kencang serta anginnya membuat Sally merasa nyaman, wajahnya yang terlihat polos tanpa makeup dengan senyum manis membuat jantung Aslan tak aman.


Dengan begini Sally benar-benar mirip dengan Winnie, membuat air bening meleleh di pipi Aslan karena karinduan yang begitu menyiksa.


Segera menutup jendela karena tak ingin lebih merasakan sakit Aslan memilih untuk pergi tidur, sementara Sally yang mendengar suara jendela di tutup itu menghentikan ayunan dengan kakinya.


Menegakkan tubuh ia menatap jendela kamar Aslan, senyumnya telah pudar digantikan dengan lelehan air mata yang keluar tanpa peringatan.

__ADS_1


__ADS_2