
"Tuan Brian Wilson!" seru seorang perawat cantik dari depan pintu.
"Ya sus," sahut seorang pria menghampiri.
"Silahkan masuk, dokter sudah menunggu anda," ujarnya.
Brian segera masuk, jantungnya berdebar tak karuan setiap langkahnya saat memasuki ruangan serba putih itu.
"Silahkan duduk tuan," sambut dokter sembari tersenyum.
Brian menurut, kemudian memperhatikan dokter itu mengambil sebuah amplop coklat. Di buka dan di keluarkannya isi amplop itu kemudian ia tunjukkan kepada Brian.
"Ini hasil tes DNAnya, seperti yang anda lihat seratus persen DNA ini sama yang menunjukkan bahwa pemilik helai rambut itu memang darah daging anda," jelas sang dokter.
Tanpa kata Brian mengambil dua kertas itu dan menatapnya lekat, sudah sembilan belas tahun berlalu dan akhirnya ia berhasil menemukan anaknya.
Segera mengucapkan terimakasih kepada sang dokter ia bergegas pergi keluar, menemui tangan kanannya yang sempat ke toilet sebentar saat ia di panggil.
"Tuan, bagaimana?" tanya Roy, pria berumur empat puluh tahun yang masih melajang sebab terlalu setia pada Brian sang bos.
"Kau sudah tahu rumah keluarganya kan?" tanya Brian.
"Tentu saja, rambut itu saya ambil dari kamar anaknya."
"Kalau begitu ayo pergi! hasil tes menunjukkan dia benar dari dagingku," ajak Brian.
......................
Ada yang aneh, ada sesuatu yang tengah di tutupi oleh kedua orang tuanya dan Winnie yakin itu. Sejak kemarin tingkah mereka terlalu aneh sehingga mudah baginya untuk menebak bahwa sesuatu telah terjadi, Winnie mulai menerka apa hal yang tengah di sembunyikan itu.
Ia mulai berfikir kemungkinan yang ada Jeny menderita suatu penyakit yang memerlukan uang cukup banyak untuk pengobatan, itu karena akhir-akhir ini ibunya terlihat lebih lemas dari biasanya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Aslan sambil merangkul bahu Winnie dari samping.
"Tidak ada," sahutnya sambil melepaskan tangan Aslan.
Sejak berita kepindahan Carl entah mengapa Aslan semakin lengket saja setiap hari, sebenernya ia tak masalah jika mereka sedang berdua saja. Tapi Aslan bersikap demikian tanpa melihat tempat dan waktu, tentu Winnie merasa kurang nyaman saat berada di keramaian karena mereka akan menjadi bahan tontonan.
"Kenapa?" tanya Aslan merengut merasa di tolak.
"Kita sedang di kantin, ada banyak orang memperhatikan."
__ADS_1
"Memang kenapa? toh mereka tahu kita pacaran," tanya Aslan merasa biasa saja.
"Aku tidak nyaman," sahut Winnie singkat.
Ada nada dingin dalam ucapan itu, setelah cukup lama menjalin hubungan perlahan Aslan mulai bisa membaca suasana hati Winnie.
Saat ini ada sesuatu yang mengganjal hatinya, nada dingin itu keluar begitu saja bukan untuk dirinya.
"Pulang sekolah nanti kau mau main?" tanya Aslan berharap ia bisa membuat suasana hati Winnie membaik.
"Maaf, aku harus cepat pulang."
"Kenapa?" tanya Aslan penasaran sebab kini ia merasakan kegetiran.
"Ibu ku sakit, mungkin hanya flu biasa tapi aku tidak bisa tenang jika belum memastikan keadaannya."
Kini tahulah Aslan apa alasan kegetiran dan sikap dingin Winnie, tersenyum ia membelai rambut Winnie dengan lembut.
"Kau tidak perlu khawatir, kau kan perawat yang hebat. Aku saja sembuh jika kau yang rawat," ujarnya.
Ucapan itu tulus dan benar dari hati Aslan, tapi entah mengapa Winnie malah merasa sedang di goda sampai ia merasa malu.
"Eh, aku bicara yang sebenarnya!" seru Aslan.
"Ya, baiklah," balas Winnie dengan perasaan yang sudah membaik.
Pulang sekolah Aslan segera mengantar Winnie seperti biasa, tapi dalam perjalanan ia menepi sebentar dan meminta Winnie untuk menunggu di mobil saja.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan sebuah tas putih yang cukup besar, tas itu kemudian ia berikan kepada Winnie.
"Apa ini?" tanya Winnie.
"Obat flu," sahut Aslan sambil bersiap untuk mengemudi kembali.
"Apa? sebanyak ini?" tanya Winnie kaget.
"Aku tidak tahu ibu mu cocoknya dengan obat yang mana, karena itu aku beli saja semua jenis obat flu. Aku juga beli perlengkapan untuk menurunkan demam," jelasnya.
Winnie tak tahu harus bicara apa, sejujurnya tentu saja ia terharu akan perhatian Aslan yang melimpah. Tapi tetap saja ini adalah cara yang berlebihan, ia hanya bisa menggeleng dan mengucapkan terimakasih.
Sampai di rumah Winnie segera membuka pintu yang tak di kunci, seperti yang ia duga ibunya pasti tak kerja hari ini.
__ADS_1
"Aku pulang..." serunya sambil melepas sepatu.
"Ah kau sudah pulang," sambut Jeny segera menghampiri.
"Bagaimana keadaan ibu? apa sudah baik? ini ada obat flu," tanyanya sambil menyodorkan tas putih itu.
"Astaga... kenapa beli banyak sekali?" hardik Jeny yang tidak suka boros jika itu untuk dirinya.
"Aku tidak beli, itu di kasih teman. Makanya obatnya macam-macam," ujarnya.
Winnie segera masuk, saat matanya menatap Brian dan Roy ia menundukkan kepala dan menyapa. Di pintu tadi ia sudah melihat dua sepatu asing yang mengilap, karena itu ia tahu ada tamu di rumahnya.
"Winnie duduklah," perintah ibunya yang baru menyusul masuk.
"Oh baik," sahutnya menurut.
Ia duduk tepat di hadapan Brian, sedikit merasa tak nyaman sebab Brian menatap panjang dirinya.
"Pak Brian, ini Winnie yang tadi kita bicarakan," ujar Jeny pelan.
"Selamat siang," sapa Winnie merasa penasaran apa yang mereka bicarakan tentangnya.
"Bisakah kami bicara berdua saja?" tanya Brian.
Jeny tahu diri, ia mengangguk dan hanya tersenyum kecil pada Winnie sebelum pergi ke luar untuk memberi ruang kepada mereka.
Roy juga ikut pergi sehingga di dalam rumah yang kini terasa hening hanya ada Winnie dan Brian.
"Namaku Brian Wilson, apa yang akan aku katakan ini mungkin akan membuatmu kaget. Tapi aku punya bukti yang kuat," ujar Brian.
Dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dan menyodorkannya kepada Winnie, Winnie hanya menatap amplop itu sekilas lalu kembali menatap Brian.
"Beberapa hari yang lalu asisten ku Roy datang ke sini, maaf karena tidak ijin padamu tapi dia masuk ke kamarmu dan mengambil sehelai rambut dari sisir yang biasa kau gunakan. Selain itu ibumu Jeny memberikan selimut bayi ini," ujar Brian sambil mengeluarkan selimut putih kecil.
Winnie tahu selimut itu adalah miliknya, dulu hal ini pernah di bahas bersama Jeny dan Fabio.
"Hasil dari pemeriksaan rambut dan selimut ini telah membuktikan bahwa aku Brian Wilson adalah ayah kandungmu," ujar Brian akhirnya.
Winnie terdiam, ia sudah memperkirakan hal ini seban tingkah Jeny terlalu aneh. Dengan datangnya dua pria tak di kenal Winnie tahu mereka bukan dokter, tak ada urusan lain yang akan menyangkut gadis SMU selain itu adalah masa lalunya.
"Lalu?" tanya Winnie acuh.
__ADS_1