Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 8 Penguasa Sekolah Yang Baru


__ADS_3

Angin yang bertiup kencang seperti biasa membuat rok Winnie berkibar, untung ia mengenakan sweater yang panjangnya sampai ke pinggul sehingga roknya tidak akan terangkat dengan mudah oleh angin.


Pagi itu cerah seperti biasa namun Winnie tetap masih merasa dingin, karena jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh kali ini Winnie memilih naik kareta pagi agar ongkosnya lebih murah.


Meski sebenarnya ia lebih suka naik bus karena bisa lebih cepat, resiko naik kereta adalah dia harus bangun lebih pagi dari biasanya sehingga di jalan ia masih merasa ngantuk dan itu berefek juga pada otaknya yang jadi butuh waktu untuk menyerap pelajaran.


Sampai di sekolah dia bukanlah orang pertama yang sampai tapi kelas masih lenggang, Deborah pun belum datang sehingga ia memutuskan untuk membeli susu kotak dulu agar lebih segar.


Tak di sangka ia bertemu Aslan di vanding machine, saat mata mereka beradu Aslan memberikan tatapan intimidasi lagi. Kali ini Winnie menurunkan pandangannya, membuat Aslan heran.


"Permisi," ujar Winnie sebab Aslan berdiri tepat di depan vanding machine.


Ia pun bergeser, memperhatikan bagaimana Winnie menaruh koin dan memencet tombol. Biasanya orang yang bertemu dia setelah tahu kehebatannya akan langsung kabur begitu melihatnya, sekalipun terpaksa berpapasan mereka akan terlihat sangat gugup sampai gemetar.


Karena itu Aslan merasa heran mengapa Winnie masih bisa bersikap santai tapi ia tak berani membalas tatapannya.


"Kita sekelas kan? siapa nama mu?" tanya Aslan.


"Winnie," sahut Winnie sambil segera berbalik menghadap Aslan.


"Lalu bayimu? tidak bersama mu?" tanyanya lagi.


Winnie mengerutkan kening, butuh beberapa detik sebelum ia sadar maksud Aslan.


"Deborah, dia belum datang," jawabnya.


"Begitu ya," gumamnya.


Tiba-tiba Aslan mendekat, membuat Winnie harus mundur hingga punggungnya menempel pada mesin. Satu tangan Aslan terangkat menjadi penghalang agar Winnie tak bisa kabur.


"Apa kau takut padaku?" tanya Aslan tiba-tiba.


"Tidak," sahut Winnie pelan namun membuat Aslan kaget.


"Lalu kenapa kau tidak berani menatap ku?" tanyanya kini sambil menarik dagu Winnie hingga mereka bertatapan.


"Karena aku mengagumimu," jawabnya.


Winnie telah melalui banyak hal, belajar dari kesalahannya kini ia tahu bagaimana cara bertindak agar nyawanya selalu aman. Menghadapi orang-orang seperti Aslan pun bukanlah kali pertama, di sekolah menengah pertama ia juga sempat menjadi incaran berandalan.


Jika tidak pintar bicara dan bertindak sudah bisa di pastikan ia akan berakhir di bully dan mungkin harus pindah sekolah sehingga beasiswanya hangus, tentu Winnie tak mau hal itu terjadi. Meski mendapat julukan si penjilat Winnie benar-benar tidak peduli, mendapat hinaan hanyalah cemilan ringan dalam kehidupannya.


"Kau... mengagumiku?" tanya Aslan sambil tersenyum bingung.


"Kau tahu siapa Adnan?" balas Winnie bertanya.


"Tidak," sahutnya.

__ADS_1


"Orang yang kau kalahkan tempo hari adalah Adnan, dia terkenal di sekolah dan tidak ada satu orang pun yang berani padanya."


"Heh orang selemah itu kalian takuti?" olok Aslan.


"Jika bagimu dia lemah maka kami jauh lebih tidak berdaya di hadapanmu, sangat tidak sopan bagi ku yang tidak berdaya ini menatap langsung bintang yang berbinar seorang diri."


Kata-kata Winnie segera menarik hati Aslan, dalam sekejap ia terbuai akan pujian itu hingga melepaskannya.


"Boleh aku pergi?" tanya Winnie.


Aslan mengangguk sambil tersenyum, Winnie pun membalas senyuman itu sambil memberi hormat dengan sedikit menundukkan kepala. Tapi begitu ia berpaling senyum itu segera lenyap, digantikan dengan wajah datar.


Sungguh di dunia mana pun manusia berkuasa sama saja, terlalu terobsesi dengan pujian. Ingin selalu di sanjung sampai melewati batas, tapi ada untungnya juga sebab ia jadi lebih mudah menghadapinya.


"Kau pasti kaget dengan berita baru ini," ujar Deborah saat mereka makan siang di kantin.


"Apa?" tanya Winnie.


"Aslan kini menjadi penguasa sekolah, semua anak berandalan bekas anak buah Adnan kini mulai mengikutinya," jawabnya.


"Apanya yang mengejutkan? di hari pertama dia sudah menumbangkan Adnan tentu saja mudah bagint untuk menaklukkan satu sekolah," sahut Winnie.


"Kau benar juga," gumam Deborah berfikir.


"Berhenti membicarakannya, dia datang. Jangan sampai kita kena masalah," bisik Winnie saat melihat Aslan masuk ke kantin di ikuti kancungnya.


Ia duduk di sebuah meja dan seketika murid-murid yang duduk di sana segera pindah, itu membuat Aslan menyunggingkan senyum.


Aslan mengangkat pandangannya dan menatap gadis itu yang tengah menebarkan pesonanya.


"Tentu saja," sahut salah satu kacung Aslan kegirangan.


"Terimakasih," ujar gadis itu hendak duduk.


"Aku belum mengijinkan mu," sergah Aslan yang membuat gadis itu tertahan di posisi setengah jongkok.


"Ah hehe... Aslan... kita belum saling kenal, namaku Carmen. Kau pasti pernah mendengar nama ku kan?" ucapnya mengenalkan diri.


"Oh jadi kau yang bernama Carmen," ujar Aslan.


Dia memang pernah mendengar nama gadis itu dari salah satu kacungnya, Carmen terkenal akan kecantikan dan pesonanya. Dulu dia sempat berpacaran dengan Adnan namun putus setelah Aslan mengalahkannya, bagi Carmen hanya pria terkuat di sekolah yang pantas bersanding dengannya.


"Jadi... apa aku boleh duduk sekarang?" tanya Carmen.


"Baiklah, kau boleh duduk," ujar Aslan mempersilahkan.


"Terimakasih, kau masih baru di sekolah ini jadi pasti kau belum sempat berkeliling. Setelah makan aku bisa mengantarmu, aku tahu banyak tempat menarik di sekolah jadi kau bisa mengandalkan ku."

__ADS_1


"Sungguh? ada tempat menarik di sekolah?" tanya Aslan.


"Tempat ini cukup luas Aslan, kau akan kaget nanti setelah ku ajak berkeliling. Ngomong-ngomong kita duduk seperti ini entah mengapa aku merasa kita tengah di perhatikan," ujarnya.


Aslan menatap sekeliling, memang benar orang-orang di kantin itu sedang mencuri pandang menatap mereka. Itu dapat di mengerti, satu gadis cantik dengan pesonanya dan satu lagi seorang jagoan sekolah yang cukup tampan.


Dalam sekejap mereka menjadi buah bibir, selama beberapa hari Carmen selalu berada di samping Aslan yang membuat semua orang berasumsi mereka telah menjalin hubungan.


......................


"Pak.. biar aku bantu," ujar Winnie saat tanpa sengaja ia melihat petugas kebersihan kesusahan mendorong dua tong sampah sendirian.


"Ah Winnie.. terimakasih," ujarnya bersyukur.


Terkadang Winnie memang suka membantu petugas yang bekerja di sekolah, tidak semua. Hanya beberapa yang sudah tua dan sedang kesulitan, saat melihat mereka Winnie merasa sedang melihat orangtuanya sehingga ia merasa tak tega.


"Kau bisa mengambil yang lain, biar ini serahkan saja padaku," ujar Winnie saat mereka sudah dekat dengan tempat pembuangan sampah.


"Baiklah, aku serahkan padamu," ujar petugas itu.


Winnie mengangguk, ia pun kembali mendorong tong sampah itu dan membuangnya di tempat pembuangan. Namun ia melihat kepulan asap di balik tembok yang membuatnya panik, dengan segera ia segera memeriksa dan.


"Aaahh..... ah...." pekiknya kaget bukan main saat melihat Aslan dan para kacungnya.


"Ahhh.... jantungku... maafkan aku, aku pikir ada kebakaran karena ini bukan hari pembakaran. Maafkan aku, silahkan lanjutkan," jelasnya agar tak ada kesalah pahaman.


"Winnie, apa yang kau lakukan di sini? apa kau juga mau mengisap?" tanya salah satu kacung Aslan yang memang Winnie kenal.


Sebenarnya hampir semua kacung Aslan Winnie mengenalnya, itu karena Winnie pernah menjadi budak mereka sebentar. Tugasnya paling hanya mengerjakan PR atau membelikan makanan, tapi karena Winnie pandai bicara akhirnya mereka jadi teman dan Winnie akan selalu di bayar untuk setiap tugasnya.


"Aku membantu membuang sampah," sahutnya.


"Kebetulan kau di sini, tolong belikan kami soda," ujar yang lain sambil merogoh sakunya.


Tanpa kata Winnie menghampirinya dan mengambil uang itu.


"Ini upahmu," ujar orang itu sambil memberikan uang yang lain.


"Wah... besar sekali... hehe... lain kali jika butuh sesuatu panggil aku," ujar Winnie sumringah sambil menerawang uang itu.


"Dasar mata duitan, cepat pergi!" hardiknya namun sambil tersenyum.


Winnie pun segera pergi untuk mengerjakan tugasnya.


"Sepertinya kalian sangat dekat dengannya," ujar Aslan memperhatikan.


"Eh iya, jika kami butuh pertolongan hanya Winnie satu-satunya orang yang bisa di percaya dan dapat menyelesaikan masalah kami. Karena itu kami berteman cukup baik," jawab salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Lebih tepatnya partner profesional, karena Winnie berasal dari keluarga miskin dan selalu kesusahan dalam uang jadi kami memberinya upah yang sesuai dengan tugasnya. Hubungan timbal balik," jelas yang lain.


"Menarik," gumam Aslan sambil tersenyum penuh makna.


__ADS_2