Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 111 Membalas Kebaikan


__ADS_3

Hari yang ramai itu membuat cucian piring menumpuk, namun meski sudah lelah ia terus menggosok hingga semua piring kinclong. Sudah pukul sembilan malam dan tinggal satu jam lagi menuju restoran tutup, ia sudah tak sabar untuk mampir membeli ayam bakar sebelum pulang.


Hari ini Nagisa ada ujian dan untuk menyemangati putrinya itu ia ingin membelikan makanan enak.


"Hari ini kita tutup cepat, ini baru separuh piring kotor dan masih ada sisanya di depan," ujar teman kerjanya.


Ia yang senang segera mengangguk sambil tersenyum, diambilnya semua piring kotor itu dan ditaruhnya dalam wastafel. Untuk mempercepat pekerjaan ia berniat pergi ke depan ikut mengambil semua piring kotor, sayangnya kakinya licin yang membuatnya jatuh terjerembab ke depan.


Saat temannya datang membawa piring kotor tentu saja ia kaget melihat Ibu Nagisa terkapar di lantai dengan luka di dahinya, karena tak sadarku diri ia pun dibawa ke rumah sakit.


Nagisa yang mendengar kabar cepat pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibunya, ia sudah bertemu dokter yang menangani dan beruntung tak ada luka serius meski ia masih tak sadarkan diri.


Hanya saja rupanya tekanan darah ibunya rendah, karena itu dokter menyarankan agar dia di rawat dulu setidaknya sehari untuk pemulihan.


"Ibu... ibu sudah sadar? aku sudah bicara pada dokter, katanya ibu harus dirawat dulu karena tekanan darah ibu rendah," jelas Nagisa begitu mendapati ibunya sudah bangun.


Ibunya yang tak betah diam tentu saja menolak, meski kadang ia merasa pusing akibat darah rendah tapi ia merasa baik-baik saja.


"Tidak boleh begitu! pokoknya ibu harus tinggal sampai pulih," ujar Nagisa tak ingin berkompromi.


Karena Nagisa terlihat marah akhirnya ia tak bisa menolak, terpaksa ia tetap dirumah sakit.


Satu malam menginap di rumah sakit ibunya belum diijinkan pulang, risih karena terus berbaring Nagisa tahu ibunya butuh udara segar. Sayangnya ia harus pergi kuliah dan tak bisa menemani ibunya.


"Apa sebaiknya aku beritahu paman ya?" gumamnya berfikir Brian bisa membantunya menemani ibu.


Ia pun mencoba menghubungi Brian dan menjelaskan situasinya, tanpa menjawab Brian tiba-tiba menutup telpon dan datang lima menit kemudian.


"Bagaimana keadaannya? apa kata dokter? apa sudah baikan?" tanya Brian sekonyong-konyong saat bertemu dengan Nagisa.


"Um.... ya, ibu hanya terpeleset dan jatuh. Lukanya sama sekali tidak serius hanya saja tekanan darahnya rendah jadi dokter belum mengijinkan pulang," jawab Nagisa.


"Aish.... ini karena kau selalu bekerja terlalu keras, setiap hari bekerja mencuci piring itu sangat melelahkan. Sebaiknya kau berhenti bekerja sekarang," omel Brian sambil menghampiri ibu Nagisa.


Nagisa yang dilewati begitu saja mengerjap, ia tak menyangka Brian akan begitu khawatir pada ibunya.


Dengan bahasa isyarat yang kini sudah Brian pahami ia berkata tak mungkin berhenti, sebentar lagi Nagisa akan lulus kuliah dan butuh uang lebih banyak lagi untuk ujiannya.

__ADS_1


"Kenapa kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, aku akan membiayai kuliah Nagisa sampai selesai!" tukas Brian.


Ibu Nagisa langsung menggeleng, Winnie sudah banyak membantu keluarganya jadi tidak mungkin ia biarkan Brian juga membantunya.


"Tidak perlu sungkan, pokoknya kau harus berhenti bekerja mulai saat ini," tegas Brian.


"Paman... sebaiknya bicarakan hal itu nanti, aku sudah terlambat masuk kelas jadi tolong jaga ibu sementara aku pergi. Pastikan dia makan dan tidak kabur," potong Nagisa.


"Oh benar, ya kau bisa menyerahkannya padaku," sahut Brian.


Nagisa pun pamit dan segera pergi, sementara Brian menyudahi topik bertentangan itu.


Ia mengajak Ibu Nagisa berkeliling rumah sakit dan pergi ke kantin untuk membeli cemilan.


"Buka mulut mu," perintah Brian menyodorkan sepotong apel yang sudah dikupas.


Ibu Nagisa menggeleng dan segera mengambil potongan apel lain, tapi Brian tak mengijinkan. Saat ini Brian teringin sekali melayani Ibu Nagisa mumpung ia punya kesempatan untuk balas budi.


"Astaga nyonya anda tidak perlu malu begitu," ujar seorang pasien lain yang juga sedang makan cemilan di kantin.


"Anda sangat beruntung karena suami anda begitu perhatian, aku bisa melihat cinta dan kasih sayang dimatanya. Tolong jangan sia-siakan perhatiannya," ucapnya lagi.


"Ah.. itu... kau salah paham, aku hanya... " bantah Brian yang merasa malu karena namun bingung harus menjelaskannya seperti apa.


"Kalian membuatku sangat iri, suami ku bahkan sudah tidak perhatian lagi sejak aku melahirkan anak pertama. Dia memang ayah yang baik dan suami yang bertanggung jawab, tapi saat sakit begini aku juga ingin diperhatikan," keluhnya mengenang nasib.


"Ah mungkin suami mu terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sadar telah mengabaikan mu," ujar Brian mencoba menghiburnya.


"Mungkin, tapi tetap saja... karena itu nyonya bersyukurlah suami mu begitu perhatian. Mari... " balasnya kemudian pergi sambil tersenyum.


Tangan Brian terangkat hendak memanggilnya dan menjelaskan bahwa mereka bukan suami isteri, tapi wanita itu sudah keburu pergi sehingga ia hanya mematung dengan canggung begitu bertatap mata dengan Ibu Nagisa.


Menjelang sore setelah kelasnya selesai Nagisa kembali ke rumah sakit bersama dengan Aslan, Deborah dan Carl. Ia menjelaskan tadinya mereka mengajak makan di luar tapi Nagisa menolak karena ibunya sakit, karena itulah mereka datang bersama untuk menjenguk.


"Apa masih sakit bu?" tanya Deborah sembari duduk disamping Ibu Nagisa.


Entah sejak kapan Deborah memanggilnya Ibu, itu terjadi secara tak sengaja dan Deborah keterusan sebab Ibu Nagisa pun tidak keberatan.

__ADS_1


"Tadi dokter sudah memeriksanya, dia bisa pulang malam ini," ujar Brian.


"Syukurlah, aku membawakan ini untuk bibi. Jangan lupa dimakan," ucap Carl sambil menaruh buah-buahan segar di meja samping ranjang.


Mereka berbincang sebentar sebelum kemudian pamit pulang, Nagisa ikut pergi keluar sekalian dia ingin membeli minuman dingin.


"Syukurlah ada paman Brian yang menemani ibu," ujar Deborah setelah mereka di luar ruangan inap.


"Keliahatannya paman Brian dan ibumu cukup dekat," komentar Aslan.


"Sebenarnya beberapa minggu yang lalu ibu menemukan paman tergelat dipinggir jalan, rupanya ia mabuk dan seperti habis di hajar. Sejak itu ibu merawatnya di rumah sampai paman benar-benar sembuh," jelasnya.


"Sungguh? aah... ibumu benar-benar interpretasi bidadari yang sesungguhnya," ujar Carl.


"Karena itulah paman ingin membalas kebaikan ibumu, yah... setelah bercerai dengan Camila tentu saja tak ada lagi orang yang merawatnya dari luka bekas kepergian Winnie," ucap Deborah.


Suasana tiba-tiba hening saat nama Winnie disebut, meski kepergian Winnie sudah cukup lama tapi tak ada yang bisa lega begitu mendengar namanya.


......................


Bangun dari tidurnya Winnie merasakan pegal diseluruh tubuhnya, semalaman ia benar-benar bertempur dengan Philip habis-habisan.


Tak cukup hanya dengan satu ronde, Philip terus ketagihan sampai mereka benar-benar berantakan.


Berjalan ke kamar mandi ia segera membersihkan tubuhnya, ada rasa perih di pundak yang rupanya itu bekas gigitan Philip.


Nafsu yang tak tertahankan memang membuat Philip hilang akal, ia sampai mengikat Winnie dan menggitnya di beberapa titik.


Winnie kurang menyukai hal ini, ia lebih suka perlakuan Aslan yang lembut dan tidak menyakiti sehingga mereka bisa menikmatinya bersama.


Tak sengaja membandingkan dengan Aslan tiba-tiba Winnie baru sadar atas apa yang telah ia lakukan, semalaman ia baru saja tidur dengan pria lain. Itu artinya ia telah mengkhianati Aslan.


Air mata tiba-tiba jatuh, mengalir bersama air keran yang membahasi tubunya. Padahal ia mendekati Philip untuk meraih hati pria itu, setelah berhasil ia akan dapat melakukan apa pun yang ia mau.


Jika waktunya telah tiba ia juga tak perlu ragu untuk meninggalkan Philip dan kembali pada Aslan, tapi apa gunanya sekarang? ia sudah mengkhianati Aslan secara tidak sadar, tidak mungkin Aslan mau menerimanya lagi.


Mengambil sabun mandi Winnie kemudian menggosok seluruh tubunya, ada rasa jijik pada dirinya sendiri karena tubunya dipenuhi oleh noda. Sayangnya berapa kali pun ia mencucinya dengan sabun atau sekuat apa pun ia menggosoknya noda itu tak pernah hilang.

__ADS_1


__ADS_2