
"Permisi," ucap seorang wanita dengan kaos tipis dan topi lebar.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" ujar Winnie.
"Aku ingin memesan kamar untuk satu orang," ujarnya.
"Silahkan, berapa lama anda akan menginap?" tanyanya lagi ramah.
"Hanya dua hari saja," sahutnya.
Winnie segera meminta kartu Identitas dan mencatatnya sebelum kemudian menyerahkan kunci kamar, ia juga menyuruh Rhea yang baru datang untuk mengantar pengunjung tersebut.
Ini adalah pengunjung pertama setelah beberapa hari Winnie tinggal, untung semuanya sudah selesai. Hanya tinggal halaman Hotel yang rencananya ingin ia renovasi namun tersendat dana, setidaknya untuk saat ini kondisi hotel lebih baik dari sebelumnya.
"Ini adalah pengunjung pertama kita, aku harap kalian tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun," umum Winnie kepada semua pegawainya.
"Siap!" sahut mereka serentak.
Semua kembali ke tempat masing-masing setelah Winnie membubarkan mereka, begitu juga dengan Winnie yang kembali ke resepsionis sementara Rhea akan stay bilamana pengunjung membutuhkan pelayan.
"Winnie," panggil Aslan yang baru tiba.
"Kau di sini? ada perlu apa?" tanya Winnie heran.
"Ada yang ingin ku bicarakan, ini penting."
Melihat wajah serius Aslan ia pun meminta Rhea untuk berjaga di resepsionis sementara ia pergi dengan Aslan ke pantai.
"Ada apa?" tanya Winnie sekali lagi.
"Sara membongkar rahasia yang sangat besar," ujarnya.
Ia pun mengatakan kepada Winnie bahwa dalang di balik kematian ibunya adalah Jack, ia juga mengatakan ada satu nama yang saat ini sedang Carl periksa atas petunjuk Sara yaitu Roman.
"Aku yakin Roman adalah perantara antara Jack dengan orang yang menculikmu," ujarnya.
Winnie terdiam, ia tak pernah menyangka orang itu adalah Jack. Padahal selama ini ia terlihat baik, bahkan dia juga adalah ayah Leo yang selalu perhatian padanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aslan melihat wajah pucat Winnie.
Winnie mengangguk tapi tak ada yang ia katakan, Aslan pun mengatakan akan tinggal selama beberapa hari untuk menjaga Winnie sebab Jack pasti akan mengirimkan pembunuh lainnya.
__ADS_1
Winnie tak mengatakan apa pun, memilih untuk diam ia kembali ke hotel. Tapi saat sampai di kamarnya ada sebuah pesan yang ia terima dari nomor tak di kenal, pesan yang membuat hatinya baik sebagai Yumna atau pun Winnie hancur menjadi serpihan kecil.
Buru-buru mengemasi barangnya ia keluar dan memberitahu pak kepala bahwa ia akan pergi, selama kepergiannya ia ingin pak kepala tetap menjaga semuanya seperti yang telah ia jelaskan.
"Ayo!" ajak Winnie kepada Aslan dengan wajah datar.
Wajah yang mengingatkan Aslan pada kejadian saat ia mengkhawatirkan Winnie karena di culik Carmen tapi yang terjadi justru Carmen yang di hajar.
"Aku yang mengemudi," ujar Winnie saat Aslan hendak masuk ke dalam mobil.
"Oh baiklah," sahutnya tak bisa menolak.
Mengambil kemudi Winnie memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi yang memacu adrenalin, biasanya Aslan membutuhkan waktu tiga jam namun kali ini Winnie menghematnya sehingga hanya butuh waktu dua jam kurang saja.
Saat sampai di apartemen Carl, Deborah dan Nagisa yang sudah di beritahu untuk berkumpul sudah menunggu sejak tadi.
Manatap wajah Winnie yang datar dengan tatapan tajam membuat mereka menatap Aslan dengan raut penuh tanya, tapi Aslan yang juga tak tahu alasan perubahan sikap Winnie hanya mengangkat bahu.
"Kalian sudah tahu diman Roman berada?" tanya Winnie.
"Ya, kami sudah mendapatkan alamatnya," sahut Deborah cepat.
Berjalan ke tengah Winnie menatap satu persatu teman yang telah memutuskan untuk membantunya.
Nagisa menelan ludah, ini adalah kali kedua ia melihat Winnie dalam mode negatif tapi kali pertama merasakan hawa predator yang terpancar dari Winnie.
"Aslan, aku ingin kau menjemput Roman. Bawa dia dalam keadaan hidup ke gedung tempat perawat Iren berada," ujarnya tegas.
"Akan ku lakukan," sahut Aslan yakin.
"Nagisa, temui Camila dan katakan yang melaporkannya adalah Will. Sementara Deborah aku ingin kau menemaninya," lanjutnya.
"Mengerti," ujar Deborah.
"Dan Carl, temui Nicki. Pastikan dia mengetahui pertemuan Camila dan Will sampai mendengar pembicaraan mereka," ucapnya.
Carl mengangguk sebagai jawaban, semua tugas telah ia berikan. Kini Winnie berjalan menatap semua foto yang telah mereka kumpulkan, foto para tersangka yang akan menemui hukumannya masing-masing.
......................
Nagisa dan Deborah sudah merencanakan pertemuan mereka dengan Camila akan di lakukan di kafe biasa, mencoba untuk tenang agar aktingnya terlihat natural ia menarik nafas beberapa kali sampai Camila tiba.
__ADS_1
"Kau lagi, kali ini apa yang kau inginkan?" tanya Camila.
"Aku sudah memberitahu rahasia lain yang di miliki Will, sayang sekali. Aku pikir kau akan berhati-hati," ujarnya.
Camila tertegun, seketika ia teringat pada hardisk yang diberikan Nagisa waktu itu. Harusnya ia tahu bahwa yang melakukanya adalah Will, kini ia hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat karena marah.
"Sepertinya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, Will orang yang cukup licik. Aku yakin dia memiliki kartu lain untuk menundukkan mu," ujar Nagisa semakin memancing emosinya.
Tanpa kata dengan membawa serta amarahnya Camila pun pergi, Nagisa yang melihat Camila telah memacu mobilnya segera masuk ke dalam mobil dan Deborah pun tancap gas untuk mengikuti.
Dalam perjalanan membututi Camila mereka memberi pesan kepada Carl agar segera bergerak, sementara itu Carl yang telah menunggu sedari tadi di dekat kediaman Wilson akhirnya bergerak.
Ia bertamu ke rumah Wilson dan mengatakan ingin bertemu dengan Nicki, tentu saja Nicki tak pernah menyangka Carl akan berkunjung ke rumahnya.
"Kau? bagaimana kau tahu rumah ku?" tanya Nicki hampir tak percaya.
"Ah.. itu.. paman Will!" serunya.
"Paman Will?" tanya Nicki.
"Ah jadi yang dia maksud Nicki adalah kau? entah dunia yang kecil atau kita memang ditakdirkan untuk saling mengenal," ujarnya.
Nicki cukup tersipu karena ucapan itu sehingga ia tak bisa menahan senyum.
"Kau kenal paman Will?" tanya Nicki.
"Ya, dia teman ayah. Kami cukup dekat meski jarang bertemu, dia menyuruhku untuk menjemput seorang gadis bernama Nicki di kediaman Wilson. Aku tidak menyangka jika itu kau," jelasnya.
"Ah begitu rupanya, baiklah. Tunggu sebentar," ujarnya.
Nicki segera pergi ke kamarnya untuk merapihkan riasan dan rambutnya, kemudian ia mengambil tas kecil dan kembali pada Carl.
"Ayo!" ajak Nicki.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan melaju, di perjalanan Nicki tak bisa berhenti tersenyum bahkan ingin rasanya bersorak saking girangnya.
"Kenapa paman Will tidak datang sendiri?" tanya Nicki cukup heran meski ia senang yang datang adalah Carl.
"Entahlah, kadang-kadang dia memang suka aneh," sahut Carl sembari tersenyum.
Nicki ikut tersenyum dan tak bertanya lagi, ia ingin menikmati kebahagiaannya tanpa memikirkan sesuatu yang tidak perlu.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Carl bergetar, rupanya itu pesan dari Deborah yang mengatakan Camila dan Will bicara di atap.