Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 91 Loyalitas


__ADS_3

Dari informasi yang diberikan Deborah Roman memiliki markasnya sendiri, tentu saja markas itu di penuhi oleh banyak preman yang berjaga dan bekerja.


Melihat sekeliling untuk menghemat waktu dan tenaga Aslan melemparkan gas air mata ke dalam, saat semua orang terbatuk dan terkapar ia cepat masuk dengan menggunakan masker.


"Hei! Aarh... kau siapa?" tanya Roman sambil mengipas-ngipasi matanya.


Tak banyak bicara Aslan memberi satu tinju yang melemahkan Roman, saat pria bertubuh gempal itu ambruk ia pun segera menggusurnya keluar.


"Hei! sialan!" seru salah satu anak buah Roman yang telah bangkit.


Terpaksa Aslan harus berhenti sejenak dan bertarung melawan anak buah itu, karena bantuan gas air mata Aslan tak perlu menggunakan banyak tenaga. Ia menang hanya dalam waktu hitungan detik saja, sayangnya efek gas air mata sudah mulai habis saat Aslan akan menaikan Roman ke dalam mobil.


Para anak buah Roman yang sudah bangkit berlari bersama demi menghajarnya, bermodal kepalan tangan tanpa ragu Aslan menumbangkan mereka satu persatu.


Sampai akhirnya terbuang waktu lima belas menit untuk melumpuhkan mereka semua, melanjutkan tugas Aslan membawa Roman ke tempat Jimmy menunggu.


"Ikat dia," perintah Aslan.


"Baik!" sahut Jimmy.


Dia pun memerintahkan teman-temannya untuk memindahkan Roman ke ruangan lain dan mengikatnya.


Tugas telah selesai, ia pun memberi pesan kepada Winnie akan kembali ke apartemen. Saat sampai rupanya yang lain sudah berkumpul dan tengah membahas perbuatan Camila, Aslan yang cukup kaget mendengar hal itu tiba-tiba merasa ngeri saat melihat senyum Winnie.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Deborah.


"Hanya mengintai Camila dan Nicki," sahut Winnie.


"Meski ini bukan kali pertama Camila membunuh tapi ini adalah kali pertama tangannya bau darah, aku yakin mentalnya tidak cukup aman. Disaat serapuh ini dia pasti akan melakukan banyak kesalahan," jelasnya.


Mereka mengangguk, karena tak ada lagi yang perlu di lakukan maka Winnie pamit pulang.


"Kenapa?" tanya Nagisa heran sebab Carl dan Aslan menatap Winnie dengan pandangan aneh.


"Ah tidak ada," sahut Carl sembari tersenyum.


"Kalau begitu aku juga mau pulang, ayo Nagisa! biar sekalian aku antar pulang," ajak Deborah.


"Baik, sampai nanti!" sahut Nagisa berpamitan.


Carl tersenyum dan melambaikan tangan, kini tinggal mereka berdua. Memang semenjak pulang Aslan tak pernah pulang ke rumah melainkan menginap di apartemen itu, Carl juga terkadang menginap menemani Aslan.

__ADS_1


"Apa kau menyadarinya?" tanya Aslan.


"Ya, hebat... ini membuatku benar-benar merinding," sahut Carl sambil mengusap kedua lengannya.


......................


"Aku pulang... " seru Winnie sambil masuk ke dalam.


"Eh Winnie! kau pulang?" tanya Brian kaget.


"Mm, besok aku mau mendatangi kantor pariwisata untuk mengiklankan hotel."


"Ah begitu rupanya, jadi kau sedang berusaha," ujar Brian sembari tersenyum.


"Kebetulan kau pulang, hari ini ayah beli kepiting dan lobster. Kita akan pesta seafood!" lanjutnya memberitahu.


"Sungguh? beruntung sekali aku pulang hari ini," ujarnya.


Mereka masuk ke dalam rumah dan saat Winnie hendak berjalan naik tangga untuk ke kamarnya kebetulan Camila keluar kamar, mata mereka saling menatap dan Winnie hanya memberi senyuman aneh.


Saat tiba waktu makan malam semua anggota keluarga Wilson berkumpul di meja makan, di tengah meja semua hidangan seafood sudah tersaji dengan aroma yang menggoda.


"Nah semuanya.. mari makan... " ujar Brian.


Begitu juga dengan Winnie yang sangat menikmati makan malam mewah itu, hanya Nicki yang terlihat tidak senang sementara Camila bersikap biasa saja.


"Nicki kau kenapa? apa selain alergi kacang kau juga tidak suka seafood?" tanya Winnie.


"Eh t-tidak, aku hanya kurang enak badan," sahut Nicki gagap.


"Kalau begitu seharusnya kau makan dengan lahap, kata paman Will seafood bagus untuk menyehatkan badan."


Dheg


Mata Camila dan Nicki segera menatap Winnie dengan perasaan terkejut, jantung mereka segera berdegup dengan kencang teringat akan kematian Will yang cukup mengenaskan.


"Oh ya, ngomong-ngomong soal Will. Bagaimana dengan projek film yang sedang kau buat?" tanya Brian.


"Oh, apa aku belum mengatakannya pada ayah? hehe.. maafkan aku, karena tugas kuliah akhirnya mundur dari film itu. Cukup berat sebenarnya tapi saat ini kuliahku jauh lebih penting," sahut Winnie.


"Begitu rupanya, yah... apa pun yang kau pilih ayah yakin sudah kau pikirkan dengan baik."

__ADS_1


"Mm, aku sudah bicara dengan paman Will. Katanya setelah kuliah ku selesai dia akan memberikan film yang bagus," ujar Winnie.


"Baguslah kalau begitu," balas Brian.


Bruk


Suara meja di gebrak itu mengejutkan semua orang, termasuk Camila yang duduk tepat disamping Nicki. Melihat bagaimana wajah pucat dan takutnya ia tahu Nicki sudah tak tahan mendengar nama Will terus di sebut.


"A-aku tidak enak badan, maaf.. aku mau istirahat di kamar saja," ujarnya.


"Oh, baiklah.. " sahut Brian pelan.


Sebelum pergi Nicki sempat menatap Camila, terlihat jelas bahwa tiada kesanggupan bagi gadis manja dan polos seperti Nicki melakukan sandiwara kecil ini.


Selesai makan malam Camila segera menemui putrinya untuk menenangkannya, tapi tentu tak mudah sebab Nicki benar-benar terguncang. Akhirnya ia hanya menyuruh Nicki untuk terus tinggal di kamar sampai ia merasa jauh lebih siap melanjutkan hidup normal.


"Sepertinya dia terguncang hebat," ujar Winnie yang sudah berdiri di samping pintu kamar Nicki sejak tadi.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Camila kaget saat ia hendak pergi meninggalkan kamar Nicki.


"Ada yang ingin aku bicarakan," sahut Winnie sembari tersenyum.


Penasaran dan curiga Camila mengikuti langkah Winnie naik ke atas, di salah satu kamar kemudian Winnie menunjukkan ponselnya yang berisi vidio perbuatan Camila.


Sontak Camila kaget hingga tangannya bergetar hebat, ia tak menyangka Winnie memiliki rekaman seperti itu.


"Kau... kau.. bagaimana bisa?" tanya Camila padahal ia sudah memastikan tak ada orang di tempat kejadian selain Nicki.


"Aku mengetahui segalanya," sahut Winnie sambil mengambil ponselnya kembali.


Tak bisa bicara apa pun Camila hanya diam sambil mencoba memutar otak, mencari cara agar bisa terbebas dari rantai yang baru di ikat Winnie.


"Tenang saja, aku akan merahasiakan ini. Tapi sebagai gantinya aku harus membayarku," ujar Winnie.


"Berapa yang kau inginkan?" tanya Camila cepat.


"Hahahahaha... berapa? bagaimana bisa kau berfikir aku ingin di bayar dengan uang?" olok Winnie.


"Aku adalah anak Brian Wilson, aku punya kekayaan yang jauh lebih banyak dari pada kau. Aku tidak butuh uang mu," sambungnya.


"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Camila mulai kesal karena sikap Winnie.

__ADS_1


Berjalan mendekati Camila kemudian Winnie berbisik tepat di telinganya.


"Loyalitas."


__ADS_2