
Menumpang ke sebuah truk mereka melakukan perjalanan panjang hingga menghabiskan waktu dua hari lamanya, selama itu Winnie menjadi sangat pendiam sebab benaknya terus menimbang tentang tawaran Marck.
Hingga sampai ke sebuah rumah kecil di sebuah pedesaan Winnie hanya menurut apa kata Philip dan terus mengawasinya.
"Hari kita bereskan bagian kamar saja dulu, sisanya bisa kita kerjakan besok," ujar Philip.
Rumah itu cukup berdebu tebal, tentu saja membutuhkan waktu seharian jika mereka ingin membersihkan rumah itu. Dengan kondisi lelah karena perjalanan tentu saja mereka tidak ada tenaga untuk bersih-bersih.
Winnie langsung mulai membersihkan satu kamar sendirian sementara Philip pergi mencari makanan, saat kembali Winnie sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Apa ini rumah mu?" tanya Winnie.
"Ya, aku membelinya untuk jaga-jaga. Tak kusangka akan berguna juga, kita akan tinggal disini sampai keadaan cukup aman. Aku tidak tahu siapa yang mengincar nyawaku jadi sebaiknya kita tunggu sampai anak buahku memberi kabar," sahutnya.
"Bisakah kau bersihkan meja makan sementara aku memasak?" tanya Winnie.
Philip mengangguk dan mulai mengerjakannya, sementara Winnie juga mulai memotong sayuran.
Karena meja makan itu kecil maka tak butuh waktu lama bagi Philip untuk selesai, ia pun berpindah ke kamar mandi dan menguji keran disana sebelum dipakai untuk mandi.
Sendirian di dapur membuat Winnie kembali menatap botol racun yang diberikan Marck, kemudian ia menatap sup yang sedang mendidih secara bergantian.
Inilah kesempatan emas yang sulit untuk diraih, jika tidak sekarang maka ia tak akan punya kesempatan lagi.
......................
Setelah mandi Philip merasakan badannya sangat segar, masuk ke ruang makan nampak Winnie sedang menata piring dan menyajikan sup.
"Makanlah mumpung supnya masih panas," ujar Winnie menaruh sendok di samping mangkuk Philip.
"Keliatannya enak," ucap Philip menatap hidangan itu.
"Aku akan mandi dulu, kau makanlah."
"Kenapa? nanti sup mu jadi dingin," tanya Philip sambil memegang tangan Winnie yang hendak pergi.
"Ah bisa ku panaskan lagi nanti, rasanya badan ku lengket jadi aku ingin mandi dulu agar lebih segar," sahutnya.
Philip menatap Winnie dengan tajam yang membuat jantung Winnie berdebar kencang, ia merasa takut kalau-kalau Philip mengetahui apa yang ia lakukan.
"Baiklah," ujar Philip melepaskan tangan Winnie.
__ADS_1
Menghembuskan nafas lega kemudian Winnie pun pergi ke kamar mandi, ia memang menyalakan keran namun dibiarkannya air itu mengalir sendiri.
Setelah merasa menunggu cukup lama diam-diam dia mengintip ke ruang makan, mendapati kepala Philip jatuh di atas meja makan perlahan ia menghampiri.
"Philip," panggilnya pelan.
Tapi Philip tak bergeming, bahkan ada buih yang keluar dari mulutnya. Dengan cepat Winnie kemudian berlari keluar mencari telepon umum, waktu itu sebelum Marck tiba-tiba menghilang bersama dengan botol racun ia juga diberi nomor yang dapat ia hubungi.
Tuuutt... Tuuuutt...
Ada jeda beberapa saat setelah Winnie menekan tombol, setelah itu barulah seseorang mengangkatnya.
"Dia sudah mati," ujar Winnie cepat.
Menunggu dengan gelisah di luar rumah malam hari sebuah mobil berhenti tepat di depannya, Marck keluar dari mobil itu diikuti oleh beberapa pria.
"Di dalam," ujar Winnie sambil menunjuk dengan ibu jarinya.
Marck pun masuk, diikuti oleh Winnie tepat dibelakang. Tubuh Philip yang masih duduk diruang makan posisinya sama sekali tak berubah.
Trek
Perlahan Marck mengangkat kedua tangannya dan berbalik kepada Winnie, meski dalam keadaan terpojok tapi ia masih bisa tersenyum santai sebab para anak buahnya juga reflek menodongkan senjata kepada Winnie.
"Kau harus menepati janjimu," ujar Winnie.
"Tentu saja, katakan apa yang kau inginkan. Kita bisa bicarakan dengan baik," sahut Marck.
"Sayangnya tidak."
Doorr... Dooor... dor.. dor
Para anak buah Marck yang kaget karena peristiwa itu terjadi dengan cepat tak memiliki kesempatan untuk menyerang, senjata mereka memang terangkan tapi Winnie dan Philip jauh lebih cepat menekan pelatuk sehingga mereka tumbang hanya dalam sekejap mata.
"Hmm, kau lebih lihai menggunakan senjata," komentar Philip sembari tersenyum.
"Masih dalam jarak dekat dan sasaran tidak bergerak," sahut Winnie meski ia akui memang ada kemajuan.
Beberapa jam yang lalu saat Philip sedang mandi Winnie yang berfikir keras akhirnya memutuskan untuk berada di pihak Philip, ini karena resiko bersekutu dengan Marck terlalu tinggi sebab ia belum tahu bagaimana sifat Marck yang sebenarnya.
Ia pun memberitahukan tentang botol racun itu kepada Philip, rupanya Philip memang sudah curiga sejak lama. Marck memang nampak bersahabat tapi sebenarnya ia jauh lebih licik, terakhir kali berbisnis dengannya Marck melakukan kecurangan sehingga mendapat untung yang lebih besar.
__ADS_1
Philip membalas dengan menggagalkan bisnis Marck, itu membuatnya kesal dan memburu nyawa Philip secara diam-diam.
Ia tak menyangka Marck akan menggunakan Winnie untuk menghabisinya, untuk saja Winnie membuat pilihan yang tepat.
Mereka pun membuat rencana untuk menjebak Marck, rencana sederhana yang akan menuntaskan permainan kejar-kejaran mereka.
Winnie sengaja menelpon agar Marck datang, dan saat Marck lengah untuk bicara pada Winnie Philip segera bangun dan menembak Marck tepat di kepalanya.
Tentu saja itu membuatnya tewas seketika, dalam hitungan detik kemudian Philip menembak satu persatu anak buah Marck begitu juga dengan Winnie.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Winnie.
"Tubuh yang kehilangan kepalanya tidak akan mampu bertahan, aku akan mengambil alih wilayah Marck."
Maka jasad Marck mereka masukan ke dalam kantung jenazah dan Philip bawa pulang, sampai di mansion Winnie yang kelelahan menghabiskan waktu untuk istirahat sementara Philip segera membawa mayat Marck ke markasnya di temani pengawal.
Melihat bos mereka sudah tewas tentu saja mereka hanya memiliki dua pilihan, pertama membiarkan Philip menjadi bos baru atau yang kedua mati sia-sia.
Tak ada yang ingin mati setelah bekerja susah payah, mereka ingin menikmati hidup lebih lama lagi dengan uang di satu dan wanita di pangkuan. Mereka menerima Philip sebagai atasan mereka yang baru.
"Kau belum tidur?" tanya Philip heran saat ia pulang Winnie berada di ruang tamu sambil memakan apel.
"Aku menunggu mu," jawabnya.
"Sungguh? apa kau merindukan ku meski kita hanya berpisah selama beberapa jam saja?" tanya Philip sambil membelai pipi Winnie.
"Aku belum mendapatkan hadiahku," ralat Winnie tegas.
Philip tersenyum, tentu saja tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi Winnie sudah menunjukkan kesetiannya dan membantu menyingkirkan Marck.
"Apa yang kau inginkan? berlian? rumah?" tanya Philip.
"Kursi yang berada tepat di samping singgasana mu," sahut Winnie tegas.
Philip mengerutkan dahi, bukan hal mudah untuk duduk di tempat yang sejajar dengannya. Meski ia tahu Winnie cukup memiliki kompetensi.
"Apa kau yakin?" tanya Philip.
"Aku sudah cukup memikirkannya," sahut Winnie yakin.
"Baiklah, kau bisa dapatkan apa yang kau inginkan."
__ADS_1