
Seperti yang ia perkirakan kediaman Wilson sangatlah megah, tak jauh berbeda dengan rumah Aslan. Begitu mereka turun seluruh pelayan dan penjaga berdiri di kiri kanan untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat datang nona Winnie!" seru mereka serentak.
"O-oh terimakasih," sahut Winnie yang cukup kaget akan penyambutan yang meriah itu.
"Mereka semua adalah pelayan dan penjaga yang bekerja di sini, saya sengaja menyuruh mereka berbaris agar mereka tahu kedatangan nona. Dengan begini Nona juga bisa lebih cepat mengenal mereka," jelas Roy.
Berjalan melewati para pelayan Winnie bisa melihat ada nama yang tercantum di setiap dada sebelah kiri mereka, berpaling ke depan ia menatap seorang wanita dan gadis yang sebaya dengannya.
"Kau sudah mendengarnya dari ku, ini Camila dan Nicki," ujar Brian memperkenalkan.
"Senang bertemu dengan mu Winnie, tolong panggil aku ibu meski kita tahu bagaimana hubungan ini. Aku berjanji akan memperlakukan mu sama seperti putri kandungku," ucap Camila meraih tangan Winnie.
"Baik ibu," sahut Winnie menurut.
"Akhirnya kau datang juga, aku benar-benar menantikan kedatangan mu. Dengan begini aku tidak akan kesepian lagi," ujar pula Nicki.
"Aku juga senang akhirnya dapat bertemu dengan kalian," balasnya.
"Baiklah, mari kita masuk!" ajak Brian.
Pertama Nicki mengusulkan diri untuk mengantar Winnie ke kamarnya, tentu Brian mengijinkan sebab memang itu keinginannya.
Kamar yang Winnie tempati berada di lantai atas, luasnya lebih besar dari rumahnya selama ini. Ada kamar mandi dan balkon yang mengingatkannya pada vila, juga ruangan khusus untuk menyimpan pakaian, tas dan sepatu.
Jelas kamar itu menunjukkan kemewahan khas orang kaya, di meja riasnya pun sudah tersedia makeup dan peralatannya yang komplit.
"Aku tidak tahu kau suka warna apa, jadi aku meminta pelayan untuk mengecatnya dengan warna putih. Apa kau suka?" tanya Nicki.
"Ya, ini sempurna," sahut Winnie.
"Ah.. syukurlah," ujar Nicki lega.
__ADS_1
"Lalu dimana kamarmu?" tanya Winnie.
"Kau ingin melihatnya? ayo ku tunjukkan!" ajak Nicki.
Meninggalkan tasnya di atas sofa Winnie segera mengikuti Nicki, rupanya kamar Nicki berada di lantai bawah karena Nicki tak suka ketinggian.
Kamarnya sama luasnya namun tentu dekorasinya berbeda, kamar itu di penuhi dengan nuansa pink dan pernak pernik gadis seperti boneka.
"Kau yang mendekorasinya?" tanya Winnie mengamati.
"Ya, bagaimana menurut mu?" balas Nicki.
"Kau punya selera yang bagus," puji Winnie.
"Terimakasih, ayo ku tunjukkan tempat lainnya!" ajak Nicki.
Mereka kembali menjelajah rumah itu, pertama Nicki menunjukkan kamar orangtua mereka yang juga ada di lantai bawah. Kemudian ke ruang baca, olahraga, ruang makan dan di bagian belakang ada dapur dan beberapa kamar pelayan.
Rumah yang megah itu memiliki kolam renang dan taman yang cukup indah, membuat Winnie senang sebab mungkin ia bisa menata kembali taman itu sesuai dengan keinginannya.
Membongkar barang-barangnya Winnie memajang foto dirinya bersama Jeny dan Fabio di atas laci tepat di sebelah lampu tidur, ia juga membawa buku-buku yang ia perlukan dan barang lainnya.
Setelah selesai beres-beres ia merebahkan diri di atas ranjang yang empuk, sangat berbeda dengan tempat tidurnya yang selama ini keras.
Kamarnya juga kali ini wangi dan bersih, membuatnya seakan kembali hidup sebagai Mo Yumna.
Tapi mengingat Mo Yumna seketika ingatan kematian naas itu kembali, meneliti keadaan sejauh ini semua baik kepadanya. Bahkan Nicki bersikap bersahabat tak seperti Mo Lin yang sejauh ingatannya tak pernah mau akur.
"Mungkin saat ini strategi masih di buat," gumamnya.
Tak bisa tidur karena terlalu banyak berfikir akhirnya Winnie hanya melamun sampai Nicki mengetuk pintunya, rupanya ia benar-benar mengajak Winnie berbelanja.
"Sekarang kau adalah Winnie Wilson, penampilan mu harus kau rubah sesuai dengan nama keluarga kita," ujar Nicki memberi saran akan penampilan Winnie yang sederhana.
__ADS_1
Tentu Winnie setuju, di beri kartu oleh Brian Winnie segera memanfaatkannya untuk belanja kebutuhan seperti membeli beberapa pakaian, tas dan sepatu.
Saat Winnie memilih barangnya sendiri Nicki cukup kaget sebab selera Winnie sangat bagus, ia kira karena selama ini Winnie hidup miskin Winnie tak akan tahu fashion.
Berjam-jam belanja akhirnya mereka selesai dan pulang tepat saat makan malam, Nicki segera menyuruh pelayan membawakan belanjaan mereka ke kamar masing-masing sementara mereka langsung ke ruang makan.
"Kami pulang!" seru Nicki sambil memasuki ruang makan.
"Selamat datang, wah... gadis-gadis ku sepertinya senang sekali," sambut Camila melihat raut wajah mereka yang sumringah.
"Ibu tahu bagaimana hobi seorang gadis," balas Nicki sambil duduk di kursinya.
"Ayah ini kartunya, maaf sepertinya aku sudah menggunakannya terlalu banyak," ujar Winnie menyerahkan kartu kreditnya.
"Apa maksud mu? kau memerlukan semua barang itu, dan simpanlah kartu itu. Kau bisa menggunakannya lagi jika kau butuh," balas Brian.
"Sungguh? terimakasih ayah," sahut Winnie senang.
Brian lebih senang lagi sebab Winnie kini jauh lebih bisa menerimanya sebagai ayah.
"Winnie cepatlah makan, lihat semua hidangan ini! ayahmu sengaja mengundang koki hebat hanya untuk makan malam kali ini," ujar Camila.
"Ya, ini untuk menyambut kedatangan mu," sahut Brian mengakui.
"Ayah terlalu berlebihan," keluh Winnie.
"Ayahmu sangat suka memanjakan putrinya, jika kau menolak dia akan menangis seperti anak kecil," ucap Camila.
"Oh Camila yang benar saja?" ketus Brian sementara Camila tertawa sebab telah berhasil membuat suaminya malu.
Winnie yang melihatnya hanya tersenyum, tentu ia bisa menyadari hal itu dari semua fasilitas yang Nicki dapat dan bagaimana karakternya.
Jika di pikir lagi Brian dan Fabio memiliki sifat yang sama, sangat mencintai putri mereka dan selalu memanjakannya. Ini membuat Winnie sedikit sedih sebab teringat semua kenangan bersama dengan ayah angkatnya itu.
__ADS_1
Menggelengkan kepala Winnie mencoba menepis semua pemikiran itu, saat ini ada hal yang jauh lebih penting dari segalanya. Itu adalah kasus sembilan belas tahun yang lalu yang masih menyisakan misteri, kini Winnie sudah masuk ke dalam keluarga Wilson maka ia harus mendapatkan kenyataan yang terjadi di hari kelahirannya itu.