Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 47 Berkemah


__ADS_3

Jelas dalam rencana pertemuan mereka di mulai pukul tiga, tapi Deborah sudah datang setengah jam yang lalu. Ia tahu akan mengesalkan menunggu tapi itu lebih baik daripada gugup tak karuan di rumah dan terus mengganti pakaian tanpa henti.


"Deborah," sapa Agger yang tiba tepat waktu.


"Oh, Hai.. " sambut Deborah segera berlari.


"Apa aku terlambat?" tanyanya.


"Ah tidak, aku juga baru sampai," karang Deborah.


"Syukurlah, ini untukmu."


Deborah menerima seikat bunga dan mencium aromanya yang wangi, betapa ia seketika hanyut dan menjadi malu akannya.


"Terimakasih," ujarnya.


Kembali duduk percakapan mereka di mulai dengan makanan yang di pesan, kencan pertama bagi Deborah tentu membuatnya cukup gugup hingga canggung.


Tapi Agger tipe pemuda santai dan ceria, dia mampu membuat kondisi nyaman untuk Deborah sehingga mereka dapat berbincang tanpa kendala.


......................


"Winnie kau sudah siap?" tanya Nicki dengan begitu cerianya sambil melongok ke dalam kamar.


"Hampir, sebentar lagi aku ke luar," sahutnya.


"Baiklah aku tunggu di mobil!" serunya.


Menarik senyum Winnie mengambil ponselnya, ia tahu Nicki sedang merencanakan sesuatu jadi ia harus mengambil antisipasi.


"Ayo kita pergi," ujar Winnie beberapa menit kemudian sambil berjalan menghampiri.


"Hanya ini barang mu?" tanya Nicki.


"Ya," sahutnya.


"Baiklah, ibu kami berangkat dulu!" seru Nicki sembari melambaikan tangan.


"Hati-hati di jalan," sahut Camila membalas lambaian tangan.


Winnie juga ikut berpamitan dan Camila berlagak seperti ibu kebanyakan, itu terlalu mencurigakan setelah beberapa hal yang terjadi antara mereka.


Masuk ke dalam mobil dari kaca spion depan Winnie bisa melihat tas-tas Nicki dan dirinya di kursi belakang, itu agak mencurigakan sebab jumlah tas Nicki terlalu banyak untuk orang yang mau berlibur di pantai.


Terlebih kenapa mereka tak menyimpannya di bagasi? pakaian Nicki pun mencurigakan sebab ia mengenakan celana berbahan dasar kain dan juga kaus.


"Um, ada minuman di belakang. Jika kau haus boleh kau minum," ujar Nicki.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Winnie.


Ia merenggang dan meraih kotak minuman, mengambilnya dan memilih satu kaleng soda.


Beberapa jam dalam perjalanan kecurigaan Winnie semakin menjadi saat mereka memasuki area hutan, saat Nicki berbelok dan masuk ke kamp ia bertanya-tanya mengapa mereka ke sana.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajak Nicki.


"Nicki, kau bilang kita akan ke pantai," ujar Winnie.


"Astaga! apa aku lupa memberitahumu?" ujar Nicki dengan raut wajah terkejut.


"Apa?" tanya Winnie mengerutkan kening.


"Winnie pestanya berubah, temanku ingin mendaki dan mengadakan pesta di hutan. Aku pikir sudah memberitahu mu," jelas Nicki.


Kini Winnie tahu apa rencana Nicki yang sebenarnya, dia sengaja menyuruh Winnie membawa pakaian pantai yang tipis agar ia mati kedinginan di hutan.


"Aku tidak membawa peralatan mendaki," ujar Winnie.


"Ah, bagaimana ini? Tidak mungkin kita batalkan, mereka pasti sudah menunggu!" sahut Nicki.


"Kau benar, tadi aku lihat swalayan dalam perjalanan. Bagaimana kalau kita ke sana dulu untuk membeli beberapa perlengkapan seadanya?" tanya Winnie.


"Tidak masalah," sahut Nicki.


"Aku akan menunggu di mobil," ujar Nicki.


"Baiklah," sahut Winnie bergegas ke luar.


Swalayan itu cukup komplit meski memang ada beberapa benda yang Winnie butuhkan namun tak ada, setidaknya untuk beberapa hari berkemah ia rasa akan mampu bertahan.


"Silahkan nona," ujar kasir saat pembeli yang lain telah selesai bertransaksi.


Winnie menaruh semua barang belanjaannya di atas meja, memperhatikan kasir yang sedang bekerja Winnie kemudian bertanya "Maaf, bisakah kau menjual itu padaku?".


Sang kasir segera menatap apa yang di tunjuk Winnie, tentu ia heran.


"Kau membutuhkannya?" tanya kasir itu.


"Benar, aku hendak berkemah tapi malah melupakan benda penting itu," sahutnya.


"Oh, kalau begitu ambil saja. Itu gratis untukmu," ujar si kasir.


"Tidak! aku akan membayarnya," ujar Winnie tak bisa menerima sesuatu dengan percuma.


Saat barang belanjaannya sudah selesai di hitung ia memberi uang lebih untuk benda yang si kasir berikan percuma, bergegas kembali ke mobil mereka pun segera meluncur ke kamp sebab teman-teman Nicki telah menunggu.

__ADS_1


"Hai guys!" seru Nicki langsung turun dari mobil setelah memarkir mobilnya.


"Kenapa kau lama sekali?" keluh salah satunya.


"Maaf, kami harus ke swalayan dulu tadi," sahutnya.


Winnie yang turun belakangan melihat ada tiga gadis berdiri di dekat Nicki, hanya sekilas dari tatapan mereka Winnie tahu kehadirannya tidak begitu di sukai.


"Perkenalkan ini Winnie, aku sudah memberitahu banyak hal pada kalian tentangnya bukan?" ujar Nicki.


"Ya, ini adalah kali pertama kita bertemu. Perkenalkan aku Megan," ujar salah satu mendekati.


Winnie menjabat tangan mereka satu persatu, yang dua lagi teman Nicki bernama lily dan Jenna.


"Baiklah, ayo berangkat!" seru Lily.


Membawa tas masing-masing mereka mulai melangkah ke area hutan, Tentunya semuanya mengenakan sepatu khusus mendaki dan perlengkapan lainnya.


Hanya Winnie yang memakai sepatu biasa dengan kaus tipis dan celana jeans, tapi ia sama sekali tak kesulitan saat berjalan.


"Winnie barang bawaan mu tak terlalu banyak, bisakah kau membawakan satu tas ku?" tanya Nicki dengan nada manja.


"Tidak masalah, kau selalu di dampingi pelayan. Pasti sekarang kesulitan harus membawa semua ini sendiri," ujar Winnie segera mengambil tas itu.


Nicki yang awalnya ingin mengerjai Winnie menjadi malu sebab ucapan Winnie telah membuat teman-temannya meremehkannya.


Kembali berjalan satu jam kemudian Nicki menyesal telah setuju dengan rencana temannya, harusnya ia memikirkan rencana lainnya untuk mengerjai Winnie.


Baru separuh perjalanan dan ia sudah merasa lelah, kakinya bahkan terasa pegal hingga tak sanggup untuk berjalan lagi.


"Teman-teman bisakah kita istirahat sebentar?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.


"Apa? tapi kita baru berjalan sebentar," ujar Lily.


"Nicki apa kau baik-baik saja?" tanya Winnie segera menghampiri.


"Maaf, Nicki tak biasa mendaki jadi dia pasti kesulitan. Ah... kau ini, sudah tahu tidak sanggup kenapa tidak bicara dari awal," ujar Winnie.


Ucapan Winnie kali ini tak hanya membuat Nicki merasa malu tapi membuat teman-temannya mulai berbisik, menatap dengan tatapan jengkel.


"Nicki memang selalu seperti ini, dia terlalu manja. Untuk tidak ada anak laki-laki sehingga kita tak terabaikan," bisik Megan.


"Kau benar, dia memang selalu seperti ini," sahut Jenna sambil menggangguk.


Bisikan-bisikan itu jelas terdengar oleh Nicki, membuatnya geram sebab seharusnya yang di perlakukan seperti itu adalah Winnie.


"Aku sebenarnya sedang diet hari ini, karena itu badanku lebih lemas dari biasa karena kurang asupan. Tapi aku baik-baik saja, mari kita lanjutkan perjalanan!" ucap Nicki memaksakan diri.

__ADS_1


Winnie yang jelas melihat senyum getir dan kaki Nicki yang gemetar hanya tersenyum kecil, betapa mudah membalikkan senjata untuk menghancurkan tuannya.


__ADS_2