Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 26 Cemburu?


__ADS_3

Beberapa detik Winnie menjadi tontonan, itu dapat di maklum mungkin karena wajah miskinnya mudah di tebak. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Winnie.


"Anak itu selalu tepat waktu menjemput pacarnya tapi tidak pernah sekalipun kelihatan saat pagi, pasti dia menyelinap pergi tanpa menyapa kami. Heh.. sepertinya kau lebih penting dari kami ya," olok Emrit.


Tentu ucapan itu membuat Zela tak nyaman, tapi Winnie tanpa rasa takut membalas tatapan tajam itu.


"Mungkin karena aku mendukung impiannya sebagai arsitek," balas Winnie.


Ia jelas tahu apa yang membuat Emrit selalu bicara buruk tentang putranya sendiri, itu adalah bentuk kekecewaan yang menyakitkan.


Mengungkit hal sensitif itu tentu saja Winnie telah memercikkan api yang siap melahap dirinya, Zela telah berfikir hidup Winnie sebentar lagi akan berakhir tanpa ia ketahui Winnie memang sengaja masuk dalam kobaran api.


"Apa hebatnya arsitek? hanya menggambar kotak dan segitiga, lebih bagus dia belajar bisnis agar bisa meneruskan pekerjaan ku."


Skakmat, Emrit akhirnya masuk ke dalam lubang yang telah Winnie persiapkan. Membuat pangeran berada dalam genggamannya itu adalah hal mudah, tapi membuat kaisar tunduk kepadanya itu akan menjadi kebanggaan tersendiri.


"Merancang sebuah pola hingga terbentuknya mahakarya, anda tidak akan mengerti kenikmatan seorang seniman. Tapi sebagai pengusaha yang meraup untung dari para desainer seharusnya anda cukup paham perasaan Aslan," sahut Winnie.


"Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! kau sangat tidak sopan sama seperti dia!" hardik Emrit yang sudah muak dengan olok-olokan itu.


"Aku hanya mencoba membuka mata anda, tidak ada gunanya meluruskan tulang yang bengkok. Itu hanya akan membuatnya patah, tapi bagaimana jika anda merebusnya sampai lunak? bukankah itu lebih efektif?" ujar Winnie mulai melancarkan aksinya.


"Aslan lebih berbakat di bidang arsitektur, tapi dia bisa mempelajari bisnis secara bersamaan. Mungkin di masa depan dia mampu menyelenggarakan fashion show yang membuat wartawan memuat beritanya dengan judul 'Asher mempersembahkan koleksinya di kemegahan istana Asher' " sambung Winnie.


Kini Emrit diam, terlihat jelas ia memikirkan ucapan Winnie dengan sungguh-sungguh.


"Eh-mm, aku sudah kesiangan. Sayang tolong ambilkan mantel dan tasku," ujar Emrit yang sadar bahwa ia tengah menjadi tontonan terlebih Winnie yang menatapnya dengan penuh senyuman.


"Oh baiklah," jawab Zela segera pergi.


"Silahkan nikmati sarapan mu menantu," ujar Emrit saat berjalan melewati Winnie.


Tentu saja kata terakhir yang diucapkan Emrit itu meski pelan tapi terdengar sangat jelas, membuat Winnie tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Sepertinya aku baru membuka peti harta karun," gumamnya sambil melahap sarapan yang sejak tadi di tagih perutnya.


Prok Prok Prok Prok


Sebuah tepuk tangan menggema dalam ruang makan, melirik pada arah pintu masuk rupanya Aslan sudah mendengar semua percakapan mereka.


Satu tepuk tangan yang di berikan adalah untuk keberanian Winnie mengutarakan pendapat yang selama ini di tentang Emrit, lainnya adalah untuk memperkenalkan diri sebagai pacarnya.


"Kau menyelesaikan masalah terbesar dalam keluarga ini hanya dalam waktu beberapa menit, apa yang harus ku berikan sebagai hadiah?" tanya Aslan duduk tepat di samping Winnie.


"Seperti yang kau dengar aku tidak memecahkan masalah tapi mengambil jalan tengah untuk kalian, berhentilah bersikap egois dan mulailah belajar bisnis seperti yang ayahmu inginkan. Dengan begitu kau bisa menjadi arsitek seperti yang kau inginkan," ujar Winnie dingin.


"Akan ku lakukan, itu adalah permintaan ratu ku. Akan ku lakukan apa pun," sahut Aslan sambil mengambil tangan Winnie untuk ia kecup.


Tapi dengan cepat Winnie menarik tangannya, bahkan ia enggan menatap Aslan.


"Ada apa? kenapa kau bersikap dingin padaku?" tanya Aslan heran.


"Aku tidak ingin di sentuh oleh tangan yang masih kotor," sahut Winnie ketus.


"Sayang sekali berapa banyak pun kau mencuci tangan kotoran itu tidak akan pernah hilang, kecuali mungkin jika kau kena hukuman," ujar Winnie bangkit dari tempat duduknya.


Berusaha keras Aslan berfikir apa salahnya hingga Winnie begitu marah, perlahan ia ingat pesta malam itu dan jika tebakannya benar ini masalah dengan Carmen.


"Tunggu! kau sendiri yang mengijinkan ku menari dengan Carmen, lagi pula kau juga menari dengan Carl kan? tangan mu juga sama kotornya dengan ku!" ujar Aslan membela diri.


"Heh.. andai aku memotret tindakan menjijikkan mu di kamar itu sebagai bukti, tapi tidak. Bagus aku tidak memotretnya sehingga ponselku juga tidak ikut tercemar," sahut Winnie.


"Aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan?" tanya Aslan benar-benar bingung.


Tapi Winnie lebih memilih untuk diam sebab jika dia menceritakannya itu akan membuatnya naik pitam, di hadapan orang lain ia bersikap seperti biasa namun saat hanya berdua dengan Aslan seketika ia akan berubah dingin.


"Oh Aslan, aku pikir kau tidak akan masuk sekolah setelah pesta semalam," sapa Carl yang tak sengaja bertemu di koridor.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" balas Aslan dingin.


Masalahnya dengan Winnie belum selesai dan kini Carl datang menguji emosi, tentu saja Aslan di buat muak.


"Tidak apa-apa, hanya saja semalam kau sangat mabuk sampai salah masuk kamar. Aku benar-benar syok melihat kau di kamar Carmen, tapi tak disangka kau benar-benar hebat ya! bahkan Winnie sedikit pun tak marah melihat kau bersama wanita lain. Kau berhasil membuatnya tunduk padamu," ujar Carl yang telah mengupas masalah.


Tentu Aslan syok bukan main, perlahan ia mulai ingat hal lainnya selain berdansa dengan Carmen.


Malam itu setelah mereka selesai menari ia berniat mencari Winnie tapi tak ketemu, lalu beberapa pria datang padanya dan mengajak bicara sambil minum.


Setelah itu ingatannya mulai samar, rasanya ia mulai pusing dan ngantuk hingga akhirnya kehilangan kesadaran.


Dari apa yang Carl katakan sudah jelas ia masuk ke dalam jebakan Carl, mungkin setelah ia hilang kesadaran seseorang membawanya ke kamar Carmen dan Winnie melihatnya sebagai salah paham.


Tanpa pikir panjang Aslan segera berlari mencari Winnie, mendapati gadisnya di bangunan kosong bersama anak buahnya segera ia memerintahkan untuk meninggalkan mereka berdua.


"Itu jebakan, pasti Carl memberiku minuman yang sudah di beri obat dan setelah aku tak sadar dia membawaku ke kamar Carmen. Sungguh setelah berpisah dengan mu aku tidak ingat apa pun," jelas Aslan.


"Aku tahu," sahut Winnie santai.


"Kau tahu? lalu kenapa kau marah jika kau tahu itu jebakan?" tanya Aslan heran.


Tapi Winnie tak menjawab, ia hanya memutar bola mata dan membuang muka dengan malas.


"Ah! jangan-jangan.... kau cemburu?" tanya Aslan dengan senyum di wajahnya.


"Apa? kenapa aku harus cemburu pada wanita sialan itu?" seru Winnie cepat.


Tapi balasan Winnie membuat Aslan semakin yakin hingga senyum di wajahnya semakin melebar.


"A-aku kesal! aku marah padamu karena kau dengan mudahnya masuk perangkap mereka!" jelas Winnie mulai salangtingkah.


Tanpa menghiraukan penjelasan Winnie Aslan mendekat, ia terus mendekat sampai memojokkan Winnie di tembok.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menyembunyikan kecemburuan mu dengan benar," bisik Aslan.


__ADS_2