Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 60 Pembalasan


__ADS_3

Nagisa cukup heran Winnie mengajaknya bertemu di sebuah tempat parkir, dari sekian banyak mobil yang ada ia terus berjalan sampai Winnie memanggilnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa basa basi Winnie menyerahkan sebuah berkas berisi informasi umum tentang Sara, dia juga memberikan kamera untuk Nagisa memata-matainya.


"Aku hanya perlu mengawasinya dan melaporkannya padamu?" tanya Nagisa.


"Sangat sederhana bukan?" ujar Winnie.


"Yang paling penting adalah jangan sampai ketahuan," lanjutnya.


"Aku mengerti," sahutnya.


"Um.... bisakah aku minta bayaran ku di awal?" tanya Nagisa sedikit ragu.


"Uang yang ku berikan kemarin kurang?" tanya Winnie heran kebutuhan apa yang membuat murid butuh uang cepat.


"Ada sesuatu yang harus ku bayar tanpa sepengetahuan ibu," jawabnya.


"Aku mengerti," ujar Winnie.


Ia kemudian memberikan sejumlah uang kepada Nagisa, sebagian adalah upahnya dan sisanya untuk kebutuhan transportasi.


Sebelum pertemuan mereka berakhir Winnie sedikit menjelaskan tantang pekerjaannya, Nagisa harus memotret dengan siapa saja Sara berkomunikasi tak peduli jika itu pelayan atau tuna wisma sekalipun.


Setiap hari pukul lima sore Nagisa akan menaruh hasil jepretannya di dalam mobil, besok pagi baru ia bekerja lagi membututi Sara.


Nagisa mengangguk dan pergi sebab hari itu ia sudah mulai bekerja, ia mulai dari salon milik Sara baru kemudian kliniknya.


Tanpa ia ketahui Winnie memantau pekerjaannya, tentu saja karena Winnie tak bisa percaya pada siapa pun. Sejauh ini pekerjaan Nagisa tak ada masalah, ia menyimpan kamera dan hasil jepretannya di dalam mobil tepat seperti yang di katakan Winnie kemudian pulang.


Tapi Winnie masih membututinya, itu karena ia penasaran siapa yang telah menganiaya Nagisa hingga mengalami lebam di seluruh tubuhnya.


Rasa penasaran Winnie terbayar saat ia melihat Nagisa menemui tiga murid berseragam sama dengannya, jelas sekali Winnie dapat melihat Nagisa menyerahkan uang kepada salah satu murid itu.


Mereka tertawa kegirangan dan mengusap kepala Nagisa, jelas ada sebuah percakapan di sana tapi Winnie tak dapat mendengarnya karena jaraknya terlalu jauh.


Hanya saja setelah itu ia melihat Nagisa menerima sebuah tamparan yang keras, lalu mereka bergantung memukul dan menendang Nagisa hingga ia tumbang.


Winnie tahu ia tak perlu berurusan dengan masalah Nagisa, tapi ia paling tak bisa membiarkan hal seperti ini. Ia tak bisa melihat Nagisa yang tak berdaya seperti Yumna dalam menghadapi ketidak adilan, itu membuatnya marah bukan pada pembully tapi pada Nagisa yang tak memiliki keberanian.


Berjalan cepat Winnie menghampiri mereka dan tanpa peringatan menjambak rambut salah satu dari pembully.


Aaaaa... aaa...

__ADS_1


"Sakit... lepaskan!" rengeknya.


Kehadiran Winnie yang tak di duga tentu saja membuat Nagisa terkejut, ia menatap Winnie tanpa bergeming.


"Siapa kau? lepaskan dia!" perintah yang lain.


Mereka mencoba melepaskan temannya tapi hanya dengan satu tangan Winnie dapat memukul mereka hingga terjatuh, tentu saja itu membuat nyali mereka seketika menciut terlebih tak ada ekspresi di wajah Winnie.


"Untuk inikah kau meminta uang?" tanya Winnie kepada Nagisa.


Nagisa tak bisa menjawab, ia malah menundukkan kepala yang membuat Winnie semakin jengkel.


"Angkat kepala mu bodoh!" seru Winnie yang membuat Nagisa cepat menatapnya.


"Selama ini kau pasti lelah bukan? bekerja keras namun tak pernah menghasilkan apa-apa, lalu kenapa kau teruskan? kemari!" perintah Winnie.


Perlahan Nagisa bangkit dan mendekat.


"Pukul dia," perintahnya yang membuat Nagisa kaget.


Tangannya bergetar sehingga harus ia kepal kuat-kuat, sementara matanya bergantian menatap Winnie dan pembully yang seakan berkata 'jangan macam-macam'.


"Kenapa? kau tidak berani?" tanya Winnie.


"Jika kau tidak bisa lakukan demi dirimu maka lakukan demi ibumu," ucap Winnie.


Ini hal yang berbeda, kasih sayang Nagisa sangat besar untuk ibunya sampai Winnie dapat melihatnya. Ia tahu Nagisa adalah anak yang akan melakukan segalanya demi ibunya.


"Mereka tidak merepotkan mu tapi ibumu, setiap uang yang dihasilkan ibumu dengan kerja keras bukan untuk mu tapi untuk mereka. Ibumu yang sebenarnya sudah tak mampu bekerja bahkan menahan sakit setiap hari demi mereka agar dapat bersenang-senang, bukan untuk mu putri tercintanya."


Seketika Nagisa dapat melihat bagaimana perjuangan ibunya selama ini, kakinya yang penuh lecet, bahu dan pinggangnya yang selalu di tempel koyo dan bau keringat yang bercampur polusi.


Aaaaaaaaaa...


Jeritan itu mengawali kepalan tangan Nagisa yang keras.


Buk


Satu pukulan ia layangkan tepat di pipi pembully, melihat amarah besar yang selama ini terperangkap Winnie melepaskan pembully itu dan membiarkan Nagisa melepaskan iblis dalam jiwanya.


Hanya butuh beberapa menit dan Nagisa sudah selesai dengan tiga pembully, melihat Nagisa yang bagai monster tentu saja mereka kabur dalam keadaan bonyok.


Sementara Nagisa tersungkur karena lelah, nafasnya yang masih terengah-engah ia coba atur hingga tinggal menyisakan tenggorokan yang kering.

__ADS_1


Winnie kemudian mengajaknya ke supermarket terdekat, sambil duduk di luar Winnie membiarkan Nagisa tenang dengan segelas susu dingin dan coklat.


"Terimakasih," ujar Nagisa pelan.


"Jika besok mereka masih merundungmu pukul saja mereka lagi, jika mereka melapor pada sekolah atau polisi telepon aku."


"Kenapa.... kau menolongku?" tanya Nagisa.


"Aku benci orang lemah seperti mu," sahut Winnie singkat.


"Apakah kau percaya jika aku pernah mengalami kehidupan seperti yang kau jalani sekarang?" tanya Winnie.


Nagisa menggeleng, bagaimana mungkin ia dapat berfikir Winnie pernah hidup susah? Winnie memiliki kecantikan yang luar biasa dengan kulit putih terawat.


Caranya bicara dan bertindak sama sekali tidak mencerminkan orang susah malah sebaliknya.


"Selama sembilan belas tahun aku hidup bersama kedua orangtua ku di gubuk yang berdampingan dengan tikus dan kecoa, selama itu pun aku menjadi pelayan anak orang kaya. Tapi aku tidak pernah di pukul atau di peras, kau tahu kenapa?"


"Kenapa?" tanya Nagisa.


"Karena aku menggunakan otak ku, di dunia ini tak ada yang mau jadi pelayan. Sekalipun berada di bawah dan harus menundukkan kepala aku tidak akan pernah menerima penindasan," jawabnya.


Nagisa tersenyum kecut, mungkin saja cerita Winnie benar tapi kasusnya berbeda. Nagisa bukan anak yang pintar sehingga ia tak punya prestasi di sekolah.


"Orang-orang itu, mereka menindasmu karena kau tidak melawan. Jika kau terus seperti ini maka sampai mati pun tak ada yang berubah, kau harus berani melawan mereka tak peduli kau kalah jumlah atau bahkan kau tahu kau taka akan menang. Mati dengan perlawanan lebih terhormat dari pada menyerah atau hidup dalam kekang," ujarnya.


"Kau tidak mengerti," ucap Nagisa pelan namun sarat akan kebencian.


"Mungkin itu mudah bagimu tapi tidak bagiku!" serunya.


Air mata segera mengalir di pipi Nagisa, kesedihan dan keputusasaannya kembali muncul hingga benaknya menghadapi tembok besar.


"Apa maksud mu? kau tadi berhasil melakukannya," ujar Winnie yang membuat tangis Nagisa berhenti.


Ia baru sadar bahwa baru saja membalas perlakuan para pembully itu dengan tangannya sendiri.


"Aku tahu hidup sangat tidak adil sampai kau merasa ingin mati, tapi kau harus tetap hidup demi ibumu. Pasti kalian memiliki banyak hal yang ingin di lakukan bersama sambil tertawa," ujar Winnie kini dengan senyuman yang bagai malaikat.


Memukau Nagisa hingga tak hanya tangisnya yang berhenti tapi menimbulkan rasa nyaman dan tenang.


"Pulang dan beristirahatlah, besok kau masih harus bekerja. Dan panggil aku kakak!" seru Winnie yang sedikit kesal karena Nagisa kurang sopan kepadanya.


"Baik kak Winnie," sahutnya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kau cepat belajar," komentar Winnie puas.


__ADS_2