
Sejak melihat sosok Winnie di pesta pernikahan ia mulai berhalusinasi melihat Winnie di segala tempat dan kesempatan, ini membuatnya benar-benar frustasi sampai Nagisa menyarankannya untuk pergi ke dokter.
Tentu saja setelah di cek Aslan terlalu banyak minum sehingga ia mulai berhalusinasi, jika tidak ingin semakin parah ka harus mau minum obat dan berhenti minum.
Tapi itu hanya bekerja sebentar saja, bayangan sosok Winnie kembali muncul tak hanya dalam mimpi tapi juga menjadi kenyataan.
Nagisa yang mulai prihatin mengajaknya ke psikiater tapi ia menolak karena itu tidak membantu, dengan marah Nagisa pun menyuruhnya untuk kembali hidup normal jika tidak ingin pergi psikiater lagi.
Awalnya Aslan tak peduli, tapi Nagisa rupanya sangat rajin memarahinya sehingga ia pun mulai mengerjakan apa yang gadis itu perintahkan.
Ia juga mulai mengambil pekerjaan kembali sebagai arsitek, saat ia harus terbang ke luar negri untuk pakerjaan itu semua mendukungnya.
Bahkan Carl menawarkan diri untuk menemani, tapi Aslan menolak dan berkata ia akan baik-baik saja.
Ini adalah kali pertama setelah sekian lama ia mengurung diri, tentu saja jantungnya berdebar dengan cukup kencang karena gugup.
Tapi untunglah semuanya berjalan dengan baik, di bandara ia sudah di sambut oleh orang perusahaan yang membawanya ke hotel terlebih dahulu.
Setelah cukup beristirahat ia pun di jemput untuk ke kantor dan menemui rekan bisnisnya, disana mereka bicara panjang lebar tentang gedung yang akan ia bangun.
Setelah mencapai kesepakatan akhirnya mereka pergi ke lokasi pembangunan, tempatnya cukup strategis dan bahkan tekstur tanahnya mendukung untuk pembangunan.
"Aku akan segera merancangnya," ujar Aslan sebelum mereka berpisah.
Biasanya ia akan pulang untuk mengerjakan tugasnya baru kembali setelah selesai, tapi kali ini ia memutuskan akan mengerjakannya di negara itu sambil mencari suasana baru.
Pagi hari ia mulai dengan jogging setalah itu sarapan dan mulai bekerja, jika sudah lelah atau bosan ia akan pergi jalan-jalan ke tempat wisata atau klub.
Omelan Nagisa rupanya berbuah manis, ia sudah hampir lupa pada Winnie karena terlalu fokus bekerja. Sampai akhirnya ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, setelah pekerjaan selesai rupanya negara itu memiliki daya tarik yang membuat Aslan betah.
Ia pun memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi, bertemu dengan banyak orang baru malam itu ia pergi ke klab bersama teman-teman barunya.
"Ini adalah tempat terbaik di kota ini," ujar temannya.
"Sungguh?" tanya Aslan.
"Gadis-gadisnya sangat cantik, tak hanya itu minuman di sini juga punya kualitas dan rasa yang paling enak. Cobalah!" jelasnya sambil memberikan satu gelas minuman yang telah di pesan.
__ADS_1
"Aaah.... kau benar! minumannya luar biasa," ujar Aslan setelah meneguknya.
"Iya kan? katanya semua klab di kota ini memiliki cita rasa minuman yang sama karena mereka mengambil barang dari satu orang yang sama," jelasnya.
"Begitu ya," sahut Aslan.
"Hei ayo kita menari!" ajak temannya itu kemudian.
Ia berjalan lebih dulu ke lantai dansa, Aslan yang hanya ingin minum menonton dari pinggir bagaimana teman barunya itu menari dengan lincah mengikuti irama musik.
"Tolong satu gelas lagi," pinta Aslan setelah minumannya habis.
Mengangkat gelas untuk tegukan yang kedua di sebarang lantai dansa ia melihat seorang wanita yang mirip Winnie berjalan menaiki tangga bersama banyak pria yang mengikuti, menggelengkan kepala bahkan mengucek matanya ia mencoba mengecek apakah penglihatannya benar.
Wanita itu tak berubah wujud, artinya ia memang melihat Winnie. Ingin melihat lebih jelas ia kemudian segera pergi menaiki tangga, tiba di lorong panjang dengan banyak ruangan ia melihat setiap pintu di jaga ketat.
Sayang ia tak tahu kemana wanita yang mirip Winnie itu masuk, yakin tak mungkin diijinkan untuk masuk Aslan pun memilih untuk menunggu di bawah.
Dua jam berlalu matanya tak pernah melepaskan pandangan dari tangga itu, sampai akhirnya sebelum tengah malam ia melihat wanita itu turun bersama para pria yang tadi.
Door
Sebuah suara tembakan mengagetkan mereka, melihat wanita itu menunduk dan di lindungi Aslan berjongkok dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Rupanya mereka di serang oleh sekelompok pria bersenjata api, adu tembak pun tak dapat dihindari. Sebisa mungkin para pria itu melindungi wanita yang mirip Winnie, sampai akhirnya satu pria mengajaknya untuk lari dari tempat itu.
Aslan mengikuti kemana mereka pergi, tapi sayangnya mereka di kejar dengan menggunakan sepeda motor sehingga mereka kalah cepat.
Karena kehabisan peluru peraturan bebas pun terjadi, wanita itu terlihat melawan dengan sangat baik namun mereka kalah jumlah.
"Nona pergilah! biar aku yang urus mereka!" seri pria itu sambil terus menghajar lawan yang berdatangan.
Wanita itu pun pergi tanpa ragu, Aslan kembali mengikuti. Tapi setelah beberapa kilo meter dia diserang oleh banyak pria, tak bisa berdiam saja kini Aslan datang menolong.
Hiyaa.... buk buk buk
Tiga musuh tumbang sekaligus hanya dengan beberapa pukulan.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Aslan.
Sally terpaku, bagai mimpi di siang bolong pangerannya datang untuk menyelamatkan hidupnya.
"Ya," sahutnya pelan.
"Awas!" seru Sally melihat musuh kembali berdatangan.
Merentangkan tangan melindungi Sally kemudian Aslan menghajar satu persatu musuh yang datang, meskipun mereka memakai senjata seperti belati dan pisau tapi mereka kalah dengan cepat.
Sementara Sally memperhatikan dari pinggir, pertemuan mereka yang tak terduga itu telah mengguncangnya dengan begitu hebat lebih dari ancaman yang datang tiba-tiba.
Semua musuh akhirnya tumbang, berjalan mendekati Aslan rupanya Sally melewatinya karena tujuannya untuk melihat siapa yang berani menyerangnya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Sally.
"Haha... aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun," jawab orang itu.
Sally bukanlah orang yang sabar, tak mendapat jawaban dengan satu kali bertanya tanpa ragu ia menghabisi orang itu dengan belati.
Satu tusukan tepat di leher membuatnya mati dengan cepat, sementara Aslan membatu karena tak percaya wanita itu melakukannya dengan mudah.
Bahkan saat Sally menoleh padanya ia melihat sorot mata dingin tanpa emosi, sangat berbeda jauh dengan Winnie yang bahkan dalam kekejamannya tidak berdarah dingin.
"Siapa kau?" tanya Aslan.
"Tidak kah kau mengenal ku?" tanya Sally dengan nada aneh.
Aslan mengerutkan dahi, sebuah nama Winnie hampir keluar dari mulutnya namun Sally keburu berkata.
"Nona Sally, atau orang-orang lebih senang dengan julukan mawar beracun. Kau pasti pernah mendengarnya di suatu tempat atau kapan pun itu."
Aslan menggeleng perlahan, ia sama sekali belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Aneh sekali... aah... kau turis ya?" tebak Sally sembari tersenyum.
Senyum yang mematikan, bukan karena menggoda namun terlihat datar. Senyum yang biasa di miliki seorang psikopat.
__ADS_1