Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 113 Saling Menghukum


__ADS_3

Nama Nona Sally akhirnya terkenal, saat nama itu di sebut akan terbayang seorang wanita cantik nan anggun. Bibirnya selalu memakai lipstik merah merona, tersenyum menggoda.


Matanya menatap tajam seakan akan membawa yang ditatapnya pada dunia imajinasi, kecantikan yang paripurna membuat setiap pria berfantasi tentangnya.


Tapi kecerdasan yang sesungguhnya lebih melengkapi kehadirannya, alasan sesungguhnya dari ketenaran yang cepat melejit.


Bersamaan dengan kekejaman yang membuatnya di juluki mawar beracun, itu karena ia tak segan menghabisi siapa pun yang berani menentangnya.


Bahkan jika kau setia sekalipun Nona Sally bisa saja membunuhmu hanya karena suasana hatinya sedang buruk, karena itu orang-orang berlomba menjadi boneka kesayangan Nona Sally sebab hanya bonekanya yang akan ia manjakan.


Setiap ada pesta Nona Sally akan menjadi tamu kehormatan, dan ia memang selalu datang ke pesta macam apa pun.


"Nona Sally datang!" seru seseorang menatap mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk.


Semua mata tertuju pada lubang pintu itu, tak ingin berkedip sedikit pun sebab momen saat Nona Sally turun dari mobilnya sangatlah anggun. Kakinya yang panjang dengan kulit putih mulus menapak pada karpet merah yang digelar.


Saat ia keluar dress pendek sepaha berkilau kareja terkena cahaya, bibir merah merona yang tersenyum membuat semua mata meleleh bahkan wanita sekalipun kagum akan kecantikannya.


Disampingnya Philip mengulurkan tangan dan menggandeng Nona Sally masuk, si tuan rumah segera menyambut kedatangan mereka.


Menuntun mereka pada satu ruangan khusus dia atas, terdapat sofa empuk untuk mereka duduk yang berwarna merah juga.


Setelah mereka duduk si empunya pesta menuangkan minuman untuk Nona Sally dan Philip, mereka bersulang dan menikmati pesta.


Dari balik kaca besar yang berada tepat di depan mereka Nona Sally melihat bagaimana penari tiang beraksi, sorakan yang tak mau kalah dengan musik membuatnya tersenyum.


"Dari mana kau dapat penari itu?" tanyanya.


"Oh ada rumah bordir yang menyediakannya, dia adalah penari yang paling bagus di kota ini."


"Dia memang menari dengan bagus," ujar Sally setuju.


Si tuan rumah tersenyum puas, ia senang dapat membuat Nona Sally menikmati pestanya.


"Nona... kita sudah bekerja sama cukup lama, melihat bisnis kita yang terus berkembang bagaimana kalau kita kirim barang ke luar negri juga?" tanyanya dengan hati-hati.


"Ide bagus, kau punya kenalan?" sahutnya.


"Ya, aku jamin kita tidak akan merugi."


"Kalau begitu aku akan berikan barang yang paling bagus kepadamu," ujarnya.


"Terimakasih Nona, anda sangat murah hati," ucapnya sembari bersujud di bawah kaki Sally.


Tindakan itu menggelitik hati Sally sampai ia tertawa, ia sudah biasa di puja dan menjadi ketagihan melihat secara langsung orang-orang tunduk kepadanya.


"Sudah, bangunlah! kau bisa keluarkan gadis-gadis mu," ujarnya.

__ADS_1


"Baik," sahutnya.


Ada satu peraturan tak tertulis jika ingin bernegosiasi dengan Nona Sally, saat kau menginginkan sesuatu darinya maka buatlah dia senang dulu seperti mengadakan pesta. Sebelum kau berhasil jangan pernah membiarkan gadis-gadis panggilan masuk untuk melayani karena itu akan merusak suasana hati Sally.


Karena telah mendapat ijin maka ia pun memerintahkan anak buahnya untuk membawa banyak gadis cantik masuk, mereka sangat tahu tugas mereka sehingga dengan cekatan segera menuangkan minum bahkan ada juga yang langsung bermain.


"Tuan, bolehkah saya tuangkan minuman untuk anda?" tanya seorang gadis yang berlutut di samping Philip.


Hanya ada satu gadis yang Philip sukai dan itu adalah Sally, meskipun banyak gadis cantik yang mencoba mendekati dan merayu tapi Philip tak pernah bernafsu.


Namun gadis itu berbeda, Philip menyukai wajah polosnya dan senyum manisnya. Mengingatkannya pada Sally dulu yang masih menjadi Winnie, gadis yang tertawa sendiri seperti anak kecil saat bermain di pantai.


"Mm," angguk Philip.


Wajah gadis itu berbinar dan segera menuangkan minuman, diantara semua bos yang hadir tentu saja semua gadis sebenarnya hanya ingin melayani Philip.


Selain karana ia tampan dan masih muda juga karena ia yang paling berpengaruh dan kaya.


"Permisi Nona," ujar Juan menghampiri.


Kemudian ia membisikkan sesuatu pada Sally yang membuat raut wajahnya segera berubah keras, sambil berdiri dia melepas anting-anting berlian di telinganya.


"Layani tunangan ku dengan baik," ujarnya sambil menyerahkan anting-anting itu kepada gadis yang menuangkan minuman untuk Philip.


"Kau mau pergi?" tanya Philip.


Terperangkap dalam rasa bersalah karena telah mengkhianati Aslan hampir setiap hari ia mencari seseorang atau sesuatu untuk melampiaskan kemarahan, pada akhirnya ia juga mencari seseorang yang harus disalahkan karena kesalahannya.


Ia memerintahkan Juan untuk mencari orang yang telah menjualnya, dari pelelang yang saat itu menjualnya akhirnya Juan mendapatkan apa yang Sally cari.


Mobil berhenti tepat di dermaga, dikawal oleh beberapa bodyguard Sally masuk ke sebuah kapal pesiar. Diantara banyaknya ruangan Juan menuntun Sally masuk ke dalam satu ruangan yang besar, disanalah Diana berada.


Dengan tangan dan kaki terikat matanya terbelalak melihat Sally berjalan masuk.


"Winnie... kau masih hidup?" tanyanya.


Ia tersentak, matanya tiba-tiba kosong saat nama itu disebut. Entah sudah berapa lama ia tak mendegar nama itu disebut untuk memanggilnya.


"Tidak... Winnie sudah mati, bukankah kau yang membunuhnya?" ujarnya.


Diana terdiam kebingungan, ia ingat sebuah berita menampilkan jasad dengan identitas Winnie. Bahkan ia juga hadir dalam prosesi pemakamannya, sudah hampir setahun berlalu sejak kematian itu tentu saja ia pikir Winnie benar-benar mati.


Tapi gadis yang berdiri tepat dihadapannya sangatlah mirip Winnie, meskipun dengan riasan dan aura yang berbeda.


"Kau memalsukan kematian mu," ujar Diana.


"Nama ku Sally, aku adalah dewi pisau yang akan memghukum mu. Jika kau ingin keringanan katakan alasan mu menculik dan menjual Winnie," sahutnya.

__ADS_1


"Ini adalah hukum karma, kau membunuh suami dan putraku bagaimana bisa aku membiarkan mu hidup tenang?!" seru Diana dengan amarah yang membara.


Jadi inilah alasan yang sebenarnya, alasan yang menjadi takdir Nona Sally.


"Diana... betapa kita saling memghukum satu sama lain, Jack sudah menyewa seseorang untuk membunuh ibuku dan menculik ku saat bayi. Tentu aku akan membalas dendam, sementara Leo hanya korban dari kebencian kami. Kini kau membalas karena merasakan rasa sakit ku, kini kau paham mengapa aku membunuh Jack."


Ada kelingan air mata jatuh di pipi Sally saat mengenang kehidupan Winnie yang di penuhi balas dendam, betapa Dewa benar-benar mengabulkan permintaannya untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah berlaku tidak adil.


"Kenapa suamiku harus melakukan itu? pasti ada alasannya," tanya Diana.


"Ya, dia menyukai ibuku bahkan sudah menidurinya. Saat ibuku hamil dia pikir aku adalah anaknya, bukankah itu konyol? saat tahu bahwa aku darah daging Brian dia marah besar sampai melakukan semua itu," jelas Sally.


Diana terdiam, rupanya benar bahwa Jack memang menyukai Maya. Sebenarnya ia sudah curiga sebab Jack terlihat sering memperhatikan Maya, apalagi saat Maya sedang mengandung.


Padahal saat itu ia juga sedang hamil tapi Jack sama sekali tak peduli, kini ia tahu apa alasannya.


"Juan, bawa dia ke penangkaran," perintah Sally.


"Tidak! tunggu! apa yang mau kau lakukan?" jerit Diana meronta.


Tentu saja apa pun yang ia lakukan tak ada artinya, dua bodyguard Sally membawanya ke penangkaran ikan hiu. Disana Sally kemudian menggores luka di kedua tangan Diana.


"Ini balasan ku karena kau adalah dalang di balik hidupku yang menderita," ujar Sally.


Dengan isyarat Sally memerintahkan untuk melempar Diana ke dalam air.


"Tidak! aku mohon!" jerit Diana.


Byuurr...


Blubub Blubub...


"Bruuhh... to... long..aaaaa... "


Suara cipratan air begitu kencang saat peliharaan Sally menyerbu tubuh Diana dengan membabi buta, memotong setiap bagian tubuh dengan taring yang tajam.


Darah mulai menyembur yang membuat warna air berubah menjadi merah, sudah tak terdengar suara pilu Diana lagi Sally pun memutuskan untuk pulang.


Membersihkan seluruh tubuh dengan mandi untuk menyegarkan diri nyatanya hatinya tetap saja murung, berbaring di atas ranjang yang empuk air mata terus keluar tanpa henti.


Ceklek


Pintu kamar di buka, Philip masuk untuk memeriksa keadaan tunangannya itu setelah mendengar laporan Juan.


"Sayang... kau baik-baik saja?" tanya Philip lembut sambil mengelus rambut Sally.


Tiba-tiba Sally bangkit dan langsung memeluk Philip, tangisnya semakin kencang dengan air mata yang semakin deras keluar juga.

__ADS_1


"Tidak.... aku tidak baik-baik saja... " sahutnya ditengah isak tangis.


__ADS_2