
Seminggu sekali Brian berkunjung di temani Roy, ia membawa beberapa album berisi foto-foto keluarga Wilson. Satu tahun sepeninggal Maya Brian telah menikah lagi dengan seorang wanita bernama Camila, ada cerita memalukan di balik pernikahan itu yang Brian akui hanya kepada Winnie.
Kepergian Maya yang begitu mengenaskan membuatnya cukup stress sampai hampir setiap malam ia menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan, suatu malam saking mabuknya Brian sampai berhalusinasi melihat Camila sebagai Maya mendiang istrinya dan hubungan pun terjadi.
Tak disangka dari kejadian itu Camila mengandung anak Brian, dalam usia kandungan yang menginjak tiga bulan Brian pun mempertanggungjawabkan kesalahannya.
Anak itu yang tak lain adalah saudara tiri Winnie hanya berbeda kurang satu tahun saja dengannya dan bernama Nicki, setelah Winnie kembali ke kediaman Wilson Brian harap mereka dapat akur.
Jika di pikir lagi kehidupan Winnie dan Yumna tak jauh berbeda, mereka sama-sama memiliki ibu dan saudara tiri bahkan ibu kandungnya meninggal dengan cara yang mengenaskan.
Ini semakin memperkuat tekadnya untuk membalaskan dendam pada orang-orang yang membuat hidupnya tak beruntung. Diam-diam Winnie mencari informasi tentang keluarga Wilson, apa pun itu termasuk gosip akan ia kumpulkan.
Bekerja keras untuk kelulusan dan mencari informasi akhirnya tahun terakhir di SMU itu berlalu dengan cepat, mendapat libur dua minggu sebelum ujian Winnie melupakan kesenangannya dalam melepas masa remaja.
Andai Aslan tak mengajaknya berkemah maka selama dua minggu itu Winnie akan menghabiskan waktu mengurung diri di kamar.
Pagi sekali Aslan sudah menjemput dan meluncurlah mereka ke pedesaan, butuh waktu enam jam untuk mereka sampai dengan mengebut.
Winnie yang sudah tak sabar melihat asrinya pemandangan alam liar hanya bisa terpaku menatap sebuah bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya setelah sampai.
"Jangan bilang kita akan menginap di sini!" seru Winnie.
"Kenapa?" tanya Aslan sambil membawa barang-barangnya.
"Aslan ini sebuah vila! kau bilang kita akan berkemah!" protesnya.
"Memang benar, lalu?" tanya Aslan lagi dengan wajah polos.
"Bukan berkemah namanya jika kita tidur di vila!" seru Winnie lagi kesal.
Tersenyum nakal Aslan mendekat hingga membuat Winnie gugup akan tatapan yang hanya tertuju padanya itu.
"Jadi kau lebih suka kita tidur di satu tenda yang sama di tengah hutan?" tanya Aslan dengan setengah berbisik yang membuat otak Winnie traveling.
"Tidak begitu!" bantah Winnie melepaskan diri.
Berjalan meninggalkan Aslan di belakang Winnie membawa barangnya sampai ke teras, jika di perhatikan lagi vila itu indah dan nampak nyaman.
__ADS_1
Berada di pinggiran hutan Winnie tahu mereka bisa menyisir sekitar untuk menghabiskan waktu dengan berpetualang.
"Katanya kita bisa melihat pemandangan indah di puncak gunung, jika kau mau lihat besok pagi kita harus bangun sebelum matahari terbit," ujar Aslan sambil membuka kunci.
Memimpin jalan di depan ia menunjukkan seluruh ruangan yang ada di dalam, dan tepat di belakang ada kolam renang dengan pemandangan taman bunga yang cukup indah.
"Aku sudah minta pengurus vila untuk menyediakan makanan setidaknya untuk seminggu," ujarnya saat mereka masuk ke dapur dimana pintu sampingnya mengarah langsung ke kolam renang.
Winnie membuka kulkas dan mendapati banyak bahan masakan seperti ikan, daging hingga sayuran yang cukup lengkap.
"Untuk sekarang kita istirahat dulu," ujar Aslan.
Berjalan ke lantai dua Aslan membukakan satu pintu kamar dan menaruh barang-barang Winnie di sana, itu adalah kamar yang bagus dan Winnie menyukainya sebab ada balkon yang membuatnya bisa menikmati pemandangan dari atas.
"Kamar ku yang di ujung itu, jika butuh sesuatu panggil saja aku," ujar Aslan sambil menunjuk pintu kamar yang langsung terlihat dari pintu kamar Winnie.
"Baiklah, selamat beristirahat," ucap Aslan kemudian pergi.
Setelah menutup pintu Winnie mulai membereskan barangnya, melihat perlengkapa berkemah yang ia bawa seperti senter dan korek api membuatnya merasa bodoh.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, matahari masih bersinar dengan terang. Pergi ke balkon Winnie menikmati suasana yang hening dan nyaman, tepat di bawahnya ia bisa melihat kolam renang dan hutan lebat di balik pagar tinggi vila.
Tak ada suara deru mobil atau hiruk pikuk kesibukan kota membuat Winnie mengingat suasana damai di kediaman Mo, betapa dunia tempat Yumna hidup pun begitu damai. Meski ia pergi ke pasar yang terdengar hanya teriakan para pedagang yang menjajakan dagangannya, sama seperti vila ini tempat itu pun sangat damai.
"Aku tidak ngantuk, sebaiknya apa yang ku lakukan?" gumamnya.
Terlalu berbahaya untuk berkeliaran seorang diri di luar vila Winnie akhirnya pergi ke ruang baca, tempat itu hanya sebuah ruang kecil berisi rak buku yang tak begitu banyak.
Mengambil salah satu buku ia mulai membacanya, tak di sangka ternyata buku-buku itu cukup menarik sampai membuatnya lupa waktu.
Saat melirik jam rupanya sudah pukul lima sore, sebentar lagi waktu makan malam tiba dan Winnie harus cepat menyiapkannya.
Ia pun pergi ke dapur dan membuka kulkas, tapi begitu melihat banyaknya bahan masakan tiba-tiba ia merasa bingung harus membuat apa.
"Mungkin sebaiknya aku tanya Aslan dia ingin makan apa," gumamnya memutuskan.
Naik ke atas Winnie segera mengetuk pintu Aslan, tak ada jawaban. Ia kembali mengetuk sambil memanggil tapi masih tak ada jawaban, heran dan penasaran Winnie masuk ke dalam sebab ternyata pintu kamar itu tak di kunci.
__ADS_1
"Aslan!" serunya memanggil.
Memperhatikan isi kamar itu Winnie dibuat menggelengkan kepala melihat pakaian Aslan yang berantakan di atas kursi, tak tahan ia segera membereskannya.
"Semua laki-laki sama saja," gerutunya mengeluh akan sifat jorok.
"Kau sedang apa?" tanya Aslan kaget melihat Winnie di dalam kamarnya.
"Oh, a-aku... " Winnie hendak menjawab tapi seketika otaknya gelap melihat tubuh sixpack Aslan yang hanya terbalut handuk dari pinggang sampai lutut.
Berjalan mendekat sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil Aslan kembali bertanya "Ada apa?."
"Ah i-itu... sebentar lagi makan malam, kau ingin ku buatkan apa?" tanya Winnie segera balik badan untuk mengontrol pikirannya.
Tentu saja Aslan sadar kemana arah mata Winnie tadi, tersenyum nakal Aslan malah lebih mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada punggung Winnie.
"Apa pun yang kau masak aku suka, tapi jika kau ijinkan aku ingin melahap mu saja," bisiknya tepat di telinga Winnie.
Blush
Tetesan air yang jatuh di leher Winnie dari rambut Aslan seakan menyiram tubuhnya yang memanas.
"Kalau begitu akan ku buatkan burger dan salad," ujar Winnie cepat sambil berputar hendak pergi.
Tapi Aslan malah menarik tangannya dan menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang, berada di atas Winnie sialnya pandangan Aslan tertuju pada dada Winnie yang kembang kempis tak beraturan.
Saat ini, detik ini, ia jadi ingin benar-benar melahap gadisnya. Menggenggam kedua tangan Winnie perlahan ia menundukkan wajah, mendekati leher Winnie yang jenjang ia mulai membuka mulut dan melahap kulit mulus itu.
Sentuhan itu tentu saja membuat Winnie mengerang lembut, membuat Aslan semakin bersemangat lagi untuk melakukan yang kedua kalinya.
Tapi begitu melihat ekspresi Winnie yang tak bisa menahannya tiba-tiba ia berkata "Apa aku harus membatalkannya?."
"Apa?" tanya Winnie menatap dengan wajah memerah.
"Tidak, burger dan salad boleh juga," sahutnya sambil tersenyum hangat.
Melepaskan Winnie ia bangkit dan mengambil salah satu kaus yang menumpuk di atas kursi. Sementara Winnie bingung apa maksud perkataan Aslan, dari ekspresi dan nada bicaranya ia merasa yang Aslan maksud adalah hal lain.
__ADS_1