Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 51 Kembar


__ADS_3

Ingatannya yang serapuh kayu lapuk kembali segar seketika, kenangan berpuluh-puluh tahun silam tentang kebahagiaan tiba-tiba membuat air mata mengalir di pipinya.


Matanya yang jelas mulai rabun semakin sulit menatap akibat air mata itu, maka di hapusnya segera air itu untuk meneliti setiap jengkal dan lekuk wajah Winnie.


Tangannya yang kurus keriput gemetar saat terangkat untuk kemudian menyentuh pipi Winnie, setelah di perhatikan dengan seksama ia menemukan banyak kesamaan antara wajah Winnie dan Maya.


"Cucuku.... bagaimana.. mungkin?" tanya oma kini dengan suara parau.


"Aku selamat oma, pasangan Martius mengadopsi ku sampai aku lulus SMU. Lalu ayah berhasil menemukan ku dan mengajak ku pulang," sahut Winnie menyingkat cerita kehidupannya.


Butuh beberapa menit bagi oma untuk meluapkan kerinduan dan kebahagiaannya dalam bentuk tangis, setelah puas dia baru menyuruh mereka untuk masuk.


Kini oma yang berubah lembut dan baik menghidangkan teh hangat agar mereka merasa nyaman di rumah tua yang dingin, Deborah yang sudah gatal tak bisa menahan rasa penasarannya lagi dan bertanya tentang keluarga oma.


Apa yang telah mereka terka rupanya benar, oma memiliki anak kembar yakni Maya dan Miya. Sayang Miya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis saat ia mengikuti ajang kecantikan, kemudian Maya menyusul beberapa tahun dengan kematian yang tak kalah menyedihkannya.


Kenangan buruk itu membuat oma kembali menangis, membuat mereka ikut sedih dan memutuskan akan menyelidiki lain kali.


Sebab malam semakin larut akhirnya mereka memutuskan untuk menginap, itu juga atas dasar permintaan oma.


"Maaf oma hanya bisa memberikan kamar jelek ini," ujar oma menuntun mereka pada satu kamar yang tersisa sebab rumah itu hanya memiliki dua kamar.


"Ini sudah bagus oma, tempatnya rapih dan bersih," sahut Winnie.


"Kalian istirahat lah, kalian pasti lelah habis perjalanan jauh," perintah oma.


Winnie dan Deborah masuk, meski kamarnya tentu hanya seukuran kamar mandi mereka tapi tempatnya cukup nyaman.


Melihat kedua gadis itu oma kembali sedih sebab teringat akan kedua putrinya, sebenarnya kamar itu pun bekas kamar Maya dan Miya.


Oma hanya seorang ibu rumah tangga biasa sementara suaminya adalah tentara, setelah pensiun tak berapa lama ia meninggal dan tinggallah mereka bertiga.


Meski hidup serba berkecukupan tapi mereka berhasil tumbuh menjadi gadis yang tak hanya cantik, sehat tapi juga cerdas.


Ini di buktikan oleh Miya yang dapat mengikuti ajang kecantikan, andai kecelakaan itu tak pernah terjadi ia pasti sudah keluar menjadi juara dan hidup layak sebagai model.


Di lain sisi Maya yang lebih pendiam dan tak suka terekspos memilih kuliah dan setelah lulus bekerja di sebuah perusahaan, memasuki tahun kedua dalam pekerjaan ia bertemu Brian dan menjalin hubungan.


Hanya selama setahun pacaran mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, inilah puncak kebahagiaan oma memiliki keluarga di tengah gempuran nasib buruk keluarga.


Apalagi saat Maya mengumumkan bahwa ia tengah hamil muda, oma semakin senang dan selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Wilson untuk memanjakan putri serta cucunya yang masih dalam perut.

__ADS_1


Tak disangka nasib buruk pun ikut menimpa Maya juga, kematiannya yang janggal dan mengenaskan terlalu mengerikan untuk diterima akal oma.


Ia sangat terpuruk hingga menyalahkan Brian atas tragedi itu, semakin hari semua kematian orang tercintanya semakin menyiksa oma sehingga membuatnya menjadi nenek-nenek dengan tempramen buruk.


Winnie dan Deborah yang mendengar kisah pilu itu di pagi hari saat mereka sedang sarapan mengucapkan belangsungkawa yang sedalam-dalamnya, oma hanya tersenyum mendengarnya sebab ia sudah terbiasa akan ucapan yang baginya tak berarti.


"Tapi bagaimana Brian bisa menemukanmu?" tanya oma penasaran.


"Paman Roy melakukan penyelidikan dari selimut bayi yang ikut hilang bersama ku, tentu butuh usaha keras baginya sampai akhirnya menemukan ku. Paman Roy melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa aku memang darah daging ayah," jelas Winnie.


"Hhhh... jaman sekarang sangat canggih, andai dulu sudah secanggih ini mungkin kematian Miya pun dapat terjawab meski butuh waktu lama," gumam oma.


Winnie dan Deborah saling menatap, jelas memang ada sebuah kejanggalan dalam kecelakaan itu.


"Maaf oma, tapi apa oma mengingat sesuatu yang janggal? misalnya sebelum kecelakaan itu terjadi Miya terlihat aneh atau hal lainnya," tanya Deborah.


"Entahlah, rasanya semuanya baik-baik saja. Tapi memang perasaan ibu tak bisa di bohongi, saat Miya berpamitan untuk pergi rasanya oma tak rela melepaskan kepergiannya. Selain itu pernah oma memergokinya menangis tanpa sebab di tengah malam," sahutnya.


Terus mencari informasi dari oma Deborah benar-benar tidak melewatkan hal sekecil apa pun, membuat Winnie kagum akan ketelitiannya.


"Aku akan memeriksa agensi itu," ujar Deborah saat mereka hanya berdua.


"Winnie aku punya firasat ibu tirimu memang terlibat dalam kasus kematian bibimu, jika dia berhubungan bisa jadi kematian ibumu juga ada hubungannya dengannya. Dia masuk dalam kehidupan ayahmu tepat di tengah keadaan yang buruk," ucap Deborah berfikir.


"Aku percayakan padamu," balas Winnie.


Tak bisa terus tinggal mereka pamit pada oma dan berjanji akan berkunjung lain kali, tentu oma akan sangat menantikan kunjungan lainnya.


......................


"Dia belum pulang?" tanya Nicki sambil berjalan mendekati ibunya yang sedang bersantai.


"Ibu tidak peduli bahkan jika dia tidak kembali," sahut Camila.


"Sungguh tidak sopan, dia pergi dan pulang seenaknya. Jika aku yang seperti itu ayah pasti marah," keluh Nicki.


Camila nampak tak mau menanggapi ucapan putrinya, ia sudah senang Winnie tak ada di rumah sehingga ia bebas dari stress.


"Ibu harusnya menghukumnya karena dia sudah bertindak seenaknya! bukankah rumah ini memiliki aturan? ibu harus tegas padanya," rengek Nicki.


"Baiklah, baiklah, ibu akan hukum dia," sahut Camila yang risih akan rengekan itu.

__ADS_1


Tapi kemudian sebuah ide muncul dalam benaknya, tersenyum jahat Camila memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.


"Ini akan menarik," gumamnya.


Dua jam kemudian Winnie baru yang baru pulang segera datang kepada Camila untuk menyapa, saat itu Camila tak mengatakan apa pun padahal Winnie kira dia akan kena marah.


Tak begitu peduli Winnie berniat untuk segera ke kamarnya dan mengganti pakaian, tapi baru saja ia naik satu tangga sesuatu yang ia lihat sekelebat membuatnya berfikir dan menengok ke belakang.


Dari pintu kaca yang harusnya ia bisa langsung melihat tamannya yang indah Winnie justru menatap neraka, perlahan ia berjalan mendekati halaman belakang itu.


Mengerutkan kening karena bingung, heran dan sedih ia menemukan taman bunganya hancur, semua tanaman yang susah payah ia rawat dan jaga rusak begitu saja.


"Ini adalah hukuman untuk mu, kau harus ingat dimana posisi mu. Sudah sering ku katakan bahwa keluarga ini memiliki aturan dan kau tidak boleh bersikap sembarangan," ujar Camila tegas dari samping Winnie.


Menatap wajah angkuh Camila dan seringai puas Nicki hatinya benar-benar terbakar oleh api amarah.


"Aku hanya pergi sebentar," ujar Winnie pelan.


"Kau pergi tanpa berpamitan dan pulang tanpa menjelaskan apa pun, bahkan kau tidak meminta maaf atas kesalahan mu itu," balas Camila.


"Karena kau bukan kepala keluarga rumah ini, kau hanya wanita murah yang menjual rahim demi gelar nyonya," sahut Winnie dingin dengan tatapan tajam.


"Berani sekali kau!" jerit Camila.


Gep


Satu tangannya yang di penuhi kekesalan siap untuk memberi pelajaran pada Winnie lewat tamparan, tapi dengan cepat Winnie menangkap tangan itu di udara.


Bahkan ia menggenggam tangan Camila dengan sangat kuat sampai Camila merasa kesakitan.


"Lepaskan! kurang ajar!" hardik Camila mencoba menarik tangannya.


"Hari ini kau menghancurkan taman kesayangan ku, maka aku berjanji akan menghancurkan satu persatu barang berharga mu," ujar Winnie.


Ah


Bruk


Hanya dengan satu dorongan Winnie melepaskan genggaman tangannya dan membuat Camila jatuh, berbagai umpatan keluar dari mulut Camila tapi Winnie sama sekali tak peduli.


Kini ia akan melakukan pernah secara terbuka, tak ada lagi formalitas.

__ADS_1


__ADS_2