Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 80 Kecurangan Camila lainnya


__ADS_3

Rapat segera di laksanakan esok paginya, Winnie melaporkan apa yang telah ia lakukan dan informasi apa saja yang ia ketahui.


Rencananya ia akan mengadu domba Camila dan Will sampai mereka saling membuka keburukan masing-masing yang belum terkuak, dengan begini ia dapat menghemat banyak tenaga dan pikiran.


"Bagaimana dengan Sara?" tanya Carl.


"Dia belum terbukti terlibat dalam kasus Miya, karena itu aku hanya menggunakannya sebagai figuran. Meski begitu dia pion yang lumayan penting sebab dari kliniknya lah kita mendapatkan perawatan ilegal itu," jawab Winnie.


"Jadi kita hanya perlu menunggu mereka hancur dengan sendirinya begitu?" tanya Aslan.


"Tidak, kita akan semakin membakar mereka sampai hilang akal. Dengan begini semuanya akan cepat selesai," sahut Winnie.


"Winnie apa kau sudah memeriksa kekayaan ibu tirimu?" tanya Carl.


"Tentu, sejauh ini yang ku dapat dia memiliki saham senilai 20% di perusahaan ayahku. Dia juga memiliki beberapa mobil dan rumah peternakan atas namanya," ujarnya.


"Deborah kita harus periksa hartanya sekali lagi," ucap Carl.


"Kenapa?" tanya Deborah.


"Karena jika aku yang di posisi Camila maka aku tidak akan membiarkan Winnie memiliki apa pun, aku sudah menghabiskan waktu dua puluh tahun lamanya berpura-pura menjadi istri yang baik. Karena itu aku harus memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar saham 20%," jelasnya.


Carl bangkit dan bersiap untuk pergi begitu juga dengan Deborah.


"Aku akan tanya pengacara ayahku," ujar Winnie menyadari celah itu.


"Kalau begitu Nagisa sebaiknya kita periksa kembali kematian Peter, kakek itu tidak mungkin mati begitu saja meninggalkan hartanya. Mungkin kita bisa dapat sesuatu," ajak Aslan.


"Hm.." sahut Nagisa sembari menahan tawa.


"Kenapa?" tanya Aslan bingung.


"Tidak, aku hanya merasa keren karena bersama dengan orang-orang hebat."


"Kita seperti geng dalam film-film, peran ku sebagai umpan. Peretas," lanjutnya sambil menunjuk Deborah.


"Mata-mata dengan kepintaran yang lebih dominan," menunjuk Carl.


"Alfa," menunjuk Aslan.


"Dan nyonya alfa," menunjuk Winnie.


"Hei kenapa aku harus nyonya alfa? aku pemimpin yang sebenarnya di sini!" protes Winnie.

__ADS_1


"Maaf, tapi dia lebih berkharisma dari pada kau," ujar Nagisa.


Carl, Deborah dan Aslan tak bisa menahan tawa. Tapi karena takut Winnie mengamuk akhirnya mereka hanya bisa menutup mulut sambil memalingkan pandangan pada apa pun selain Winnie.


"Aku pergi sekarang," ujar Winnie ketus.


"Dia memang hebat, tapi aku akui ucapan anak ituitu benar," ujar Carl setelah kepergian Winnie.


"Sudahlah, ayo pergi!" ajak Deborah.


Mereka berpamitan dan segera masuk ke mobil, rencananya mereka akan pergi ke bank untuk mencaritahu adakah pinjaman atau tabungan atas nama Camila Wilson.


"Ngomong-ngomong bagaimana kau dan Aslan bisa akur?" tanya Deborah mengingat bagaimana masa lalu mereka.


"Kau mungkin tidak akan mengerti jika ku ceritakan," sahut Carl.


"Setidaknya aku tidak penasaran lagi," ucapnya.


Carl tersenyum, akhirnya ia pun menceritakan bagaimana pertemuan dirinya dan Aslan di luar negri. Rupanya mereka satu kampus dan tentu saja pertemuan pertama itu tidak menyenangkan, setelah itu mereka jadi sering bertemu dan selalu terjadi perang dingin.


Sampai akhirnya saat mereka berada di bar dalam keadaan setengah mabuk mereka kembali berkelahi, perkelahian itu merembet ke satu geng bagai api.


Alhasil mereka berdua harus melawan satu geng bersamaan, saat Carl lengah ia hampir di tusuk dari belakang namun Aslan berhasil menyelamatkannya.


Tapi ini adalah kali pertama ia dapat melihat aura pemimpin yaitu singa seperti namanya, dalam waktu beberapa detik ia sadar mengapa Winnie tak mau berpaling dari Aslan meskipun ia jauh lebih pintar.


Bagi orang-orang sepertinya dan Winnie Aslan adalah sosok sempurna yang dapat mereka angkat hingga ke singgasana, setelah perkelahian selesai malam itu Aslan membawanya ke kamarnya dan mengobatinya.


Sejak saat itulah karena tak ada Winnie di samping Aslan ia pun menjadikan dirinya pengganti Winnie, Aslan sama sekali tak keberatan karena ia merasa Carl sudah menebus kesalahannya pada Winnie.


"Ah aku memang tidak mengerti kalian," akui Deborah.


Baginya Aslan tetap menyeramkan, dia sama sekali tidak berubah menjadi manis sedikit pun.


Sampai di bank Carl meminta untuk menyerahkan tugas itu kepadanya sementara Deborah hanya mencatat apa pun yang pegawai bank katakan.


Kecurigaan Carl rupanya benar, Camila memiliki real estate atas nama dirinya. Setelah di telusuri lebih lanjut mereka menemukan ada kecurangan dalam bisnis itu, Camila memang memberi harga murah untuk setiap kredit pembelian rumah namun dengan jangka waktu yang cukup lama. Itu sama saja dengan ngontrak seumur hidup sehingga pembeli akan sulit menerima sertifikat rumah yang sah.


Sementara Winnie baru mengetahui isi wasiat Brian yang rencananya akan di ubah dalam waktu dekat, jelas sekali dalam surat wasiat itu Camila lebih diuntungkan sebab ada kemungkinan Nicki dapat menguasai seluruh harta.


Meski tak begitu peduli soal warisan tapi Winnie akan menggunakan hal ini menjadi bagian dari rencananya, hari itu ia datang ke kantor untuk mengajak Brian makan siang bersama.


"Bagaimana keadaan Jeny?" tanya Brian.

__ADS_1


"Sudah baikan," sahut Winnie.


"Syukurlah kalau begitu, sudah lama ayah tidak menjenguk mereka."


"Mereka masih tetap sibuk bekerja meski aku sudah tidak meminta uang, katanya karena sudah biasa jadi badan akan terasa sakit jika diam di rumah."


"Ya, memang seperti itu," sahut Brian setuju.


"Ayah sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," ujar Winnie.


"Apa itu?" tanya Brian.


"Begini, sebenarnya aku sedang mencari tempat magang. Karena tidak tahu harus melamar kemana jadi bisakah ayah merekomendasikan pada ku?" ujarnya.


Brian meletakkan sendok dan gapunya, mencoba berfikir perusahaan mana yang sekiranya cocok untuk Winnie.


"Aku sudah memikirkan ini, aku harap ayah tidak marah. Tapi aku ingin memakai nama Martius saat melamar nanti," lanjutnya.


"Kenapa?" tanya Brian kaget.


"Ayah cukup terkenal di dunia bisnis, jika aku melamar dengan nama Wilson aku takut mereka hanya akan melihat ku sebagai Wilson bulan talentaku. Tidak apa memulai dari yang paling bawah sebab justru itu benar karena aku akan mendapatkan banyak pengalaman dari sana," jelasnya.


Brian menatap keseriusan Winnie, seperti yang ia harapkan putrinya ini memiliki bakat dan tekad.


"Ayah punya sebuah hotel kecil di pinggir pantai, pengunjungnya setiap bulan semakin berkurang. Yah memang karena destinasi yang di tawarkan di tempat itu hanya pantai saja, karena tidak banyak wisatawan yang datang rencananya bulan depan hotel itu akan di rubuhkan. Kepala hotel sudah menemui ayah dan meminta waktu karena pegawai disana adalah mereka yang membangun hotel dan bertahan sampai sekarang, melihatnya membuat ayah jadi tidak tega. Karena itu ayah akan mengutusmu ke sana sebagai Winnie Martius dan tugas mu adalah mencari jalan terbaik untuk masalah ini," jelas Brian.


Winnie tersenyum dan menyanggupinya, maka keputusan pun telah di ambil. Winnie memutuskan untuk pergi mengunjungi orangtua angkatnya untuk memberitahu bahwa ia harus melakukan pekerjaan, dengan begini mereka akan lama tak bertemu sebab Winnie tak tahu sampai kapan ia akan berada di sana.


Meski cukup berat tapi Jeny dan Fabio memberi restu kepadanya, berharap semuanya berjalan dengan lancar.


Sementara Camila dan Nicki bersorak senang mendapat kabar ini, kini mereka bisa menguasai rumah seperti semula.


"Apakah tempat itu jauh?" tanya Nagisa saat Winnie kembali ke apartemen untuk membahasnya.


"Butuh setidaknya tiga jam perjalanan, tapi aku juga tidak tahu karena itu hanya perkiraan ayah. Namun dengan begini kita hanya bisa melakukan komunikasi jarak jauh," jawabnya.


"Kau harus melakukannya, ini jalan terbaik menunjukkan kualitas dirimu agar ayahmu merubah isi wasiat. Sementara aku akan mencoba membongkar kecurangan Camila di bisnis real estatenya," ujar Carl.


"Jika waktunya sudah tepat beritahu ayahku tentang siapa ayah kandung Nicki," pinta Winnie.


"Tentu saja," sahut Aslan.


"Aku percayakan urusan disini kepada kalian," ujar Winnie bukan hanya untuk basa basi.

__ADS_1


__ADS_2