
Pagi sekali Jeny menelpon, Winnie kira ibu angkatnya itu sudah rindu dan meminta bertemu. Ternyata ada sebuah paket yang di kirim untuknya, entah dari siapa Jeny tak tahu karena itu menyuruh Winnie pulang dan melihatnya.
Penasaran setelah kelas berakhir Winnie menyempatkan diri mampir, mobil yang ia parkir tepat di depan rumah membuat Jeny berdecak kagum.
"Hai bu!" sapa Winnie menghampiri.
"Apa itu mobil pemberian ayahmu?" tanya Jeny tentu merujuk pada Brian.
"Dia bilang itu hadiah untuk masuk kuliah," jawabnya.
"Ah... orang kaya sangat tahu bagaimana cara memberi kebahagiaan," gumam Jeny sambil menghela nafas.
"Ibu ini, ayo masuk!" ajak Winnie.
Selagi menyiapkan teh Winnie masuk ke kamarnya dimana paket itu di taruh, melihat keadaan kamar yang tak berubah Winnie berfikir orangtua angkatnya sengaja melakukannya agar mereka tak merasa kehilangan.
Sebuah kotak dus merupakan paket yang sangat mencolok, dengan tak sabar Winnie membukanya dan mendapati beberapa buku serta snack.
Tepat di paling bawah ada sebuah surat yang segera ia baca berisi.
'Sulit menemukan makanan yang enak di lidah, beberapa snack ini adalah yang paling aku sukai. Bagaimana menurut mu? saat datang ke toko buku untuk mencari bahan tugas tanpa sengaja aku melihat buku yang menarik, kau suka? aku akan sibuk dengan banyak tugas tapi masih bisa memberimu kabar ko di malam hari.'
Winnie tak bisa menahan tawanya, Aslan adalah pria yang tak bisa basa basi tapi jika sudah bertemu ia sangat suka membuang waktu.
Mengambil satu snack Winnie mulai mencoba dan seperti dugaannya makanan apa pun tak masalah di lidahnya, ia juga membaca salah satu buku dan memang itu buku yang menarik untuknya.
Tanpa di duga kerinduan tiba-tiba hadir, rasa ingin bertemu dan bercengkrama sambil saling menggoda seperti yang pernah mereka lakukan di vila.
Mencoba sedikit menyalurkannya Winnie mengirim pesan singkat 'Sudah kuterima, aku suka semua.'
Keluar dari kamar Winnie membawa serta paket itu, duduk di depan meja tepat dimana teh yang dibuat untuknya berada.
"Dari siapa?" tanya Jeny.
"Temanku, dia kuliah di luar negri dan mengirimkan beberapa snack. Ibu ingin coba?" sahutnya.
__ADS_1
"Ah tidak usah," jawab Jeny sambil mengibaskan tangan.
Memperhatikan Winnie menyeruput tehnya ia sadar pakaian yang di gunakan Winnie sangat bagus meski itu hanya sebuah kaus, bahkan Winnie memakai anting-anting dan sebuah cincin yang terlihat mahal.
Ini membuat hatinya mengecil, tentu saja karena selama ini ia ingin memberikan semua yang Winnie kenakan tapi tak mampu.
"Bagaimana keluarga mu? apa mereka bersikap baik?" tanyanya.
"Ya, ayah mengenalkan ku pada beberapa temannya. Dia juga mengaja ku ke kandang dan memberi kuda," sahutnya.
"Begitu ya... " sahut Jeny semakin berkecil hati.
"Tapi... masakan di rumah tidak terlalu enak, yang masak adalah koki rumah dan terlalu menjaga kesehatan. Aku lebih suka masakan ibu yang kadang keasinan," ujarnya.
"Ahahaha.... orang kaya gampang terkena penyakit! jika mereka tak menjaga asupan makanan itu bisa berakibat fatal," gurau Jeny kembali ceria.
"Kalau begitu tinggallah sampai makan malam, ibu akan masak makanan kesukaanmu," lanjutnya.
"Hari ini tidak bisa, aku ada urusan. Mungkin lain kali," ujar Winnie menyesal.
Tentu Jeny mengantar sampai mobil Winnie hilang dari pandangannya.
Memacu mobilnya di jalur cepat Winnie kemudian masuk ke sebuah kafe dimana urusannya telah menanti, itu adalah Deborah yang mengabari ia mendapat beberapa informasi yang mungkin ingin Winnie segera dengar.
"Hanya beberapa hari dan kau dapat yang penting?" tanya Winnie menghampiri.
"Ah... bukankah dia tampan?" ujar Deborah menatap panjang.
"Halo?!" seru Winnie mengibaskan tangannya tepat di depan mata Deborah.
Dengan malas kemudian Deborah menatap Winnie dan memberikan sebuah berkas.
"Saat mencari informasi itu aku menjadi tersadar bahwa sudah sembilan belas tahun aku hidup menjomblo, bukankah itu sangat menyedihkan?" ujarnya kesal.
"Sungguh? kau sama sekali tidak pernah pacaran?" tanya Winnie cukup kaget.
__ADS_1
Deborah menggeleng lesu.
"Baiklah setelah ini selidiki tentang insiden penculikan ku, kau bisa mulai di rumah sakit tempat aku lahir. Kali ini aku akan memberimu hadiah dengan memperkenalkan beberapa pria keren," ujarnya.
"Sungguh? mereka bukan berandalan seperti anak buah Aslan kan?" tanya Deborah.
"Mereka memiliki kedudukan yang sama dengan Aslan," sahutnya.
"Aku percaya padamu," ucap Deborah tersenyum puas.
Winnie hanya menggelengkan kepala dan mulai membaca isi berkas yang diberikan Deborah, itu adalah informasi tentang Camila yang ia minta.
Nama lengkap, kelahiran, hingga informasi keluarga berada di sana. Beberapa prestasi yang sempat Camila dapat seperti juara pertama putri kecantikan tingkat kota hingga karir menjadi model lengkap dengan informasi jenjang sekolah.
Informasi sedetail itu membuat Winnie berdecak kagum, keahlian Deborah dalam mendapatkan informasi ternyata berada di tingkat yang tak bisa ia bayangkan.
"Ada beberapa gosip yang tak ku tulis disana mengenainya," ujar Deborah.
"Apa itu?" tanya Winnie.
"Kau lihat prestasinya yang mendapat juara satu putri kecantikan tingkat kota? gosipnya ia curang dalam lomba ini, harusnya saat itu ada gadis lain yang menang tapi di malam penentuan gadis itu mengalami kecelakaan yang mengakibatkannya tak bisa lanjut. Tak ada peserta lain yang lebih cocok dari gadis itu selain Camila," jelasnya.
Cerita selanjutnya Winnie bisa menebaknya sendiri, Camila mungkin membantah fitnah bahwa ia curang.
"Ada lagi?" tanya Winnie.
"Saat karirnya sebagai model sedang meroket aku dengar dia tidur dengan produser agar bisa muncul di sampul majalah," sahutnya.
Itu rumor yang biasa ada di dunia permodelan, tapi tetap saja bahan yang baku untuk jadi obrolan.
"Hanya itu yang baru bisa kudapatkan," ujar Deborah.
"Baiklah, kau sudah mendapat tugas baru. Jika ada waktu yang tepat aku akan menghubungi mu untuk berkenalan dengan beberapa teman priaku," ucap Winnie membereskan berkas itu.
Deborah mengangguk dan pertemuan itu berakhir begitu saja, ada banyak yang harus Winnie urus sekarang setelah mendapat informasi.
__ADS_1