
"Winnie!" seru Deborah berlari menghampiri.
Nafasnya yang tersenggal-senggal membuat seluruh wajahnya memerah seperti jambu, dengan bingung Winnie menyuruhnya mengatur nafas sebelum bicara.
"Ada apa? bicaralah pelan-pelan," ujarnya.
"Aku mendapat berita besar," sahutnya.
Winnie dan Aslan saling berpandang mata, begitu juga dengan anak buah Aslan yang bagai bodyguard. Selalu berdiri tak jauh dari raja dan ratu mereka.
"Carl keluar dari sekolah," ucapnya.
"Sungguh? kau tahu dari mana?" tanya Winnie mulai penasaran.
"Aish... anak-anak perempuan membicarakannya, wali kelasnya juga membenarkan hal itu. Katanya dia mau pindah ke luar negri," jelas Deborah.
Aslan termangu, bukan karena kepergian Carl yang mendadak tapi kecepatan Deborah dalam mendapat informasi dan keakuratannya.
Sementara Winnie yakin betul Carl memiliki alasan pribadi untuk hal ini, dia tidak mungkin menyerah begitu saja meski telah di hajar Aslan.
"Itu bagus! satu pengganggu akhirnya pergi juga," ujar Aslan sambil merangkul Winnie dengan satu tangan.
Melihat bagaimana mesranya mereka membuat Deborah malu sendiri, ia segera memalingkan pandangan pada hal lain.
"Kalau begitu sebaiknya kita rayakan," usul salah satu anak buah Aslan.
"Ah ide bagus, boleh aku ikut?" sahut Deborah mengacungkan tangan.
"Kau yakin mau ikut?' tanya Winnie mengingat Deborah yang seperti putri bangsawan sangat timpang jika bersama kelompok berandalan.
" Sebentar lagi kita akan di sibukan dengan ujian, setidaknya sekali seumur hidup aku ingin pergi bermain seperti yang lain. Lagi pula selama bersama mu aku pasti baik-baik saja," sahut Deborah.
Apa yang di katakan Deborah benar, kebersamaan mereka sebentar lagi akan berakhir. Setelah lulus mereka akan pergi ke Universitas yang berbeda, kemudian di sibukkan dengan masalah masing-masing.
"Baiklah, kemana kita akan pergi?" tanya Winnie.
"Aku tahu tempat yang bagus," ujar Aslan.
"Sungguh? apa itu aman untuk dompet kami?" tanya Winnie memastikan.
"Hahahaha... tentu saja, jangan khawatirkan masalah itu," sahut Aslan merasa geli atas pertanyaan itu.
Sepulang sekolah mereka segera meluncur pada tempat yang rupanya selalu Aslan datangi saat bosan, itu merupakan game center.
Ada banyaknya game yang bisa ia mainkan membuatnya lupa waktu hingga lupa masalah yang sedang ia hadapi, dulu sebelum masuk ke sekolah Winnie Aslan lebih sering menghabiskan waktunya di sana.
__ADS_1
"Oh kali ini kau membawa pasukan!" seru seorang penjaga tempat yang.
"Begitulah pak," sahut Aslan sembari tersenyum.
"Selamat bersenang-senang," ujar penjaga yang merupakan pria bertubuh tambun dengan janggut pirang.
Aslan tersenyum dan segera masuk di ikuti oleh yang lain.
"Keliatannya kau akrab dengan penjaganya," ujar Winnie.
"Tentu saja, sebagian waktu ku ku habiskan di sini. Tentu saja itu sebelum aku bertemu dengan mu," jawab Aslan.
"Nah baiklah, mari kita mulai permainannya!" seru Aslan.
Mereka segera berpencar, mengambil tempat masing-masing di game yang mereka sukai. Sementara Winnie dan Deborah memulai kesenangan mereka dengan fotobox, mencoba berbagai kostum dan mengabadikannya dalam bentuk sebuah potret.
......................
"Jeny!" seru pemilik binatu sambil berjalan mendekatinya.
"Iya nyonya," sahutnya.
"Ada seseorang mencarimu bersama polisi," sahutnya.
"Apa?" tanyanya kebingungan.
"Permisi... apa kalian mencariku?" tanyanya getir.
"Oh ya! benar ini nyonya Jeny, kau istri pria bernama Fabio kan?" tanya polisi itu.
"Benar," sahut Jeny semakin cemas.
"Kau ingat aku? aku adalah polisi yang kalian temui saat melaporkan kejadian itu," tanya polisi itu sembari tersenyum.
Ingatan Jeny tidaklah bagus, ia butuh beberapa menit sampai akhirnya ia ingat.
"Pak polisi ada apa? kenapa kau mencariku?" tanyanya.
Seorang pria yang datang bersama polisi itu segera menjelaskan, Jeny yang tak pernah menyangka hari itu akan tiba tak bisa berkata banyak.
"Ini belum tentu seratus persen, karena itu sebaiknya kita ke rumah mu dan segera mencari buktinya," ujar pria itu.
"Baiklah, aku akan segera kembali," ujar Jeny hanya bisa menurut.
Ia segera meminta ijin kepada bosnya agar bisa pulang karena urusan mendadak itu, setelah diijinkan mereka pun pergi. Sampai di rumah pria itu segera bertanya dimana kamar Winnie, Jeny menunjukkannya.
__ADS_1
Dari pintu ia memperhatikan pria itu memeriksa setiap celah kamar Winnie, setelah mengumpulkan bukti ia pun meminta hal lain yang mungkin saja Jeny miliki.
Tentu Jeny masih menyimpan barang itu, sebab itulah barang milik Winnie satu-satunya.
"Setelah hasil pemeriksaannya selesai aku akan mengabarimu," ujar pria itu sebelum berpamitan.
Jeny mengangguk dan mengantar tamunya pergi hingga mobil yang mereka tumpangi hilang dari pandangan, setelahnya saking syoknya tak ada yang bisa ia lakukan selain melamun sampai Winnie dan Fabio pulang.
"Oh ibu pulang cepat hari ini?" tanya Winnie sambil masuk ke dalam.
"Ah.. iya, tadi badan ibu terasa tidak enak. Jadi ibu ijin pulang cepat," sahutnya sambil memaksakan diri tersenyum.
"Sungguh? apa ibu terserang flu? kalau begitu akan ku buatkan sup," ujarnya sambil memeriksa suhu tubuh Jeny.
"Ibu baik-baik saja," ucap Jeny.
Tapi Winnie tak menghiraukannya, ia segera berganti pakaian dan membuat makan malam berupa sup. Melihat keluarga kecilnya beraktivitas seperti biasa membuat Jeny merasa haru tiba-tiba, sudah banyak suka duka yang mereka lalui bersama dan tidak pernah terpikir olehnya kebersamaan ini akan berakhir.
"Kau sudah selesai?" tanya Fabio heran melihat Jeny menaruh sendoknya.
"Ah.. aku sudah kenyang," sahutnya pelan.
"Mana bisa begitu? ibu kan baru makan sedikit," seru Winnie tak terima.
"Ibu akan istirahat saja, kalian makanlah," ujarnya segera bangkit.
"Tidak!" seru Winnie.
Ia segera menaruh piringnya dan memaksa Jeny agar duduk kembali, lalu disendoknya sup itu dan mulai menyuapi.
"Astaga Winnie... ibu bukan anak kecil," ujar Jeny.
"Karena itu jangan menyepelekan penyakit, sekarang buka mulut ibu lebar-lebar!" perintahnya.
Memandang Winnie begitu lekat tanpa sadar hampir saja ia meneteskan air mata, gadis yang sudah sembilan belas tahun menjadi putrinya itu adalah anugrah yang tak pernah dia sangka.
Membuka mulut akhirnya Jeny membiarkan Winnie menyuapinya sampai makanannya habis, setelah itu ia pergi ke kamar untuk istirahat.
"Kau sudah merasa baikan?" tanya Fabio masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi istrinya.
"Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan merasa baik," sahutnya pilu.
"Ada apa dengan mu? apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Fabio heran.
"Entah aku harus berkata apa, entah ini kebaikan atau keburukan. Tapi yang jelas hari itu akhirnya tiba," ujar Jeny.
__ADS_1
Air mata kini benar-benar tumpah tanpa bisa terbendung lagi, tapi sebisa mungkin Jeny meredam suaranya agar Winnie tak mendengar dan bertanya macam-macam.