Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 81 Sambutan di Hotel


__ADS_3

Hari dimana Winnie telah resmi pergi adalah hari terbaik bagi Nicki, ia berencana akan memanjakan diri dengan berbelanja dan menikmati makan siang di restoran mewah.


Tak disangka saat di mall ia bertemu dengan Will, pertemuan itu akhirnya membuat mereka makan siang bersama.


"Pesanlah apa pun yang kau mau, hari ini paman yang traktir," ujar Will.


"Sungguh? terimakasih paman," sahut Nicki senang.


Ia pun memesan segala macam makanan enak yang paling ia sukai, sementara Will juga senang dapat memanjakan putrinya. Ini adalah kali pertama mereka bertemu berdua dan menghabiskan waktu bersama, tentu ia tidak akan menyia-nyiakannya.


Beruntung ia di kabari Winnie bahwa setelah kepergiannya Nicki pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu berbelanja, memang sudah seperti itu jika Winnie sedang tidak pulang ke rumah.


Sayangnya karena kepergian Winnie juga kini ia tidak tahu rencana apa yang akan di lakukan Camila untuk menyerangnya.


"Nicki bagaimana kabar orangtuamu?" tanya Will.


"Mereka baik-baik saja," sahutnya.


"Baguslah, sudah lama paman tidak bertemu mereka karena sibuk. Bahkan paman melewatkan main golf beberapa kali karena sibuk bekerja," ujarnya.


"Kalau begitu paman harus segera mencari istri, apa paman tidak merasa kesepian tinggal sendiri? tidak baik terus bekerja saja," saran Nicki.


Will tersenyum, ia tak pernah berfikir untuk menikah bahkan setelah usianya kini mencapai setengah abad.


Baginya memiliki keluarga akan cukup merepotkan dengan sifatnya yang tidak cukup hanya dengan satu wanita, tapi jujur dia memang merasa kesepian setelah tahu Nicki adalah putrinya.


Sekarang ia sudah tak peduli lagi pada hal apa pun, ia menginginkan hal asuh Nicki meski statusnya masih bujang.


"Mungkin kau benar, menurut mu wanita seperti apa yang cocok dengan ku?" tanya Will.


"Mm, tentunya dia harus cantik dan lebih muda. Tapi wanita dengan usia tiga puluhan lebih cocok untuk paman," jawabnya.


"Bisa kau carikan wanita itu untuk ku?" tanya Will sembari tersenyum.


"Ahahaha... paman aku bukan biro jodoh, jangankan mencarikan paman istri. Bahkan sampai sekarang aku pun masih sendiri," ujarnya.


Will melihat keputusasaan di mata anak gadisnya, sepertinya Nicki memang sulit mendapatkan pacar.


"Kau gadis yang cantik, pasti banyak pria yang mengejarmu."


"Kenyataannya tidak begitu, sebenarnya aku menyukai Leo sudah sejak lama. Tapi ibu melarangku untuk berhubungan lebih dari teman dengannya," sahutnya.


"Tidak boleh!" seru Will tiba-tiba.

__ADS_1


Leo adalah anak dari Jack, sementara Jack adalah sekutu Camila yang cukup kuat. Jack memiliki rahasia mereka dan itu membuat Will tidak menyukainya sementara ia tidak memegang rahasia apa pun tentang Jack.


"Ke-kenapa paman berteriak?" tanya Nicki kaget.


"Oh maaf, paman cukup mengenal Leo dan paman rasa dia bukan pria yang cocok untuk mu," sahut Will panik.


"Oh... paman tidak perlu khawatir, toh Leo sudah punya tunangan jadi aku tidak akan mencoba mendekatinya lagi."


"Begitu ya," sahut Will.


Mencoba mencairkan suasana selesai makan Will membelikan sebuah gelang yang tentunya harganya tidaklah murah, ia harus segera menarik hati Nicki lagi setelah kelepasan berteriak padanya.


Tentu Nicki senang bukan main, hari ini ia begitu di manjakan Will sampai di belikan gelang mewah.


......................


"Apa ini jalan yang benar?" tanya Aslan sambil terus mengemudi.


"Ya, menurut peta seperti itu," sahut Winnie.


Awalnya Winnie sudah berencana akan pergi sendiri, tapi Aslan tak mengijinkan sehingga akhirnya mereka pun pergi berdua.


"Aneh sekali, kita sudah berkendara tiga jam lebih," gumamnya.


"Sebaiknya kita tanya orang saja," usul Winnie.


"Bagaimana?" tanya Winnie saat Aslan kembali ke dalam mobil.


"Kita salah belok, seharusnya tadi ambil kiri bukan kanan," jawabnya.


Winnie tersenyum malu sebab ia yang salah mengarahkan, sementara Aslan nampak tak peduli karena wanita memang terkadang suka begitu.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai, hotel yang berdiri di depan mereka nampak lebih seperti gedung tua yang siap di rubuhkan.


"Selamat datang tuan, nyonya. Anda ingin menginap berapa lama?" sambut seorang wanita dengan celemek kusam.


"Ah tidak, kami bukan pengunjung," sahut Aslan.


"Lalu kalian mau apa datang ke sini?" hardik wanita itu yang membuat mereka terkejut.


"Dasar, buang-buang waktu saja," gerutunya.


Ia pun masuk ke dalam sementara Winnie dan Aslan saling pandang, meski tak bicara tapi mereka bisa membaca isi kepala satu sama lain mengenai hotel itu.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Aslan.


Winnie mengangguk dan berjalan tepat di belakang Aslan, tak ada siapa pun di resepsionis yang membuat mereka harus membunyikan bel.


"Iya... " sambut wanita yang tadi keluar dari pintu di belakang.


"Kalian lagi, jika tidak menginap apa yang kalian perlukan?" tanya wanita itu jutek.


"Kami mencari kepala penanggungjawab hotel ini, bisakah kau memanggilnya?" ujar Aslan mencoba untuk selembut mungkin sebab dia adalah seorang wanita.


"Memang kau ada perlu apa dengan pak kepala?" tanya wanita itu.


Aslan membelalakkan mata, ia tak menyangka ujian hari itu buka hanya perjalanan yang melelahkan tapi juga sambutan yang menyebalkan.


Menahan tawa karena melihat ekspresi Aslan yang menahan marah Winnie pun memberi isyarat kepada Aslan untuk mundur.


"Maaf, kami dari... "


"Oh kalian sudah datang!" seru seseorang memotong ucapan Winnie.


Mereka menatap ke samping dan menemukan pria tua dengan kumis tebal, matanya yang sipit membuatnya terlihat menutup mata saat tersenyum.


"Pak kepala," sapa wanita itu.


"Aku sudah menunggu kalian sejak tadi," ujar pak kepala.


"Maaf, tadi kami sedikit nyasar jadi butuh waktu untuk sampai," sahut Winnie.


"Begitu rupanya, Mily mereka adalah pegawai kantor pusat yang sengaja datang untuk meninjau hotel. Aku sudah bilangkan merema akan datang hari ini?" ujar pak kepala.


"Oh maafkan aku, kalian sangat muda jadi ku pikir... " ujar Mily merasa bodoh karena sudah bersikap tidak sopan.


"Tidak apa, kau mempermudah pekerjaan ku dengan memberikan satu nilai pada hotel ini," ujar Winnie yang membuat Mily semakin merasa bersalah.


"Jika tidak salah nama mu Winnie, dan dia... " ujar pak kepala mencoba mengingat Aslan sebab ia merasa hanya dibertahu akan kedatangan Winnie saja.


"Oh ini Aslan, dia hanya mengantar ku saja."


"Begitu rupanya, ah ini sudah lewat dari jam makan siang. Kalian pasti sudah kelaparan, mari kita masuk," ujar pak kepala.


Mereka pun mengikuti pak kepala masuk ke kantin hotel, di sana ia memperkenalkan pegawai lainnya.


Pak Roger sebagai koki hotel merupakan pria bertubuh kekar yang lebih mirip seperti binaragawan, ada pasangan suami istri Karin dan Milo yang bertanggungjawab untuk kebersihan hotel.

__ADS_1


Sebenarnya ada satu lagi yaitu Rhea, dia adalah bagian resepsionis yang sebenarnya. Tapi karena sakit terpaksa adiknya yang menggantikan sementara yaitu Mily.


"Salam kenal semuanya, saya Winnie Martius. Kantor pusat sengaja mengirim ku untuk melakukan observasi di hotel ini, seperti yang kita tahu melihat keadaan hotel sekarang kita tidak memiliki harapan banyak. Tapi perlu kalian ketahui pemilik hotel masih ingin mempertahankannya karena permintaan Pak kepala, oleh sebab itu mohon bantuannya," ujar Winnie memberi salam.


__ADS_2